Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Kehidupan seperti drakor


__ADS_3

Jika Archie dan Kaivan sudah berada di kantor, maka berbeda dengan Aditya yang masih asik leha-leha di kamarnya.


Perbedaan keluarga papa Jefry dan mama Fia memang sangat jauh dan cukup terlihat.


Mama Fia hidup dengan waktu yang produktif, semua di lakukan ada manfaatnya. Beda dengan keluarga papa Jefry yang bahkan tidak jelas aktivitasnya.


Saat ini, papa Jefry duduk di meja makan. Tepatnya masih duduk di meja makan setelah hampir 1 jam menunggu anggota keluarganya yang lain.


Hidup bertahun-tahun bersama mama Fia membuat papa Jefry biasa bangun pagi dan langsung duduk di meja makan.


Dipikir semua orang sudah menunggunya, ternyata ia salah. Ia adalah orang yang pertama datang, bahkan sampai sekarang masih sendirian.


"Tuan besar, biar saya ambilkan makanan anda ya." Ucap asisten rumah tangga yang ada di sana.


Papa Jefry menggelengkan kepalanya. Pria tua itu kemudian bangkit dari duduknya dan memilih untuk pergi dari sana.


Dua orang asisten rumah tangga yang ada di sana menatap papa Jefry dengan nanar. Mereka turut sedih melihat kondisi papa Jefry.


"Saat bersama nyonya besar, tuan tidak begini. Kasihan ya, karena kesalahan anak dan cucunya dia yang harus berkorban." Ucap salah satu dari mereka.


"Yang lebih kasihan, anak dan cucunya nggak tahu terima kasih." Sahut asisten rumah tangga yang satunya.


Mereka yang sedang membicarakan majikan mereka langsung berhenti ketika mendengar langkah.


Tidak lama kemudian istri dari anak majikan mereka datang. Ya, itu Adinda. Istrinya Aditya.


"Buatkan aku jus." Ucap Adinda dengan nada angkuh.


Adinda menarik kursi, kemudian duduk di sana sambil memainkan ponselnya dengan santai.


Satu dari kedua asisten rumah tangga itu memilih untuk membuatkan jus, sementara yang lainnya memilih untuk mendekat.

__ADS_1


"Nona, sebenarnya tadi tuan besar sudah menunggu disini, tapi karena kalian tidak kunjung datang, dia pun pergi ke kamarnya lagi." Ucap asisten rumah tangga itu ragu-ragu.


"Jika bisa, mulai besok ajak yang lainnya untuk sarapan pagi bersama ya. Kasihan tuan besar sepertinya sangat ingin makan bersama." Tambah wanita itu.


Adinda menatap wanita berbaju hijau itu, lalu menggebrak meja nya sedikit kencang dan bangkit dari duduknya.


"Lancang! Berani-beraninya kamu memerintahkan kami, kamu bosan bekerja hah!!" Ucap Adinda dengan nada tinggi.


"Saya tidak bermaksud, Nona. Saya hanya menyampaikan usulan." Sahut art itu ketakutan.


"Menunggu atau tidak, aku tidak peduli. Biarkan saja papa Jefry jika dia memang mau menunggu." Ujar Adinda lagi.


Jus Adinda sudah selesai, namun bukannya minum ia malah menyiram sedikit ke kepala si asisten rumah tangga yang tadi memberikan usulan.


"Lain kali jangan coba-coba mengatakan ini, dasar kurang ajar." Ucap Adinda kemudian pergi meninggalkan dapur.


Sikap Adinda benar-benar kurang ajar dan membuat pekerja di sana sekali tidak menyukai wanita itu.


Yang tadi di siram pun lekas pergi untuk mengganti pakaiannya. Ia merasa sangat terhina sekali dengan sikap menantu majikannya itu.


***


Siang harinya, seperti yang tadi Kaivan katakan jika siang ini mereka akan makan bersama dengan Aldavi dan juga Karin.


Kini mereka bertiga sudah melangkah menuju luar kantor dimana mobil Kaivan sudah menunggu.


Archie duduk di sebelah suaminya, sementara Karin di belakang. Mereka pun tancap gas meninggalkan area kantor.


"Kita mau makan di mana, Mas?" Tanya Archie, menghilangkan keformalan di antara keduanya.


"Restoran biasa kita makan, Sayang. Aldavi merekomendasikannya." Jawab Kaivan dengan lembut.

__ADS_1


Karin melongo sebentar, ia benar-benar syok melihat atasannya itu yang sangat berbeda.


Kaivan yang sedang menyetir mobil saat ini sangat berbeda dengan Kaivan yang biasa duduk di ruangannya.


"Pantesan saja mbak Archie cinta sama pak Kaivan, rupanya diluar kantor memang beda." Batin Karin dengan masih terkejut.


Karin benar-benar kagum pada pasangan suami istri itu, sangat profesional jika di kantor dan beda lagi jika di luar.


"Karin, you okay?" Tanya Archie melihat Karin hanya diam saja.


"Hah? Oke, Mbak." Jawab Karin dengan cepat.


Kaivan menghela nafas. "Jangan kebiasaan ha ho ha ho, Karin." Tegur Kaivan.


Karin benar-benar malu, ia menggaruk kepalanya dan tidak menyahuti apapun. Ia kemudian menatap Archie.


"Nggak apa-apa." Ucap Archie tanpa suara.


Karin pun akhirnya manggut-manggut, ia memilih untuk tidak banyak menyahut daripada kembali di serang suara dingin atasannya.


"Tapi Karin itu hebat, Mas. Dia kalau bantuin aku selalu cekatan." Ucap Archie tiba-tiba.


"Memang itu keterampilan yang harus dimiliki sekretaris, Sayang." Sahut Kaivan.


Karin lagi-lagi hanya bisa melongo, panggilan sayang itu terdengar begitu berbeda dengan cara atasannya itu bicara padanya tadi.


"Kehidupan Drakor ternyata ada ya di dunia nyata." Batin Karin, lalu menatap Archie dan Kaivan bergantian.


Pasangan suami-istri itu benar-benar serasi, persis seperti pasangan di drakor dan dracin.


NANTI TUNGGU JODOH YA KARIN SUPAYA BISA NIRU ATASANMU🤣

__ADS_1


Bersambung..................................


__ADS_2