
Tringg...
tring....
tring....
Dering ponsel Alena terdengar, Alena langsung menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelponnya
" Halo "
" Temuin gue di taman belakang rumah lo" setelah Alena mendengar suara yang tak asing baginya itu, tiba-tiba panggilan ditutup sepihak tanpa Alena bisa membalas ucapannya barusan
" Kenapa Gevan ngajak ketemuan dan apaan tuh tadi cara dia ngomong ke gue, kayak Gevan yang masih jadi kulkas" Alena merasa jengkel dengan perubahan sifat Gevan barusan, ia bahkan melupakan kalau Gevan mengajak nya untuk bertemu tapi sebuah pesan dari nomor Gevan mengingatkan nya kembali. Alena langsung bergegas berjalan menuju taman yang tak jauh dari belakang rumah nya
Sampainya Alena di tempat yang ditentukan tadi, Alena melihat punggung lebar seorang laki-laki yang sangat ia kenal siapa lagi kalau bukan Gevan. Yang kini tengah duduk di bangku taman sendirian
" Udah datang " Seakan tahu Alena semakin dekat dengan dirinya yang tengah duduk sekarang
" Udah tau masih nanya aja lo " Alena berdiri tepat di samping Gevan duduk, Gevan melihat ke arah Alena dan langsung menyuruhnya untuk duduk di samping nya
__ADS_1
" Lo udah dapat surat cerai dari mama Melia kan " Gevan langsung to the point ke Alena yang nampak hanya terus memandangi tangannya
" Hmm " ntah kenapa Alena tak kuat untuk berbicara maupun menatap gevan sekarang ini, pikiran nya terus terbayang ke foto yang di berikan Bu Melia tadi
" Cuma 'hmm', lo setuju cerai dari gue? " Gevan menatap Alena dengan mengerutkan dahinya, ia merasa bingung dengan Alena
Cukup lama Alena terdiam dengan tetap melihat ke arah tangannya
" Ya gue setuju buat cerai dari lo " Gevan yang mendengar jawaban tidak terduga yang keluar dari mulut Alena, tentu saja membuat ia merasa sangat kaget dan itu membuat hatinya merasa sangat sakit
" Wow.. gue gak nyangka jawaban itu yang keluar dari mulut lo " Gevan kini tidak lagi menatap ke arah Alena, pandangan nya sekarang hanya tertuju ke depan
' permainan.. '
*
*
*
__ADS_1
Besoknya, seluruh anggota keluarga Alena maupun Gevan tengah berkumpul di ruang tengah di rumah milik Alena
" Mel apa keputusan kalian tidak bisa lagi dipertimbangkan " Bu Risa mencoba untuk membujuk pihak Alena agar perceraian ini tidak jadi terjadi
" Gak sa, ini sudah menjadi keputusan aku sama mas Joni dan kamu pasti tahu kalau aku sudah membuat suatu keputusan, maka tidak bisa lagi di ganggu " Bu Melia bicara dengan aura tegasnya di sertai suara lantangnya yang sampai bisa di dengar oleh para pelayan di dapurnya
Bu Risa tak lagi menjawab ucapan ataupun berusaha membujuk Bu Melia lagi, karna ia tahu bagaimana sifat Bu Melia sebagai seorang sahabat yang telah bersama sejak di bangku SMP
Gevan dan Alena sendiri nampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Alena fokus dengan ponselnya sedangkan Gevan menatap Alena dengan tatapan tajamnya
" Besok kita akan bertemu dipengadilan agama, dan menjadi hari akhir hubungan Gevan dan juga Alena " pak joni akhirnya angkat suara, saat ia tadi hanya menatap interaksi yang lain
" Gak, ini bukan yang terakhir dan itu tidak pernah terjadi sampai kapanpun " Gevan menatap pak joni dengan wajah datarnya
Semua orang sontak saja kaget dengan perkataan Gevan
" maksud kamu apa Gevan " Bu Melia nampak emosi dengan ucapan Gevan barusan
" Alena hamil anak saya sekarang "
__ADS_1
HAH