Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Salah paham lagi


__ADS_3

Urusan Karin dan Aldavi sudah selesai di rumah Kaivan. Mereka berdua pun berniat untuk pulang dan melanjutkan aktivitas masing-masing.


Karin memutuskan untuk pulang duluan karena ia harus ke kantor lagi dan melanjutkan sisa pekerjaannya yang lain.


Sementara Aldavi juga harus mengurus pasien. Di rumah sakit sudah ada pasien yang harus ia cek dengan rutin.


"Kalian kan searah, jadi lebih baik barengan saja. Daripada Karin menunggu sopir kantor lagi kan lama." Ucap Archie mengusulkan.


"Nggak perlu, Mbak. Aku bisa ke kantor sendiri kok." Kata Karin menolak.


Karin mana mungkin mau berangkat satu mobil dengan Aldavi. Yang ada nanti mobil itu berisi pertengkaran diantara mereka saja.


Tahu sendiri Karin dan Aldavi jika sudah bertengkar akan seperti apa. Mereka akan membuat heboh.


"Sudahlah Karin, sama Aldavi saja. Ini perintah saya sebagai atasan kamu. Kamu harus ke kantor bersama Aldavi saja." Ucap Kaivan memerintahkan.


"Tapi pak, naik taksi juga sama saja kok. Pasti juga cepat sampai ke kantor." Kata Karin lagi berusaha untuk menolak pulang dengan Aldavi.


"Tapi naik taksi juga harus nunggu, jadi lebih baik kamu sama Aldavi saja. Lagipula Aldavi tidak menolak." Ujar Archiena lalu menatap Aldavi.


"Iya kan, pak Davi?" Tanya Archiena.


"Iya." Jawabnya dengan singkat.


Karin menghela nafas. Kenapa juga Aldavi setuju untuk pulang dengannya. Jika begini Karin makin berat untuk bisa pulang dengan naik taksi.


"Baiklah, saya mau pulang dengan dokter Davi." Ucap Karin pasrah.


"Ke kantor, bukan pulang ke rumah." Kaivan mengingatkan sekretarisnya itu agar kembali ke kantor dan bukan pulang.


"Iya, Pak. Saya tahu, saya akan kembali ke kantor karena pekerjaan saya memang sedang sangat banyak." Balas Karin dengan pelan dan pasrah.


"Dokter Davi nggak terpaksa kan? Demi baby melon." Pinta Archie dengan senyuman.


Aldavi mendengus tanpa suara. Ia pun menganggukkan kepalanya sebagai balasan.


Karin manggut-manggut. Kini ia paham kenapa Aldavi tidak menolak ketika diminta pulang bersamanya. Itu karena permintaan Archie yang membawa-bawa baby melon.


Bisa dibilang Aldavi mau karena ngidamnya Archie. Demi bayi dalam kandungannya.


"Pantas saja, ya ampun dia tidak mungkin mau jika aku berada satu mobil dengannya. Dia itu kan anti sekali padaku." Batin Karin sambil melirik Aldavi.


Karin mengambil tas dan juga dokumen yang sudah Kaivan tanda tangani untuk ia bawa ke kantor lagi.


Gadis itu sontak ikut bangkit dari duduknya begitu Aldavi bangkit dari duduknya.


"Kai, gue cabut dulu ya. Gue masih banyak kerjaan, jangan lupa vitamin nya dihabisin. Lo kan gila kerja." Ucap Aldavi mengingatkan.


Kaivan menganggukkan kepalanya. "Iya, tenang aja. Sekarang kan ada yang bisa ngingetin gue buat minum vitamin terus." Sahut Kaivan lalu merangkul mesra bahu istrinya.


Aldavi mendengus. Selalu saja ia dipertontonkan keromantisan antara mereka berdua sampai rasa-rasanya Aldavi ingin menghilang dari bumi.


"Iya dokter, Davi. Jangan khawatir, saya akan selalu ada untuk mengingatkan suami saya tentang vitaminnya." Ujar Archie sembari mengusap wajah suaminya.


Karin melongo. Tidak biasanya Karin melihat Archie yang menebar keromantisan. Selama ini selalu Kaivan yang menebar keromantisan, dan bukan Archiena.


"Ternyata pasangan suami istri ini memang sangat serasi." Batin Karin penuh senyuman.


"Pak Kaivan dan mbak Archie memang sangat serasi. Kalian cocok sekali, seperti karakter Drakor!!" Ucap Karin tanpa sadar langsung bicara begitu dengan riangnya.


Kaivan dan Archie serta Aldavi menatap Karin dengan terkejut. Mereka semua kaget mendengar suara Karin yang begitu keras dan riang.


Karin tersadar, ia menutup mulutnya lalu menatap Kaivan, Archie dan Aldavi bergantian.

