Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Kaivan gila perempuan


__ADS_3

Archie baru kembali bersama suaminya dari luar. Wanita hamil yang cantik dan sangat dipuja oleh Kaivan itu tiba-tiba menginginkan makan martabak telor abang-abang.


Dengan wajah berseri-seri, Archie langsung duduk di sebelah mertuanya lalu meletakkan martabak telur yang ia beli di atas meja.


"Bibi, boleh minta ambilkan piring?" Tanya Archie pada bi Sari yang kebetulan datang membawakan dia dan suaminya minum.


"Boleh, Nyonya. Sebentar saya ambilkan." Jawab bi Sari lalu lekas pergi untuk melakukan perintah majikannya.


Mama Fia menatap menantunya sambil senyum-senyum. Menantunya ini jika sudah ngidam seperti anak kecil yang menggemaskan.


"Istri kamu kalau ngidam lucu ya, kayak anak kecil minta beli mainan." Ucap mama Fia sambil terkekeh.


"Memang, Ma. Makanya aku gemas dan suka kurung dia dikamar. Soalnya kadang kayak anak kecil, bikin aku pengen gigit dia." Sahut Kaivan dengan gemas.


Archie yang mendengar obrolan antara suami dan mertuanya itu hanya bisa senyum malu-malu. Ia menutupi wajahnya dengan tangan karena malu.


Tidak lama kemudian bi Sari membawakan piring dan mangkuk untuk meletakkan sausnya.


Archie lekas memindahkan martabaknya ke dalam piring, lalu menuang sausnya ke dalam mangkuk.


"Wahhh, ayo makan Ma." Ajak Archie dengan tidak sabaran.


Mama Fia menggelengkan kepalanya. "Mama sudah nggak boleh makan malam begini, Chie. Apalagi itu makanan berminyak, bisa-bisa kolesterol mama naik." Tolak mama Fia.


Archie mengunyah sambil menganggukkan kepalanya. Ia mengerti keadaan mertuanya itu.


"Sayang, ayo." Ucap Archie lalu beralih menyuapi suaminya.


Kali ini Archie tidak mendapatkan penolakan. Wanita itu menyuapi suaminya dengan telaten sekali.


"Enak kan?" Tanya Archie dengan wajah penuh senyuman.


"Enak, soalnya disuapin sama kamu Sayang." Jawab Kaivan sembari menyeka noda minyak di sudut bibir istrinya.


Mama Fia mendengus sambil tertawa mendengar ucapan putranya. Kaivan yang dulu datar dan dingin sekarang pandai melontarkan godaan.


"Heumm, pantesan Archie klepek-klepek wong Kaivan nya suka gombal." Ucap mama Fia sambil tertawa.


"Nggak, Ma. Bukan Archie yang klepek-klepek, tapi aku." Sahut Kaivan menggelengkan kepalanya.


Kaivan lalu menatap istrinya dalam. "Tapi aku yang klepek-klepek bahkan hampir gila sama dia." Tambah Kaivan.


Archie tersenyum malu-malu. Ia menggigit kukunya lalu menyuapi suaminya lagi.


Mungkin Archie akan biasa saja jika di gombali suaminya ketika mereka berdua saja, tapi sekarang Archie malu karena ada mama Fia.


"Udah ih, gombal mulu. Aku malu sama mama tahu." Cicit Archie pelan.


Kaivan terkekeh. Ia mengacak-acak rambut istrinya lalu mencium keningnya dengan gemas.


"Kai, Archie. Mama masuk kamar dulu ya, mama sudah mengantuk menonton kemesraan kalian." Ucap mama Fia sembari bangkit dari duduknya.


"Maaf ya, Ma. Mama pasti kurang nyaman." Kata Archiena ikut bangkit dari duduknya.


"Nggak kok, Sayang. Mama benar-benar mengantuk. Kalian juga lekas tidur setelah selesai makan ya." Tutur mama Fia.


