Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Keguguran


__ADS_3

Adinda dilarikan ke rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan dari dokter. Kini Aditya dan keluarganya masih harus menunggu di depan ruang periksa Adinda.


Aditya duduk di kursi tunggu dengan kedua tangan yang menopang kepalanya. Ia merasa pusing, takut dan sedikit bersalah.


"Seharusnya aku tidak mendorongnya, seharusnya aku tidak mengajaknya bertengkar sehingga semua ini tidak akan terjadi." Batin Aditya ketakutan sendiri.


"Aditya." Panggil Risa sembari memegang bahu anaknya.


Aditya terkejut, ia menoleh menatap ibunya. Pria itu menghela nafas dengan mata terpejam erat.


"Tenanglah, Adinda dan bayinya pasti baik-baik saja." Tutur Risa dengan ekspresi biasa-biasa saja.


"Tapi mama mau tanya, ini semua perbuatan kamu kan?" Tanya Risa pelan.


Aditya syok, ia menatap ibunya itu lalu menatap ke arah lain dengan perasaan yang sangat gugup.


"Ma, sebenarnya … sebenarnya aku tidak sengaja melakukannya." Jawab Aditya gelagapan.


Aditya lalu menggenggam tangan ibunya. "Apa yang harus aku lakukan, Ma? Dinda pasti akan melaporkan ku jika anaknya sampai tidak selamat." Ucap Aditya lagi.


Risa menggelengkan kepalanya. "Dinda tidak mungkin melakukannya, dia sangat mencintai kamu jadi tidak mungkin dia menjebloskan kamu ke penjara." Sahut Risa dengan bangga.


"Dia tidak seperti Archie, dia bodoh dan mudah ditipu. Dia tidak akan melaporkan kamu." Tambah Risa dengan sangat yakin.


Aditya tidak menyahut, ia masih tampak ketakutan dan panik sampai hasil pemeriksaan dokter selesai.


"Bagaimana bisa istrimu sampai jatuh, Aditya. Dimana kamu?" Tanya papa Jefry dengan tenang.


"Aku di kamar, Opa. Aku … sebenarnya aku sudah melarangnya untuk mengambil buah sendiri tadi." Jawab Aditya berbohong.


Papa Jefry menyipitkan matanya. Ia tidak banyak bicara dan memilih untuk diam saja.


"Bagaimana jika anaknya tidak selamat." Bisik Anto pada istrinya.


Risa tidak menjawab, dia hanya memukul pelan paha suaminya.


Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang periksa Adinda. Mereka semua pun mendekat guna mengetahui kondisi Adinda.


"Dokter, bagaimana istri dan anak saya?" Tanya Aditya tergesa-gesa.

__ADS_1


Dokter menghela nafas. "Istri anda baik-baik saja, namun bayinya tidak bisa diselamatkan." Jawab dokter memberitahu.


"Istri anda mengalami keguguran." Tambah dokter itu memperjelas.


Tubuh Aditya langsung lunglai. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi, anak Dinda tidak bisa di selamatkan.


Aditya yang panik langsung menatap sang mama, namun ibunya itu malah membalas dengan anggukkan pelan dan mata yang terpejam seakan memintanya untuk tenang.


"Selain itu, ada yang harus kami sampaikan pak." Dokter kembali berbicara dengan serius.


"Ada apa, Dok?" Tanya Anto.


"Karena benturan yang cukup keras, bukan hanya calon janin nya yang tidak bisa diselamatkan, namun nyonya Adinda juga akan sangat kesulitan untuk mengandung karena rahimnya mengalami kerusakan." Jawab dokter itu dengan berat hati.


"APA!!!" Risa memekik terkejut.


"Maksud dokter, menantu saya tidak akan pernah bisa punya anak?" Tanya Risa.


"Mungkin bisa, namun itu akan sangat sulit karena kerusakan di dinding rahim pasien." Jawab dokter itu lagi.


Aditya benar-benar terkejut, apa yang terjadi hari ini bukan hanya menghilangkan anak Dinda, namun juga menghilangkan seluruh kesempatan Dinda untuk memiliki anak.


