
Tanpa terasa berbulan-bulan telah berlalu. Pasangan Archie dan Kaivan sudah menantikan kelahiran buah cinta mereka yang usianya sudah 9 bulan dalam kandungan ibunya.
Archie sudah memasuki bulan kelahirannya, dan hal itu membuat Kaivan ekstra menjaga istrinya.
Kini rumah Kaivan tampak ramai karena kedatangan Aditya dan keluarganya. Memang, mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
Aditya masih berjuang untuk berobat atas penyakitnya, dan papa Jefry selalu setia untuk membantu putrinya yang tidak bisa berjalan.
"Aku senang bisa lihat papa lagi, udah lama rasanya nggak lihat papa." Ucap Archie dengan senyuman yang mengembang.
"Papa juga kangen sama kalian." Balas papa Jefry, menakan kata kalian sembari menatap mantan istrinya.
Archie tersenyum tipis, lalu menoleh menatap suaminya yang juga pasti paham akan maksud ucapan papa Jefry.
"Bagaimana keadaan Aditya dan kak Risa, kalian baik kan?" Tanya Kaivan, mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Kai. Kami baik, dan itu semua berkat kamu serta Archie yang mau memberikan kami kesempatan, juga bantuan." Jawab Risa dengan senyuman tulus.
"Apapun itu, semoga kalian semakin baik dan sehat." Sahut Archie tidak kalah tersenyum.
"Mama tadi buat kue, kalian tunggu disini ya." Kata mama Fia, kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku bantu, Ma." Archie hendak bangkit, namun mama Fia melarangnya.
"Jangan, Chie. Kamu sudah hamil besar, lagian bawa kue nggak berat kok." Tolak mama Fia kemudian pergi.
Setelah kepergian mama Fia, papa Jefry juga bangkit dari duduknya. Dia menatap semua yang ada disana.
"Papa boleh pinjam kamar mandi kalian, Kai?" Tanya papa Jefry.
"Tentu, Pa. Silahkan saja, papa boleh pakai kamar mandi yang mana saja." Jawab Kaivan mempersilahkan.
"Perlu aku antar, Opa?" Aditya menawarkan diri, namun papa Jefry menolaknya.
__ADS_1
Papa Jefry pun pergi. Dia tidak benar-benar ingin ke kamar mandi, dan ia rasa Kaivan maupun Archie pun sadar niatnya.
Papa Jefry hanya ingin bicara dengan mantan istrinya, dia merindukan sosok wanita yang begitu dicintainya itu.
"Fia." Papa Jefry memanggil diambang pintu dapur.
Mama Fia membalik badan dengan penuh keterkejutan. "Jef? Disini?" Tanya mama Fia bingung.
Papa Jefry mendekat, kemudian memegang tangan mantan istrinya itu.
"Aku ingin bicara, hanya berdua Fia. Tolong!" Pinta papa Jefry.
"Aku rasa tidak bisa, Jef. Anak-anak bisa mencari kita, lagipula apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya mama Fia.
"Aku ingin kita rujuk, Fia. Aku tidak bisa tanpa kamu, aku butuh kamu disisa hidupku." Jawab papa Jefry.
Mama Fia menghela nafas, dia membalik badan untuk mengambil kue lalu menatap papa Jefry lagi.
"Aku rasa kamu tahu jawabanku apa, kita sudah memilih jalan masing-masing." Balas mama Fia.
Mama Fia terkekeh. "Hentikan, Mas. Kamu membuatku malu dengan ungkapan itu, kita sudah tua." Ujar mama Fia.
"Tolong berikan aku kesempatan, Fia. Aku akan bicara pada anak-anak." Pinta papa Jefry dengan sungguh-sungguh.
Sementara itu di tempat lain. Tampak seorang wanita baru saja keluar dari kantor karena harus lembur.
Wanita itu menenteng tas berisi laptop sambil mengusap tengkuknya. Pekerjaannya sebagai karyawan magang cukup banyak.
"Baru pulang?" Seorang pria berdiri sambil melipat tangannya di dada dan tubuh bersandar di mobil.
Wanita itu tersentak. Dia terkejut melihat sosok pria yang beberapa bulan belakangan ini terus mendekatinya.
"Mas Zayn. Sejak kapan?" Tanya Adinda dengan senyuman tipis.
__ADS_1
Zayn menatap jam di pergelangan tangannya. "Mungkin satu jam. Ayo masuk," ajak Zayn lalu membuka pintu untuk Adinda.
Adinda tidak menolak. Dirinya tidak membawa kendaraan dan dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan pulang bersama pria tampan itu.
"Banyak sekali pekerjaan kamu ya, sampai harus lembur gini?" Tanya Zayn sambil sesekali melirik Adinda.
"Lumayan, Mas. Tapi lembur gini juga ada bayaran kok, kantor tempatku magang cukup profesional dan menghargai tenaga orang." Jawab Adinda menjelaskan.
"Bagus, Karena zaman sekarang ada saja perusahaan yang semena-mena sama karyawannya." Timpal Zayn, laki-laki berusia 32 tahun itu.
"Oh iya, kamu belum makan kan? Kita mampir dulu ya." Ajak Zayn tanpa menunggu persetujuan dari Adinda.
"Anak mas nggak nyariin?" Tanya Adinda pada akhirnya.
Inilah kenyataan yang baru Adinda ketahui dua Minggu yang lalu. Zayn adalah seorang duda beranak satu yang ditinggal tiada oleh istrinya.
"Nggak, Din. Calista sudah tahu kalau saya mau ajak kamu makan dulu." Jawab Zayn.
Calista, bocah berusia 5 tahun yang sudah bertemu Adinda sekali. Adinda awalnya terkejut, namun dia tidak bisa menampik rasa sayangnya pada Calista meski baru sekali ketemu.
"Calista anak yang pintar, mas berhasil jadi ayah sekaligus ibunya." Puji Adinda tiba-tiba.
"Saya tahu, tapi meski begitu dia tetap butuh sosok ibu." Sahut Zayn tanpa menatap Adinda.
"Masa Iddah kamu sudah selesai sebulan yang lalu, apa kamu belum mau membuka hati? Untuk saya mungkin?" Zayn menghentikan mobilnya karena kampu merah.
Pria beranak satu itu lalu menoleh, menatap Adinda yang terdiam.
"Dinda." Panggil Zayn dengan lembut.
"Mas tahu masa lalu aku kayak gimana, apa mas masih mau?" Tanya Adinda tanpa menatap Zayn.
"Sekarang saya tanya sama kamu, Dinda. Apa kamu bisa menerima status saya dan anak saya?" Tanya Zayn dengan serius.
__ADS_1
ALURNYA AKU PERCEPAT, NGGAK APA-APA KAN? TENANG, NGGAK AKAN ADA YANG AKU LEWATKAN KOK😉
Bersambung..................................