
Yogi dimakamkan di kampung halamannya. Keluarganya begitu terpukul, mereka ingin menunggu Karin sampai sadar agar bisa melihat Yogi untuk yang terakhir kalinya, namun tidak bisa.
Kondisi Karin masih belum membaik, bahkan sampai pemakaman selesai pun Karin tetap menutup matanya diatas brankar rumah sakit.
Pemakaman Yogi berjalan dengan lancar. Bukan hanya keluarga yang merasa kehilangan, tetapi rekan kerjanya juga.
"Yogi, kenapa kamu ninggalin mama Nak, hiks … kasihan mama sama Karin, kami butuh kamu, Yogi …" mama Yogi menangis di dekat pusara putranya.
Ibu mana yang tidak akan terpukul saat anaknya pergi untuk selamanya, apalagi sebelum ini putranya baik-baik saja dan berjanji akan pulang.
Para pelayat ikut merasakan kesedihan keluarga itu, tak terkecuali orang tua Aldavi yang sengaja hadir untuk mengantar Yogi ke peristirahatan terakhirnya.
"Kami minta maaf atas apa yang telah terjadi, namun kami tahu jika tidak ada yang ingin ini terjadi termasuk putra saya." Mama Dewiya berucap.
"Tetap saja putra anda adalah pembunuh!" Balas ibunya Yogi dengan tajam.
"Jika bukan karena putra anda, Yogi pasti masih baik-baik saja. Seharusnya dia masih ada bersama dengan kami, dengan tunangannya." Giliran ibu Karin yang bicara.
"Ini semua memang kesalahan putra saya, namun ini juga takdir Bu. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah ditakdirkan Tuhan." Papa Firman bicara tanpa mengurangi rasa hormatnya.
"Tetap saja pelaku itu adalah putra kalian, dan dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal!" Ibu Yogi berujar semakin tajam dan penuh dendam.
"Kita bicara dirumah saja, ada yang ingin saya sampaikan." Ayah Yogi bicara, memutus perdebatan itu.
Akhirnya mereka semua pun pergi dari pemakaman. Orang tua Aldavi ikut ke rumah Yogi, begitupun dengan keluarga Karin.
Kini mereka semua berkumpul di ruang tamu rumah orang tua mendiang Yogi yang bisa dikatakan mewah.
"Sebelum Yogi pergi ke Jakarta, saya dan dia sempat bicara berdua, kemudian dia memberikan ini kepada saya." Ayah Yogi menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat.
Papa Firman menerima dan membukanya. Itu semua surat, dan juga foto Aldavi bersama Karin.
"Karin mencintai putra kalian, dan Yogi tahu itu." Kata ayah Yogi dengan tenang.
"Papa! Maksudnya apa ini?!" Ibunya Yogi sampai bangkit dari duduknya karena marah.
__ADS_1
"Maaf sekali, Pak. Ini pasti keliru, Karin tidak mungkin mencintai pria lain disaat sudah memiliki tunangan." Ibunya Karin berusaha untuk membela putrinya.
"Karin memang mencintai pria bernama Aldavi, dan Yogi tahu itu sejak lama. Dia sedih, tapi dia nggak rela jika harus melepas Karin untuk pria itu." Nada bicara ayah Yogi terdengar lirih.
Yogi menghampiri sang ayah yang sedang duduk santai di teras rumah. Dia ikut duduk, lalu menyodorkan sebuah amplop.
"Aku kan anak sekaligus teman papa, jadi aku titip ini." Ucap Yogi.
"Apa ini?" Pria yang menjabat sebagai RW itu mengerutkan keningnya bingung.
"Surat aku buat Karin, kasih aja setelah aku sama dia nikah. Dalam surat ini isinya permintaan maaf aku buat dia karena nggak rela dia sama Aldavi." Jelas Yogi.
"Aldavi itu pria yang Karin temui di Jakarta, dia seorang dokter. Karin sangat mencintainya." Tambah Yogi begitu melihat raut bingung sang ayah.
"Maksud kamu Karin selingkuh?" Tanya ayah Yogi.
"Nggak, Pa. Karin bukan gadis seperti itu. Dia memang mencintai Aldavi, tapi dia tetap menerima pertunangan ini dan bertekad untuk melupakan cintanya. Aku senang dengan keputusan Karin, tapi aku juga merasa bersalah tidak bisa membuatnya bersatu dengan cintanya dan karena itulah aku buat surat ini." Jawab Yogi panjang.