__ADS_1


Terutama Aldavi yang melempar pandangan seperti orang najis saja.


Archiena tertawa. "kamu bisa saja Karin, tapi kami memang cocok." Ucap Archie sembari menggandeng tangan suaminya.


Karin tersenyum canggung. "maaf ya, Mbak. Reflek, hehehe." Ucap Karin tertawa malu-malu.


"Nggak apa-apa, kamu benar sekali kalau aku sama suamiku memang cocok. Kamu orang kesekian kalinya yang bilang begitu." Sahut Archie tersenyum ramah.


"Dan aku akan mendoakanmu, semoga kamu juga bisa mendapatkan suami yang cocok denganmu." Tambah Archie sembari melirik Aldavi.


Karin tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Makasih, Mbak. Mbak memang yang terbaik dan favoritku." Balas Karin pelan.


"Sudah-sudah, kalian mau pergi kan. Terima kasih sudah mau datang kesini ya. Hati-hati." Ucap Kaivan pada Aldavi dan Karin.


Aldavi keluar duluan, membuat Karin langsung buru-buru berlari mengekori pria itu.


"Pak Aldavi." Panggil Karin pada akhirnya.


"Saya duduk di belakang ya." Kata Karin hendak membuka pintu belakang, namun buru-buru di tahan oleh Aldavi.


"Kamu pikir saya sopir. Duduk di depan, lagipula saya tidak menganggap kamu ada." Ketus Aldavi dengan lirikan mata yang tajam.


Mereka berdiri bersebelahan dan baru pertama kalinya mereka sedekat ini. Karin menyadari jika Aldavi sangat tampan.


"Astaga, ya Tuhan. Indah sekali cipataanmu. Dokter Davi tampan sekali, tidak ada celah hal buruk untuk menempel di wajahnya." Batin Karin mengagumi.


"Kenapa? Kagum pada saya? Saya tampan kan?" Tanya Aldavi dengan senyuman khasnya.


Karin berdecih, ia buru-buru mundur menjauhi pria itu dengan wajah yang sudah kembali ia normal kan.


Karin menggerutu dalam hati. Bisa-bisa ia terpesona pada pria seperti Aldavi yang sangat menyebalkan dan galak.


"Buat apa saya kagum, tidak ada yang bisa saya kagumi dari anda. Asal anda mau tahu ya, anda itu adalah salah satu pria terburuk dari yang terburuk." Ucap Karin dengan sangat yakin.


"Kamu …" Aldavi memojokkan tubuh Karin sampai mentok di body mobilnya, dan dia berdiri di depannya.


Karin menelan gumpalan salivanya. Ia menatap Aldavi dengan sedikit takut. Ternyata jika dilihat, pria itu ada menyeramkan nya juga.


"Dokter, a-anda terlalu dekat dengan saya." Ucap Karin terbata-bata.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka saya dekati, sedangkan kamu membuat mama saya berpikiran hal yang lebih dari ini." Sahut Aldavi dengan suara yang rendah dan berat.


Karin menatap Aldavi, lalu mendorong pria itu agar menjauh darinya. Tanpa permisi, Karin langsung masuk ke dalam mobil Aldavi, dan ia duduk di depan.


Aldavi mengatur nafasnya. Pria itu lekes mengitari mobilnya dan ikut masuk ke dalam mobil.


Aldavi memasang seatbelt sambil terus melirik Karin yang hanya diam saja. Bagus lah, batin Aldavi.


Aldavi lekas mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Kaivan. Sebelum ke rumah sakit, Aldavi harus mengantar Karin dulu ke kantor Kaivan.


Selama perjalanan tidak ada yang berbicara. Aldavi dan Karin hanya diam saja dengan perasaan masing-masing.


Karin ingin cepat sampai kantor agar ia bisa keluar dari mobil dan yang tiba-tiba menyesakkan ini.


"Jam berapa kamu bertemu dengan mama saya?" Tanya Aldavi tiba-tiba.


"Jam 5 sore, sepulang saya bekerja. Saya bertemu di restoran Kuring." Jawab Karin tanpa menatap Aldavi.


"Saya hanya bertanya jam berapa, bukan dimana. Tapi baiklah, ingat pesan saya apa. Jangan sampai kamu salah dan membuat mama saya semakin ingin menjadikan kamu sebagai istri saya." Ucap Aldavi mengingatkan.


"Kenapa mama anda sangat ingin saya menjadi menantu nya?" Tanya Karin, kali ini dia menatap Aldavi.


"Saya tidak tahu, dan saya benar-benar bingung. Gadis menyebalkan seperti kamu, bagaimana bisa disukai ibu saya." Jawa Aldavi dengan kesal.

