Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Penyesalan tiada guna


__ADS_3

Adinda duduk di balkon kamarnya sambil menatap ke depan. Perceraiannya dengan Aditya sudah resmi dan kini status adinda benar-benar seorang janda.


Bohong jika Adinda tidak ada rasa sedih dengan perceraiannya ini. Bagaimanapun dia dulu sangat mencintai Aditya.


Aditya memang bukan pria yang baik, dia juga bukan wanita yang baik. Tapi sebagai seorang wanita yang punya hati, Adinda tentu tidak bisa menerima sikap Aditya yang sudah mengkhianati pernikahan mereka.


Adinda menghela nafas. "Sekarang aku benar-benar wanita tanpa suami, dan aku tidak yakin jika akan ada pria yang mau denganku." Gumam Adinda.


Adinda masuk ke dalam kamarnya dan duduk di pinggir ranjang. Ia lalu menoleh dan menemukan foto dirinya bersama dengan kakaknya yang tersenyum dengan lebar.


Dalam foto itu, Archie memeluk Adinda dengan erat dan mereka sama-sama tersenyum dengan background ikon Singapura.


"Mbak, dulu aku selalu berpikir jika mama dan papa hanya menyanyi mbak. Tapi sekarang aku tahu, bahwa itu tidak benar." Ucap Adinda.


"Senakal dan sejahat apapun aku, mbak dan orang tua kita akan selalu memaafkan. Kalian tetap menyayangiku, kalian sangat baik padaku." Tambah Adinda lalu memeluknya foto itu.


Adinda merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dan membiarkan fotonya berada di sebelahnya.


Jika Adinda boleh jujur, kamar tempatnya tidur saat ini jauh lebih nyaman daripada kamarnya dengan Aditya dulu.


Dan yang paling penting. Disini, di rumah orang tuanya Adinda tidak pernah disuruh melakukan pekerjaan berat seperti pelayan.


Kedua orang tuanya sangat meratukan dirinya, dan sikapnya justru sangat jahat dulu. Adinda menyesal meski tidak semuanya bisa kembali baik-baik saja.


"Dan mbak Archie. Aku memang salah telah merebut kak Adit, tapi aku bersyukur karena mbak tidak menikah dengannya. Mbak mendapatkan mas Kaivan yang sangat mencintai mbak. Aku bahagia, sama seperti mbak." Ujar Adinda lagi lalu memilih untuk tidur.


Adinda meletakkan kembali fotonya di atas nakas, lalu menarik selimut sampai menutupi bahunya.


Sementara itu di tempat lain, di rumah mewah yang sudah alih kepemilikan menjadi milik Kaivan, namun tetap boleh ditinggali oleh pemilik sebelumnya.


Tampak Aditya duduk di ruang tamu sambil memegangi secarik kertas yang berisi dokumen pernyataan serta aturan-aturan hukum.


Surat itu adalah surat perceraiannya dengan Adinda. Dia dan wanita itu sudah resmi bercerai saat ini.


Aditya mengusap wajahnya kasar. Dia telah menyakiti kakak dan adik sekaligus bahkan menyakitinya dengan cara yang sama.


Aditya kehilangan semuanya. Kekasih yang baik, lalu istri dan juga ayahnya. Satu sikap membuat Aditya kehilangan semua hal bahagia dalam hidupnya.


"Mungkin ini memang hukumanku karena sudah sangat jahat sebagai seorang pria. Aku bukan hanya menghancurkan hati Adinda dan Archie, tapi aku juga membuat masa depan Adinda berantakan." Lirih Aditya sambil terus menatap surat di tangannya.


Aditya menyinggung tentang Adinda yang sudah tidak bisa mengandung lagi setelah mengalami keguguran waktu itu. Dan Aditya tidak bisa lupa, bahwa dia lah yang telah membuat Adinda mengalami itu semua.


Aditya menyesal? Tentu saja. Ia sangat menyesali perbuatannya itu, namun ia tidak bisa memperbaikinya.


"Aku benar-benar sangat menyesal, Dinda. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Aditya pelan.


Aditya bangkit dari duduknya, lalu memilih untuk pergi ke kamar ibunya. Aditya harus memperhatikan Risa yang sekarang sudah kekurangan.


Ketika Aditya sampai di kamar Risa, ia melihat jika ibunya itu sudah tidur dengan tenang di atas ranjangnya. Aditya senang.


