Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Marah dan cemburu


__ADS_3

Archie dibawa ke rumah sakit terdekat usai mengalami pingsan di kafe secara tiba-tiba tadi. Sampai sekarang Archie masih belum sadarkan diri, dan itu membuat bi Sari sangat khawatir dan takut jika majikan laki-lakinya akan marah.


Selain bi Sari, tentu saja ada Ryan disana. Pria itu niatnya akan pulang setelah melihat Archie sadarkan diri nanti.


“Bibi sudah menghubungi suaminya Archie?” tanya Ryan karena sudah 20 menit, Kaivan belum juga datang.


“Sudah, tuan pasti dalam perjalanan kesini.” Jawab bi Sari menganggukkan kepalanya.


Tidak lama kemudian, orang yang bi Sari dan Ryan tunggu akhirnya datang. Kaivan membuka pintu dengan sedikit kasar, dan nafas yang terengah-engah.


Tergambar jelas kekhawatiran di wajah Kaivan. Pria itu sepertinya berlari, karena itulah nafasnya tersengal-sengal.


Tidak mengatakan apapun, Kaivan langsung mendekati bangsal dimana istrinya terbaring di sana dengan kondisi yang belum sadarkan diri.


"Sayang …" lirih Kaivan sembari memegang wajah istrinya.


Kaivan menundukkan kepalanya, ia mencium kening Archie dengan mata terpejam. Rasa bersalah Kaivan rasakan saat ini.


Kaivan sangat menyesal telah mendiami istrinya sejak pagi, bahkan jangankan bicara untuk menatapnya saja Kaivan tidak lakukan.


Kaivan benar-benar belum bisa mengontrol emosinya, ia yang sedang memikirkan masalah Aditya membuatnya sampai mendiami istrinya.


"Sayang, bangun." Pinta Kaivan dengan pelan.


Kaivan mengusap rambut panjang Archie. Istrinya sangat cantik seperti biasanya dan itu pasti untuknya, tetapi ia malah mendiaminya.


"Maafin aku, bangun sayang." Pinta Kaivan lalu menggenggam tangan kanan Archie erat-erat.


Kaivan lalu menatap Bi Sari, dan saat itulah ia baru menyadari jika ada orang lain disana yang sedang berdiri sambil melipat tangan di dada.


"Sedang apa anda disini?" Tanya Kaivan dengan nada tidak suka.


Ryan menghela nafas, lalu menatap Archie yang masih setia memejamkan matanya.


"Saya tidak sengaja bertemu Archie di kafe tadi, dan tiba-tiba saja dia pingsan karena itulah saya membawanya ke rumah sakit." Jawab Ryan menjelaskan.


Kaivan mengetatkan rahangnya, ia membayangkan istrinya yang tidak sadarkan diri di gendong oleh Ryan menuju rumah sakit.


Kaivan mendekat, lalu mencengkram kerah baju Ryan dengan penuh amarah.


"Anda menyentuh istri saya?!!" Tanya Kaivan geram.

__ADS_1


"Anda menyentuhnya kan!!" Teriak Kaivan dengan urat-urat tangan yang tercetak begitu jelas.


Bi Sari yang melihat itu lantas mendekat, ia berusaha melerai keduanya. Kaivan terlihat begitu marah, sedangkan Ryan biasa saja.


"Tuan, mas ini yang membantu saya dan nyonya Archie. Jika dia tidak menyentuh nyonya Archie, bagaimana bisa dia membawa nyonya kesini." Ucap Bi Sari menjelaskan.


Kaivan tidak menghiraukan, ia masih dengan tatapannya yang tajam dan cengkraman nya yang kuat.


"Kenapa, Tuan Kaivan? Apa anda takut jika saya merebut Archie kembali?" Tanya Ryan dengan senyuman santai.


"Diam." Tegur Kaivan dengan rasa marah yang tidak terkendali.


"Dokter bilang dia tertekan, kondisinya bisa berbahaya bagi janin nya jika dia terus seperti ini." Ucap Ryan memberitahu.


"Jika anda tidak bisa membahagiakan Archie, maka berikan saja dia kepada saya. Saya akan dengan senang hati menerimanya dan juga bayinya." Tambah Ryan dengan yakin.


"Brengsekk!!" Kaivan mengepalkan tangannya dan siap meninju wajah Ryan, namun sebuah suara menghentikannya.


