
Karin akhirnya sadar setelah 3 hari. Saat gadis itu membuka matanya, hal yang pertama kali di carinya adalah Yogi, tunangannya.
Keluarga Karin dan keluarga Yogi yang ada disana merasa bingung untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
"Ma, dimana mas Yogi? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Karin sembari memegang tangan ibunya.
"Aku mau nikah sama mas Yogi secepatnya, dia udah ajak aku nikah malam itu. Aku mau mas Yogi, Ma." Tambah Karin.
Tangisan ibu Yogi pecah. Dia langsung memeluk Karin tidak terlalu erat karena luka di tubuh Karin yang belum pulih.
"Ikhlas, Nak. Yogi sudah pergi, dia sudah meninggalkan kita untuk selamanya. Ikhlaskan dia, Nak …" bisik ibunya Yogi dengan lirih.
Karin tiba-tiba tertawa, dia melepaskan pelukan calon ibu mertuanya itu lalu menggelengkan kepalanya.
"Ibu jangan bercanda, ini nggak lucu sama sekali. Sekarang panggil mas Yogi sebelum aku marah sama dia, Bu." Ucap Karin sembari menatap semua yang ada disana.
"Pak? Mas Yogi baik-baik aja kan? Dia ada di luar kan?" Tanya Karin pada calon ayah mertuanya.
"Karin, kamu harus kuat. Kecelakaan itu sudah merenggut Yogi dari kita untuk selamanya." Jawab ayah Yogi dengan tenang.
"Kenapa kalian bicara omong kosong terus!! Mas Yogi pasti baik-baik aja, dia udah janji mau nikahin aku, dia mau nikahin aku secepatnya!" Teriak Karin histeris.
Ibunya Karin memeluk gadis itu. Dia mengusap punggung dan bahu Karin dengan penuh kelembutan.
"Hiks … nggak mungkin, Ma. Mas Yogi cinta sama aku, dia nggak mungkin ninggalin aku." Kata Karin di tengah tangisannya.
"Hiks … mas Yogi melanggar janjinya, dia nggak cinta sama aku …" lirih Karin, lalu selanjutnya tangisannya semakin histeris.
Tiba-tiba saja pintu ruang rawat Karin terbuka, memperlihatkan kedua orang tua Aldavi dan pria itu juga.
Ya, Aldavi ada disana setelah mendengar kabar jika Karin sudah sadarkan diri.
Tentang laporannya, semua tuntutan telah dicabut dengan syarat Aldavi akan menikahi Karin.
"Dokter Davi!!" Panggil Karin dengan penuh binar.
Tubuh Aldavi menegang, dia menatap Karin dengan tatapan penuh rasa bersalah. Dia penyebab semua air mata gadis itu.
__ADS_1
"Dok, mas Yogi ada kan? Dia jadi pasiennya dokter kan? Bagaimana keadaannya?" Tanya Karin dengan tergesa-gesa.
"Tolong jawab jika dia baik-baik saja, semua orang disini bicara omong kosong. Tunangan saya baik kan?" Tanya Karin lagi.
"K-karin … Yogi tidak bisa diselamatkan, dia sudah tiada." Jawab Aldavi terputus-putus.
Tangisan Karin seketika pecah. Dia berteriak memanggil nama Yogi sambil berusaha melepaskan selang infus dan alat medis lainnya.
"MAS YOGI!!!" teriak Karin memanggil nama calon suaminya.
Aldavi terpaksa menyuntikan obat penenang karena Karin begitu histeris. Gadis itu tampak sangat terpukul dan membuat rasa bersalah semakin dirasakan Aldavi.
"Anda lihat? Putri saya sangat terpukul, dia sedih kehilangan calon suaminya." Ucap ibunya Karin.
"Jika saja bukan permintaan mendiang Yogi, demi Tuhan saya nggak sudi anak saya menikah dengan kamu!" Ucap ibunya Karin lagi.
Aldavi hanya diam dengan kepala menunduk. Dia sudah mendengar semuanya, tentang Yogi yang membuat surat dan memintanya untuk menyatukan Karin dengan cintanya.
Dan cintanya Karin adalah dia, Aldavi.
"Davi …" bisik mama Dewiya sembari mengusap bahu putranya.
***
Berhari-hari kemudian. Kondisi Karin sudah jauh lebih baik, meski dia lebih banyak diam. Karin masih belum mengikhlaskan kepergian tunangannya itu.
