Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Menerima


__ADS_3

Karin menatap sosok pria yang melangkah mendekatinya sambil membawa 2 buah es krim di tangannya. Dengan senyuman khas, pria itu memberikan salah satunya pada Karin.


Karin membalas senyuman itu, kemudian menerima es krim rasa cokelat kesukaannya. Dia sedikit bergeser untuk memberikan ruang pada sang tunangan agar bisa duduk di sebelahnya.


"Makasih ya, kamu jauh-jauh kesini cuma mau ketemu aku dan ajak aku beli es krim." Kata Karin sembari mencicipi es krimnya.


"Jangan gitu, Rin. Kita sebentar lagi menikah, jangan ragu meminta apapun sama aku." Balas Yogi dengan suara lembut.


"Lagian, aku kesini kan sekalian kerja. Kebetulan tadi atasan aku ajak ke Jakarta untuk ketemu kliennya." Tambah Yogi.


Sejak ia bertekad untuk menikah dengan Karin, Yogi merubah diri dan mulai mencari pekerjaan. Bukan hanya itu, Yogi juga mulai melanjutkan pendidikannya agar setara dengan Karin.


Yogi bekerja sebagai karyawan biasa, namun tidak jarang ia diminta untuk menemani atasannya ke Jakarta. Hal itu Yogi manfaatkan untuk bertemu sang tunangan.


"Gimana sama kerjaan kamu?" Tanya Yogi tanpa menatap Karin.


"Lancar, semuanya aman kok. Aku mau semua kerjaan aku selesai sebelum aku resign dan menikah." Jawab Karin.


Yogi menghentikan gerakannya yang sedang makan es krim. Ia kemudian menoleh, menatap sang gadis pujaan hatinya.


"Makasih ya." Ucap Yogi tiba-tiba.


Karin menoleh. "Hmm?" Bingung, gadis itu tidak paham arti terima kasih yang Yogi lontarkan.


"Kamu udah mau terima aku, anak manja dan hanya bisa minta sama orang tua untuk jadi calon suami kamu. Aku bahagia, Rin." Jelas Yogi.


"Jangan ngomong gitu, lagian kan kamu udah berubah. Kamu juga udah bekerja, demi menghidupi aku nantinya." Timpal Karin.


Yogi memegang es krim dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan ia gunakan untuk memegang tangan kiri Karin yang jari manisnya tersemat cincin pemberiannya.

__ADS_1


"Aku senang kamu nggak lepas cincin ini, dan semoga apa yang aku doakan selama ini terkabul. Doa supaya kamu jadi istri aku, Rin." Kata Yogi dengan sungguh-sungguh.


Karin tersenyum senang. Sejak ibunya mengatakan bahwa Yogi telah berubah dan sudah mau bekerja demi dirinya, Karin sangat bersyukur.


Karin akan mencoba untuk jatuh cinta pada Yogi, meski sampai hari ini dan detik ini hatinya masih berkelana mencari sosok yang dia cintai.


Sosok yang beberapa bulan ini tidak dilihatnya seakan ditelan bumi usai mereka liburan bersama dengan Archie dan Kaivan juga.


"Yogi memberikan kamu kebahagiaan, Rin. Berhenti mencari-cari dirinya, dan pandanglah pria yang sudah siap menikahimu." Batin Karin pada dirinya sendiri.


***


Kaivan duduk di balkon kamar bersama dengan istrinya. Dia duduk sambil mengetik dan sesekali menyeruput kopi buatan Archie.


Kaivan sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia ingin mempersiapkan diri sebelum hpl istrinya tiba.


Menurut perkiraan dokter, Archie akan melahirkan kurang dari 2 Minggu dan itulah yang membuat Kaivan ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya agar nanti bisa fokus pada istrinya.


"Mungkin, Sayang. Tapi masih beberapa bulan kan." Jawab Kaivan tanpa menatap Archie.


"Kalau Karin resign, kamu cari sekretaris nya jangan yang terlalu cantik ya." Archie berujar dengan manja.


Sadar akan perubahan nada bicara istrinya, Kaivan lantas menoleh. Dia tersenyum melihat pipi istrinya yang menggembung.


"Kenapa sih? Lagian aku cari sekretaris itu bukan yang cantik, tapi yang kompeten dan ahli dalam bidangnya." Kata Kaivan.


"Buktinya aku terima Karin kan." Tambah Kaivan.


Archie melototkan matanya. Dia langsung paham maksud ucapan suaminya barusan.

__ADS_1


"Ihh, maksud kamu Karin nggak cantik?! Sembarangan, dia cantik banget tahu mas." Kata Archie sewot.


Kaivan menaikkan sebelah alisnya. "Emang aku boleh puji dia cantik?" Tanya Kaivan.


"Nggak, enak aja! Kamu cuma boleh puji aku." Jawab Archie ketus.


"Ngomong-ngomong, teman kamu itu apa nggak mau balik? Udah berbulan-bulan kan?" Tanya Archie tiba-tiba.


"Nggak tahu, Sayang. Masih betah disana, katanya bayarannya lebih besar." Jawab Kaivan sambil tertawa.


"Emang sih, namanya negara maju." Timpal Archie.


"Oh ya, Adinda gimana? Dia sama pria itu ada kemajuan?" Tanya Kaivan tiba-tiba.


"Aku sedih kalau mikirin adik aku, Mas. Dia terlalu terpenjara sama masa lalunya, sampai sulit untuk terima masa depan yang udah nunggu." Jawab Archie, lalu menghela nafasnya.


"Dinda itu cantik, pintar juga. Apa yang udah terjadi harusnya bisa dia lupain. Masa lalunya itu, bukan berarti dia nggak boleh bahagia lagi. Iya kan, Mas?" Tanya Archie.


Kaivan mengusap punggung istrinya. Archie selalu menggebu jika soal adiknya. Tentu saja, sebagai kakak dia selalu mau yang terbaik untuk adiknya.


"Aku tahu perasaan kamu gimana, tapi Adinda pasti punya alasan sayang. Kita sama-sama doa saja, semoga Adinda bisa melupakan masa lalu dan menerima masa depannya yang sudah menanti." Tutur Kaivan.


Archie memeluk suaminya, dan Kaivan membalas sambil sesekali mengusap perut besar istrinya itu.


"Jangan terlalu dipikirkan, kasihan baby melon. Sebentar lagi dia kan mau lihat dunia, mau lihat papi sama maminya." Bisik Kaivan, kemudian menghadiahi kecupan di kening istrinya.


Mendengar ucapan suaminya, Archie lantas tersenyum. Ia memegang tangan sang suami yang sedang mengusap perutnya.


Sebentar lagi anaknya lahir, dan Archie sudah tidak sabar menantikan itu.

__ADS_1


DOUBLE UP UNTUK HARI INI ✨


Bersambung............................


__ADS_2