
“Jangan memberitahu Karin sekarang jika kecelakaan yang merenggut nyawa Yogi itu disebabkan oleh kamu.”
Ucapan ibunya Karin hari itu membuat Aldavi terpaksa diam. Dia pun sejujurnya takut apabila Karin mengetahuinya sekarang.
Aldavi menatap Karin yang menangis sendirian di gubuk pinggir sawah. Gadis itu terlihat sangat terpukul, sampai tangisannya terdengar begitu sakit.
“Apa yang kau lakukan padaku, Tuhan! Kenapa kau membuatku menjadi manusia paling berdosa.” Gumam Aldavi, kemudian menjambak rambutnya penuh rasa frustasi.
Aldavi mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun memberanikan diri untuk mendekati Karin yang sampai saat ini masih menangis sendirian.
“Karin …” Panggil Aldavi dengan lembut.
“Saya bener-bener berdosa sama mas Yogi, dia pasti sedih dan sakit hati waktu tau aku mencintai pria lain, hiks …” Kata Karin dengan tangan yang menutupi wajahnya.
Aldavi terdiam. “Andai kamu tau, Rin. Aku jauh lebih berdosa pada mendiang Yogi.” Batin Aldavi.
Karin menyeka air matanya, dia kemudian menatap Aldavi dengan sisa air mata yang masih jelas terlihat. Sangat menyakitkan bagi Aldavi.
“Dok, saya tau anda akan menolak ini. Saya nggak apa-apa kok, meskipun ini permintaan terakhir mas Yogi, tapi saya nggak mau paksa dokter buat nikahin saya.” Ucap Karin dengan sedikit terbata karena sesak.
Aldavi masih diam, ia masih ingin mendengarkan apa saja yang akan Karin ucapkan padanya.
“Permintaan mendiang mas Yogi pasti berat banget kan buat dokter, jadi lupakan aja. Saya bakal bilang sama keluarga saya.” Ucap Karin lagi, kemudian bangkit dari duduknya.
Karin hendak pergi, namun Aldavi memegang pergelangan tangannya sehingga langkah gadis itu langsung terhenti.
__ADS_1
“Bagaimana jika saya katakan bahwa saya siap nikahin kamu, Karin?” Tanya Aldavi dengan tenang.
Wajah Karin menunjukkan raut terkejut, dia menatap dalam mata Aldavi. Entah mengapa Karin merasakan jika Aldavi sedang kesakitan, seperti pria itu keberatan jika harus menikahinya.
“Anda tidak perlu berbohong, Dok. Saya tau anda keberatan, terbukti dari tatapan anda itu.” Balas Karin, kemudian melepaskan tangan Aldavi dari tangannya.
“Jika saya menolak, maka saya akan jauh lebih merasa bersalah.” Ucap Aldavi dengan mata yang semakin menyiratkan rasa sakit.
“Maksud anda apa. Dok?” Tanya Karin mengerutkan keningnya.
“Saya akan menikahi kamu, Karin.” Bukannya menjawab, Aldavi malah kembali mengutarakan keputusannya.
Usai mengatakan itu, Aldavi pun pergi meninggalkan Karin yang masih dilanda kebingungan begitu saja.
Aldavi tidak punya hak untuk menolak setelah apa yang dilakukannya. Dia harus bertanggung jawab membahagiakan Karin, seumur hidupnya.
Karin bisa melihat dengan jelas di mata Aldavi banyak kesedihan dan rasa sakit, namun ia tidak tahu alasannya. Sementara soal cintanya kepada Aldavi, itu sudah sedikit memudar dan tergantikan dengan Yogi.
“Cintaku bukan dokter Davi lagi, Mas. Tapi kenapa? disaat cintaku udah di kamu, kamu malah pergi.” Bisik Karin seorang diri.
***
Semua orang kembali berkumpul di ruang tamu rumah Karin untuk membicarakan rencana pernikahan Karin dan Aldavi. Tanpa meminta persetujuan Karin lebih jauh, mereka langsung menentukan tanggal pernikahan.
Pernikahan Karin dan Aldavi akan digelar 1 bulan dari sekarang. Baik Karin dan Aldavi selaku calon mempelai hanya diam saja, mereka tidak bicara atau melayangkan protes.
__ADS_1
“Ibu harap kamu akan bahagia dengan keputusan kita, Karin. Demi kebahagiaan kamu, dan ibu yakin Yogi akan senang karena permintaanya terpenuhi.” Ucap ibunya Yogi dengan lembut.
“Cintaku itu mas Yogi, Bu.” Lirih Karin, lalu menundukkan kepalanya.
Meski suara Karin pelan dan lirih, namun semua yang ada disana masih bisa mendengarnya. Mereka mendengar ucapan Karin, terutama Aldavi yang duduk di sebelah gadis itu.
“Kamu harus sabar ya, Rin. Inget, takdir Tuhan nggak pernah salah. Mungkin Tuhan udah nyiapin yang terbaik untuk kamu.” Tutur ibunya Karin, lalu melirik Aldavi dengan sinis.
Aldavi hanya bisa diam, dia tidak berbicara apapun karena dia sadar bahwa semua ini adalah kesalahannya.
Mama Dewiya mendekati Karin. Ibu dari Aldavi itu mencium kening dan memeluknya dengan erat.
Sejujurnya ada rasa bahagia juga dalam hatinya karena sebentar lagi Karin akan menjadi menantunya, seperti keinginannya. Meski caranya salah, namun mama Dewiya percaya akan takdir.
Apa yang terjadi sekarang adalah takdir dari Tuhan.
“Mungkin caranya memang salah, tapi ini semua sudah takdir. Mama harap, kamu bisa menerima pernikahan ini nantinya.” Bisik mama Dewiya dengan posisi masih memeluk calon menantunya.
“Makasih banyak, Tante. Mungkin aku akan butuh waktu menerima ini semua …” Balas Karin dengan lirih.
Karin lalu melirik Aldavi yang juga sedang menatapnya. Mereka terpaku akan tatapan masing-masing dengan perasaan yang berbeda.
Satu rasa bersalah, dan satu lagi rasa penuh keraguan.
MONMAAP KALO ADA TYPO :(
__ADS_1
Bersambung ....................................