Diantara Tiga Hati

Diantara Tiga Hati
Bab. 44 DTH


__ADS_3

Tiga tahun telah berlalu dengan cepat, keromantisan antara Ica dan Rizi semakin menjadi, mereka bahkan alam melangsungkan pernikahan sebentar lagi. Ica saat ini sudah menyandang status S. Ds, dia mengambil jurusan tata busana sewaktu kuliah. Dirinya ingin sekali menjadi seperti sang Mama yang terkenal akan desain bajunya. Sementara Rizi, dia sudah lulus sarjana S.M untuk jurusan Management. Sepasang kekasih itu berjuang untuk cinta mereka bersama-sama, bahkan Rizi selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan Ica ke butik.


Setelah lulus kuliah, Ica langsung meminta sang Mama untuk membelikannya butik. Dia akan mengganti uang pembelian butik jika dirinya sudah mendapatkan untung dari pekerjaannya itu. Elza, dia masih menjadi pengangguran. Dirinya belum mau terjun bekerja seperti Ica, hal itu tidak di permasalahkan oleh kedua orang tuanya hingga membuat Elza merasa lega.


Saat ini, Ica dan Rizi tengah berada di perjalanan pulang menuju ke rumah. Rizi melihat tempat penjualan ice cream dan dia menghentikan mobil sejenak.


"Ada apa, kak?" Ica bertanya ketika tiba-tiba mobil itu berhenti.


"Sebentar ya, aku akan segera kembali." Rizi keluar dari mobil dan berlari menuju ke tempat penjual ice cream.


Beberapa saat kemudian, dirinya kembali dengan membawa dua buah ice cream Cornetto. Dirinya memberikan pada Ica dan itu adalah rasa kesukaan Ice.


"Terima kasih," ucap Ica dengan senyum manis, dia langsung membuka ice cream tersebut dan melahapnya.


"Maaf, malam-malam seperti ini aku malah membelikanmu ice cream." ujar Rizi merasa tidak enak.


"Kenapa harus meminta maaf? Aku sangat menyukainya, kak. Kamu sangat romantis dan ini adalah rasa kesukaanku, cokelat."


"Aku tahu, maka dari itu aku membelikannya untukmu."


Ica tersenyum, dia tidak sadar jika di sudut bibirnya ada lelehan ice cream. Rizi yang melihat itu dengan cepat meminta maaf dan mengusap sudut bibir Ica menggunakan ibu jarinya, wajah mereka berdua sangat dekat hingga Ica bisa mencium wangi mint dari mulut Rizi. Tatapan mata mereka berdua bersitubruk hingga tanpa sadar keduanya semakin mendekatkan wajah dan memejamkan mata. Rizi ingin mencium bibir Ica tetapi sedetik kemudian mereka tersadar dan kembali menjauhkan wajah mereka.


"Mβ€”maaf, setan hampir saja menguasai diriku. Aku harus bisa menahan ini semua, setelah kita menikah nanti barulah aku akan melakukan apa yang harus ku lakukan." goda Rizi diselingi kedipan mata.


Ica tersipu malu, dirinya memalingkan wajah karena takut ketahuan oleh Rizi. Mobil mereka pun segera melaju ke rumah Ica.


"Sayang, apa besok kamu tidak ada acara?"


Ica terdiam sambil mengingat, sedetik kemudian dirinya menggelengkan kepala.


"Aku rasa tidak ada, kak. Memangnya kenapa?"


"Begini, besok aku dan teman-teman berencana untuk mengadakan pesta di cafe. Ya, pesta pelepas lajang karena sebentar lagi aku akan segera menikahimu. Jika kamu mau, besok aku akan menjemputmu di rumah dan kita pergi bersama ke pesta itu. Tetapi, sebelum itu kita harus memilih undangan pernikahan terlebih dahulu. Sangat banyak persiapan yang belum kita kerjakan, bagaimana?"

__ADS_1


Ica mengangguk. "Aku akan menunggumu." jawabnya yakin.


🌺🌺🌺🌺


Keesokan harinya.


Tepat pukul lima sore, Elza mendapatkan pesan melalui aplikasi hijau yang mengatakan jika Alvin akan kembali ke Indonesia hari ini. Bahkan, Alvin ternyata sudah berada di bandara dan Elza pun berniat untuk menemuinya disana. Jarak antara bandara dan juga rumahnya tidak terlalu jauh, paling hanya memakan waktu sekitar kurang lebih tiga puluh lima menit. Elza berpikir jika dia akan menaiki motor sportnya agar cepat tiba di bandara sebelum Alvin pergi dari sana.