Memang, semenjak Risa buta dan sulit untuk berjalan, wanita itu lebih banyak menghabiskan waktu diluar. Dia tidak pernah keluar kecuali Aditya atau papa Jefry yang mengajaknya.


"Selamat malam, Ma." Sapa Aditya lalu menutup pintu kamar Risa kembali.


Aditya pun pergi ke kamar papa Jefry. Opa nya itu tentu salah satu korban Aditya yang kehidupannya telah ia hancurkan.


Aditya bertanggung jawab atas perceraian papa Jefry dan mama Fia. Itu meninggalkan penderitaan dan rasa sakit yang sangat di hati papa Jefry.


Aditya membuka pintu kamar papa Jefry dan ternyata dia belum tidur. Papa Jefry sedang duduk sambil menatap keluar jendela.


"Opa." Panggil Aditya dengan suara pelan.

__ADS_1


Papa Jefry menoleh. "Adit, masuklah." Tutur papa Jefry dengan suara yang khas untuk pria lanjut usia sepertinya.


Aditya lekas masuk ke dalam kamar kakeknya itu dan berlutut di hadapannya. Hal itu membuat papa Jefry bingung.


"Adit, ada apa?" Tanya papa Jefry.


"Aku minta maaf, Opa. Maaf atas semua kesalahanku. Malam ini aku benar-benar sadar sejahat apa aku dulu." Jawab Aditya dengan lirih.


"Bukan satu kehidupan, tapi banyak kehidupan yang telah aku hancurkan. Aku telah membuat banyak orang menderita dan termasuk opa." Tambah Aditya mengakui segala kesalahannya.


Papa Jefry mengusap kepala cucunya itu lalu membuang nafasnya. Ia menganggukkan kepalanya mendengar nada penyesalan dari cucunya itu.


"Semua sudah berlalu, Aditya. Lupakan saja, tidak perlu mengingat masa lalu." Kata papa Jefry.


"Aku sudah berusaha untuk melupakan Fia, dan kau tolong jangan terus membahas ini karena itu akan membuatku selalu mengingatnya." Tutur paql Jefry memberitahu.


Aditya mengangguk, selanjutnya pria itu memeluk sang kakek dengan sangat erat.


Kali ini Aditya benar-benar berjanji untuk berubah menjadi lebih baik. Ia akan berusaha agar bisa membuat kakeknya bahagia sama seperti Kaivan.


"Sudahlah, jangan sedih lagi. Kaivan dan keluarganya sudah baik, kini kita harus bahagia." Ucap papa Jefry lagi.


Aditya melepaskan pelukannya. "Iya, Opa. Aku akan berusaha untuk bahagia, bersama dengan opa dan mama." Balas Aditya dengan yakin.


Aditya pun pamit untuk pergi ke kamarnya karena tahu sang kakek harus istirahat. Ini sudah malam, dan mereka harus sama-sama istirahat.


Besok Aditya harus kembali bekerja. Ia harus memulai karirnya dari bawah dan ia sangat bersyukur karena Kaivan tetap mau memberikannya kesempatan.


Aditya ke kamarnya, dan memilih untuk langsung berbaring. Dia menyelimuti tubuhnya sampai batas bahu lalu tidur.


***


Keesokan harinya. Archie bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkan suaminya sarapan. Archie sudah lama tidak melakukan itu.


"Nyonya, saya buatin susu hamil ya. Nyonya kan mau masak, harus sarapan dulu biar nggak kosong perutnya." Ucap bi Sari dengan sopan.


"Iya, Bi. Boleh deh, buatin aku susu." Sahut Archie tanpa menatap bi Sari.


Archie niatnya mau masak chicken katsu dengan suas pedas asam manis. Sekaligus membuat tumis pakcoy ala masakan Cina.


Archie mencuci ayam dan mengolahnya lalu memasak secukupnya. Bukan cukup untuknya, Kaivan dan mama Fia saja. Tapi juga cukup untuk bi Sari dan suaminya.


Sambil menunggu ayamnya matang, Archie pun sambil memasak tumis sayurnya agar tidak membuang-buang waktu.


"Eumm, wangi …" gumam Archie menciumi masakannya sendiri.


Archie sedang semangat sekali bekerja meski sebelum pagi pun dia sudah bekerja. Bekerja memuaskan Kaivan maksudnya.


