Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 39 DTH


__ADS_3

Sore harinya, Alvin akan pergi berangkat ke rumah Elza. Mereka sudah membuat janji untuk mengerjakan tugas sekolah lalu setelah itu makan sate di luar. Alvin seperti biasa menaiki sepeda motor miliknya, di tengah jalan laju motornya terhenti karena ada dua motor lain di depannya. Motor tersebut seperti sengaja memepet Alvin, hingga ketika motor terhenti, Alvin tersenyum tipis di dalam helm full facenya. Bagaimana tidak, Davin beserta dua temannya turun dari motor dan menghampiri Alvin.


Alvin yang memang tidak takut langsung membuka helmnya dan turun dari motor. Dia berjalan mendekati Davin and the geng.


"Ada apa? Gue gak punya urusan sama kalian bertiga!" tegasnya sambil menunjuk ketiga pemuda itu.


Davin tersenyum tipis, dia mengerahkan kepada temannya agar memegangi tangan Alvin. Kedua pemuda tersebut mengikuti perintah Davin, mereka dengan cepat mengunci lengan Alvin.


"Hei! Apa-apaan ini? Beraninya keroyokan, dasar banci!" teriak Alvin berusaha membebaskan diri.


Davin tertawa jahat, dia menatap Alvin dengan tajam.


"Alvin Mahendra, udah berapa kali gue bilang sama Lo jangan pernah mendekatinya Ica. Lo itu keras kepala, ya? Dan hasil yang pantas Lo dapatkan dari sifat Lo itu, ini!"


Bugh!


Davin dengan cepat membogem wajah Alvin hingga darah segar menetes di sudut bibir Alvin. Dia meringis menahan pedih dan sakit, tetapi matanya tetap menatap Davin secara tajam.


"Satu lawan satu sini kalau berani!" tukas Alvin kesal dan tidak terima.


Lagi-lagi Davin tertawa, dia menyugar rambutnya lalu mencengkeram dagu Alvin.


"Lo itu belum tahu siapa gue, Alvin. Sekali lagi Lo masih bersikeras mendekati Ica, maka Lo akan tahu sendiri akibatnya. Ingat itu!"Davin menunjuk wajah Alvin dan dia meminta agar temannya melepaskan pegangan di tangan Alvin.


Ketiganya membalikkan badan dan pergi dari sana, tetapi Alvin yang sudah terpancing emosi langsung memberikan tendangan di pundak Davin.


Davin jatuh tersungkur, dia menoleh dan melihat Alvin yang berdiri tegap di depannya.


'Sial!' batin Davin semakin panas.


Davin berdiri, sementara kedua temannya ingin menyerang Alvin tetapi dihentikan.


"Jangan ikut campur! Gue akan memberikan pelajaran kepada anak keras kepala itu." Davin mulai mendekati Alvin dan terjadilah perkelahian antara kedua remaja tersebut.


Sebuah mobil berhenti tak jauh dari jalanan yang menjadi tempat perkelahian antara Davin dan Alvin. Gadis remaja yang saat itu berada di kursi penumpang langsung melihat ke depan.


''Ada apa sih, Pak?" tanyanya kepada sang sopir.


"Itu, Non. Sepertinya ada yang berkelahi di depan sana!" tunjuk sang sopir.


Ica memicing, dia tercengang ketika tahu siapa yang berkelahi.

__ADS_1


"Pak, itu teman saya!" Ica bergegas turun dari mobil tetapi dia menyempatkan diri untuk mengajak Elza yang kala itu asyik bermain game di ponselnya. Dia mengurungkan niatnya karena melihat Elza sedang serius bermain ponsel, Ica tidak ingin menganggu sang adik.


Ica berlari ke arah Davin dan Alvin.


"Hei, berhenti!" teriaknya setelah dekat dengan kedua remaja itu.


Sontak perkelahian langsung terhenti dan keduanya menoleh ke arah Ica.


Davin menelan ludah karena yakin jika Ica pasti akan berpikiran negatif dengannya, sementara Alvin tersenyum senang. Wajahnya sudah babak belur, lebam di bagian mata dan kedua sudut bibirnya terlihat meneteskan darah segar. Davin sendiri hanya terdapat luka lebam di bagian sudut bibir.


Ica berlari menghampiri Alvin, dia memegang pundak Alvin lalu melirik Davin dengan tajam.


"Apa yang kau lakukan?" bentaknya marah.


Davin menjadi bingung. "I—ica, ini tidak seperti yang kamu—'' ucapannya terpotong karena Ica mengangkat sebelah tangan.


"Kau ingin membunuhnya, hah? Apa kalian sudah gila berkelahi di tengah jalan seperti ini? Apa masalahnya sampai-sampai kalian berdua melakukan hal begini?" Ica melirik Davin dan Alvin bergantian.


