Dijodohkan Dengan Ketos

Dijodohkan Dengan Ketos
Takut


__ADS_3

" jadi pilihan kamu apa Alena " tanya Bu Hestin menatap murid nya yang tengah berperang dengan pikiran nya


" pilihan saya...... "


**


" Gio panggil semua anak OSIS bentar lagi kita rapat " Suruh Gevan yang berlalu pergi ke ruang kebesaran nya


Tanpa bisa Gio menjawab perkataan dari sang ketos, Gevan sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri dengan mulut yang terbuka karna hendak berkata 'ya'


Tak mau mengambil pusing dengan sikap semena-mena Gevan, Gio langsung memilih pergi menyusul Gevan dengan benda pipih yang sudah ia ambil di saku celananya


Gio mengotak-ngatik benda pipihnya, ia memilih membuka aplikasi berwarna hijau yang tak lain adalah whatsapp alat komunikasi zaman kini, jarinya dengan cepat mengetikkan sesuatu di grup OSIS sekolah nya


setelah selesai Gio memasukkan kembali benda pipihnya ke saku celana sekolah nya, langsung menyusul Gevan keruangan OSIS karna sebentar lagi mereka akan mengadakan rapat


sepulang sekolah, semua siswa maupun siswi berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing membuat sekolah yang tadinya sangat ramai dengan orang-orang kini langsung berubah sepi karna hampir semua sudah pulang dan tentu nya kecuali anak OSIS, Alena, Sasa


Alena dan Sasa juga belum pulang mereka tengah menunggu di dalam kelas XI MIPA 2


ntah apa yang mereka akan lakukan biasanya sebelum jam pulang sekolah mereka adalah anak murid pertama yang langsung pulang alias kabur tapi sekarang lihat lah mereka ( aneh ni Alena sama Sasa)


" kita ngapain nunggu di sini na, gue mau pulang " rengek Sasa yang ingin pulang tapi harus tertahan oleh sahabat nya


" Gue mau nguping rapat anak OSIS Sa " jawab Alena yang menatap Sasa dengan tatapan semangat


" Hah, lo gak lagi sakit kan atau tadi pagi lo salah makan obat " Tanya Sasa dengan intonasi tidak percaya pada sahabat nya yang satu ini menurut nya Alena memang aneh dan cuma mencari masalah


Alena menatap jengah pada sahabat nya yang sekarang terbeo-beo oleh perkataan nya tadi


" Gue serius Sa, dah lah yuk pergi ke ruangan anak OSIS " ajak Alena sembari beranjak dari tempat duduk nya meninggalkan Sasa yang masih dengan ekspresi tak percaya nya


" woii tungguin gue " Saat sadar Sasa langsung menyusul Alena yang telah menghilang dari balik pintu kelasnya


setelah berjalan menaiki tangga menuju lantai kedua akhirnya mereka sampai di pintu berwarna coklat kemerahan yang tertutup rapat di mata mereka


" lo yakin na, nanti kita ketahuan gimana " bisik Sasa memastikan lagi perkataan Alena di kelas tadi


" Gue serius Sa dan kalau misalnya kita ketahuan ya tinggal kabur aja yang penting lo harus dengerin kode dari gue aja nanti ya " Ucap Alena yang juga berbisik pada Sasa takut orang di balik pintu akan mendengar pembicaraan mereka


Alena melangkah beberapa langkah lalu dengan pasti ia mendekatkan telinganya pada dinding pintu di depannya, Sasa hanya melihat diam di belakang Alena ia takut kalau perbuatan nya dengan Alena akan ketahuan jujur saja Sasa sudah sangat kapok di hukum oleh OSIS ditambah lagi ia sudah sangat sering keluar masuk ruang BK, bukan itu saja saat ia pulang pasti ia akan langsung mendapat ceramah dari orang tuanya yang sangat mementingkan kehormatan keluarga nya itu, bagaimana tidak tersiksa nya Sasa jika kali ini ia juga ketahuan menguping saat OSIS rapat


