
Ketika Archie memekik penuh keterkejutan saat melihat jika Risa dan Anto terbaring diatas brankar dengan bersimbah darah, Kaivan dan mama Fia pun langsung pergi untuk melihat kondisi mereka.
Bukan hanya Kaivan dan mama Fia saja, tapi juga papa Jefry yang memaksa untuk ikut sehingga ia hanya duduk di kursi roda saja dengan Adinda yang bantu mendorongnya.
Mereka menunggu selama hampir 30 menit, sampai akhirnya dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Dok, bagaimana anak saya?" Mama Fia bertanya dengan penuh rasa khawatir.
Memang baik hati mama Fia itu. Meski pernikahannya sudah dihancurkan oleh Risa, namun ia tetap menganggap wanita itu sebagai anaknya.
"Kami mohon maaf, Nyonya. Kecelakaan yang begitu parah membuat kami tidak bisa menyelamatkan salah satu dari mereka." Jawab dokter yang menangani dengan berat hati.
Semua orang disana begitu takut, mereka bertanya-tanya siapakah yang tidak bisa di selamatkan karena di dalam ada dua orang, yaitu Risa dan Anto.
"S-siapa yang tidak bisa diselamatkan, Dok?" Tanya papa Jefry dengan sedikit terbata.
"Pasien atas nama Anto meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, waktu kematiannya sudah tercatat dan dia akan segera di bawa ke kamar mayat." Jawab dokter itu.
Tidak lama kemudian sebuah brankar di dorong keluar dari ruang pemeriksaan. Memang awalnya dipikir Anto bisa diselamatkan, tapi ternyata tidak.
"Anto …" lirih mama Fia menatap suami dari putrinya yang sudah tidak bernyawa itu.
"Benturan di kepalanya membuat pembuluh darahnya pecah, serta di bagian tangan dan kakinya mengalami luka-luka yang sangat parah. Pasien kehilangan banyak darah." Jelas dokter lagi dengan penuh rasa duka.
"Hiks … papa …" Adinda menangis, bagaimanapun pria yang terbaring tidak sadar itu adalah mertuanya, ayah dari suaminya.
Kaivan mendekat, lalu memegang tangan pria itu yang sudah terbujur kaku.
"Selamat jalan, Mas." Ucap Kaivan dengan lirih.
Archie memejamkan matanya, tak sanggup melihat kondisi Anto yang bisa dikatakan rusak berat karena luka-luka.
Namun meski begitu, Archie tentu saja mendoakan yang terbaik untuk pria yang pernah membanggakannya dulu. Membanggakan sebagai calon menantunya.
"Anto, papa sudah memaafkan kamu nak. Papa akan siapakn tempat peristirahatan terakhir kamu." Ucap papa Jefry dengan tenang meski suaranya sesak.
Kaivan merogoh kantung celananya dan mengambil ponselnya. Pria itu menghubungi seseorang untuk membantu menyiapkan segala keperluan untuk peristirahatan kakak iparnya.
Setelah itu, Anto pun dibawa pergi untuk dipersiapkan pulang ke rumah duka.
__ADS_1
Tangisan yang terdengar menggambarkan betapa mereka sangat terpukul akan kepergian sosok Anto.
Meskipun pria itu bisa dikatakan jahat pada keluarganya, terutama papa Jefry dan mama Fia, namun tetap pria itu adalah keluarga mereka.
"Lalu bagaimana keadaan tante Risa, Dok?" Tanya Archie dengan pelan dan takut-takut.
"Saat ini kondisinya masih kritis, kami akan melakukan pemeriksaan secara berkala untuk melihat perkembangan kesehatannya." Jawab dokter itu.
Mereka semua hanya bisa pasrah menunggu agar kondisi Risa lebih baik, namun sebelum itu mereka kembali bertanya tentang Aditya.
"Aditya pasti belum tahu tentang kecelakaan kedua orang tuanya." Ucap Archie lalu menatap adiknya.
"Dinda, lebih baik kamu beritahu suami kamu tentang ini. Dia harus tahu jika kedua orang tuanya kecelakaan, bahkan dia kehilangan ayahnya." Tambah Archie.
Adinda menggelengkan kepalanya. "Maaf, Mbak. Aku nggak mau, aku nggak mau kembali ke rumah itu." Tolak Adinda pelan.
Archie hendak kembali bicara, namun Kaivan mengusap punggungnya dan memberikan kode melalui gelengan kepala.
