Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Pelaku penyebar gosip


__ADS_3

Sorot mata yang tajam itu meniti pada setiap manusia yang berdiri di depannya sambil menundukkan kepalanya. Lobby yang biasanya hanya untuk lalu lalang, kini tampak ramai karena pemilik perusahaan mengumpulkan mereka di sana.


Kaivan Arsangga, pewaris tunggal dan pemilik perusahaan itu yang mengumpulkan para karyawan disana. Tidak semuanya, hanya beberapa orang yang sudah ia selidiki sebelumnya.


"Kalian tahu alasan saya kenapa mengumpulkan kalian semua disini?" Tanya Kaivan dengan dingin dan datar.


"Tidak, Pak." Jawab beberapa orang dari banyaknya yang berdiri di sana.


"Alasan saya mengumpulkan kalian disini adalah karena saya ingin membuat perhitungan pada kalian yang telah berani menggosip di perusahaan saya." Ucap Kaivan sembari melangkah ke kanan dan kiri.


Tatapan pria itu tidak teralihkan sama sekali. Matanya terus menyorot pada para karyawan yang semakin ketakutan.


"Apa saya membayar kalian untuk bergosip?" Kaivan bertanya kepada seluruh karyawannya dengan lantang.


"Apa begitu kinerja kalian di perusahaan saya?" Lagi, Kaivan kembali bertanya.


"Kami minta maaf, Pak." Salah satu dari mereka menyahut dan langsung meminta maaf.


"Saya bertanya. Bukan mau mendengar permintaan maaf kalian." Ujar Kaivan tegas.


"Siapa kalian sampai berani membicarakan hal buruk tentang atasan kalian heuh? Ya, saya tahu kalian bekerja dan di bayar, tapi tidak seharusnya masalah pribadi atasan kalian itu di ikut campuri." Kaivan kembali bicara, menatap berjalan dengan pandangan tajam ke karyawan yang jumlahnya lebih dari 20 orang itu.


"Kami tidak bermaksud, Pak. Kami hanya ikut kabar burung saja dari beberapa orang." Yang lainnya menyahut tanpa berani menatap Kaivan.


"Atas dasar apa kalian membicarakan Archie? Karena dia sekretaris saya? Karena dia sering dekat dan menghabiskan banyak waktu di ruangan saya? Atau kalian pernah melihat saya dan Archie kontak fisik?" Tanya Kaivan lagi.


Tidak ada satupun yang berani menjawab, semuanya diam dengan kepala yang tertunduk. Tatapan atasan mereka begitu tajam, bahkan sampai membuat bulu kuduk berdiri.


"JAWAB!" bentak Kaivan.


"Mulut kalian begitu banyak ketika membicarakan Archie, tapi saat saya tanya seperti ini kalian semua mendadak menjadi orang bisu." Sarkas Kaivan.


"Kami benar-benar minta maaf, Pak. Kami akan memutuskan gosip ini." Karyawan yang tadi menyahut kembali bicara.


"Sebelum itu, kalian harus dengar ini baik-baik. Archiena yang kalian kenal sebagai sekretaris saya itu adalah istri saya, dia istri sah saya. Jika dia dekat atau bahkan kontak fisik dengan saya, maka itu wajar karena saya suaminya." Ucap Kaivan begitu lantang.

__ADS_1


"Saya tidak mau mendengar gosip yang buruk tentang saya dan hubungan saya dengan Archie. Satu kalimat saja bisa membuat pekerjaan kalian hilang detik itu juga." Tambah Kaivan.


Semua karyawan tampak terkejut mendengar pengakuan Kaivan, terutama sosok pria yang berdiri diantara para karyawan itu.


"Jadi Archie istrinya pak Kaivan." Gumam pria itu dengan penuh keterkejutan.


Kaivan lalu menatap satu wanita yang menjadi akar dari gosip di kantornya. Wanita yang ia ketahui sebagai teman istrinya itu ternyata malah menusuknya dari belakang.


"Selain itu, pada hari ini saya akan menunjukkan dalang dibalik penyebaran gosip buruk tentang saya dan istri saya." Ucap Kaivan dengan lantang.


