
Karin menatap pantulan dirinya di cermin sambil senyum-senyum. Ia mengusap wajahnya sendiri, lalu memukulnya pelan.
Karin mendengus, lalu berjalan tertatih sambil berpegangan pada benda yang ada di kamar kostnya.
"Emang ya, perempuan gampang banget baper. Baru digendong, gue udah senyum terus." Gerutu Karin pada dirinya sendiri.
Karin menghela nafas setelah berhasil mencapai ranjang kecilnya. Ia menatap ponselnya, lalu melihat jika besok adalah acara peresmian cabang butik ibunya Archie.
"Kayaknya nggak bisa datang, dan nggak mungkin juga datang. Gue aja jalan pincang gini." Gumam Karin lalu meletakkan ponselnya.
Baru di letakkan, tiba-tiba saja Karin mendapatkan panggilan dari sang mama. Ia lekas mengangkatnya.
"Karin, jadi kan weekend pulang? Mama kangen sama kamu, sekalian ada yang mau mama bicarakan."
"Iya, Ma. Nanti aku pulang, tenang saja. Jangan rewel ah." Sahut Karin di selingi dengan candaan.
"Bukan gitu, Sayang. Mama tuh benar-benar kangen sama kamu."
"Iya, Ma. Aku tahu, jadi nanti aku pasti pulang. Sudah dulu ya, Ma. Aku masih banyak kerjaan." Usai mengatakan itu, Karin pun menutup panggilannya.
Memang, sampai hari ini Karin tidak memberitahu keluarganya tentang kondisinya. Karin enggan membuat keluarga, terutama mamanya itu khawatir.
"Untung mama nggak tahu, kalau tahu bisa-bisa aku di suruh pulang cepat-cepat." Gumam Karin lalu menyimpan ponselnya lagi.
Baru di letakkan, tiba-tiba ponselnya bergetar. Getar tanda ada pesan masuk.
Karin lekas meraihnya dan melihat pesan dari nomor yang sebelumnya asing kini telah ia simpan dengan nama Dr. Davi.
"Mama saya tadi kirim buah-buahan, tapi karena saya tidak punya waktu saya kirim lewat ojol. Jangan lupa di habiskan." Tulis Aldavi dalam pesannya.
Karin tersenyum membacanya. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu, Karin melangkah tertatih lalu membuka pintu kamar kostnya.
"Neng, ini nyariin katanya mau kirim paket buah-buahan." Ucap ibu kost tempat Karin tinggal.
Karin tersenyum pada ibu kostnya itu. "Iya, Bu. Makasih ya." Sahut Karin.
Ibu kost pun mengangguk, lalu pergi dari teras kamar kost Karin. Tinggal lah Karin dan ojol.
__ADS_1
"Mbak, ini pesanan dari dokter Davi. Jangan lupa di makan biar cepat sembuh katanya." Ucap ojol itu sambil senyum-senyum.
Karin tersenyum malu-malu. "Makasih banyak ya, Pak. Ini buat Bapak beli es, soalnya panas banget ini." Ucap Karin lalu memberikan selembar uang bergambar pahlawan itu.
"Waduhh, makasih banyak ya mbak. Semoga cepat sembuh dan langgeng sama dokter Davi." Kata ojol itu dengan tulus.
Karin tersenyum lalu lekas mengambil buah-buahan yang diberikan Aldavi. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa menguncinya.
Karin mengangkat buah-buahan yang Aldavi kirim lalu lekas membawanya ke kamar mandi untuk ia cuci sebelum ia makan.
"Lama-lama baik juga ya dokter nyebelin itu." Celetuk Karin sambil mencuci buah.
"Pantesan banyak yang suka, orang ganteng sama perhatian." Ucap Karin lagi sambil cekikikan.
Sementara itu di rumah sakit. Tampak Aldavi sibuk memeriksa pasiennya. Ia juga baru selesai membantu dokter lain operasi penyakit dalam. Hari ini Aldavi benar-benar sibuk.
