Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Terpesona??


__ADS_3

Liburan terasa menyenangkan karena dilakukan ramai-ramai. Malam ini, Kaivan mengajak istri dan yang lainnya untuk bakar-bakar sambil menikmati kehangatan api unggun kecil yang Aldavi buat.


Archie duduk bersama Adinda untuk menyiapkan nasinya, sedangkan Kaivan sedang bantu menyiapkan bumbu. Yang membakar? sudah pasti Aldavi dan Karin.


Karin dan Aldavi sibuk kipas sana kipas sini agar apa yang mereka panggang diatas bara itu cepat matang. Beberapa kali Karin batuk karena asap yang mengenai wajahnya.


“Asapnya kenapa ke saya semua, Dok. Uhukkk … gantian dong.” Ucap Karin sambil menutupi hidung dan mulutnya.


“Makanya mandi, asap itu suka dengan orang yang belum mandi kayak kamu gini.” Kata Aldavi lalu lekas bertukar posisi dengan Karin.


Sudah bertukar posisi pun asap tetap mengenai Karin dan itu membuat Karin cukup jengkel, sedangkan Aldavi tertawa dibuatnya. Gadis itu terus batuk-batuk.


"Sini." Ucap Aldavi sembari menarik tangan Karin untuk berdiri di belakangnya.


Karin pasrah. Dia berdiri di belakang Aldavi dan hanya mengintip saja ke arah panggangan yang sedang menyala itu.


"Kok asapnya nggak kesini, Dok?" Tanya Karin dengan polos.


"Udah pernah makan bara api belum?" Tanya Aldavi dengan tatapan jengkel.


"Belum sih, Dok. Saya bukan debus yang bisa ngelakuin aneh-aneh." Jawab Karin lagi.

__ADS_1


"Jelas kamu nggak bisa, orang kamu nya aja nggak jelas." Sahut Aldavi dengan enteng.


"APA!? maksud dokter saya ini orangnya aneh, gitu?" Tanya Karin dengan nada tidak terima.


"Iya, tapi ada yang lebih aneh yaitu mama saya karena bisa-bisanya mau jadiin kamu menantunya." Jawab Aldavi dengan ketus.


Mendengar ucapan Aldavi, sontak membuat Karin teringat dengan apa yang terjadi diantara mereka.


Karin meletakkan kipas di tangannya, kemudian melangkah menjauhi Aldavi yang tidak tahu jika ia menjauh.


"Benar, Karin. Kamu harus ingat jika kamu dan Aldavi sudah berakhir sebelum dimulai. Sekarang kamu tunangan orang." Batin Karin sembari terus melangkah.


Karin tidak memperhatikan langkahnya, dan ia langsung menabrak Adinda yang sedang membawa minuman.


"Kak, maaf." Ucap Karin merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa, Rin. Tapi kamu kenapa? Kamu kelihatan banyak pikiran?" Tanya Adinda.


"Hah?! Nggak kok, aku nggak apa-apa." Jawab Karin menggelengkan kepalanya.


"Karin, bakar-bakaran sama Aldavi nya udah selesai?" Tanya Archie tiba-tiba.

__ADS_1


"Belum, Mbak. Itu lagi di bakar sama dokter Davi, aku batuk-batuk terus jadi udahan aja." Jawab Karin sembari menunjuk ke arah Aldavi.


"Oh gitu, yaudah kamu duduk aja sama aku. Ayo!" Ajak Archie lalu duduk diatas karpet yang sudah digelar.


"Mas, kamu bantu Aldavi sana. Kasihan tuh sendirian." Tutur Archie dengan lembut.


"Iya, Sayang. Kamu duduk ya, jangan jalan-jalan terus, aku capek liatnya." Tutur Kaivan lalu mencium kening istrinya.


Kaivan pun melangkah mendekati Aldavi yang sedang asik membakar sendirian.


"Sendirian aja." Celetuk Kaivan sembari mengambil kipas yang tadi Karin gunakan.


"Sendirian mata lo. Nggak liat tuh di belakang gue ada orang?" Tanya Aldavi dengan sewot.


"Nggak ada, Dav. Lo liat tuh, si Karin kan udah kesana sama bini gue." Jawab Kaivan menunjuk ke arah Karin dan istrinya.


Aldavi menoleh, menatap Karin yang ternyata memang sudah duduk disana sambil melamun.


Untuk sesaat Aldavi terpesona dengan kecantikan Karin. Wajah polos tanpa sentuhan makeup itu terlihat seperti banyak pikiran dan itu mengundang pertanyaan dari Aldavi.


"Dia sudah bertunangan, dia milik orang lain." Batin Aldavi lalu lekas mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.............................


__ADS_2