"Malam, Ma." Sapa Kaivan dengan penuh senyuman.

__ADS_1


"Malam juga, Kai, Archie." Balas mama Fia lalu pergi dari sana.


Kini diruang tamu tinggal Kaivan dan Archie saja yang masih mau menikmati martabak telur. Wanita itu masih belum ingin berhenti makan.


Archie menyandarkan tubuhnya, dan membuat perutnya yang buncit itu menjadi menonjol sekali.


"Kenyang …" ucap Archie sambil mengusap perutnya yang sudah semakin besar saja.


Kaivan tersenyum. Ia mengusap kepala istrinya, lalu mengusap perutnya dan menciumnya.


"Baby melon sudah kenyang?" Tanya Kaivan lalu mencium lagi perut istrinya.


"Kenyang banget, Papi. Terima kasih makanan nya." Jawab Archie menirukan suara anak kecil.


Kaivan mendongakkan kepalanya, menatap istrinya penuh senyuman. Pria itu mensejajarkan wajahnya, lalu mengecup bibirnya singkat namun berarti.


"Sudah kenyang? Mau tidur sekarang, Sayang?" Tanya Kaivan sembari merapikan rambut istrinya.


"Mau, tapi gendong belakang." Jawab Archie asal-asalan.


"Ngasal." Timpal Kaivan geleng-geleng kepala.


Kaivan berdiri duluan, ia lalu menggendong istrinya ala bridal style. Tidak mungkin Kaivan menggendong belakang, bisa-bisa perut istrinya kejepit.


"Waktunya tidur, Mami." Ucap Kaivan dengan suara yang imut-imut.


Kaivan pun membawa istrinya menuju kamar mereka tanpa hambatan apapun. Meski Archie berbadan dua, itu tidak berpengaruh untuk Kaivan.


Kaivan kuat, apalagi kalau sampai dikasih jatah setelah ini.


Kaivan merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Archiena tidak perlu mengganti pakaiannya, dan hanya tinggal membuka jaket yang dikenakannya.


"Kamu masih hutang penjelasan sama aku, Mas." Ucap Archie tiba-tiba.


Kaivan terkekeh. Archiena sangat penasaran tentang cerita Aldavi yang curhat dengannya tentang Karin.


Istrinya itu sangat penasaran, dan Kaivan yakin Archie akan sangat senang jika mendengar ceritanya nanti.


"Kan kamu belum kabulkan permintaan aku." Sahut Kaivan tidak mau rugi.


Archie mendengus. "Besok saja, sekarang aku mau dengar ceritanya dulu." Tolak Archie.


"Besok pagi? Kan aku kerja, Cintaku." Sahut Kaivan geleng-geleng kepala.


"Tapi yaudah deh, buat istri aku apa sih yang nggak." Ucap Kaivan lalu naik ke atas ranjang dan duduk.


Archie ikut bangkit. Wanita itu duduk berhadapan dengan suaminya. Archie sangat penasaran, terbukti dari raut wajahnya yang menggemaskan.


"Jadi kemarin tuh Davi cerita soal Karin, kamu ingat kan aku bilang telat pulang karena nungguin dia curhat tentang Karin." Kata Kaivan dan Archiena mengangguk.


"Hari ini Davi datang lagi ke kantor dan curhat lagi dengan topik yang sama." Tambah Kaivan.


"Karin?" Tanya Archie.


"Kemarin dia cerita kalau dia dan keponakannya ketemu sama Karin di minimarket. Sampai rumah, keponakan Davi itu langsung bilang jika Davi bertemu pacarnya." Jelas Kaivan dengan lembut dan pelan.


"Kalau kamu kenal ibunya Davi, kamu juga pasti bakal se-khawatir Aldavi saat ini." Ucap Kaivan lagi.

__ADS_1


Archie mencoba mencerna ucapan suaminya.


"Ibunya galak? Nggak akan merestui Karin ya kalau mereka benar pacaran?" Tanya Archie dengan khawatir.