El juga sudah mengirim pesan singkat jika dirinya sedang dalam perjalanan menuju bandara, untuk saat ini pesannya belum dibaca oleh Alvin. Kemungkinan Alvin sedang sibuk, itulah pikir Elza. Dia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, senyumnya tidak pernah surut karena dia akan bertemu dengan sang pujaan hati setelah beberapa tahun berpisah. Elza bahkan menyanyikan lagu India disepanjang perjalannya, dia tidak peduli dengan orang-orang disekitar yang melihatnya seperti itu.


Bagi Elza, yang terpenting adalah hatinya berbunga-bunga. Dia sangat merindukan Alvin, dirinya sudah Mengkhayal jika bertemu dengan Alvin maka dia akan memeluknya dengan erat dan juga ingin mengungkapkan perasaannya.


"Sepertinya ini adalah waktu yang tepat, aku harus segera mengungkapkan perasaanku sebelum wanita lain mengungkapkannya. Aku yakin jika Alvin pasti akan menerimaku, mengingat kedekatan kami dulunya sangat akrab." ucap Elza di balik helm full facenya.


Dia sudah berpikiran positif, padahal sebenarnya Alvin kembali ke Indonesia karena ada sebuah proyek yang harus dikerjakan dan juga dia sekalian ingin melamar Ica.


Tiga puluh menit, sampailah Elza di bandara. Dia mengedarkan pandangannya tetapi tidak menemukan sosok Alvin. Dirinya hampir frustasi dan berpikir negatif tentang Alvin, dia pikir Alvin bohong mengatakan sudah sampai di Indonesia.


Elza mengambil ponselnya yang ada di kantong celana, dia ingin melihat apakah ada balasan dari Alvin atau tidak. Dirinya menepuk kening ketika mengetahui dua buah pesan dan juga tiga panggilan masuk dari Alvin. Disana, tertuliskan jika Alvin menunggu di taman dekat danau. Elza mengedikkan bahu, dia melajukan motornya ke lokasi tersebut.


Elza sudah sampai di taman, dia melihat kesana-kemari untuk mencari keberadaan Alvin. Di sebuah bangku, seorang pemuda duduk disana dan Elza yakin jika dia adalah Alvin.


El turun dari motor gedenya, dia merapikan dandannya terlebih dahulu. Dia juga berdehem lalu pergi berjalan menemui Alvin. Sesampainya di dekat pemuda yang dia yakini itu Alvin, Elza segera menepuk pundak pemuda tersebut.


Alvin menoleh dan dia tersenyum ketika mendapati Elza yang sudah ada dibelakangnya.


"Elza?" Alvin berdiri dan Elza langsung menghambur ke dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Elza sambil terus memeluk tubuh Alvin yang terasa nyaman untuknya.


"Benarkah? Aku pikir kamu malah lupa denganku." Alvin mengelus rambut Elza yang mengeluarkan wangi aroma mawar.


Elza mengurai pelukan. ''Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Tentu saja aku tidak mungkin melupakanmu," jawabnya dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


'Mana mungkin aku melupakan pria yang aku cintai,' batinnya.


"Oh ya, kamu sendirian?"


Elza mengangguk. "Memangnya, kamu berharap aku bersama dengan siapa?"


Mereka pun duduk di bangku panjang itu.


"Tidak, lupakan saja. Oh ya, kenapa selama ini kamu jarang memberikan kabar padaku?" Alvin memiringkan duduk sehingga menghadap ke arah Elza.


"Aku sedang sibuk," jawabnya sok lelah.


"Sibuk? Sejak kapan seorang Elza menjadi seseorang yang memiliki kesibukan padat?"


Elza merasa jika Alvin saat ini sedang merajuk karena dia jarang memberikannya kabar, El yakin kalau Alvin pasti sangat merindukannya.


"Aku disibukkan oleh tugas kuliah, sayang." jawab Elza sambil memeluk lengan Alvin dengan manja.


Alvin pun mengedikkan bahu, dia datang ke Indonesia meninggalkan perjodohan antara dirinya dan Vio. Keluarga sudah menetapkan tanggal pernikahan yakni dua bulan lagi dan Alvin tidak ada komentar untuk itu. Intinya dia akan tetap menolak perjodohan karena dia hanya mencintai Ica.


β€’


β€’


TBC



**VISUAL ELZA


🌷🌷🌷🌷🌷🌷**


__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN OTHOR YA πŸ₯°


__ADS_2