Dijodohkan Dengan Ketos

Dijodohkan Dengan Ketos
Malam yang menegangkan


__ADS_3

Saat malam sudah datang tak terlihat sang menantu yang dari ia cari kunjung menampakkan dirinya


Melia sudah bertanya dengan Alena yang ia dapati hanya jawaban bahwa Gevan ada urusan di rumah temannya


" lena ini udah malam loh nak, suami kamu juga belum pulang mending kamu telpon gih suruh cepat pulang " suruh Melia dengan sang anak yang tengah fokus menonton film kartun kesukaannya


" Gak usah Ma ntar lagi juga pulang " ucap Alena tanpa mengalihkan pandangan nya dari televisi di depannya


" kamu ini ya, kalau nanti suami kamu di ambil wanita lain gimana "


" ya gak lah ma Gevan kan cinta mati sama aku " ucap Alena dengan pedenya


' malah itu yang bagus ' batin Alena berkata yang sebaliknya


" ya aku memang cinta mati sama kamu na " terdengar sebuah sahutan suara dari arah pintu masuk, membuat Alena dan sang Mama nya sontak mengalihkan pandangan nya mencari asal suara


" kapan kamu pulang nak " tanya Melia pada sang menantu yang sedari tadi ia tunggu-tunggu


" Baru sampai Ma " jawab Gevan dengan senyum tipis menghiasi bibir


Melihat Gevan yang baru kali ini tersenyum, Alena sempat terdiam menikmati senyuman Gevan yang menurutnya sangat langka sebelum sebuah suara kembali menyadarkan nya


" Na ini suami kamu udah pulang, kamu gak mau salam gitu sama suami kamu " ucap Melia pada sang anak yang hanya diam sambil menatap Gevan suaminya


" ya ma " Alena berdiri dari tempat duduk nya menghampiri Gevan yang tengah berdiri di sebelah sang Mama mengambil tangan Gevan dan menciumnya dengan sangat terpaksa


melihat Alena yang mencium tangannya, bukannya membuat Gevan marah atau pun risih tapi ia malah merasa sedikit senang dengan perlakuan Alena yang seperti menganggap nya sebagai suaminya


" kamu udah makan van " tanya Melia pada sang menantu


" Belum Ma "


" kalau gitu ayo kita makan malam bareng " ajak Melia yang berjalan menuju ruang makan di ikuti oleh Alena dan Gevan di belakangnya


saat semua makanan sudah di sajikan di meja makan, Alena yang hendak mengambil nasi dan memasukkan nya ke piring di depannya harus terhenti oleh Ucapan sang Mama


" Na yang pertama kamu harus layani itu suami kamu " ucap Melia pada sang anak


Alena memasukkan kembali nasi ke tempat nya dan mengambil piring Gevan kembali ia menyeruput nasi memasukkan nya ke piring milik Gevan tak lupa pula dengan lauk-pauk


" makasih " ucap Gevan saat piring nya sudah ada di depannya dengan isian yang lengkap


" Hmm " Alena kembali mengambil nasi memasukkan nya ke piring tempatnya makan


" kalian kapan rencananya mau kasih Mama cucu " ucap Melia tanpa tau kondisi


"uhuk... uhuk.. " Alena tersedak mendengar perkataan dari sang Mama


segera Gevan menuangkan air putih dan memberikan nya pada Alena dengan usapan halus di punggung Alena


" Ma bisa gak sih Mama tau kondisi Alena lagi makan ma "ujar Alena pada sang Mama

__ADS_1


" ya maaf tapi memang nya pertanyaan Mama salah, gak kan jadi kapan " tanya lagi Melia yang kini dengan ekspresi wajah penuh harap


"ma_"


" secepatnya ma" bukan Alena melainkan orang di samping nya yang menjawab


sontak saja dua ekspresi yang sangat tidak sesuai muncul, Melia dengan ekspresi bahagia nya dan Alena dengan ekspresi terkejut mendengar jawaban Gevan


