
Karin menatap rumah di depannya dengan wajah penuh rasa bahagia. Akhirnya setelah satu bulan lebih dia bisa pulang ke rumah orang tuanya.
Karin tentunya tidak lupa dengan sosok pria yang ada di sebelahnya. Pria yang sudah dengan rela mengantarkan dirinya untuk pulang ke rumah orang tuanya.
"Sampai kapan kita berdiri disini? Kamu pikir nggak panas?" Tanya Aldavi tanpa menatap Karin.
Pria itu menutupi bagian matanya dengan tangan karena matahari yang begitu terik. Dia kepanasan dan Karin malah planga-plongo di tempatnya.
"Eh iya, Dok. Ayo-ayo masuk, lupa saya kalau anda kepanasan." Ajak Karin lalu melangkah duluan menuju teras rumahnya.
Aldavi mengekori Karin sambil terus menatap lingkungan sekitar rumah Karin. Tidak terlalu mewah, namun memberikan kesan nyaman dan tenang.
"Assalamualaikum, Mama!!!" Teriak Karin dengan suara khasnya yang cempreng.
"Kayak Tarzan kamu, ngomong tuh pelan-pelan." Ucap Aldavi sembari melirik Karin.
"Kalau pelan nggak ada yang dengar, Dok. Jangan aneh-aneh." Sahut Karin tanpa menatap Aldavi.
"Waalaikumsalam." Dari dalam rumah terdengar ada yang menyahuti salam Karin.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, dan terlihatlah seorang wanita yang seusia dengan ibunya Aldavi.
"Karin, ya ampun." Wanita itu memekik lalu lekas memeluk anaknya dengan erat.
Karin membalas pelukan ibunya dengan tidak kalah erat. Karin merindukan ibunya, sangat merindukannya.
"Apa kabar, Nak! Mama senang banget kamu pulang." Ucap ibunya Karin lagi.
"Aku baik, Ma. Sangat baik." Sahut Karin tanpa menyebutkan dirinya yang sempat mengalami kecelakaan.
"Ini perkenalkan, dia dokter Aldavi." Ucap Karin lagi sembari memperkenalkan Aldavi.
Aldavi tersenyum. "halo, Tante. Perkenalkan, saya Aldavi. Saya temannya Karin." Kata Aldavi.
"Dokter? Karin butuh dokter? Kamu sakit?" Tanya mama Karin dengan khawatir.
__ADS_1
Karin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "nggak kok, Ma. Aku baik-baik aja, dokter Davi ini temanku." Jawab Karin.
Aldavi menatap Karin lalu menghela nafasnya. Ternyata gadis itu benar-benar tidak mau memberitahu orang tuanya terkait kecelakaan yang di timpanya.
"Yaudah, ayo masuk. Kebetulan nanti sore ada yang mau mama kenalin sama kamu." Ajak mama Karin.
"Ayo nak Aldavi masuk juga, maaf ya rumah Karin sederhana." Tambah mamanya Karin bicara pada Aldavi.
"Tidak masalah, Tante." Balas Aldavi dengan senyuman ramah.
Karin melihat senyuman itu, dia berdecak dalam hati karena senyuman yang Aldavi berikan pada mamanya sangat berbeda dengan senyuman yang diberikan padanya.
Aldavi bisa begitu ramah dan sopan, tapi jika dengan dirinya sangat songong dan tidak sopan.
"Jika kamu berani mencibir saya dalam hati, saya buat–" bisikan Aldavi yang hendak mengancam Karin terhenti.
"Nggak suka ancaman, sukanya duit." Potong Karin lalu melangkah duluan.
Karin berjalan masih sedikit tertatih dan beruntungnya sang mama tidak melihat.
"Lagipula siapa yang nggak suka duit, dasar gadis aneh dan ceroboh." Cibir Aldavi lalu lekas menyusul.
***
Archie duduk di ruang tamu sambil menikmati tontonan dan camilan. Karena suaminya tidak ada di rumah, Archie berusaha untuk mengisi waktu dengan menonton, makan dan bergerak melakukan sesuatu.
Archie duduk setelah membuat jus untuknya sendiri. Ibu hamil itu sendirian karena mama Fia tidur di kamarnya.
"Baby melon, buat papi kangen terus sama mami ya. Biar jangan lama-lama perginya." Celetuk Archie sembari mengusap perutnya.
Archie memang biasa mengajak janinnya untuk bicara karena dokter bilang itu tindakan yang baik.
"Papi belum telepon, mungkin masih di perjalanan kali ya. Mami kangen banget masa." Ucap Archie lagi lalu membuang nafasnya.
Ketika Archie sedang menggalau karena suaminya pergi, tiba-tiba saja ia kedatangan tamu.
__ADS_1
Karena pintu tertutup, Archie hendak membuka pintu namun bi Sari datang dan mencegahnya.
Akhirnya bi Sari lah yang membukanya. Tampak Aditya bersama papa Jefry dan Risa yang duduk di kursi roda.
"Opa!!!" Archie memekik lalu lekas mendekat.
Archie menyalami tangan opa Jefry dan Risa bergantian.
"Silahkan masuk, aku senang kalian datang." Tutur Archie dengan sopan.
"Makasih ya, Archie. Maaf kami datang tanpa memberitahu dulu." Kata Risa sembari mengusap tangan Archie.
"Nggak apa-apa, Tante. Kebetulan mas Kaivan lagi keluar kota, aku sama mama cuma berdua paling sama bi Sari." Sahut Archie.
"Fia dimana, Chie?" Tanya papa Jefry.
"Mama sedang tidur, sebentar lagi pasti bangun." Jawab Archie.
Archie lalu menatap bi Sari dan memberikan kode untuk membuat minum. Asisten rumah tangganya itu langsung paham.
Sementara Aditya, dia menatap rumah milik Archie dan Kaivan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tatapannya terpaku pada foto besar yang ada di ruang tamu itu. Foto pernikahan Archie dan Kaivan, di tambah foto lain yang tampak manis dan romantis.
"Archie cantik banget, bodohnya aku dulu meninggalkan dia." Batin Aditya lalu menatap Archie yang sedang bicara pada opa Jefry dan Risa.
Aditya selalu menyukai senyuman Archiena, bahkan sampai hari ini.
"Andai saja bisa, aku ingin mengulang waktu Chie. Aku tidak mungkin mengkhianati kamu." Batin Aditya lagi.
DIT UDAH DIT, KAIVAN TAHU MATI KAMU SAMA DIA😭😭
Btw aku belum bisa up banyak ya, maaf🙏
Bersambung..................................
__ADS_1