Memang, sekitar jam 3 pagi tadi. Kaivan membangunkan Archie dan langsung meminta jatah. Pria itu tidak lupa jika soal jatah.


Kaivan rela bangun pagi-pagi asal jatahnya lancar.


Ketika Archie masih asik memasak. Mama Fia datang dan langsung menyapa menantunya itu.


Mama Fia mencium pipi Archie lalu menguap kepalanya.


"Pasti enak, mama jadi tidak sabar." Ucap mama Fia penuh senyuman.


"Mama bisa saja." Sahut Archie malu-malu.


Archie mengangkat satu daging ayam dan memasukkan yang lainnya untuk di goreng. Ia melakukannya berulang-ulang sampai akhirnya ia selesai memasak ayam dan sayur.

__ADS_1


"Mama mau aku buatin teh hijau kayak biasa, Ma?" Tanya Archie menawarkan.


"Boleh, Chie. Kamu yang buatin rasanya enak." Jawab mama Fia.


"Jadi buatan saya nggak enak ya, Nyonya besar?" Celetuk bi Sari bercanda.


"Eh enak juga, tapi enakan buatan menantu saya bi." Jawab mama Fia membuat Archie dan bi Sari tertawa bersama.


"Kaivan belum bangun, Archie?" Tanya mama Fia.


"Belum, Ma. Kayaknya kecapean." Jawab Archiena menggelengkan kepalanya.


Andai Archie tidak punya malu, ia pasti sudah mengatakan maksud kata lelah itu adalah lelah mereguk kenikmatan bersama.


Archie memberikan teh hijau buatannya kepada sang ibu mertua. Ia lalu menarik kursi dan ikut duduk.


Archie meminum susu hamil buatan bi Sari dan membiarkan bibi yang memasak suas untuk makan ayam katsu nanti.


Sementara itu di kamar. Kaivan baru saja bangun dan langsung celingak-celinguk mencari keberadaan istrinya.


Kaivan masih belum berpakaian tapi Archie tega-teganya pergi tanpa membangunkannya.


Kaivan melirik arah jam yang baru menunjukkan pukul 8 pagi. Ia masih malas dan ingin tidur lagi, tapi sayangnya Archie tidak ada.


Tahu sendiri kan jika Kaivan itu tidak bisa tidur lagi jika istrinya tidak ada di sebelahnya.


Kaivan turun dari ranjangnya lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan memakai baju di walk in closet.


Kaivan keluar dari walk in closet lalu memunguti bajunya dan baju istrinya kemudian memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor.


Kaivan keluar dari kamar dengan penampilan yang belum siap. Hari ini Kaivan mau berangkat ke kantor dengan lebih santai.


Ketika Kaivan sampai di lantai bawah, ia langsung pergi ke dapur dan menemukan istrinya sedang cekikikan bersama sang mama dan asisten rumah tangga.


"Selamat pagi." Sapa Kaivan mencium pipi mama Fia lalu bergantian mendekati Archie.


"Pagi sayang." Sapa Kaivan lalu mencium bibir istrinya di depan mama Fia dan bi Sari.


"Maaf ya, Bi." Ucap Kaivan sambil cengengesan.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah kebal." Balas Bi Sari sambil tertawa.


Archie mengusap bahu suaminya. "Mau sarapan sekarang?" Tanya Archie menawarkan.


"Boleh, ayo kita sarapan sama-sama." Jawab Kaivan mengajak.


Mereka pun sarapan bersama namun tidak dengan bi Sari yang memilih pergi meski sudah ditawarkan.


Archie melayani suaminya dengan sangat telaten seperti biasanya. Bukan hanya Kaivan, tapi juga mama Fia.


Mereka sangat menikmati sarapan hari ini karena Archie memasaknya penuh cinta. Kaivan selalu bisa membedakan masakan Archie dan bi Sari walaupun keduanya sama-sama enak.


"Hari ini kamu nggak terlalu sibuk, Kai?" Tanya mama Fia.


"Nggak, Ma. Ada apa?" Tanya Kaivan balik.


"Mama mau minta anterin ke rumah Jefry sebentar, mama cuma mau menjenguk Risa." Jawab mama Fia.


Kaivan manggut-manggut. Ia tidak pernah melarang sang mama untuk bertemu dengan keluarga Aditya.


TUNGGUIN CRAZY UP AKU YAWW✨

__ADS_1


Bersambung....................................


__ADS_2