"Silahkan, Pak. Pasien sudah sadar dan sudah mengetahui tentang ini." Jawab dokter itu mempersilahkan.


Mereka semua pun masuk ke dalam ruang periksa Adinda. Ketika mereka masuk, tampak Adinda yang sedang menangis sambil memegangi perutnya.


Adinda menangis histeris, merasa tidak rela jika anak dalam kandungannya sudah tiada.


"Hiks … aku kehilangan anakku, bahkan kehilangan kesempatan untuk hamil lagi." Lirih Adinda.


Aditya mendekati istrinya. Dengan ragu, pria itu mengulurkan tangannya untuk memegang bahu Adinda.


"Lepasin!! Ini semua gara-gara kakak, kenapa kakak tega melakukan ini padaku, hiks …" Adinda menepis tangan suaminya kasar.


"Anakku pergi, itu gara-gara kakak. Sekarang, aku tidak akan pernah bisa merasakan kehamilan lagi, hiks …" tambah Dinda sembari memukuli Aditya.


"Kamu nggak bisa salahin Aditya, Dinda. Kamu saja yang tidak becus menjaga bayimu." Sahut Risa dengan ketus.


"Risa!!" Tegur papa Jefry.

__ADS_1


Adinda tidak menimpali ataupun mendengarkan. Wanita itu terus saja menangisi kepergian calon anaknya.


Papa Jefry turut sedih melihat istri cucunya, ia pun mendekat lalu mengusap kepala wanita itu.


"Papa akan telepon orang tua dan kakak kamu ya, mereka harus tahu kondisimu." Ucap papa Jefry.


"Jangan, Pa. Jangan beritahu keluarga Dinda!" Larang Risa dengan cepat.


Risa tidak mungkin membiarkan keluarga Dinda tahu, terutama Archie. Karena Risa yakin jika mereka semua tidak akan mengampuni Aditya saat tahu yang sebenarnya.


"Kenapa, Risa? Keluarga Dinda berhak tahu." Ujar papa Jefry mengerutkan keningnya.


Risa kebingungan, ia menatap kanan dan kiri sampai akhirnya ia menemukan alasannya.


"Karena … karena Adinda sudah memutuskan hubungan dengan mereka. Jika mereka tahu, maka mereka pasti hanya akan menertawakan kita atas kepergian calon penerus Aditya." Jawab Risa dengan yakin.


"Archie dan keluarganya tidak mungkin begitu, papa tetap akan–" ucapan papa Jefry terhenti karena Risa.


"Sudahlah, Pa. Jangan buat keributan, kasihan Dinda baru saja kehilangan bayinya." Potong Risa dengan ketus sambil berpura-pura simpati pada menantunya itu.


Adinda semakin menangis usai mendengar ucapan ibu mertuanya yang mengingatkan tentang hubungannya yang telah putus dengan keluarganya sendiri.


"Dinda." Panggil Aditya pelan.


"Pergi, kakak jahat!!" Usir Adinda masih terus menangis.


"Dinda, kami tahu kamu sedih dan sudah pasti Aditya juga sedih. Jangan menyalahkannya." Ujar Anto menengahi.


"Papa nggak merasakan apa yang aku rasakan, jadi lebih baik kalian pergi dari sini!!" Usir Dinda dengan lantang.


Risa mengepalkan tangannya, ia hendak berbicara dengan penuh emosi karena mendengar Dinda bicara kurang ajar, namun tangannya di pegang oleh suaminya.


Anto memberikan kode agar istrinya tidak melakukan itu, karena papa Jefry ada di sana.


"Baiklah, Adinda. Kami pergi dulu ya, panggil kami jika kamu butuh sesuatu." Ujar Risa dengan lembut.


Adinda tidak menyahut, wanita itu malah membuang muka sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.


KASIHAN JUGA NGELIATNYA, TAPI KADANG NYEBELIN SIH 🙄😪

__ADS_1


Bersambung............................


__ADS_2