Kaivan lalu menatap penjaga dan memberikan kode padanya untuk menarik wanita yang terus saja menundukkan kepalanya itu.


Wanita yang ditarik satpam itu sontak terkejut, ia benar-benar tidak menyangka jika kedoknya akan terbongkar.


"Dia adalah dalang dari penyebaran gosip, bukan hanya di kantor tapi ketika saya dan Archie di Bali pun dia dengan seenaknya menyebar foto-foto saya bersama istri saya." Ucap Kaivan menatap sinis wanita yang semakin menundukkan kepalanya.


Rafi dan Monika terkejut bukan main melihat siapa dalang di balik penyebaran gosip buruk tentang Archie.


"Amber, kau?" Monika bicara dengan nada menggantung saking terkejutnya.


"Amber, aku tidak menyangka kau yang membuat Archie mendapatkan gunjingan dari orang kantor." Rafi bicara dengan nada terkejut, tidak kalah terkejut dengan Monika.


Kaivan tersenyum sinis, ia lalu menatap kembali orang-orang yang tampak berbisik-bisik hal buruk tentang Amber.


"Berhenti membicarakan wanita ini, karena kalian sama salahnya dengan dia." Tegur Kaivan dan semuanya langsung diam.


Kaivan melipat tangannya di dada lalu berdiri di hadapan Amber yang tidak kuasa untuk mengangkat wajahnya sama sekali.


"Jawab pertanyaan saya. Apa alasan anda menggosipkan hal buruk tentang Archie?" Tanya Kaivan dengan lebih tenang.


"Karena perbuatan anda itu, istri saya harus masuk ke rumah sakit." Tambah Kaivan penuh penekanan.


"S-saya hanya disuruh, Pak." Jawab Amber gelagapan.


"T-tuan Aditya, keponakan anda yang menyuruh saya." Tambah Amber sambil menangis.

__ADS_1


Mendengar jawaban Amber, sontak amarah Kaivan memuncak. Ia mengepalkan tangannya dengan mata yang merah.


"KAMU SAYA PECAT, PERGI DARI HADAPAN SAYA." Usir Kaivan dengan membentak.


Kaivan lalu menatap karyawannya yang lain.


"Jika saya masih mendengar gosip ini, nasib kalian akan sama dengannya. Kalian akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru." Ucap Kaivan tegas.


"Sekarang, kembali bekerja." Usir Kaivan dan semuanya pun langsung pergi dengan perasaan lebih tenang.


Kaivan lalu kembali menatap Amber, disana masih ada Rafi dan Monika yang sepertinya penasaran dengan nasib Amber.


"Tahan wanita ini, dia harus membayar segala perbuatannya bersama dengan orang yang sudah menyuruhnya." Kata Kaivan lalu pergi dari sana.


Kaivan tidak lupa membawa ponselnya. Ia menepati ucapannya untuk menelpon Archie saat sidang, dan istrinya melihat itu semua melalui telepon.


"Sudah lihat kan, Sayang?" Tanya Kaivan sembari melangkah menuju lift.


"Mas, hiks … aku nggak nyangka ternyata Amber, aku pikir Rafi." Archie tampak menangis di seberang sana.


"Sayang, jangan menangis. Aku pulang sekarang ya," kata Kaivan lembut.


Kaivan tidak tega melihat istrinya menangis seperti itu, jiwa memeluknya meronta-ronta.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku akan memeluk kamu saat kamu pulang kerja nanti." Archie melarang dengan menggelengkan kepalanya.


Kaivan dan Archie bicara sampai Kaivan masuk ke ruangannya, dan setelah selesai mereka pun memutuskan panggilan.


Kaivan meletakkan ponselnya di atas meja lalu menopang kedua tangannya di atas meja juga. Ia menatap lurus ke depan dengan amarah yang masih memenuhi dadanya.


"Aditya, lihat apa yang akan aku lakukan padamu." Gumam Kaivan.


TERNYATA DALANGNYA ADITYA ADITYA JUGA GUYS ☹️☹️


Bersambung.....................................

__ADS_1


__ADS_2