Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Mama Fia menolak?


__ADS_3

Adinda keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk mama Fia yang sejak tadi menemani papa Jefry di kursi belakang.


Benar, orang yang menolong Adinda adalah mama Fia. Mama Fia kebetulan lewat dan terkejut ketika melihat Dinda sedang melambai-lambaikan tangannya seperti minta tolong.


Mama Fia sangat bersyukur karena ia bertemu dengan Dinda yang kala itu butuh bantuan. Dan yang lebih membuat bersyukur adalah karena ia bisa menolong papa Jefry, mantan suaminya.


Papa Jefry dibaringkan di atas brankar, lalu lekas didorong oleh dua orang suster menuju ruang periksa.


Mama Fia mengikuti langkah brankar sambil memegangi tangan papa Jefry. Meski begitu, tidak ada ekspresi di wajahnya.


Mama Fia tidak memasang wajah khawatir bukan berarti ia tidak cemas, namun ia hanya syok dan bingung harus bereaksi seperti apa.


Selama ini ia pikir mantan suaminya itu sudah hidup bahagia dengan anak dan cucunya, atau lebih tepatnya dengan pilihannya sendiri. Namun ternyata ia salah besar, pria yang masih dicintainya itu malah sangat menderita.


"Maaf, Nyonya. Anda tidak boleh masuk, tolong tunggu diluar." Ucap suster lalu melepaskan genggaman tangan mama Fia ditangan papa Jefry.


Mama Fia tidak menyahut sama sekali. Ia masih berdiri di sana sampai akhirnya pintu ruang periksa tertutup.


"Oma." Panggil Adinda dengan lirih.


Mama Fia membalik badan, menatap istri dari cucunya itu dengan nanar.


Mama Fia menggenggam tangan Adinda, lalu menariknya untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang periksa.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Dinda? Bagaimana bisa opamu seperti ini?" Tanya mama Fia dengan pelan.


Dinda menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Ia malah meneteskan air matanya kala mendengar pertanyaan dari mertua kakaknya.


"Dinda, dimana Risa? Aditya? Anto? Kenapa kamu harus melambai-lambaikan tangan di jalanan?" Tanya mama Fia lagi.


Tangisan Dinda semakin pecah. Wanita itu lalu menundukkan kepalanya, menumpahkan segala rasa sesalnya dengan menangis.


Mama Fia terkejut. Ia pun menarik Adinda ke dalam pelukannya, dan ia usap punggung wanita itu dengan penuh kelembutan.


"Kak Aditya dan keluarganya benar-benar keterlaluan, Oma. Tidak ada yang menghargai pengorbanan opa Jefry selama ini." Ucap Adinda sambil menangis.


Adinda menarik diri, lalu menyeka air matanya. Ia menatap mama Fia dengan wajah penuh air mata.


"Semenjak berpisah dengan oma, opa tidak pernah bahagia. Dia selalu sendiri, tidak ada yang peduli padanya termasuk mama Risa atau siapapun. Papa Jefry sangat menderita, Oma." Tambah Adinda memperjelas.


"Apa! Tapi bagaimana bisa Risa dan Aditya bersikap begitu, apa mereka tidak ingat Jefry sampai mengorbankan pernikahannya demi membebaskan mereka." Mama Fia menyahut dengan penuh keterkejutan sekaligus geram.


"Bukan hanya itu, Oma. Perusahaan papa Jefry bangkrut karena kak Aditya terus menghamburkan uang, kak Aditya selingkuh, dan saat ini dia sakit." Ucap Adinda kembali bercerita.


Mama Fia menatap Adinda dengan kening yang semakin mengkerut.

__ADS_1


"Sakit? Aditya sakit apa?" Tanya mama Fia.


"HIV stadium empat." Jawab Adinda dengan sedikit berat karena sesak di dadanya.


Mama Fia semakin syok. Ia tidak tahu jika selama ini telah banyak yang terjadi, termasuk penderitaan mantan suaminya yang kini sedang menjalani perawatan.


Adinda menggenggam tangan mama Fia. "Oma, aku bisa meminta sesuatu?" Tanya Adinda.


"Apa, Nak?" Tanya mama Fia.


"Tolong kembali lah pada opa, dia sangat menderita tanpa oma. Dia juga masih sangat mencintai oma." Jawab Adinda memohon dengan sangat.


Mama Fia tidak menyahut, ia bahkan melepaskan genggaman tangan Adinda yang baru saja membuat permohonan padanya.


"Opa Jefry sangat menyesali keputusannya, dia tidak tahu jika anak dan cucunya akan bersikap seperti ini, Oma." Ucap Adinda lagi menjelaskan.


Mama Fia bangkit dari duduknya, lalu dirinya menghela nafas. Mama Fia masih belum memberikan reaksi apapun terhadap permintaan Adinda.


