
Karin melongo mendengar ucapan Aldavi tadi. Tanpa menjawab pertanyaannya dulu, pria itu langsung pergi begitu saja.
Karin menghela nafas. Ia duduk kembali di kursi kerjanya dengan perasaan tidak tenang. Karin berpikir tentang ucapannya pada ibunya Aldavi dan ia rasa tidak ada yang salah dengan itu.
"Sebenarnya ada apa ya, kenapa pak Aldavi jadi disuruh nikahin aku. Dia kelihatan marah banget lagi." Gumam Karin lalu kembali mengetik di komputernya.
Karin gagal makan siang. Pertama kuah sop tumpah ke kakinya, lalu kedua kedatangan Aldavi yang tiba-tiba dan language marah.
Kepala Karin rasanya mau pecah saja. Sudah pekerjaan banyak, ada saja masalah yang datang.
Sementara itu di ruangan Kaivan. Archie dan suaminya itu sudah selesai makan siang. Kini pasangan itu sedang bermanja-manja terutama Kaivan yang sangat manja dengan istrinya.
"Sayang, baby melon kira-kira rindu aku nggak ya?" Tanya Kaivan sembari mengusap dan menciumi perut istrinya.
Archie tersenyum. Ia mengusap kepala suaminya yang sedang bersandar di bahunya itu.
"Jambak suami itu dosa nggak sih?" Bukannya menjawab, Archie balik kembali bertanya.
Archie gemas sekali dengan ucapan suaminya barusan, seakan-akan tidak dikasih jatah saja dengan mempertanyakan apakah anaknya rindu atau tidak.
Kaivan menegakkan kepalanya. "Kok jambak, cium dong sayang." Jawab Kaivan lalu tersenyum manis.
"Nggak! Aku maunya jambak, soalnya kamu tanya barusan seakan nggak pernah dapat jatah. Huuu …" sahut Archie lalu langsung menjambak rambut suaminya.
Tentu jambakan itu tidak kencang, dan hanya sekali tarikan saja. Sejujurnya Archie takut, namun ia kesal jadi tidak apa-apa sesekali.
"Sayang …" tegur Kaivan dengan ekspresi marah yang dibuat-buat.
Archie menggandeng tangan suaminya, lalu gantian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Aku mau makan sushi, tapi kamu masih sibuk ya? Apa aku pergi sendiri saja?" Tanya Archie tanpa menatap suaminya.
"Mau? Ayo aku antar, tapi makan nya di rumah ya." Ujar Kaivan.
"Aku masih ada pertemuan satu lagi, tapi itu lama. Kemudian 2-3 jam." Tambah Kaivan memberitahu.
Archie mengangkat wajahnya. "Aku sendiri saja ya? Janji akan jaga diri kok. Lagian cuma makan sushi terus pulang." Ucap Archie meminta izin.
Kaivan menggeleng lembut. "Big no, aku nggak mungkin biarin kamu pergi sendirian." Sahut Kaivan.
"Nggak di mall kok, Mas. Yang di pinggir jalan saja, lagian aku kan sama sopir nya mama, jadi aman." Archie masih berusaha untuk membujuk suaminya agar mengizinkannya pergi.
Kaivan menghela nafas. "aku suka kepikiran kalo kamu pergi. Perut besar, badan imut gini gampang di karungin." Kata Kaivan dengan wajah khawatir.
"Ih, kamu doain istrinya dikarungin brondong?" Tanya Archie usil.
"Enak aja! Aku gebukin orang yang berani sentuh kamu." Jawab Kaivan.
"Makanya jangan pergi ya, aku takut terjadi sesuatu." Pinta Kaivan pelan.
__ADS_1
Archie mengusap wajah suaminya lalu menganggukkan kepalanya. Jika suaminya sudah memohon dengan wajah lucu, mana bisa Archie menolak.
"Baiklah, aku pulang saja ya. Mau bobok, sekalian temani mama kasian sendirian." Ucap Archie sembari berganti mengusap lengan suaminya.
Kaivan mengangguk. Ia bangkit, membuat Archie ikut bangkit. Kaivan mencium istrinya dulu, bukan hanya kening tapi satu muka kena kecupan Kaivan.
"Enak banget cium kamu." Celetuk Kaivan lalu menarik lembut tangan istrinya keluar dari ruangannya.
Archie hanya terkekeh mendengar penuturan suaminya. Ketika keluar, Archie kembali melihat Karin.
"Mbak sudah mau pulang?" Tanya Karin sembari melangkah sedikit tertatih ke arah Archie.
