Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Dijodohkan


__ADS_3

Aldavi mengerutkan keningnya melihat Karin hanya diam saja di ruang tamu ketika dia baru terbangun dari tidurnya.


Karena lelah, ibunya Karin mengizinkan Davi untuk istirahat dan dokter itu tidak menolak. Dia lelap dan baru bangun di sore hari.


"Kamu pikir melamun itu bisa dapat banyak uang ya? Jangan melamun terus." Tegur Aldavi sembari duduk di depan Karin.


Karin tersadar. Dia menghela nafas, lalu menoleh untuk menatap dokter yang habis memakai kamarnya untuk tidur.


"Melamun memang nggak dapat duit, Dok. Tapi melamun bisa dapat ketenangan." Sahut Karin sembari menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Ketenangan apaan, kesurupan yang ada." Celetuk Aldavi.


"Kamu menginap kan? Kalau begitu saya pulang saja ya." Tambah Aldavi sembari bangkit dari duduknya.


"Dok." Panggil Karin dengan kepala yang sedikit mendongak.


"Tentang 3 bulan itu berlaku kan?" Tanya Karin pelan.


"Tentu saja, kita bisa saling mengenal dan menentukan mah menikah atau tidak setelahnya. Kenapa?" Tanya Aldavi balik setelah menjawab.


"Sepertinya tidak bisa, karena saya akan dijodohkan dengan anak RW lingkungan saya." Jawab Karin lalu menundukkan kepalanya.


"Hah?! Dijodohkan?" Beo Aldavi dengan sedikit berteriak.


"Bukankah itu bagus, jika kamu dijodohkan artinya kita tidak perlu menikah. Saya akan mengatakan kepada mama saya jika kamu dijodohkan." Tambah Aldavi dengan nada bahagia.


Karin menatap Aldavi. Pria itu terlihat sangat bahagia, berbeda dengannya yang malah cemas. Karin tidak mau dijodohkan.


"Anda pasti sangat bahagia." Ucap Karin pelan.

__ADS_1


"Tidak, bukan hanya saya tapi kamu juga." Sahut Aldavi kembali duduk di sofa.


Karin menggelengkan kepalanya. "Saya tidak akan bahagia, karena anak RW itu tidak saya kenal apalagi saya cintai." Ujar Karin lirih.


Aldavi menakutkan alisnya. "lalu saya? Kenapa kamu bersedia melewati masa perkenalkan 3 bulan sedangkan saya juga tidak kamu cintai kan?" Tanya Aldavi menunjuk dirinya sendiri.


Karin menatap Aldavi dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia memang tidak mencintai Aldavi, tapi dia mengenal dan cukup menyukainya.


Hanya sebatas suka dan kagum saja.


"Iya, tapi saya mengenal anda. Apalagi ibu anda sangat baik kepada saya, saya bersedia karena berpikir kita bisa saling menaruh rasa dalam 3 bulan." Jawab Karin.


"Tapi karena anda senang saya dijodohkan, baiklah. Itu artinya anda memang tidak berharap kita bisa benar-benar saling mengenal. Anda boleh pulang, terima kasih sudah mengantar saya." Tambah Karin lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Aldavi.


Aldavi menatap kepergian Karin dengan kening yang mengkerut. Karin terlihat tidak bahagia, dan itu membuat tanda tanya besar di otak Aldavi.


Aldavi menggelengkan kepalanya, dia tidak mau terlalu memikirkan ini. Aldavi harus pulang karena dia akan praktek besok.


Sementara Karin di kamarnya, dia kembali melamun di meja belajar. Apa yang dia takutkan terjadi, yaitu Aldavi tidak mau menolongnya.


Karin pikir saat dia cerita akan dijodohkan, Aldavi bisa membantunya untuk membatalkan dengan alasan bahwa mereka sedang berusaha mengenal sebelum menikah.


"Ini juga salahku, seharusnya aku cerita sama mama soal ini jadi mama nggak asal jodoh-jodohin." Gumam Karin begitu cemas.


"Ck, sekarang gimana. Lagian mama ngapain sih jodoh-jodohin, anaknya baru umur 20 tahun juga." Geram Karin dengan wajah ditekuk.


***


Malam harinya, Karin keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Karin sudah tidak melihat mobil Aldavi yang mana hal itu menandakan jika pria itu sudah pergi.

__ADS_1


Karin melangkahkan kakinya menuju dapur, dan menemukan sang mama yang sedang menyiapkan minuman.


"Ma, aku nggak mau di jodohkan." Ucap Karin lagi, dia berusaha memberanikan diri.


"Kamu nggak kasihan sama mama Karin? Mama punya alasan kenapa jodohin kamu sama anak pak RW." Kata mama Karin.


"Apa, Ma? Apa alasannya?" Tanya Karin dengan suara yang sedikit tinggi.


"Karena rumah kita berdiri di atas tanah sengketa, Karin. Pak RW bisa kasih mama rumah kalau kamu mau nikah sama anaknya." Jawab mama Karin.


"Ayah kamu nggak tahu kalau dia beli tanah sengketa, bertahun-tahun kita tinggal di atas tanah yang dilarang sama pemerintah. Mama pusing." Tambah mama Karin.


"Mama menukarku dengan sebuah rumah?" Tanya Karin dengan suara sesak.


"Ma, mama bisa ikut aku ke Jakarta dan tinggal disana asal aku nggak dijodohkan." Tambah Karin dengan wajah sedihnya.


"Udahlah, Karin. Menikah sama anak pak RW, masa depan kamu terjamin." Timpal wanita yang melahirkan Karin itu.


"Nggak, Ma. Dia saja nggak jelas kerjaannya, cuma ngandelin harta orang tuanya." Ujar Karin menggelengkan kepalanya.


"Karin, dulu kamu sangat penurut jangan sampai kamu terpengaruh pada budaya kota sampai berani melawan mama." Tegurnya.


"Alasan mama dan semua ucapan mama nggak masuk akal, aku nggak mau dijodohkan. Nggak peduli sama rumah, tanah sengketa atau apapun." Ujar Karin lalu langsung pergi dari sana.


ALDAVI MAH KABUR AJA, NGGAK MAU NOLONG KARIN😭


Bersambung...................................


Note. Mohon maaf kalau soal tanah sengketanya ada yang salah ya, ini cuma sepengetahuan aku aja, hehehe ✌️

__ADS_1


__ADS_2