"Aku akan menelepon Kaivan dan Archie, mereka juga harus tahu kondisi Jefry saat ini." Ucap mama Fia mengalihkan pembicaraan.


"Selama itu, aku akan pergi. Tolong jaga Jefry disini." Tambah mama Fia.


Mendengar itu, Adinda lantas memegang tangan mama Fia untuk mencegahnya pergi dari sana.


"Oma, setidaknya tolong temui opa sekali saja. Ada yang ingin dia katakan pada oma, aku mohon." Pinta Adinda dengan memohon.


"Urusanku dan Jefry sudah selesai, Dinda. Kalaupun ada yang ingin dia bicarakan, maka itu tidak lebih dari kalimat perpisahan." Ucap mama Fia dengan tenang.


Adinda menggelengkan kepalanya. "Tidak, Oma. Opa ingin meminta maaf, aku mohon tunggu disini sebentar lagi." Pinta Adinda.


Mama Fia menggelengkan kepalanya. Ia kembali melangkah untuk pergi, namun langkahnya terhenti ketika Adinda kembali bicara.


"Oma, opa mengatakan bahwa umurnya tidak akan lama. Dia ingin meminta maaf sebelum dia pergi untuk selamanya." Ucap Adinda.


Mama Fia bukan hanya menghentikan langkahnya, tetapi juga langsung mendekati Adinda kembali.


"Apa? Kamu bilang apa tadi?" Tanya mama Fia.


"Umurnya tidak lama lagi? Jefry berani bicara begitu? Apa dia mau tiada di tanganku hah." Ucap mama Fia dengan geram.


Mata mama Fia tampak berkaca-kaca dan Adinda bisa melihat jika mama Fia masih sangat peduli pada papa Jefry.


"Oma mau kan tinggal disini sebentar lagi, setidaknya sampai oma bertemu opa?" Tanya Adinda pelan.


"Ya, aku akan disini. Dengan meng-klaim dirinya akan tiada, itu sama saja dia memancing kemarahanku." Jawab mama Fia dengan berapi-api.

__ADS_1


Mama Fia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian memberikannya pada Adinda.


"Tolong telepon Archie dan minta dia datang." Ucap mama Fia.


Adinda menatap ponsel itu. Ia ragu untuk menghubungi kakaknya, ia takut Archie akan menolak datang jika dirinya yang meminta.


"Oma, kak Archie tidak akan mau jika aku yang memintanya. Dia pasti sangat membenciku setelah apa yang terjadi." Lirih Adinda sembari menundukkan kepalanya.


"Itu tidak benar, kakakmu sangat menyayangimu. Telepon dia sekarang." Tutur mama Fia.


Adinda menerima ponsel mama Fia. Ia hendak menelpon nomor kakaknya, namun siapa sangka jika Archie duluan yang menelepon.


"Angkat dan bicaralah padanya." Tutur mama Fia.


Adinda pun lekas mengangkat panggilan dari kakaknya.


"Mama, aku dan mas Kaivan mau pulang. Mama mau makan sesuatu tidak?"


Adinda tidak menjawab, ia memejamkan matanya mendengar suara kakak yang cukup ia rindukan.


Kakak yang terakhir kali ia temui, namun malah enggan ia sahuti pertanyaannya.


"Mama, mama bisa dengar suaraku?"


Adinda menutup mulutnya, menahan isak tangis yang sejak tadi ingin ia keluarkan.


"M-mbak." Ucap Adinda pada akhirnya.


"Ini aku, Mbak. Dinda." Ucap Dinda lagi.


Usai mengatakan itu, Dinda langsung memberikan ponselnya pada mama Fia lalu dirinya berlari menuju toilet.


Mama Fia menatap kepergian Adinda dengan helaan nafas. Tentu wanita itu akan merasa sedih, mengingat apa yang telah dilakukannya.


Akhirnya mama Fia yang berbicara pada Archie dan memintanya untuk datang ke rumah sakit yang sudah ia sebutkan.


Sementara itu Adinda, ia menangis sambil memegangi wajahnya yang ia tutupi dengan kedua tangannya.


Hidupnya telah hancur. Semuanya berantakan. Pendidikan, rumah tangga dan masa depannya. Semuanya hancur.


Adinda tahu ini adalah buah dari perbuatannya, tapi apa bisa ia berharap untuk mendapatkan kesempatan kedua?


Adinda ingin bahagia seperti kakaknya, tentu tanpa merebut apa yang Archie miliki.


"Mbak, aku butuh mbak." Lirih Adinda.

__ADS_1


YUK BISA YUK MINTA MAAF, KAMU PASTI DIMAAFIN APALAGI ARCHIE SAYANG BANGET SAMA ADIKNYA 😙


Bersambung........................................


__ADS_2