Di dalam ruangan OSIS nampak semua anggota tengah serius menatap Gevan yang kini tengah berbicara di depan mereka


" Jadi bagaimana? apa kalian setuju jika anak OSIS tidak di perbolehkan untuk masuk dalam drama yang akan di ada kan sekolah ini " tegas Gevan berbicara di depan tapi masih ada intonasi tekanan di dalam nya


" jadi kak peran anak OSIS di dalam drama itu tidak ada terus apa yang akan kami lakukan " pertanyaan yang di ajuka oleh Randa selaku anggota OSIS yang masih duduk di bangku X ips 8 mewakili semua pertanyaan para anggota OSIS


" oh itu sudah saya siapkan nanti saya akan bagi tugas kalian di drama kali ini " jawab Gevan


" oke kak kalau gitu kami setuju dengan keputusan kakak " ucap siswi yang menjadi anggota OSIS yang rambutnya di kepang dua


Alena tidak dapat mendengar pembicaraan para anggota OSIS di dalam sehingga ia harus mencari posisi yang memadai untuk membuat nya mendengar pembicaraan di dalam, tanpa ia sadari perbuatannya itu membuat suara yang bisa di dengar dari dalam, membuat anggota OSIS yang tengah serius dengan rapatnya merasa terganggu dengan suara langkah kaki dan gesekan dari arah luar pintu


Gevan membuka laptopnya mengotak-ngatik dengan jari-jari yang di gerakkan dengan cepat dan saat ia memeriksa CCTV di luar pintu betapa terkejutnya saat mendapati sang istri dan seorang siswi yang ia ketahui itu adalah sahabat dari istrinya tengah berada di luar dengan posisi Alena yang sedang berusaha menguping dan Sasa yang berdiri di belakang Alena dengan wajah gelisah


setelah tau siapa pelaku yang membuat rapat nya cukup terganggu walaupun sebenarnya rapat itu sudah selesai tetap saja tindakan Alena itu tidak sopan, Gevan berjalan dengan menuju pintu memutar handle pintu dan....


Brukkk


Tubuh Alena terjatuh menindih tubuh Gevan, karna saat Gevan membuka pintu tiba-tiba, Alena tidak bisa menstabilkan dirinya sehingga ia jatuh di atas Gevan sekarang. Hal yang paling memalukan sekarang menurut Alena adalah saat semua anggota OSIS tengah menatap dirinya dan juga Gevan dengan berbagai macam ekspresi, marah, iri, terkejut dan banyak lagi ekspresi yang mereka tampil kan


" Turun " ucap Gevan dengan suara dingin milik nya


Alena yang sempat terbeo-beo karna mengagumimu ketampanan Gevan sontak langsung menghapus pikiran, Alena yang sadar langsung berdiri setelah itu di sertai Devan yang juga ikut berdiri


" ngapain " tanya Gevan dengan menatap Alena dingin


Alena diam dengan ekspresi cemberut, ia menjawab dengan sedikit nada kesal

__ADS_1


" apaan sih lo, gak jelas " elak Alena hendak pergi dari ruangan OSIS


tapi sebelum Alena hendak melangkah pergi tangan nya sudah dulu di pegang oleh Gevan


" lo kenapa sih " bingung Alena melihat sikap Gevan yang aneh apalagi di tambah dengan tatapan Gevan yang dari tadi menatap nya dengan tatapan datar


Gevan hanya diam lalu berjalan menarik tangan Alena agar pergi mengikuti dirinya


semua orang yang melihat kejadian itu sungguh sangat kaget melihat sikap Gevan tidak biasanya orang yang di kenal sangat dingin di sekolah sekarang sedang pergi bersama seorang wanita


Dan tanpa mereka semua sadari ada seseorang yang menatap kejadian tadi dengan tatapan benci, tangan nya saja sudah mengeluarkan noda merah akibat tangan nya yang ia kepalkan sehingga kuku-kuku panjang di jari nya menusuk ke kulit tangan


