Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Penantian yang usai


__ADS_3

Karin hari ini izin pulang lebih awal karena ingin membeli hadiah untuk Archie. Ya, dia sudah mendengar tentang atasannya yang sudah memiliki anak saat ini.


Karin pergi tidak sendiri, melainkan bersama dengan Adinda. Mereka janjian bertemu di salah satu mall usai menyelesaikan aktivitas mereka di kantor.


"Aku beli apa ya, Kak. Kebutuhan mbak Archie atau anaknya?" Tanya Karin pada Adinda.


"Bebas, Rin. Apapun, pasti mbak Archie terima." Jawab Adinda seraya terus melangkah dan mencari toko yang ingin singgahi.


Akhirnya keputusan Karin adalah untuk memberikan kebutuhan anaknya Archie saja. Ia akan membeli baju, sepatu dan lengkap dengan topinya juga.


"Bagus kan, Kak?" Tanya Karin menunjukkan barang yang dia beli.


Adinda tersenyum. "Bagus, Rin. Pasti anaknya mbak Archie ganteng banget pakai ini." Jawab Adinda.


Karin pun lekas membayar, begitupula dengan Adinda. Hadiah yang Adinda beli berupa alat makan, gendongan dan juga beberapa mainan anak-anak.


"Kalo aja aku nggak keguguran, aku pasti juga udah melahirkan sebelum mbak Archie." Batin Adinda dengan mata berkaca-kaca.


Setelah selesai membeli apa yang mereka butuhkan disana. Adinda pun mengajak Karin membeli buah-buahan, setelah itu barulah mereka pergi ke rumah sakit menggunakan taksi online.


Awalnya Zayn ingin mengantar Adinda, namun ditolak karena merasa tidak enak dengan Karin. Dia pun memilih untuk memesan taksi online saja.


Tidak memerlukan waktu lama. Adinda dan Karin sampai di rumah sakit pukul 5 sore. Keduanya langsung ke ruangan Archie yang saat itu sedang makan kue bawaan mama Gita.


"Mbak!!!" Adinda lekas mendekat, kemudian memeluk sang kakak.


Archie membalas pelukan adiknya, lalu melepaskannya setelah beberapa saat dan beralih memeluk Karin sebentar.


"Ini hadiah untuk keponakanku yang paling tampan. Baby?" Tanya Adinda sembari mendekati inkubator.


"Arkan." Jawab Archie.


"Baby Arkan, ini uti sayang. Gendong sama uti yuk!!" Adinda menatap sang kakak sebelum menggendong nya, dan tentu saja Archie memperbolehkan.


"Gimana sama kerjaan kamu, Rin?" Tanya Archie pada sekretaris suaminya.


"Lancar, Mbak. Mbak gimana keadaannya?" Tanya Karin balik.


"Baik, Alhamdulillah. Semuanya lancar, aku bersyukur banget." Jawab Archie lalu menatap Arkan yang sedang digendong Adinda.


"Anak mbak ganteng banget, serasi sih sama wajah mbak dan pak Kaivan." Kata Karin memuji.


Archie terkekeh. Wajah Arkan kebanyakan mirip Kaivan, namun Archie tidak kesal soal itu karena suaminya kan tampan.

__ADS_1


Sementara Adinda. Dia menimang Arkan dengan perasaan sesak. Ia kembali Dejavu akan kehamilannya yang harus kandas di tengah jalan.


Keguguran yang membuat Adinda bukan hanya kehilangan anak, tapi juga suami dan seluruh masa depannya untuk menjadi ibu.


"Andai aja aku nggak keguguran, Arkan. Kamu pasti punya temen, tapi nggak apa-apa ya. Nanti minta sama mami dan papi buat adik supaya kamu ada temen." Ucap Adinda dengan senyuman paksa.


Archie mengetahui bagaimana perasaan adiknya. Adinda pasti teringat akan kejadian yang menimpanya dan membuatnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


"Dinda …" panggil Archie lembut.


"Aku nggak apa-apa, Mbak. Mbak kan sudah mengajariku untuk ikhlas. Lagipula sekarang ada Arkan, dia akan jadi temanku juga kalau berkunjung ke rumah mbak." Sahut Adinda seakan paham alasan Archie memanggilnya.


Archie tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Dia senang mendengar ucapan adiknya.


"Mbak kok sendiri, suami mbak mana?" Tanya Adinda sembari memberikan gendongan Arkan pada Karin.


"Ehh, boleh mbak?" Tanya Karin agak terkejut.