"Ini nggak berguna, Davi. Papa yakin seiring waktu Karin akan mencintai kamu, lupakan tentang surat ini." Kata ayah Yogi.
"Yogi!" Tegur pria yang sudah berumur itu dengan kesal.
"Aku akan baik-baik saja, papa jangan khawatir. Tapi jika memang aku mati, tolong buat Karin bersatu dengan cintanya." Pinta Yogi.
"Karena itulah saya berikan ini kepada kalian. Bisa dibilang ini adalah pesan dan permintaan terakhir putra saya, yaitu menyatukan Karin dengan cintanya." Ujar ayah Yogi.
"Nggak! Cintanya Karin itu Yogi, bukan siapapun. Aku rela Karin mencari kebahagiaan dengan pria lain, asal bukan dengan pembunuh anak kita." Ibu Yogi marah, dia menolak ucapan suaminya.
"Ini permintaan Yogi, Ma. Jadi tolong mengerti dan cabut laporan kasus Aldavi. Bebaskan dan hukum dia dengan cara menikahi Karin." Sahut ayah Yogi.
"Yogi baru saja pergi, Pak. Bahkan Karin pun belum sadar, saya rasa tidak lah tepat membicarakan pernikahan sekarang." Ibunya Karin berkata tenang.
"Benar, saya juga tidak mau Karin menikah secepat ini apalagi makam Yogi masih belum kering, tapi kita bisa membebaskan Aldavi dan bicara dengannya tentang ini dulu." Sahut ayah Yogi.
"Nggak! Sampai Karin sudah sehat kembali dan makam putraku kering, maka pembunuh itu harus berada di penjara!" Tegas ibunya Yogi kemudian pergi meninggalkan ruang tamu.
__ADS_1
Sementara orang tua Aldavi begitu syok. Mereka sampai bingung harus bicara apa ketika mendengar cerita dari ayah mendiang Yogi.
***
Aldavi terus diam, dia bahkan tidak menjawab dengan benar pertanyaan dari sahabatnya.
Kaivan, ya pria itu datang untuk melihat Aldavi usai mendengar kabar kecelakaan dan kabar jika Aldavi di penjara.
Aldavi tetap berada di rumah sakit, namun dibawah pengawasan pihak berwajib karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.
"Gue bikin tunangan Karin meninggal, Kai. Gue pantes disini, gue udah bikin Karin menderita." Ucap Aldavi pelan.
"Tapi kenapa lo mabuk, Davi? Selama ini lo nggak pernah kayak gini." Kaivan bicara dengan tenang.
"Gue frustasi, Kai. Gue cinta sama Karin, tapi dia udah bahagia sama orang lain. Awalnya gue cuma mau lepas stress dan gue udah bertekad lupain Karin, tapi ini malah terjadi." Jelas Aldavi dengan penuh penyesalan.
"Karin pasti bakal benci banget sama gue, dia pasti nggak akan maafin gue seumur hidupnya." Tambah Aldavi dengan mata berkaca-kaca.
Kaivan menghela nafas, semua ini terlalu rumit. Kaivan tidak mengira jika takdir akan bertindak dengan serumit ini.
Posisi Aldavi bersalah.
Sementara itu Archie dan Adinda datang ke ruang rawat Karin yang masih belum sadarkan diri.
Mereka berdua turut sedih melihat kondisi Karin yang penuh luka, terutama luka di hatinya.
"Semalam aku lihat mereka bahagia banget, Mbak. Aku nggak nyangka kalo semalam hari terakhir mereka bareng." Ucap Adinda dengan lirih.
"Saat dia sadar nanti, Karin pasti sedih banget dengan keadaan yang sekarang." Tambah Adinda.
Archie menyeka air matanya. "Aku juga nggak nyangka, Din. Semalam aku bahagia lihat Karin dicintai sama tunangannya, tapi malah jadi kayak gini." Sahut Archie.
"Dokter Davi, aku bahkan nggak tahu gimana nasib dia nantinya. Apa Karin bakal benci sama dia atau nggak." Tambah ibu satu anak itu dengan tidak kalah lirih.
KISAH KARIN SAMA ALDAVI AGAK PANJANG KAYAKNYA GUYS, DISINI ATAU BUAT NEW NOVEL??
__ADS_1
Bersambung...............................