
Dari pagi ke jam makan siang itu memang tidak terasa sama sekali ketika kita memiliki banyak pekerjaan, seperti Archie saat ini.
Wanita itu masih sibuk di depan komputernya untuk melakukan pekerjaannya, bahkan ia tidak akan sadar jika makan sudah datang apabila Kaivan tidak menelpon nya.
"Ke ruangan saya sekarang." Ucap Kaivan lalu langsung menutup teleponnya.
Archie meletakkan kembali gagang telepon itu, lalu dirinya lekas masuk ke dalam ruangan direktur sekaligus suaminya itu.
Archie masuk dengan tangan kosong, tidak membawa dokumen apapun karena memang tidak ada dokumen yang perlu di tanda tangani.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Archie sopan dan formal.
"Ini sudah jam makan siang, kamu kenapa belum makan?" Tanya Kaivan sembari memakai jas nya.
Archie mendekat, dia membantu suaminya merapikan jas dan posisi dasinya yang sedikit longgar.
"Nggak tahu kalau sudah jam makan siang, pekerjaanku terlalu banyak, Mas." Jawab Archie.
Kening Kaivan mengkerut, segara tiba-tiba dan tanpa permisi, Kaivan merengkuh pinggang ramping istrinya sehingga tubuh mereka tak berjarak.
"Kamu sedang mengeluh pada atasan atau pada suami kamu, hmm?" Tanya Kaivan sebuah suara yang memberat.
Archie terkejut, ia reflek mengalungkan tangannya di leher sang suami. Mendengar pertanyaan suaminya, Archie malah tersenyum.
"Siapapun, bebas. Tapi sebenarnya aku tidak mengeluh, namun jika bapak bersedia mengurangi pekerjaan saya maka saya dengan senang hati menyetujuinya." Jawab Archie, menimpali candaan suaminya.
Sebelah tangan Kaivan masih berada di pinggang Archie, sementara tangan lainnya berpindah untuk mengusap wajah cantik istrinya.
"Mau mencari sekretaris cadangan? Ya, hitung-hitung bantu kamu." Tawar Kaivan, namun Archie menolaknya.
"Nggak perlu, Mas. Tadi aku hanya bercanda kok." Sahut Archie menjelaskan.
"Sudah, katanya kamu ada pertemuan pribadi dengan rekan kamu, kok belum berangkat?" Tanya Archie.
"Ini mau berangkat, kamu jangan lupa makan ya. Saya segera kembali." Tutur Kaivan lalu mencium kening istrinya.
__ADS_1
Archie membalas dengan mencium punggung tangan suaminya, lalu mengantarnya sampai ke depan ruangan pria itu.
Jika sudah diluar ruangan begini, tentu Kaivan dan Archie benar-benar seperti atasan dan bawahan. Tidak ada sapaan yang berlebihan dan hanya anggukkan kecil yang Kaivan berikan.
Setelah Kaivan pergi, Archie pun kembali ke meja kerjanya dan merapikannya. Archie akan makan siang dengan teman-teman kantornya.
"Ayo, Archie." Rafi, Monika dan Amber datang ke meja kerjanya.
Archie manggut-manggut, ia mengambil ponsel dan dompetnya lalu lekas pergi bersama teman-temannya.
Mereka berempat memasuki lift menuju lantai bawah, niatnya akan makan di kantin kantor yang ada diluar sebab lebih lengkap.
Sampai di lantai bawah, Monika dan Amber jalan duluan dan berjarak antara Archie dan Rafi yang berjalan tidak sejajar.
"Archie." Panggil Rafi membuat wanita itu menoleh.
"Iya?" Sahut Archie.
"Kamu sudah menikah atau masih pacaran?" Tanya pria itu dengan serius.
Archie tersenyum. "Maaf, Pak. Itu privasi saya, dan saya menolak untuk memberitahu orang lain." Jawab Archie.
Archie terdiam, ia tiba-tiba merasa sangat canggung dengan suasana diantara mereka berdua. Archie menyesal karena tidak lari mengejar kedua temannya tadi.
"Maaf, Pak. Saya nggak bisa, saya sudah punya pasangan." Akhirnya Archie memberitahu dengan menunjukkan cincin di jari manisnya.
Usai mengatakan itu Archie pun berlari kecil meninggalkan Rafi yang terdiam dengan sebelah tangan di kantong celananya.
"Tentu saja dia tidak bisa, sainganku pak Kaivan." Gumam Rafi lalu lekas menyusul yang lainnya.
Sebenarnya beberapa kali Rafi melihat Archie datang dan pulang bersama Kaivan, bahkan mereka pergi dinas saja hanya berdua padahal selama ini Kaivan selalu mengajak karyawan ketika akan dinas.
Hal itu memperkuat dugaan Rafi jika Archie memang ada hubungan dengan pimpinan nya.
Sementara Archie. Ia yang hendak masuk ke dalam kantin, tiba-tiba berhenti karena ponselnya berdering. Nomor asing yang kemarin mengirim pesan padanya, hari ini berani menelpon.
__ADS_1
Archie menghela nafas, ia pun mengangkat panggilan itu walau malas rasanya.
"Akhirnya kamu mengangkat telepon saya, Archie. Saya ingin kita bertemu dan bicara."
"Maaf, saya sibuk. Lagipula saya tidak suka mendengar cerita tentang suami saya dari orang lain." Tolak Archie.
"Archie, saya Nisa."
Archie yang hendak menutup panggilannya langsung terhenti ketika mendengar orang itu menyebutkan namanya.
Archie tidak mungkin lupa dengan nama itu, suaminya sendiri telah menceritakan tentang wanita itu padanya.
Archie menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, wanita itu tiba-tiba saja penasaran meski entah mengapa hatinya mendadak resah.
"Dimana?" Tanya Archie langsung.
"Saya kirim alamatnya melalui pesan, ini tidak jauh dari kantor Kaivan."
Usai mendengar itu, Archie pun mematikan panggilan mereka. Tidak lama kemudian pesan singkat masuk dari ponselnya.
Wanita bernama Nisa itu mengirimkan alamat tempat untuk mereka bertemu. Itu ada di sebuah kafe yang jaraknya hanya beberapa meter dari kantornya.
Archie menghela nafas, ia pun berniat untuk pergi namun ternyata Rafi berada di belakangnya.
"Mau kemana, Archie? Kita mau makan kan." Ucap Rafi mengerutkan keningnya.
"Maaf, Pak. Saya ada urusan, kali ini tidak jadi makan siang bersama kalian." Jawab Archie lalu lekas pergi meninggalkan kantin.
Archie berlari kecil menuju kafe tersebut, ia harus segera kembali sebelum jam makan siang habis apalagi sampai Kaivan datang ia tidak ada di meja kerjanya.
Sampai disana, Archie celingak-celinguk mencari keberadaan wanita yang tadi menelponnya.
Nafas Archie tak beraturan, ia mengusap dadanya dan langsung menoleh ketika ada yang memanggil namanya.
"Archie."
__ADS_1
KIRA-KIRA MAU NGOMONG APA YA SAMA ARCHIE SI MASA LALU KAIVAN INI🤔
Bersambung.........................................