__ADS_1


"Maksud anda saya menyebalkan?" Tanya Karin menunjuk dirinya.


"Ya, siapa lagi. Sebutan apa lagi untuk gadis seperti kamu selain menyebalkan." Jawab Aldavi sewot.


"Apa!! Anda tidak berkaca ya, anda jauh lebih menyebalkan dan selalu membuat pekerjaan saya bertambah banyak." Sahut Karin tidak mau kalah.


Aldavi hanya meliriknya. Ia tidak bicara lagi dan memilih untuk diam. Semakin bicara, semakin sengit dan menyesakkan mobilnya.


Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya Aldavi sampai di rumah sakit. Ya, Aldavi lupa jika dia harus mengantar Karin dulu ke kantor.


"Astaga, anda kenapa membawa saya kesini? Saya kan harus ke kantor." Ucap Karin memekik terkejut.


Aldavi ikut melongo. Saking tidak fokus, Aldavi sampai lupa jika dia harus mengantar Karin ke kantornya.


"Jika anda keberatan untuk memberikan saya tumpangan, maka katakan saja. Jika begini maka saya bisa terlambat ke kantor." Ucap Karin dengan sewot.


Aldavi menolah, menatap Karin yang sedang mengambil tas dan dokumennya.


"Saya lupa, Karin. Maafkan saya, biar saya antar kamu ke kantor. Saya akan putar balik." Ucap Aldavi.


"Nggak perlu, terima kasih. Saya bisa ke kantor sendiri." Tolak Karin lalu keluar dari mobil Aldavi.


Aldavi keluar dari mobil dan mengejar Karin, bahkan karena reflek pria itu langsung memegang tangan gadis itu.


"Ayo saya antar, saya akan mengantar kamu tepat waktu." Ajak Aldavi menarik tangan Karin.


"Nggak, Pak. Saya bisa pergi sendiri, lepaskan saya." Tolak Karin menepis tangan Aldavi.


"Karin, saya akan bertanggung jawab." Ucap Aldavi dengan lantang.


Orang-orang di parkiran tampak menatap ke arah mereka, terlebih lagi setelah mendengar ucapan Aldavi yang lantang dan …


Ambigu.


"Apa yang anda katakan. Anda akan membuat semua orang salah paham." Ucap Karin pelan sambil melirik sekitar.


Aldavi tersadar akan ucapannya. Ia lantas ikut melirik ke sekitar dan melihat banyak pasang mata yang memperhatikannya dengan Karin.


"Ayo pergi." Ajak Aldavi dan kali ini Karin tidak menolaknya.


Ketika Aldavi menarik tangan Karin masuk ke mobil. Terdengar suara bisik-bisik yang masih bisa di dengar oleh Aldavi dan Karin.


"Lihatlah, pria itu pasti sudah menghamili wanita itu dan tidak mau bertanggung jawab. Lalu wanitanya mengancam akan melapor pada polisi makanya dia panik." Bisik seorang wanita pada temannya.


"Cowok zaman sekarang memang sangat jahat." Bisik temannya.


Aldavi tidak peduli, ia langsung mendorong Karin masuk ke dalam mobilnya dan ia lekas menyusul.


Aldavi pun mengendarai mobilnya pergi meninggalkan rumah sakit untuk mengantar Karin dulu ke kantornya.


"Apa yang anda lakukan. Saya hanya membuat ibu anda salah paham tapi anda malah membuat semua orang salah paham." Ucap Karin tanpa menatap Aldavi.


"Saya tidak sengaja, saya tidak sadar mengatakannya." Sahut Aldavi.


"Sama seperti anda, saya juga tidak sengaja. Jadi jangan berkata bahwa saya sengaja mengatakan itu agar anda mendapatkan masalah. Berhenti menuduh saya, karena saya tidak pernah mau menikah dengan anda." Ujar Karin.


Karin menyinggung pesan Aldavi yang menghina Karin waktu itu. Dalam pesan itu Aldavi mengatakan jika Karin sengaja berkata demikian untuk membuat hidupnya dalam masalah atau gadis itu memang ingin menikah dengannya.


"Karin … saya …" Aldavi tiba-tiba bingung harus bicara apa.


"Sudahlah, Dok. Lupakan saja, setelah saya bicara dengan ibu anda maka semua akan baik-baik saja dan kembali seperti semula." Ucap Karin dengan tenang.


Aldavi tidak bicara, ia langsung bungkam melihat wajah Karin yang datar-datar saja. Karin pasti malu setelah mendengarkan bisik-bisik orang di rumah sakit tadi.

__ADS_1


HAYOOO, GANTIAN DAVI YANG BIKIN SALAH PAHAM 🤣🤣


Bersambung................................


__ADS_2