
Rumah yang tiba-tiba mengeluarkan hawa ketegangan, membuat Gevan menunduk takut melihat sang istri yang tak lain adalah Alena yang kini tengah menatap nya dengan tatapan seperti ingin memakan Gevan bulat-bulat
" Na aku bisa jelasin " Gevan berucap dengan nada lembut dengan Alena yang hanya menatap nya tak peduli
" Apa yang mau lo jelasin hah " ucap Alena dengan nada dinginnya
" aku_"
" Mau jelasin kalau lo udah buat gue jadi bahan taruhan "
" Gak bukan_ "
" Atau lo mau jelasin kalau gue cuma lo anggap barang selama ini hah "
" Gak_"
" Gue gak nyangka ya Van, gue tau lo gak suka sama gue dan pernikahan kita juga berawal dari perjodohan tapi bisa gak sih lo hargai gue dikittt aja atau lo mau kita cerai_"
" Gak semua itu gak bakal terjadi sampai kapanpun, kamu dengerin aku dulu " Alena terdiam menatap Gevan yang berdiri di depannya
" Gue udah dengerin lo dari tadi tapi gak ada penjelasan, lo niat apa gak sihh buat jelasin " Alena menatap Gevan tak habis pikir padahal dari tadi ia ingin mendengarkan penjelasan dari Gevan tapi tak ada
__ADS_1
" Na dari tadi aku ingin jelasin tapi kamu nyela terus Na " Gevan mencoba menjelaskan kepada Alena
" Gue gak nyangka ya van, bukannya gak mau jelasin doang tapi sekarang lo malah nyalahin guee " Alena kesal dengan perkataan Gevan yang seakan menyalahkan nya
Gevan menghela nafas berat, ini kah yang dinamakan wanita selalu benar
" Ya aku yang salah " akhirnya Gevan mengalah walaupun ia merasa tidak salah
" Lo kayaknya gak ikhlas ngaku kalau lo yang salah ya van " Kekesalan Alena semakin bertambah saat melihat Gevan seakan terpaksa untuk mengakui kalau dirinya yang salah
" huff.. Alena sayangku cintakuu, iya aku ngaku kalau aku salah dan aku minta maaf ya sayang " Gevan mengulangi kembali perkataan nya barusan dengan senyuman yang lebar menatap Alena yang terlihat merona dengan ungkapan salah Gevan barusan
" yayaya udah aku maafin "
" Bukan aku yang ngajakin saga buat jadiin kamu bahan taruhan tapi saga, kalau dia menang aku harus ninggalin kamu tapi kalau aku menang dia gak bakal ganggu kamu lagi tapi_"
" Untung lo menang " sambung Alena yang membuat Gevan langsung speechless menatap dirinya
" Oo jadi diam-diam kamu ingin suamimu ini menang yaa, jadi kamu gak mau jauh-jauh kan dari suami ganteng mu ini " Tiba-tiba tingkat kepedean Gevan meningkat yang membuat Alena menampilkan ekspresi jijiknya
" Dihhh jangan kepedean, perkataan lo tadi cuma setengah alasan dari gue mau lo menang "
__ADS_1
" hah setengah, jadi alasan yang sebenarnya apa " walaupun sedikit kecewa karena bukan alasan utama Alena ingin Gevan menang tapi tidak dipungkiri Gevan tetap bahagia
" kepo " Alena langsung pergi ke dapur meninggalkan Gevan yang menatap nya tak habis pikir
" Ayolah Na " Gevan mengikuti Alena dari arah belakang seperti seekor anak ayam yang mengikuti induknya
" Gak, ngapain lo ngikutin gue sana pergi " usir Alena yang melihat Gevan selalu ada di belakangnya
bukannya Gevan pergi malah ia melihat Alena sedang mengiris bawang
" kamu mau ngapain di sini " tanya Gevan yang bingung dengan apa yang dilakukan Alena sekarang
" ngapain orang di dapur? " bukannya menjawab Alena malah bertanya balik ke Gevan
" masak "
" itu lo tau, gue lagi masak buat makan malam" setelah mengatakan itu, Gevan langsung mengambil pisau, bawang bahkan nampan tempat Alena mengiris bawang
" kenapa lo ambil Gevan "
" kamu gak boleh ngelakuin ini semua na, kamu cukup makan tidur aja, kamu lagi hamil"
__ADS_1
" jangan lebay deh van "