Hari ini Karin sudah diperbolehkan untuk pulang, dan dia akan pergi ke kampung halamannya sekalian mengunjungi makam Yogi.
Belum ada yang memberitahu Karin siapa yang membuat kecelakaan terjadi, apalagi sampai merenggut nyawa Yogi. Semua orang sepakat merahasiakan sementara, sebelum nanti memberitahu jika Aldavi penyebab utama semua kesedihan Karin.
“Dimana dokter Davi? aku harus bilang makasih dulu sama dia karena selama disini dia banyak membantuku, Ma.” Ucap Karin kepada ibunya.
Ibunya Karin menghela nafas. Dia benci karena Karin belum tahu fakta yang sebenarnya tentang pria yang dianggap baik oleh putrinya itu.
“Udahlah nggak usah, lagian itu kan udah jadi tugasnya sebagai dokter.” Balas ibunya Karin sedikit ketus.
Karin tidak banyak bicara dan hanya menurut saja. Dia langsung melangkah menuju lobby rumah sakit dimana taksi sudah menunggu.
__ADS_1
Saat sampai di lobby, ternyata Karin sudah ditunggu oleh Kaivan dan juga Archie. Pasangan itu baru sempat datang karena kesibukan Kaivan.
“Pak Kaivan, mbak Archie. Makasih banyak ya … Aku pasti balik dan kerja lagi kok di tempat Kaivan.” Ucap Karin dengan senyuman paksa.
“Iya, Rin. Nggak apa-apa, kamu nenangin diri dulu disana ya, nggak perlu buru-buru. Kami turut berduka cita.” Kata Archie dengan lembut.
“Iya, Mbak. Makasih banyak, aku pergi dulu. Permisi …” Usai mengatakan itu, Karin dan keluarganya pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah kepergian Karin, Aldavi keluar dari persembunyiannya, lalu mendekati Kaivan dan juga Archie.
Aldavi tak sanggup menatap Karin.
“Kenapa harus menghindar, Dav? nggak lama lagi juga lo bakal nikahin dia, mau nggak mau kalian bakal sering ketemu.” Kata Kaivan.
“Iya, Kai. Tapi gue selalu merasa bersalah kalo lihat Karin, apa yang sekarang terjadi itu semua gara-gara gue.” Balas Aldavi pelan.
“Nggak nyangkal kalo memang dokter yang salah, aku cuma berharap kalo dokter bisa buat Karin bahagia, persis kayak permintaan mendiang tunangannya.” Ucap Archie pelan.
“Aku harap dokter nggak bikin Karin menderita, apapun alasannya.” Tambah Archie kemudian langsung berlalu dari hadapan suami dan teman suaminya itu.
Sedangkan Karin. Gadis itu melamun sepanjang perjalanan, dia jadi ingat malam saat kecelakaan terjadi. Karin menunduk, menatap tangannya sendiri.
“Bahkan sebelum kamu pergi, kamu masih genggam tangan aku Mas. Kenapa? kenapa kamu harus pergi, padahal aku udah nerima kamu.” Batin Karin dengan air mata yang menggenang.
Karin menatap lamat-lamat cincin yang tersemat di jari manisnya. Sejak Yogi memasangkan sampai hari ini, Karin tidak pernah melepaskan cincin itu. Namun sepertinya semua akan berubah.
“Rin, kamu mau minum nggak?” tanya ibunya Karin.
“Nggak, Ma. Aku cuma mau cepat sampai dan pergi ke makam mas Yogi. Aku mau marah karena dia udah ninggalin aku.” Jawab Karin pelan.
Ibunya Karin menatap nanar. Dia semakin membenci pria bernama Aldavi, dan dia menyesal sekali karena Yogi malah meminta pria itu untuk menikahi putrinya.
“Ibu sama bapak pasti terpukul banget karena kehilangan mas Yogi, aku jadi merasa bersalah Ma. Coba aja aku nggak suruh mas Yogi kesini waktu itu.” Kata Karin tiba-tiba.
“Jangan ngomong gitu, Yogi pasti nggak suka dengernya.” Sahut ibunya.
“Andai kamu tahu Rin, semua ini adalah salah pria itu, pria yang kamu anggap baik.” Batin ibunya Karin.
__ADS_1
KARIN BAKAL GIMANA YA KALO TAHU??
Bersambung ..............................................