
Aldavi sampai di rumahnya usai menjenguk Archie dan mengantar Karin. Ahh iya, gadis itu. Gadis yang membuat Aldavi harus pergi menghindarinya demi menekan perasaan aneh yang muncul.
Perjalanan tadi ditemani dengan kesunyian. Basa-basi Aldavi dibalas singkat sehingga memutus komunikasi antara mereka.
"Saya baik, Dok. Saya rasa anda bisa melihat, apalagi sekarang saya sudah bahagia dengan pasangan saya."
Begitulah jawaban Karin ketika Aldavi menanyakan kabarnya. Seakan enggan bicara lebih jauh, Karin menjawab langsung dengan lengkap.
"Davi." Panggilan itu berasal dari arah ruang tamu.
Aldavi menghela nafas. Dia mendekati wanita kesayangannya itu, lalu mencium punggung tangannya dengan sopan.
"Bagaimana? Jenis kelamin anak Kaivan apa?" Tanya mama Dewiya dengan antusias.
"Laki-laki, Ma." Jawab Aldavi sembari mengambil ruang untuk duduk di sebelah sang mama.
"Kaivan sudah punya anak, kamu malah masih luntang-lantung cari jodoh." Papa Firman berujar, tanpa menatap putranya dan sibuk dengan ponselnya.
"Pa, udahlah. Papa fokus aja baca berita pemilu, jangan ungkit jodoh aku. Jodoh aku masih di rahasiakan, atau mungkin belum lahir." Kata Aldavi menyahuti ucapan sang papa.
"Hus, kamu itu. Kalau jodoh kamu belum lahir, berarti kamu nikah pas tua, itu juga kamu nikahnya sama anak-anak. Sembarangan!!" Tegur mama Dewiya menggelengkan kepalanya.
Aldavi hendak bangkit, namun tangannya ditarik oleh sang mama sehingga ia kembali duduk di sofa.
"Apa lagi, Ma?" Tanya Aldavi dengan helaan nafas.
"Kamu ketemu Karin? Mama kangen banget sama dia, sejak kamu pergi mama nggak pernah ketemu dia lagi." Kata mama Dewiya dengan penuh antusias.
"Ketemu, Ma. Tadi aku juga abis antar dia pulang." Jawab Aldavi dengan jujur.
Wajah mama Dewiya seketika berbinar. Dia hendak mengutarakan kebahagiaannya itu, namun sudah duluan Aldavi yang bicara lagi.
"Nggak usah senang. Mama nggak bisa lupa kalau Karin itu sudah bertunangan dan akan menikah. Jadi aku minta sama mama, lupakan angan-angan untuk menjadikannya menantu." Ucap Aldavi dengan cepat.
"Kamu apa-apaan sih, Davi. Mama bilang kan cuma kangen sama dia, bukan lagi olok-olok kamu buat jadiin dia istri dan mantu mama." Sahut mama Dewiya.
"Mama kangen, dan nggak ada salahnya kan ketemu dia. Walaupun dia nggak jadi mantu, seenggaknya bisa jadi teman mama curhat." Tambah mama Dewiya.
Sebelah alis Aldavi terangkat. Dia menatap ibunya dengan penuh pertanyaan.
__ADS_1
"Pembahasan apa yang mama mau curhatin ke Karin?" Tanya Aldavi.
Mama Dewiya menggelengkan kepalanya. "Mama nggak mau kasih tahu kamu." Jawab mama Dewiya.
Aldavi menghela nafas. "Terseret. Yang pasti mama harus ingat kalau dia itu orang lain, mama curhat batas wajar aja." Tutur Aldavi mengingatkan.
"Sudahlah! Nggak habis-habisnya perkara Karin?" Tanya papa Firman sambil terus menatap ponselnya.
"Ck, papa. Lagian anak kamu ini lhoo, dulu waktu Karin masih sendiri segala nolak. Sekarang giliran udah jadi tunangan orang, baru …" mama Dewiya menggantung ucapannya.