"Mas." Suara lirih itu terdengar dari belakang Kaivan.


Mendengar itu, sontak Kaivan menoleh. Ia melihat istrinya sudah sadarkan diri sambil memegangi kepalanya.


Kaivan melepaskan cengkraman di kerah baju Ryan, lalu lekas mendekati istrinya.


"Sayang." Panggil Kaivan lirih.


"Hiks … jangan diemin aku, Mas. Jangan cuekin aku." Archie berbicara dengan tidak kalah lirih.


Kaivan mengusap rambut istrinya, lalu manggut-manggut.


"Iya, Sayang. Maafin aku ya, seharusnya aku nggak cuekin kamu, aku salah." Sahut Kaivan lalu mencium bahu istrinya.


Archie tetap menangis, tangannya semakin erat memeluk tubuh suaminya. Kaivan begitu cuek sejak pagi dan ia sangat sedih karena hal itu.


"Aku tadi mau ajak mas jajan waffle, tapi hiks … tapi mas malah pergi ninggalin aku." Ucap Archie lagi dengan sedikit manja.


Kaivan melepaskan pelukannya, kemudian menangkup wajah cantik istrinya.


"Maaf ya, nanti aku bawakan waffle yang banyak untuk kamu." Timpal Kaivan lalu mencium kening istrinya dalam-dalam.


Archie memejamkan matanya begitu merasakan kehangatan bibir suaminya. Astaga, ia benar-benar merindukan ini.

__ADS_1


Bi Sari tersenyum melihat majikannya sudah kembali lengket, rasanya aneh jika melihat mereka bertengkar walaupun itu satu hari.


Sementara Ryan, ia hanya bisa mengalihkan pandangannya melihat Archie yang di peluk dan cium bebas oleh Kaivan.


Ryan menghela nafas, ia tidak tahu apakah kesempatan untuk mendapatkan Archie kembali akan datang atau tidak. Namun pada kenyataannya ….


Ryan masih sangat mencintai Archie.


"Andai aku nggak pindah keluar negeri, kamu pasti jadi istri aku, Chie." Batin Ryan.


"Ryan." Panggilan itu membuat Ryan yang sedang memejamkan matanya, langsung terbuka.


Ryan menatap sosok yang memanggilnya, lalu tersenyum.


"Makasih ya, kamu sudah mau menolongku." Ucap Archie dengan pelan.


"Sama-sama, Chie. Aku senang kamu sudah baik-baik saja." Sahut Ryan.


Ryan lalu beralih menatap Kaivan yang juga menatapnya. Pria itu terlihat masih kesal padanya.


"Tugasku sudah selesai disini, pak Kaivan sudah datang. Aku permisi ya, Chie." Pamit Ryan lalu lekas pergi tanpa bicara lebih banyak.


"Nyonya, saya juga pulang duluan ya. Dokter bilang anda harus dirawat sehari, jadi saya pulang dulu untuk ambil pakaian nyonya." Ucap Bi Sari.


"Minta suami bibi jemput ya, pakai mobil di garasi. Archie biar saya yang jaga." Sahut Kaivan.


Bi Sari manggut-manggut, lalu keluar dari ruang rawat Archie. Kini di ruangan itu, tinggal Kaivan dan Archie.


"Mas, kamu nggak kasih tahu mama tentang aku kan?" Tanya Archie tiba-tiba.


"Kasih tahu, mama akan kesini nanti." Jawab Kaivan.


"Lalu papa?" Tanya Archie lagi, terdengar sedikit ragu.


Kaivan tidak menjawab, pria itu malah menunduk dan mencium kening serta bibir Archie singkat.


"Aku minta maaf ya, Sayang." Ucap Kaivan dengan sungguh-sungguh.


Archie tidak menyahut dengan kata-kata, melainkan pelukan. Ia memeluk suaminya erat, namun tetap menjaga posisi agar tidak menekan perutnya.


AKU BACA KOMENTAR DAN BANYAK YANG TEBAK ALUR YA, SESUAI SAMA TEBAKAN KALIAN NGGAK NIH??

__ADS_1


BTW AKU BELUM BISA UP BANYAK, AKU MASIH UAS😭😭 (Derita anak swasta)


Bersambung...................................


__ADS_2