"Boleh dong, kamu juga kan aunty nya." Jawab Archie.


"Mas Kaivan lagi keluar, sebentar lagi pasti datang." Archie menjawab pertanyaan sang adik barusan.


Sementara Karin. Dia tampak tersenyum sambil menimang-nimang anak Archie dan Kaivan. Wajahnya tersenyum gemas menatap bayi mungil tampan dalam dekapannya ini.


"Hai, Arc–" sapaan itu seketika terhenti kala orang yang datang bersama Kaivan malah menatap Karin yang sedang menggendong Arkan.


Karin sendiri terpaku di tempat menatap sosok yang ada di hadapannya. Pria yang hatinya cari-cari selama beberapa bulan belakangan ini.


"Dokter Davi, anda datang?" Tanya Archie dengan penuh senyuman.


Aldavi tersadar. Dia lekas masuk bersama sahabatnya dan melewati Karin begitu saja tanpa kata.


"Iya dong, kalo gue nggak dateng. Bisa-bisa si Kaivan terobos rumah sakit gue di USA." Jawab Aldavi, kemudian memberikan paperbag merek mendunia.


"Sorry, gue nggak nyiapin hadiah apa-apa. Jadi cuma bisa kasih ini." Kata Aldavi.


"Sok banget lo, mentang-mentang disana udah sukses kasih anak gue merek cenel gini." Ledek Kaivan bergurau.


"Iri bilang, Sayang." Sahut Aldavi sembari mencolek dagu Kaivan.


"Halah! Percuma duit banyak, kalau pasangan nggak punya-punya." Kaivan kembali memberikan ledekan yang membuat Aldavi tak terima.


Archie dan Adinda hanya bisa tertawa melihat interaksi antara kedua pria itu. Lalu tatapan Archie beralih pada Karin yang hanya diam.

__ADS_1


"Rin?" Panggil Archie.


Tawa Aldavi seketika terhenti begitu mendengar Archie memanggil nama gadis yang ia hindari beberapa bulan ini.


Karin sendiri membalik badan. Dia mendekati Archie, lalu memberikan Arkan untuk di rebahkan di samping ibunya.


"Anak mbak lucu banget, gemesin." Puji Karin sambil tertawa meski dipaksakan.


"Tenang, Karin. Kamu sebentar lagi menikah kan, maka kamu juga pasti nggak lama lagi punya baby." Sahut Archie.


Karin hanya senyum-senyum. "Mbak bisa aja, tapi aminn. Makasih doanya, Mbak." Balas Karin.


Sementara Aldavi. Rahangnya tampak mengeras mendengar perkataan yang tidak ingin di dengarnya.


Berbulan-bulan menghindar dengan harapan tak melihat apalagi mendengar kabar pernikahannya, nyatanya semua sia-sia. Dia kembali bertemu dengan gadis yang telah merebut hatinya.


"Mbak, aku udah dijemput. Aku pulang ya." Pamit Adinda begitu melihat notifikasi di ponselnya.


"Buru-buru banget, Bu. Tapi yaudah deh, hati-hati ya." Balas Archie manggut-manggut.


"Kamu pulang sama siapa, Rin? Atau mau sama aku?" Tanya Adinda.


"Nggak usah, Kak. Aku pesan taksi online aja, kakak hati-hati ya." Jawab Karin menolak.


Adinda pun pergi meninggalkan ruang rawat Archie. Sedangkan Karin langsung meraih ponselnya untuk memesan taksi online.


"Karin, biar diantar Aldavi. Kalian searah, Aldavi juga mau pulang. Iya kan?" Kaivan tiba-tiba membuka suaranya.


"Nggak usah, Pak. Saya bisa pesan taksi, lagipula saya nggak mau merepotkan orang lain." Tolak Karin dengan cepat.


"Kaivan, Archie. Gue cabut dulu ya, besok kesini lagi karena Minggu depan gue udah harus balik ke USA." Pamit Aldavi lalu melakukan tos perpisahan dengan Kaivan.


"Makasih ya, Dok." Ucap Archie dibalas anggukkan kepala oleh Aldavi.


Aldavi melirik Karin sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan Archie.


"Rin, sana pulang sama Aldavi. Tenang aja, kamu aman kok." Tutur Archie lembut.


Tanpa banyak bicara, Karin pun lekas keluar dari ruangan Archie usah berpamitan dengan perasaan gugup dan ragu-ragu.


AWWWW, KARIN DAN ALDAVI? YES OR NO???


Bersambung..............................

__ADS_1


__ADS_2