**


Gevan membawa Alena masuk ke mobilnya dengan cara paksa karna Alena sedari tadi memberontak


saat mereka telah berada di dalam mobil, Alena masih saja berusaha keluar walaupun ia tau kalau pintu di sebelah nya sudah di kunci oleh Gevan


" Bisa diam " ucap Gevan dengan penuh tekanan


" Gak gue gak mau diam, buka van gue mau keluar " ucap Alena tak mau kalah dari Gevan, Alena memang anak yang sangat keras kepala jadi mau sekeras apapun orang itu maka Alena akan jauh lebih keras Kepala lagi


Gevan hanya diam tak mau mengubris Alena, gevan memilih menghidupkan mobilnya melajukan di jalan raya yang cukup sepi, Gevan yang masih melihat bagaimana Alena yang masih memberontak langsung menancap gas sehingga Alena yang tadinya masih memberontak kini mencari pegangan karna ia sangat takut dengan mobil yang di bawa oleh sang suami


" Gevan gue gak mau mati " teriak Alena dengan ekspresi yang masih takut


Gevan juga tidak mengubris perkataan Alena, bahkan bukannya mengurangi kecepatan malah ia menambah kecepatan laju mobilnya yang membuat Alena tanpa sengaja memegang lengan Gevan karna saking takutnya ia dengan kecepatan mobil yang di lajukan Gevan


" van gue mohon berhentiin ni mobil, gue takut " ujar Alena dengan tangan yang masih memegang lengan Gevan dan mata yang terpejam


Melihat sang istri yang sangat takut di sampingnya di tambah lagi ia dapat merasa kan kalau tubuh Alena gemetar dari tadi akhirnya Gevan menepikan mobilnya di tepi jalan yang sekelilingnya hanya ada pepohonan sawit dan tidak ada satu pun rumah di situ


" udah " ucap Gevan memberi tahu Alena bahwa ia sudah melakukan apa yang Alena inginkan sedari tadi


Alena perlahan membuka mata nya dan iya Gevan memang memberhentikan mobil sesuai dengan permintaan nya tadi tapi sedetik kemudian Alena mengernyit aneh pada Gevan


" ka_ " belum juga Gevan dapat menjawab perkataan Alena, Alena sudah terlebih dahulu memotong perkataan nya


" Atau lo mau apa-apain gue di sini ya, biar nanti lo bisa buang gue ter_ "


" shtt " Gevan meletakkan jari telunjuk nya di depan bibir Alena


Deg.. deg.. deg


Dan angin dari mana Alena yang biasa nya tidak pernah diam tetapi gara-gara sikap Gevan meletakkan jari telunjuk nya di depan Bibir Alena sontak saja ia terdiam dengan suara jantung yang terus berpacu tak karuan


" biar gue jelasin tadi lo minta gue berhenti mangkanya gue berhenti " jelas Gevan pada Alena


Alena hanya diam menatap Gevan yang berbicara di hadapan nya


" Alena " panggil Gevan sontak membuat Alena sadar dan menjadi salah tingkah karna sikap nya tadi di tambah jantung nya yang masih berdetak tidak karuan


" y.. ya " gugup Alena menjawab panggilan Gevan


" lo kenapa " Gevan mengernyit melihat sikap Alena


" gakpapa "


" oh jadi kita pergi atau masih di sini " tanya Gevan


" pergi aja dari sini " ucap Alena


ketika Gevan hendak melajukan mobilnya, terdengar suara dari benda pipih milik Gevan, ia lalu mengambil benda pipihnya itu di dalam saku celana sekolah nya


ia mengangkat panggilan dari orang yang membuat nya pusing beberapa hari ini


" *hallo "


...............

