Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 54 DTH


__ADS_3

Elza masih menunggu Rizi seperti biasanya, dia memutuskan untuk bersikap baik dan mencoba membuat Rizi jatuh hati padanya. Sudah tiga bulan mereka menikah akan tetapi keduanya belum pernah melakukan hubungan halal pasangan suami-istri. Elza sebenarnya malu karena dia harus menjadi wanita lemah di depan Rizi, tetapi itu semua dia lakukan agar pernikahannya tidak kandas di usia yang masih seumur jagung. Elza bingung harus kemana jika dia bercerai dari Rizi, Vania sudah tidak menganggapnya sebagai anak sementara Ica pun sudah tidak lagi peduli padanya.


Bahkan, mereka lose kontak selama Elza menikah dengan Rizi. Elza tahu jika Ica pasti sangat kecewa dan sakit hati, namun kembali lagi pada dasarnya yaitu masalah yang tidak disengaja dan berujung menyedihkan.


Elza melirik jam dinding, seperti biasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam tetapi Rizi belum pulang dari kantor. Elza yakin jika Rizi pasti mabuk-mabukan di diskotik, itu semua tidak menjadi masalah untuk Elza. Tetapi, jika Rizi sudah bisa menerimanya maka dia akan menuntun Rizi ke jalan yang baik. Elza tidak ingin gagal dalam menjalani rumah tangga walaupun ini semua belum kemauannya.


Pintu rumah terbuka, Rizi masuk ke dalam dengan langkah gontai dan kali ini dia pulang sendirian.


"Kak, kamu sudah pulang? Biar aku ban—" Elza ingin mengambil tas kerja Rizi tetapi hal itu tidak berlanjut.


Rizi dengan cepat menghempaskan tangan Elza yang ingin meraih tasnya.


"Jangan menyentuh apa pun! Kau tidak perlu sok baik, Elza. Aku tahu jika kau pasti memiliki tujuan tersendiri maka dari itu kau berpura-pura baik padaku selama beberapa minggu ini!"


Elza dapat mencium bau aroma alkohol dari mulut Rizi, dugaannya benar jika Rizi pasti mabuk. Dia tidak meladeni ucapan Rizi karena baginya itu hanyalah ocehan tidak jelas.


"Kenapa kau diam, hah! Apa kau bisu, kau tuli?" Rizi membentak Elza meski dengan tubuhnya yang gontai.


"Sudahlah tidak perlu banyak bicara, terserah kau ingin mengatakan apa tetapi semua perkiraanmu itu salah." Elza menjadi sangat kesal.


Dia meninggalkan Rizi, tetapi tangannya di tarik oleh Rizi dengan kuat hingga Elza menubruk dada bidang milik Rizi.

__ADS_1


"Lepas!" Elza memberontak dan mencoba melepaskan cekalan Rizi yang sangat kuat hingga meninggalkan bekas di lengannya.


"Kau ingin ku anggap sebagai apa, hm? Kau itu hanyalah boneka yang bisa ku mainkan sesuatu hatiku, Elza. Kau hanya menuruti setiap ucapanku dan tidak berani membantah. Wanita bodoh, wanita lemah, ja*la*ny sialan!"


Plak!


Elza kehabisan kesabaran, dia melotot menatap wajah Rizi, napasnya terengah hingga dadanya naik turun. Elza tidak terima dengan hinaan yang Rizi lontarkan untuknya, ini semua bukan kesalahannya saja tetapi juga kesalahan Rizi.


"Kenapa, kenapa kau hanya mengungkit kesalahanku! Apa kau lupa jika kau juga bersalah dalam kejadian itu, hah! Apa kau belum puas selama ini menyiksaku? Menyiksa batin dan ragaku! Jawab aku, Rizi!" Elza menarik kerah baju Rizi dengan mata memerah, air mata ingin jatuh dari kelopak mata Elza tetapi dia menahan sekuat tenaga.


Rizi diam saja, entah mengapa hatinya merasa sakit ketika Elza memberontak seperti ini.


"Kau hanya diam, hm? Apa kau sudah menyadari kesalahanmu, hah!" Elza pun akhirnya menangis, air mata yang sedari tadi dia bendung tidak bisa di tahan.


"Apa kau tidak bisa sekali saja mengganggapku sebagai seorang istri?" teriakan Elza menggema di seluruh penjuru ruangan.


Rizi menghentikan langkahnya dan tersenyum miring, dia membalikkan badan dan menatap Elza dengan sayu.


"Tahu apa kau kewajiban seorang istri? Kau tidak pantas disebut sebagai istri dari Alfarizi." Rizi menekan setiap katanya.


Elza menatap punggung belakang Rizi yang sudah berada di lantai atas. Dia berlari dan menyusul Rizi.

__ADS_1


Saat Rizi ingin menutup pintu, Elza dengan cepat menahannya dan membuka kasar pintu itu hingga Rizi terlonjak kaget.


"Berani sekali kau—" Rizi menghentikan niatnya untuk menampar Elza karena El membusungkan dadanya seperti ingin melawan Rizi.


"Apa, hm? Kau ingin menamparku? Ayo tampar aku, tampar! Itu sudah biasa aku dapatkan darimu, Rizi. Kau tidak pernah sekali saja bersikap baik dan lembut padaku, kau tahu jika aku ini seorang wanita bukan? Selama beberapa bulan ini aku tidak pernah melawanmu karena aku mengganggapmu sebagai suamiku, aku tidak ingin menjadi istri durhaka karena melawan suaminya. Tetapi kau tahu jika semua manusia punya batas kesabaran bukan?" Elza menatap Rizi yang mengalihkan pandangan.


"Tatap aku Rizi, lihat aku ketika aku sedang berbicara!" Elza memberanikan diri menangkup wajah Rizi agar menghadap ke arahnya.


Elza tahu jika hal ini sebenarnya percuma karena dia berbicara dengan orang mabuk yang pasti tidak akan mengerti ucapannya. Namun, Elza sudah kehilangan kendali hingga dia terus saja mengoceh.


"Apa aku bukan istri yang baik untukmu? Kau masih mengingat tentang kakakku? Kau masih tidak terima dengan kejadian yang sudah menimpa kita? Ya, aku tahu itu karena aku juga tidak terima dengan semua ini. Tetapi kita bisa menganggap ini sebagai takdir dan cobaan, kita tidak pernah tahu jalan cerita yang telah Tuhan rangkai untuk kita di dunia ini. Sedikit saja aku mohon hargai aku, jangan menjatuhkan harga diriku karena aku tidak selamanya bersalah." Elza terisak, dia menunduk karena tidak sanggup menahan rasa sesak di dadanya.


Rizi hanya diam saja, dia melepaskan tangan Elza yang memegang rahangnya.


"Pergi dari kamarku, pergi!" teriak Rizi tidak bisa luluh dengan perkataan Elza.


Elza pasrah, dia lelah dan akhirnya memutuskan pergi dari kamar Rizi. Ketika berada tak jauh dari ambang pintu, Elza mendengar teriakan Rizi dan barang-barang yang berjatuhan di atas lantai. El semakin menangis dan tubuhnya luruh ke lantai.



__ADS_1


TBC


__ADS_2