"lo" ucap Alena pelan pada sang suami yang kini tengah menyantap kembali makanan nya


" yaudah ma Gevan sama Alena mau ke kamar dulu mau mempercepat apa yang Mama mau " mendengar hal itu Melia di buat sangat bahagia


" na cepat kamu pergi gih " usir Melia pada sang anak yang masih menyantap makanan nya


" tapi ma aku masih mau makan " sebenarnya Alena sudah kenyang tapi mendengar perkataan Gevan lantas membuat ia harus makan lagi sebagai alasan supaya Gevan tidak mengajak nya ke atas atau lebih tepatnya ke kamar mereka


" gak usah makan layani suami kamu dulu tu " ucap Melia menyuruh sang anak pergi


Dengan terpaksa Alena pergi mengikuti Gevan yang menggandeng tangannya menuju ke kamar mereka yang baru tadi pagi mereka melakukan pindah barang ke kamar Gevan


kenapa kamar Gevan, Alena hanya tidak mau kamarnya di masuki oleh orang kecuali dirinya dan kamar Gevan jauh lebih luas daripada kamarnya karena kamar Gevan merupakan kamar utama di rumah itu


Dengan kamar yang bernuansa monokrom tetapi sangat rapi dan bersih, Alena melangkahkan kaki nya memasuki kamar yang 2 kali lipat besarnya daripada kamar nya


" ngapa lo jawab pertanyaan Mama kayak gitu van,kan lo tau kita gak bakal bisa mewujudkan apa yang Mama mau dan lo cuma bisa ngasih harapan palsu ke Mama van" tanya Alena dengan sedikit meninggikan oktaf suaranya


" kalau bisa gimana " tanya Gevan menatap Alena dengan wajah datar nya


" Gak kan bisa van dan lo tau itu " kekeh Alena dengan pendapat nya


Dan menggendong nya ala bridal style menuju sebuah ranjang yang berukuran king size


" van lo apa-apaan sih " marah Alena saat dirinya di lempar oleh Gevan ke ranjang miliknya


" kan gue udah bilang gue bakal memenuhi permintaan dari Mama lo " ucap Gevan yang kini tengah sibuk membuka satu persatu kancing bajunya


" van ini salah mending kita omongin ini baik-baik jangan lakuin hal yang bakal buat lo menyesal " ucap Alena mencoba menenangkan Gevan supaya tidak bertindak gegabah


Gevan naik ke kasur bertelanjang dada dan mengukuh tubuh Alena di bawah tubuh nya


" van gue mohon jangan " takut Alena saat Gevan di atas tubuhnya


" kenapa bukannya lo istri gue " tanya Gevan dengan dingin menatap Alena di bawah tubuhnya


" ya gue istri lo tapi gue belum siap untuk melakukan apa yang lo mau " jelas Alena yang sejujurnya sangat takut sekarang


" itu kan tugas lo sebagai seorang istri dan gue mau hak gue sekarang " ucap Gevan dengan serius


" van gue mohon jangan kali ini gue benar gak siap dan lagian kita masih sekolah " ucap Alena berusaha mencari berbagai alasan agar Gevan tidak meminta hak nya sekarang


Gevan hanya diam menatap wajah Alena dengan lekat, Gevan tau bahwa saat ini Alena sangat ketakutan saat tubuh nya menimpa tubuh Alena

__ADS_1


" oke, gue bakal nunggu lo siap untuk ngasih hak gue asalkan lo mau nurutin semua perintah gue " ucap Gevan yang masih di atas tubuh Alena


"Hah" bengong Alena mendengar perkataan Gevan, sekarang ia tau bahwa yang di lakukan Gevan tadi hanya sebagai ancaman supaya ia mau menuruti semua perkataan nya


" turun lo dari tubuh gue " ucap Alena dengan sikap nya yang berubah tadi nya ia sangat takut tapi setelah mendengar perkataan Gevan ia tak takut lagi malahan ia merasa di permainkan oleh Gevan apalagi taruhan nya adalah hal yang paling ia jaga selama ini