__ADS_1


" ya nanti aku ke sana* "


setelah mengucapkan itu Gevan mematikan panggilan dari orang di seberang telpon


yang sempat membuat Alena kaget, Gevan berbicara di telpon dengan menggunakan aku sedang kan dengan Alena yang istrinya saja ia masih berbicara lo-gue tentu itu membuat Alena sedikit tidak suka dengan sikap Gevan


setelah Gevan menaruh kembali benda pipihnya, ia sekarang melajukan mobil di jalan dengan Alena yang mengalihkan pandangan ke jendela


setelah menempuh perjalanan kurang dari 30 menit akhirnya mereka sampai di rumah, Alena dan Gevan turun dari mobil memasuki rumah yang mereka tempati beberapa hari yang lalu


Keduanya berjalan menaiki tangga masuk ke kamar mereka ( kamar Gevan)


" lo mau mandi dulu atau gue " tanya Gevan pada Alena yang tengah meregangkan otot-otot kaki di sopa


" lo duluan aja gue lagi peregangan " ucap Alena yang kembali fokus meregangkan kakinya


Gevan menyambar handuk berlalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Alena di luar


' eh tapi siapa ya orang yang telponan sama gevan ' ucap Alena dalam hati


' atau gue ikutin aja gevan nanti ya '


' tapi kalau Gevan tau gue bisa di marahin kayak tadi atau lebih dari itu '


' tapi gue terlanjur kepo '


" Aaaaa "


" kenapa " tanya Gevan yang ntah sejak kapan sudah berdiri di depan Alena dengan cuma memakai handuk yang ia lilit di pinggang


Alena mendongak melihat orang di depannya betapa terpukau nya ia sekarang menatap Gevan dengan dada yang terpampang di depan nya di tambah lagi dengan roti sobeknya apalagi rambut Gevan yang basah dan airnya yang belum kering menambah ketampanan Gevan saat ini


" hapus tuh ileran " goda Gevan melihat Alena yang terpukau melihat nya


Alena yang sadar langsung di buat malu oleh Gevan " lo apa-apaan sih, yaudah gue mau mandi dulu " ucap Alena berjalan melewati Gevan dengan menunduk karna wajah nya sekarang sudah merah akibat keteledoran nya tadi yang ketahuan melihat tubuh Gevan


Dengan cepat Alena menyambar baju yang tadi ia letakkan di atas kasur lalu berjalan masuk kamar mandi


Gevan yang tau kalau Alena salah tingkah sekarang hanya bisa menahan tawanya


Akhirnya setelah 15 menit Alena berkutat dengan ritual nya di dalam kamar mandi, Alena memilih keluar dengan keadaan yang lebih segar


saat ia telah keluar dari kamar mandi ia melihat Gevan yang tengah duduk di sopa dengan mata yang terfokus pada benda pipihnya


" bukannya lo mau pergi " tanya Alena yang sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah


" ya gue nunggu lo " jawab Gevan yang pandangan nya kini teralihkan oleh perkataan Alena tadi


" hah, ngapain " tanya Alena yang heran melihat Gevan yangtumben-tumbenan menunggu nya


" Gue cuma mau bilang, kalau misalnya Mama cariin gue bilang aja gue main ke rumah Gio dan mungkin gak akan balik malam ini " ucap Gevan pada Alena


" berarti lo mau nginap di rumah seseorang gitu " tanya Alena


" hmmm "


"yaudah gue mau pergi dulu " Gevan pergi meninggalkan Alena yang masih diam dengan pikiran nya


" mau pergi kemana Gevan, pasti bukan ke rumah Gio "


" Gue harus ikutin, gitu-gitu juga dia itu tetap suami gue " Alena mengambil tas di atas sopa berlalu keluar berniat ingin mengikuti suaminya


•••••••••••••••••


maaf ya kalau terlalu panjang apalagi ada yg gak nyambung menurut aku


***jangan lupa dukungan nya ya😄


sampai ketemu di episode selanjutnya***

__ADS_1


__ADS_2