Kaivan mengerutkan keningnya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Nggak sayang, bukan itu. Justru ibunya Davi itu baik banget dan nggak pernah masalah sama perempuan yang dekat sama Davi selama itu baik. Maksudnya dia nggak pandang kasta." Jawab Kaivan menjelaskan.


"Jika ibunya baik, lalu apa yang dikhawatirkan." Sahut Archie semakin bingung.


"Karena kebaikan ibunya itu Aldavi panik dan khawatir. Saking baiknya, Davi diminta langsung nikahin Karin." Jelas Kaivan lagi.


"Hah? Jadi maksudnya hari ini Davi cerita ke kamu kalau dia diminta nikahin Karin?" Tanya Archie dan Kaivan mengangguk.


Archie langsung bersorak sambil bertepuk tangan. Ia sangat bahagia karena menurutnya Aldavi dan Karin itu cocok walaupun memiliki dua sifat yang jauh berbeda.


"Jika mereka memang benar-benar menikah, maka aku adalah orang yang paling bahagia." Ungkap Karin dengan sungguh-sungguh.


"Kenapa gitu?" Tanya Kaivan mengerutkan keningnya.


"Karena aku sudah lama jodohin mereka di otakku. Mereka itu beda sifat, pasti gemasin kalau nikah." Jawab Archie dengan wajah berseri-seri.


Kaivan terkekeh, istrinya memang baik. Selalu mendoakan orang lain yang terbaik. Dan wanita baik itu adalah milik Kaivan seorang.


Kaivan menggenggam tangan istrinya. "Aku sudah selesai cerita, sekarang hadiahku apa?" Tanya Kaivan dengan lembut.


Archiena mendelik bingung. Ia tidak langsung menjawab dan mencoba untuk berpikir selain hadiah jatah besok.


"Masa minta hadiah lagi, kan besok mau dikasih jatah." Ucap Archie mengingatkan.


"Yaudah iya, sekarang cium saja sini." Pinta Kaivan lalu memegang wajah istrinya.


Kaivan dan Archie sama-sama mendekatkan wajahnya mereka dan menyatukan bibir keduanya dalam tarian bibir yang memabukkan.


Ciuman yang cukup lama dan dalam itu menyisakan benang saliva ketika dilepaskan. Kaivan lalu berbaring dan menarik istrinya untuk tidur membelakanginya agar ia bis peluk dari belakang.


"Aku mainin ini ya, anggap sebagai bonus." Celetuk Kaivan sembari memainkan dada istrinya.


Archie memukul tangan sang suami. "kebiasaan." Cibir Archie namun tidak menolak.


Menurut Archie. Tangan suaminya yang kekar dan berurat itu memberikan efek hangat dan geli-geli enak padanya.


"Mas, jangan kencang-kencang." Tegur Archie.


"Abisnya gemasin banget, pengen aku gigit rasanya." Balas Kaivan berbisik.


Kaivan mencium rambut dan bahu istrinya lalu semakin mengeratkan pelukannya. Memeluk tubuh istrinya seperti ini benar-benar membuat Kaivan nyaman sekali.


Kaivan bisa tidur sangat nyenyak jika Archie berada di sampingnya. Beda cerita jika semisal nya Kaivan pergi dinas keluar kota dan tidur tanpa istrinya.


Kaivan memang belum pernah karena selama ini ia selalu mengajak istrinya kemanapun ia pergi.


Kaivan selalu ingin jika semua orang tahu bahwa gadis cantik dengan hati yang baik itu adalah miliknya, istrinya dan cintanya.


Bukan tidak mungkin jika ada yang mengira bahwa Archie masih gadis, mengingat wajahnya yang imut-imut dan tubuhnya yang mungil.


Mungkin perutnya besar, tapi setelah Archie melahirkan. Archie pasti kembali pada porsi tubuhnya yang imut-imut.

__ADS_1


AMBIGU SAMA JUDUL NGGAK??


Bersambung................................


__ADS_2