" kenapa lo, gak takut lagi sama gue " tanya Gevan bingung melihat sikap Alena


" gue takut sama lo, mimpi kali lo ya " jawab Alena mendorong tubuh Gevan supaya menyingkir dari tubuhnya


" lo cuma nakut- nakutin gue kan, ya kali sejak kapan lo suka sama gue sampai- sampai minta hal lo sebagai suami " tebak Alena dengan sikap Gevan yang barusan ia lakukan


" pintar juga lo " sindir Gevan sambil mengambil bajunya yang ia letakkan di kasur, Gevan memasang bajunya kembali dengan mata yang masih setia menatap sang istri


" tapi gue gak suka ya lo seenak nya kayak tadi "


" oh " ucap Gevan langsung berjalan ke arah sofa membuka sebuah laptop yang terletak pada meja di depan sopa dan kini Gevan tengah di sibukkan oleh laptop di depan nya


Alena yang sedari tadi melihat sang suami belum tidur masih berkutat dengan laptop nya tidak mau ambil pusing langsung merebahkan diri di kasur yang sangat empuk milik Gevan


paginya, tidur Alena terganggu dengan suara alarm yang sangat memekikkan telinganya membuat ia harus memaksakan mata nya untuk terbuka lebih awal dari biasanya padahal ia sangat segan untuk bangun karena benda yang ia peluk sangat lah nyaman


Alena berusaha membuka mata nya hal ia lihat pertama adalah sosok laki-laki dengan tubuh bertelanjang dada dan pahatan wajah yang sangat sempurna di matanya tengah tidur di sebelah nya, di tambah lagi orang yang ada di depannya sekarang tengah menatap nya dengan seringaian tercetak di bibir seksinya


" puas " tanya orang di depannya yang tak lain adalah sang suami nya sendiri


" Aaaaa, Gevan ngapain lo di sini " tanya Alena langsung memposisikan dirinya duduk tak lupa ia melihat ke dalam selimut yang ia pakai helaan nafas lega terdengar keluar dari mulut nya


" ini kamar gue " jawab Gevan yang juga dengan posisi duduk


" ya gue tau bukannya lo di sopa ya kemaren ngapa pindah ke sini " tanya lagi Alena dengan wajah khawatir


" ini ranjang gue "


" kan lo bisa bangunin gue, biar gue yang pindah ke sopa Gevan "


" males " sesingkat itu kah Gevan balas ucapan gue pikir Alena


Gevan yang tak mau memperdulikan reaksi Alena sekarang memilih pergi menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena sebentar lagi mereka akan berangkat untuk sekolah


15 menit Gevan berkutat di dalam kamar mandi sekarang giliran Alena yang masuk dengan kecepatan penuh karena tidak mau menatap dada bidang Gevan ia takut tidak bisa menahan air liur nya untuk tidak menetes melihat pemandangan yang indah di depan nya


saat Alena telah rapi dengan seragam sekolah nya tak lupa juga dengan Gevan memakai almamater OSIS nya tak lupa ia menarik lengan almamater OSIS nya ke atas dan itu nampak sangat keren di mata Alena yang tak berhenti mengagumi ciptaan Allah di depannya


" kenapa, kagum? " tanya Gevan yang sedang memasang dasi


" dihh ogah gue kagum sama lo " ucap Alena yang tak mau Gevan tau kalau ia memang sempat terpana melihat ketampanan Gevan


" terus kenapa lo liatin gue " tanya kembali Gevan yang kini beralih menatap Alena


" gue baru nyadar aja kalau lo sebenarnya gak setampan yang orang kira " bohong Alena tak mau memuji Gevan

__ADS_1


" yakin nanti lo suka lagi sama wajah gue " ujar Gevan sambil menyandang tas nya di bahu sebelah kiri dan berlalu berjalan keluar tanpa memperdulikan Alena yang masih di dalam


" woiii tunggu gue " teriak Alena karna di tinggal kan oleh Gevan sendiri


__ADS_2