Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 62 DTH


__ADS_3

Hanum pulang ke rumah, hari ini dirinya tidak ada pekerjaan dan libur pemotretan. Dirinya sudah tahu jika kedua orang tuanya memungut gadis hanyut di sungai waktu itu, Hanum tidak mempermasalahkan karena dia juga jarang di rumah dan tidak ada yang menemani Bundanya.


Ica melihat Hanum sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah fashion, dirinya berjalan mendekati Hanum dan mencoba mengakrabkan diri.


"Kak?" panggil Ica diselingi senyuman tipis.


Hanum meletakkan majalah di meja dan mengangkat sebelah alisnya.


"Ada apa? Kamu punya masalah?" tanyanya dengan menyandarkan tubuh di sofa.


Ica menggeleng. "Boleh aku duduk disini?"


Hanum mengedikkan bahu lalu dia mengambil ponselnya.


Ica terlihat canggung, entah mengapa dia merasa jika Hanum tidak seperti memiliki ikatan batin dengannya. Terlihat dari cara Hanum memperlakukan Ica, sangat beda dengan seorang kakak yang memperlakukan adiknya. Ica seperti orang asing dimata Hanum.


"Kak, bagaimana pekerjaanmu?"


"Dalam keadaan baik, kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang pekerjaanku? Kamu ingin bekerja sepertiku juga? Sudahlah, Aulia. Sebaiknya kamu di rumah saja dan tugasmu hanyalah menemani Bunda, kamu tidak perlu mengikuti jejakku karena kita berbeda." ucap Hanum panjang lebar.


"Maaf, kak. Aku hanya bertanya dan memang tidak ada niatan untuk bekerja sebagai seorang model. Aku tidak memiliki bakat untuk itu," ucap Ica .


"Baguslah."


Tak lama kemudian, Siska dan Bahri masuk ke dalam rumah bersama dengan Ali juga Umi. Hanum sudah paham apa maksud mereka datang ke rumah ini, dia hanya memasang wajah cuek bahkan matanya tidak beralih dari ponsel.


Umi menggeleng melihat kelakuan calon menantunya itu, dia sebenarnya kasihan dengan Ali jika harus menikah dengan Hanum yang notabene nya perempuan keras kepala dan tidak sopan. Namun, Umi harus mendukung sang putra karena kedua orang tua Hanum sudah membantu mereka melunasi hutang kepada rentenir. Jika waktu itu kedua orang tua Hanum tidak membantu Ali dan Umi, maka sawah mereka yang tidak begitu lebar akan di ambil oleh sang rentenir.


Pada saat itu, Umi jatuh sakit hingga Ali bingung harus bagaimana memilih antara pengobatan atau melunasi hutang. Ali memutuskan untuk membayar pengobatan sang Umi hingga akhirnya hutang mereka sudah jatuh tempo dan rentenir itu tidak bisa menunggu waktu lagi. Almarhum Ayah Ali adalah seorang pemabuk dan penjudi hingga dia berhutang kepada rentenir lalu saat dirinya meninggal dunia, dia meninggalkan hutang yang terbilang cukup banyak.


"Hanum, tolong jaga sikapmu. Apa kamu tidak melihat ada tamu disini?" Bahri menegur Hanum yang sama sekali tidak peduli.


Hanum hanya melirik tamunya sejenak lalu dia kembali bermain ponsel. Sementara Ica, dia sudah duduk dengan sopan di sofa. Umi salut dengan kesopanan anak angkat Bahri dan Siska, jika saja boleh memiliki, maka Umi akan memilih Ica sebagai calon menantunya. Parasnya lebih cantik dari Hanum, kesopanannya juga terjaga.


Mereka semua duduk di sofa.

__ADS_1


"Hanum, Umi dan Ali datang kesini untuk mengatakan soal perjodohan kalian berdua." ucap Bahri kepada Hanum yang sama sekali tidak mendapat respon.


Siska meminta maaf atas perilaku Hanum yang mungkin keterlaluan di mata Umi juga Ali. Umi memaklumi semua itu, dia hanya tersenyum tipis tetapi hatinya begitu miris melihat sikap Hanum.


"Hanum!" peringatan dari Bahri untuk Hanum.


Hanum beranjak dari sofa, dia melipat kedua tangan di depan dada dan menatap semua yang ada di ruang tamu itu.


"Apa Ayah dan Bunda tidak paham dengan yang aku katakan waktu itu? Sudah berapa kali aku mengatakan jika aku tidak mau dijodohkan dengan dia!" Hanum menunjuk wajah Ali yang terlihat tetap tenang.