"Ica, dia mengatakan jika aku tidak boleh mendekati kamu. Memang apa makalahnya?" sahut Alvin dengan cepat.


"Benarkah yang Alvin katakan? Jika iya, apa hakmu melarang orang lain untuk mendekati aku?"


"Aku menyukaimu, Ica! Apa kau tidak bisa melihat ketulusanku?" Davin mencoba meredam emosinya.


"Tapi, Ica—"


"Sudah-sudah! Intinya jangan pernah berharap untuk mendapatkan aku karena sampai kapanpun aku tidak akan membalas perasaanmu itu. Pergilah sebelum aku berteriak minta tolong, ayo cepat!" Ica berbicara santai tetapi memiliki makna yang menyakitkan.


Davin merasa sangat kesal, dia melirik Alvin yang sedang tersenyum puas. Bahkan Alvin menjulurkan lidahnya untuk mengejek Davin.


Setelah Davin and the geng pergi, Alvin berpura-pura kesakitan.


"Aduh, Ica. Mereka jahat sekali, lihatlah wajahku yang tampan ini jadi ternodai oleh ke bar-bar'an berandalan itu." Alvin memasang wajah sedih.


Ica hanya menggeleng sambil tersenyum lucu, dia menarik tangan Alvin dan membawanya mendekati mobil. Lalu, dirinya meminta kotak obat pada sang sopir dan Ica mendekati Alvin yang sedang duduk di bangku panjang.


"Kemari, biar aku membantumu mengobati lebam itu."


Alvin dengan senang hati mendekatkan wajahnya, dia bahkan sampai memejamkan mata menunggu sentuhan dari Ica.


"Ssh, pelan-pelan." lirihnya karena menahan rasa perih.

__ADS_1


Ica meniup lebam yang dia obati, Alvin tersenyum senang karena napas harum dari mulut Ica tercium bebas masuk ke dalam hidungnya.


Di dalam mobil, Elza baru saja selesai bermain game hingga dia tidak sadar jika mobil telah berhenti.


"Eh, udah sampai, ya? Pak, kenapa Anda tidak memberitahu aku?" Elza menggerutu kesal.


Elza ingin keluar dari mobil tetapi dia heran dengan keadaan sekitar.


"Tunggu-tunggu, kenapa tempatnya seperti ini? Apa belum sampai di rumah?" gumamnya pelan dan hal itu masih bisa di dengar oleh sopir.


"Kita memang belum sampai, Non. Lihat, Non Ica sedang berada disana bersama dengan Den Alvin." ucap sang sopir menunjuk ke bangku.


Elza melihat ke depan dan dia bergegas turun dari mobil, dirinya berlari menghampiri Ica dan Alvin.


"Hei! Kalian berdua sedang apa?" bentaknya marah karena wajah Ica dan Alvin terlalu dekat.


"El, kamu udah selesai main gamenya? Aku sedang membantu mengobati luka di wajah Alvin." jawab Ica lemah lembut.


"Luka? Memangnya apa yang terjadi?" Elza bingung karena dia dari tadi sedang asyik bermain game.


Ica mulai menceritakan semuanya sementara Alvin sedikit kesal karena Elza menganggu waktunya dengan Ica.


"Astaga, kenapa kamu tidak memanggilku, kak? Jika saja tadi aku tahu maka akan aku pastikan mereka pulang tanpa pakaian lengkap! Sudah lama aku tidak berkelahi dan memukul seseorang." Elza menjadi marah.


"Sudahlah, El. Semuanya sudah terjadi dan terlambat, tidak perlu membahasnya lagi. Lagipula kamu itu anak perempuan, tidak baik berkelahi dengan anak laki-laki." nasehat Ica.


"Tuh, dengarkan apa yang kakak kamu katakan. Jadilah anggun dan feminim sepertinya, jangan terlalu bar-bar." ejek Alvin sambil terkekeh.


Elza yang merasa tidak terima langsung memikirkan ide untuk membungkam mulut Alvin. Dia tersenyum dah kemudian mengambil kapas yang ada di tangan Ica lalu dirinya menekan sedikit kuat tepat pada luka lebam Alvin.


"ARGH! Elza, apa kau sudah tidak waras? Ini sangat sakit!" Alvin memegangi wajahnya yang benar-benar sakit akibat tekanan dari Elza.


Elza tersenyum puas sementara Ica mengambil kapas itu lagi dari tangan Elza.


"El, jadilah sedikit lembut dan jangan terlalu kasar seperti itu." Ica tidak terima dengan lelucon garing Elza.


"Baik, kakakku. Sorry," Elza memeluk tubuh Ica dari belakang lalu dia mengecup pipi Ica sejenak dan mengurai pelukan tersebut.


Alvin hanya tersenyum melihat keakraban keduanya.


__ADS_1



TBC


__ADS_2