"Baru apa, Ma? Jangan berpikir aneh-aneh ya. Aku nggak punya perasaan apapun sama Karin. Dia menikah dengan siapapun aku nggak peduli." Aldavi menimpali dengan cepat.
"Iya-iya, tapi mama penasaran aja sih. Kamu beneran nggak suka sama Karin? Minimal suka dulu deh." Ucap mama Dewiya.
Aldavi menatap sang mama. Dia tidak langsung menjawab dan diam untuk sesaat.
Papa Firman berdehem, seakan menyadarkan putranya.
"Nggak, Ma. Lagian kalau ada rasa suka, itu nggak pantas karena Karin udah jadi milik orang lain." Aldavi bicara dengan lantang.
"Udah deh, aku mau mandi. Bosen sama pembahasan mama, pengen buru-buru balik ke USA." Cibir Aldavi kemudian langsung pergi ke kamarnya.
***
Setelah dari mengantar buah untuk kakaknya di rumah sakit, nyatanya Adinda tidak langsung pulang ke rumah.
Wanita itu dijemput oleh Zayn, dan berakhir disini. Di taman yang juga ada taman bermain anak-anak.
"Capek ya?" Tanya Zayn dengan lembut.
"Namanya kerja, Mas. Tidur aja capek, apalagi kerja." Jawab Adinda sambil tertawa.
Zayn tersenyum penuh arti. Dia menatap tangan Adinda, rasa ingin menggenggam namun urung ia lakukan karena takut Dinda merasa tidak nyaman.
"Gimana, Din?" Tanya Zayn tiba-tiba.
Adinda menoleh, menatap pria dewasa berkemeja putih dan celana cream yang sedang menatapnya balik dengan penuh harapan.
"Gimana apanya, Mas?" Tanya Adinda mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Apa kamu belum bisa buka hati?" Tanya Zayn.
"Untuk saya." Tambahnya dengan pelan.
Adinda mengalihkan pandangannya. Jantungnya langsung berdebar kencang setiap kali mendengar pertanyaan itu dari Zayn.
"Aku … aku takut, Mas." Adinda akhirnya mengutarakan ketakutannya.
"Apa? Apa yang bikin kamu takut?" Tanya Zayn.
Adinda hendak menjawab, namun ada yang memanggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Mama!!!" Panggil Calista.
Adinda melempar senyuman. Entah mengapa bocah itu memanggilnya dengan sebutan itu.
"Atau untuk Calista. Apa nggak bisa, Din?" Tanya Zayn lagi.
Tidak bermaksud mendesak, namun Zayn butuh jawaban. Dia sangat berharap bisa mempersunting wanita cantik dengan senyum manis ini.
"Mas terima kondisi aku?" Tanya Adinda.
"Kamu terima kondisi saya?" Zayn bertanya balik.
"Aku terima, tapi–" ucapan Adinda terpotong.
"Saya juga terima." Potong Zayn dengan cepat.
Hening sesaat menyerang keduanya. Hanya terdengar keramaian anak-anak di wahana untuk anak kecil.
"Jadi gimana, Dinda?" Tanya Zayn, tangannya terulur untuk menggenggam tangan Adinda.
"Kita jalanin dulu ya, Mas. Sambil kita belajar mengenal satu sama lain. Bukan hanya kenal dengan kebaikannya dan kelebihannya, tapi juga dengan kekurangannya." Jawab Adinda pelan.
"Kekurangan agar kelak kita bisa hidup untuk saling melengkapi, dan tidak ada penyesalan di kemudian hari." Tambah Adinda, membalas genggaman tangan Zayn.
Zayn tersenyum bahagia mendengar ucapan Adinda barusan.
JALANIN AJA DULU, KEDEPANNYA BARU KAYANG 🤣🙈
__ADS_1
Bersambung...............................