"Dokter Davi sudah nikah?" Tanya seorang nenek tua yang menjadi pasiennya Aldavi.
"Saya? Belum, Bu. Masih otw jodohnya." Jawab Aldavi dengan ramah.
"Sama cucu nenek mau nggak, Dok? Dia model lhooo …" kata nenek itu dengan wajah polosnya.
Bukan satu dua kali Aldavi mendapatkan tawaran seperti itu dari ibu-ibu atau kakek dan nenek. Namun selalu begitu reaksi Aldavi, hanya tersenyum.
"Nenek istirahat ya, biar cepat sembuh dan ketemu sama cucu nenek." Tutur Aldavi.
Aldavi menatap suster dan memberi kode agar lanjut merawat pasiennya. Setelah itu ia pun memilih untuk pergi dari sana.
Aldavi melirik jam di pergelangan tangannya. Ini sudah jam makan siang, dan ia merasa sangat kelaparan.
Aldavi pun memutuskan untuk ke ruangannya dan membuka jas dokternya agar bisa segera makan diluar.
"Dokter Davi." Seseorang memanggil, menghentikan gerakan Davi yang hendak membuka pintu.
"Dokter Lala, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Davi.
"Ini sudah jam makan siang, Dok. Mau ikut makan sama saya? Maksud saya, sama dokter yang lain juga." Ucap dokter wanita itu dengan suara lembut.
__ADS_1
Aldavi menganggukkan kepalanya. "Tentu, saya akan ikut. Anda bisa menunggu dengan yg lain." Kata dokter Davi lalu lekas masuk ke dalam ruangannya.
Aldavi membuka jas dokternya, lalu menggantung di tempatnya. Tidak lupa dompet dan ponselnya ia bawa.
"Karin, apa dia sudah makan?" Gumam Davi tiba-tiba teringat pada gadis itu.
Aldavi menggelengkan kepalanya, ia pun memilih untuk lekas pergi daripada terus teringat pada Karin.
Ketika Davi keluar, ia cukup terkejut melihat jika dokter Lala masih ada di depan ruangannya sambil memasang senyuman.
"Anda masih disini? Bukankah saya bilang anda duluan saja?" Tanya dokter Davi.
"Tidak apa-apa, Dok. Saya mau jalan bareng anda saja." Jawab dokter itu sembari menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Dokter Davi mengangguk kecil lalu melangkah duluan meninggalkan dokter perempuan itu.
"Susah ya dapetin orang ganteng." Gumam dokter Lala.
Sementara itu di tempat lain, di kantor Kaivan. Tampak sepasang suami istri sedang menikmati makan siang mereka.
Istrinya yang sedang hamil tak membuat sang pemilik perusahaan besar itu mandiri justru malah bersikap semakin manja.
"Baby melon dengarkan papi ya." Pinta Kaivan sembari mengusap perut istrinya.
"Saat kamu lahir nanti, jangan rebut mami ya. Mami tetap hak patennya papi." Tambah Kaivan lalu mengunyah makanannya.
Archie mengusap kepala suaminya tanpa mempedulikan apa yang sedang diucapkannya.
"Mami juga harus adil ya? Malam tetap papi yang jadi bayinya?" Kaivan mendongakkan kepalanya, menatap istrinya.
"Nggak." Jawab Archiena singkat, padat dan jelas.
Kaivan melotot tidak terima. Ia menangkup wajah cantik istrinya itu lalu mencium istrinya dalam-dalam.
Archie memberontak, ia berusaha melepaskan diri namun tidak bisa karena si Kaivan? Ya, seorang pemaksa yang menggemaskan.
AKU NGGAK UP 2 HARI KEPIKIRAN KALIAN, TAKUT PADA KABUR😭😭 JANGAN YAA, SAYANG 🤗
__ADS_1
Bersambung...............................