Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 65 DTH


__ADS_3

Kedua bola mata Ica terbuka sempurna, pagi ini rasanya dia sangat bahagia karena dirinya telah semakin dekat dengan Ali sang calon suami. Pernikahan mereka akan di gelar selama satu bulan lagi dan tentu saja seluruh keluarga juga warga sangat antusias menyambut pernikahan keduanya.


Tetapi, berbeda dari warga dan keluarga, Imah sepertinya sedikit keberatan dengan pernikahan itu. Bagaimana tidak, dia sudah lama mencintai Ali tetapi sekarang malah perempuan lain yang akan menjadi istri Ali.


Kegalauan Imah membuat daya tahan tubuhnya drop karena tidak makan, Umi selalu menyemangati Imah dan mengatakan jika bukan hanya Ali laki-laki di dunia ini. Mungkin saja, Allah sudah mempersiapkan calon imam yang pastinya terbaik untuk Imah.


Imah menerima saran dan nasehat dari sang Umi, perlahan kemudian, dirinya mulai mengatur pola makan dan kesehatan. Tidak baik baginya untuk berlarut-larut dalam kesedihan seperti itu.


Ica dan kedua orang tuanya sedang sarapan bersama di meja makan, dia sudah akrab dengan Siska dan Bahri yang dia yakini jika mereka adalah orang tuanya.


"Nak, hari ini kamu jadi pergi bersama dengan Ali?"


Ica mengehentikan kunyahan dan mengangguk.


"Benar, Bun. Bang Ali berkata jika dia akan menjemput Aulia pukul sembilan nanti."


Kedua orang tua angkat Ica tersenyum senang, mereka akhirnya bisa merasakan kedamaian seperti sekarang.


"Bunda harap kamu baik-baik di luar kota nanti, Bunda juga akan mengatakan pada Ali jika dia harus menjagamu."


"Bunda, Aulia sudah besar dan Bunda tenang saja." ucap Ica diselingi senyum manis.


Mereka pun mulai sarapan kembali dengan percakapan ringan yang menjadi topik pembicaraan.


Pukul sembilan pagi.


Ali datang mengendarai mobil pick up dan membawa begitu banyak barang yang ada di gerobak mobil itu. Ica dan sang Bunda keluar dari dalam rumah karena mereka mendengar suara deru mobil yang berhenti.


"Bun, Aulia pamit dulu, ya?" Ica mengecup punggung tangan Siska.


"Hati-hati ya, Sayang." Siska mengecup dahi Ica.


Ali pun ikut berpamitan.


"Ali, jaga Aulia baik-baik! Awas saja kalau anak Bunda sampai lecet atau sedih." gurau Siska dengan senyum tipis.


"Siap, Bun!" jawab Ali tegas lalu keduanya masuk ke dalam mobil.


Mobil tersebut pergi meninggalkan perumahan mewah keluarga Kurniawan.


"Bang, apa semua barang-barang di belakang akan kita sumbangkan semua ke panti asuhan?"


Ali mengangguk seraya fokus menyetir. "Ya, seperti itulah perintah dari pak kepala desa."


"Kamu sering datang ke panti asuhan itu?"


"Tentu, meskipun tidak di perintah seperti ini pasti aku akan menyempatkan diri datang ke panti asuhan itu. Sendirian dan atas kemauanku sendiri." Ali tersenyum tipis.


Mereka kembali berbincang hingga tak terasa akhirnya sampailah mereka di panti asuhan Muara Kasih. Perjalanan yang mereka tempuh sekitar kurang lebih satu jam setengah. Namun, bagi Ica, waktu terasa begitu cepat berlalu karena dia berada di dalam mobil bersama dengan Ali.

__ADS_1


Keduanya turun dari mobil dan di sambut ramah juga meriah oleh anak-anak panti, ibu panti dan pengurus lainnya.


"Nak, Ali?" panggil sang Ibu panti setelah dia hampir dekat dengan Ali juga Ica.


Ali tersenyum tipis begitupun dengan Ica.


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikumsalam," sahut sang Ibu panti menjawab salam Ali.


"Bu, ini saya ada membawakan sedikit sembako, pakaian dan barang-barang lainnya untuk anak-anak panti. Ini semua uluran tangan dari warga desa seperti biasanya." ucap Ali kepada sang Ibu panti.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Nak Ali." ibu panti melirik Ica, dia baru menyadari jika kali ini Ali tidak datang sendirian.


"Nak Ali, dia siapa? Tumben kamu datang ke panti membawa seorang perempuan?"


"Dia, dia calon istri saya, Bu. Namanya Aulia," ucap Ali memperkenalkan Ica.


Ica tersenyum ramah lalu menjabat tangan Ibu panti dan menciumnya dengan takzim.