"Kita saja yang ke rumah Aditya." Ucap Kaivan lembut.
Archie tidak banyak menyahut dan hanya mengangguk kecil. Mungkin memang lebih baik mereka yang pergi ke rumah Aditya untuk memberitahukan berita duka ini.
Aditya benar-benar terpukul setelah mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya kecelakaan, bahkan yang membuatnya semakin terpukul adalah fakta jika sang papa sudah tiada.
Aditya meraung tidak rela, ia menangis dengan perasaan enggan menerima kenyataan. Aditya tidak mau kehilangan sang papa.
"Nggak! Om pasti bohong, papa pasti baik-baik saja." Ucap Aditya sarkas.
"Tadi papa masih ada disini, dia pergi bersama mama untuk mencari opa. Tidak mungkin papa pergi untuk selamanya." Aditya kembali bicara.
Ditengah rasa sakitnya, kehilangan sang papa rasanya jauh lebih sakit dan menyesakkan. Aditya merasa dadanya seperti dihantam sesuatu yang keras.
"Adit, saya tidak sedang main-main. Kamu harus kuat, Aditya." Ucap Kaivan dengan tenang, tanpa peduli pada ucapan Aditya yang menyangkal kenyataan.
"Mas Anto sudah tiada, kamu harus bantu mempersiapkan pemakaman nya." Tambah Kaivan sembari menepuk bahu keponakannya.
"Nggak, Om. Papa pasti baik-baik saja, om jangan terus bicara jika papa sudah tidak ada." Sahut Aditya dengan nada tinggi.
Archie mengalihkan pandangannya, sembari mengeratkan pegangan di tangan suaminya.
__ADS_1
Aditya yang biasa ia lihat begitu menyebalkan dan angkuh, kini terlihat begitu hancur dan terpuruk atas kematian pria yang telah membesarkannya selama ini.
"Papa akan baik-baik saja, hiks … katakan jika om berbohong, aku mohon." Pinta Aditya sembari menyatukan kedua tangannya.
Kaivan hanya diam saja. Ia tentu tidak bisa mengabulkan permintaan Aditya karena Anto memang benar-benar sudah tiada.
Tidak mendapatkan jawaban dari Kaivan, Aditya lantas menatap Archie yang masih mengalihkan pandangannya.
"Archie … Archie, lihat aku." Aditya berujar sembari memegang tangan Archie.
"Katakan padaku jika papa baik-baik saja, kamu ingat kan dia yang paling menyukaimu dulu. Katakan jika dia baik-baik saja." Pinta Aditya dengan tergesa-gesa.
Kaivan melepaskan tangan Aditya yang memegang tangan istrinya.
"Aditya, kami tidak bisa mengabulkan permintaan kamu karena mas Anto sudah tiada. Dia sudah pergi selamanya." Ucap Kaivan lagi menjelaskan.
"Adit, apa yang mas Kaivan katakan itu memang benar. Om Anto sudah tidak ada, dia sudah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya." Archie ikut bicara dan menjelaskan pada Aditya.
Aditya menatap Kaivan dan Archie bergantian, kemudian pria itu hendak bangkit namun sedikit kesulitan.
Aditya hampir saja jatuh dan ia ingin memegang tangan Archie agar mau menolongnya, namun siapa sangka jika Kaivan yang memegang tangannya.
"Kamu mau kemana? Biar saya yang bantu kamu." Ucap Kaivan dengan datar.
Archie mundur sedikit, memberikan celah pada suaminya agar menolong Aditya untuk berdiri.
Archie sadar jika tadi Aditya ingin memegang tangannya, namun di cegah oleh suaminya. Archie tidak masalah, ia tahu suaminya adalah pria pencemburu.
"Lalu dimana mama? Apa mama baik-baik saja?" Tanya Aditya pelan.
"Mbak Risa di rumah sakit, saat ini kondisinya masih sangat kritis." Jawab Kaivan seadanya.
"Aku mau menemui mama, Om." Pinta Aditya memohon.
"Kami akan mengantarmu ke rumah sakit, tapi setelah itu kamu harus kembali untuk bantu mengurus pemakaman mas Anto." Sahut Kaivan lalu membantu Aditya berjalan.
Archie melangkah di sebelah suaminya, ia tidak dekat-dekat dengan Aditya sama sekali. Archie tidak mau membuat suaminya marah.
RISA GIMANA YA KALAU TAU SUAMINYA UDAH NGGAK ADA😭😭
__ADS_1
Bersambung.......................................