"Hanum, jaga sikapmu!" ucap sang Ayah.


"Kenapa, hm? Ada apa dengan sikapku, Yah!" teriak Hanum penuh emosi karena kedua orang tuanya tetap bersikeras menjodohkan dia dengan Ali.


Bahri meredam amarahnya, dia tidak bisa berbuat kasar dihadapan calon besan dan menantunya.


"Intinya, sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah dengan pria sok suci itu!" Hanum pergi berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Semua orang hanya bisa menatap kepergian Hanum dengan pikiran masing-masing.


"Tidak apa-apa, Pak Bahri. Jika Hanum belum siap, maka kita tidak bisa memaksanya. Mungkin, Bapak atau Ibu bisa membujuk Hanum nantinya dan bicara pelan-pelan dengannya. Ali pasti akan menunggu, iya 'kan, Nak?" Umi memegang pundak Ali.


Ali hanya mengangguk, dia sesekali mencuri-curi pandang ke arah Ica yang hanya diam saja sedari tadi.


Setelah mereka berbincang cukup lama, Umi dan Ali akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Saat mereka telah pergi, Ica menyusul Bahri dan Siska yang sudah berada di depan pintu kamar Hanum.


"Hanum, keluar kamu! Hanum, buka pintunya!'' teriak Bahri sambil mengetuk pintu kamar milik Hanum.


Hanum memasang earphone di telinga, dia menghidupkan musik dengan suara cukup kencang sehingga dirinya tidak mendengar panggilan dari sang Ayah.


"Sedang apa anak itu? Benar-benar....'' Bahri meminta kepada Siska agar mengambil kunci cadangan, lalu Siska membuka pintu itu dan melihat Hanum.


"Dia sedang rebahan dan memasang earphone, pantas saja tidak mendengar panggilan darimu, Yah." ucap Siska. mengatakan pada Bahri.


Bahri masuk ke dalam kamar Hanum dengan langkah yang cepat, dia menarik earphone di telinga Hanum hingga Hanum terkejut. Matanya melotot saat melihat kedua orang tuanya sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"A—ayah, Bunda, kenapa kalian bisa masuk ke dalam kamar ini?" tanya Hanum tanpa rasa takut.


"Apa kamu lupa rumah ini milik siapa? Tentu saja kami berdua bisa masuk ke dalam kamar ini tanpa meminta izin ataupun menunggumu membuka pintunya. Hanum, kami menyesal karena selama ini sudah memanjakanmu hingga sikapmu menjadi keterlaluan seperti sekarang. Kamu lupa akan kesopanan, perilaku terhadap orang tua, tata Krama dan adab yang kami ajarkan selama ini. Kamu sudah menjadi anak yang pembangkang selama kamu bekerja di luar kota." jelas sang Papa panjang lebar.


"Kenapa Ayah dan Bunda malah menyalahkan aku? Ini semua kesalahan Ayah dan Bunda yang mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu padaku!"


"Kami sengaja menjodohkanmu dengan Ali karena dia pria yang baik dan pastinya bisa membimbingmu, Nak." ucap Siska lembut sambil mengelus rambut Hanum.


"Tapi aku tidak menyukainya, Bun!" teriak Hanum hingga urat lehernya menegang.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Hanum, baru kali ini sang Ayah bersikap kasar kepadanya. Hanum hanya melongo sambil memegang pipi yang terasa panas. Dia menatap sang Ayah dengan tatapan sedih.


"Suka atau tidak, itu bukan masalah besar, Hanum! Seiring berjalannya waktu pasti kamu bisa menyukai Ali."


Hanum menggeleng. "Ayah egois, Ayah jahat!" teriaknya lalu turun dari ranjang, Hanum mengambil cardingan serta kunci mobil dan tas. Dia ingin pergi dari rumah untuk menenangkan pikiran.


"Hanum, mau kemana kamu? Hanum, Ayah belum selesai bicara!'' teriak Bahri sudah di penuhi kekesalan.


Hanum tidak peduli, dia terus berjalan melewati Ica yang sedari tadi terdiam di ambang pintu.


"Aku akan menggantikan kak Hanum untuk menikah dengan bang Ali." ucap Ica yakin dan pasti.


Hal itu membuat langkah Hanum terhenti begitu pun dengan Bahri dan Siska yang syok mendengar perkataan dari anak angkat mereka.


Semuanya menatap Ica yang terlihat menganggukkan kepala.





__ADS_1


TBC


__ADS_2