"Wah, berarti sebentar lagi nak Ali akan menikah, ya? Selamat ya, Nak. Jangan lupa untuk mengundang ibu dan anak-anak panti sekalian." gurau sang Ibu panti.


"Pasti, Bu." jawab Ali yakin.


Semua anak panti menghampiri Ica dan Ali lalu mereka bermain bersama dengan kegembiraan yang tiada tara. Ica merasa sangat bahagia dengan semua ini, dia juga salut dengan Ali meskipun masih muda tetapi memiliki kepedulian yang tinggi kepada semua orang.


🌺🌺🌺🌺🌺


Elza sudah bisa berjalan meskipun dengan cara perlahan sambil di bantu oleh pegangan dinding. Dia sudah sampai di lantai bawah, dirinya melihat Rizi sedang berkutat di depan kompor. Tercium aroma masakan dari sana, dia menghela napas pelan agar tidak terlalu terbawa suasana.


Elza berdehem hingga membuat Rizi mengalihkan pandangan.


"Elza, kamu kok ada disini? Kenapa tidak istirahat saja di dalam kamar? Keadaanmu belum pulih dan aku minta agar kamu mengikuti saran Dokter untuk banyak istirahat." oceh Rizi panjang lebar.


Elza memutarkan bola mata. "Aku bosan di dalam kamar terus."


Rizi terdiam, dia menatap wajah Elza yang sudah terlihat segar.


"Kamu ingin jalan-jalan keluar?"


El berpikir sejenak, dia kemudian mengangguk pelan.


"Baiklah, aku sudah selesai memasak dan kita akan jalan-jalan ke taman untuk refreshing mata."


Elza hanya mampu mengangguk karena dia memang sangat bosan terus-menerus berada di dalam rumah.


Mereka bersiap untuk pergi dan tentu saja mengendarai mobil.


Sesampainya di taman, Elza menghirup udara dalam-dalam karena hari masih pagi dan udara juga belum terlalu kotor terkena populasi udara.

__ADS_1


"Apa kamu menyukai udara pagi ini?"


Elza mengangguk.


Rizi tersenyum tipis ketika melihat wajah Elza yang bersinar bak rembulan malam. Untung saja hari ini weekend dan membuat Rizi memiliki banyak kesempatan untuk bersama dengan Elza.


"Kita duduk disana saja," Rizi menunjuk sebuah bangku.


Keduanya duduk di bangku itu lalu seketika raut wajah Elza berubah menjadi murung.


"Ada apa?" Rizi bertanya karena dia heran melihat perubahan raut wajah itu.


Elza menggeleng perlahan lalu dia menunduk sedih, dirinya baru saja melihat keluarga kecil dengan satu anak perempuan di antara suami-istri itu, mereka bertiga terlihat bahagia dengan senyum lebar yang menghiasi bibir ketiganya. Elza membayangkan jika saja dirinya tidak keguguran pasti dia akan bahagia seperti wanita itu.


Rizi melihat ke arah lain, dia menghela napas lalu menggenggam tangan Elza.


"Maafkan aku," ucapnya yang entah sudah berapa kali.


Elza terdiam.


"El, aku sungguh-sungguh menyesal. Aku mohon maafkan aku dan berikan aku kesempatan kedua, waktu itu aku telah diselimuti oleh kebencian, emosi dan dendam sehingga aku sulit untuk berpikir jernih. Kali ini izinkan aku untuk membahagiakanmu dan calon anak-anak kita kelak."


Elza menatap manik mata Rizi yang memancarkan ketulusan, dia pun bimbang harus berbuat apa.


"El, apa kamu tidak percaya denganku? Bagaimana caranya agar kamu bisa mempercayai ucapanku ini?"


"Apa aku bisa jamin jika kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi?"


Rizi mengangguk cepat. "Dokter mengatakan jika kamu masih bisa hamil lagi, lupakan kejadian yang menyakitkan dan mari kita buka lembaran baru dengan kebahagiaan."


Elza menghela napas pelan, dia harus berpikir terlebih dahulu. Dirinya akan mengetes ketulusan Rizi hingga batas mana.


"Aku perlu memikirkannya, jika aku berkata tidak, maka kamu harus segera menceraikan aku." ucap Elza membuat Rizi kelabakan.


Rizi menggeleng. "Aku tidak akan menceraikanmu, aku sangat mencintaimu, Elza. Aku baru sadar dengan rasa ini dan ternyata ini memang tulus untukmu. Aku sudah berusaha mencoba melupakan Ica dan saat ini hanya ingin fokus membina rumah tangga bersamamu." ujarnya pasti.


Elza terdiam, manik mata keduanya saling menatap sangat dalam.


β€’


β€’


β€’


TBC


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR πŸ€—

__ADS_1



__ADS_2