Kening Archie mengkerut. "Kaki kamu kenapa, Karin? Kok jalannya gitu?" Tanya Archiena kebingungan dan merasa aneh.
"Nggak apa-apa, Mbak. Nggak sengaja kuah sop ke siram kaki aku." Jawab Karin dengan jujur.
"Hati-hati dengan dokumen saya, jangan sampai kesiram juga." Tegur Kaivan, lalu langsung diam.
Bagaimana tidak diam, Archie menoleh dan menatapnya dengan tajam. Kaivan takut jika istrinya mode begini.
"Kenapa nggak ke klinik kantor, takutnya kami kamu melepuh." Ujar Archie.
"Nggak, Mbak. Aku lagi siapin materi untuk rapat." Sahut Karin cengengesan.
Archie hanya mendengus lalu geleng-geleng kepala. Wanita itu beralih menatap suaminya dan mencium pipi Kaivan.
"Aku pulang ya." Pamit Archie lembut.
Archie manggut-manggut, ia pun pasrah tangannya ditarik oleh sang suami. Sebelum masuk ke dalam lift, Archie menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya pada Karin dan Karin membalasnya.
Di lift itu hanya ada Archie dan Karin saja. Kaivan tentu masih menggandeng tangan istrinya seperti biasa.
"Sekarang lagi banyak kerjaan ya, Mas? Si Karin kayaknya kelimpungan banget." Ucap Archie.
"Iya, Sayang. Apalagi nggak ada kamu, pekerjaan terasa semakin banyak untuk dia. Tapi mau gimana lagi, namanya kerja." Balas Kaivan mengangkat kedua bahunya.
Sampai di lobby, sudah ada sopir mama Fia yang menunggu Archie. Sebelum masuk ke dalam mobil, Kaivan mencium kening istrinya.
"Hati-hati ya, Pak." Ucap Kaivan tegas pada sang sopir.
"Baik, Tuan Kaivan." Balas sopir itu dengan sopan.
Kaivan menatap mobil yang istrinya tumpangi sampai tidak terlihat di pandangannya. Setelah itu, ia pun masuk untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kaivan hampir masuk ke dalam lift, namun tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Kaivan mendengus, lalu menepis tangan pria itu.
"Kai, gue mau cerita. Ini penting banget, tolong." Pinta Aldavi.
"Istri lo sudah pulang kan, gue butuh lo Kai." Ucap Aldavi lagi.
__ADS_1
"Butuh berapa? Gue transfer nih." Ledek Kaivan, sekedar untuk mengubah suasana hati Aldavi.
"Duit gue juga banyak. Udah ah jangan ngomongin duit, sekarang ayo ngobrol dulu." Ajak Aldavi dengan heboh.
Kaivan melirik jam tangannya dan ia masih punya 30 menit sebelum rapat dimulai.
Akhirnya Kaivan pun pasrah diajak ke kafe yang ada di gedung kantornya. Kebetulan Kaivan juga butuh kopi.
Kini Kaivan dan Aldavi duduk saling berhadapan.
"Gue disuruh nikahin Karin." Ucap Aldavi langsung.
"Oh, terus?" Tanya Kaivan biasa-biasa saja. Tidak syok apalagi terkejut.
"Kok lu nggak kaget sih, malah oh doang." Ucap Aldavi melongo.
"Ngapain kaget, gue malah dukung sih supaya lo nikah dan punya keluarga sendiri." Sahut Kaivan lalu melipat tangannya di dada.
"Dan yang paling penting, nggak ngintilin gue mulu cuma buat cerita." Tambah Kaivan.
Aldavi terkekeh. "Habis enak sih cerita sama lo, ekspresi nya bikin gue pengen mukul muka lo." Timpal Aldavi.
Kaivan mendengus. Selanjutnya ia duduk dengan tegak dan menatap sahabatnya itu dengan begitu serius.
"Alasan lo disuruh nikahin Karin apaan? Dijodohin kayak novel-novel gitu?" Tanya Kaivan.
"Enggak, bukan itu. Gue sendiri nggak tahu alasannya apa, tiba-tiba mama gue ngomong Karin dan minta gue nikahin tuh orang." Jawab Aldavi lalu mengacak-acak rambutnya.
"Tanya Karin dong." Ucap Aldavi.
"Udah, tuh betina malah bingung juga. Gue jadi nggak tahu gimana. Karin yang salah ngomong atau mama gue yang emang kebelet gue nikah." Ucap Aldavi lagi.
"Yaudah nikahin aja sih, kalian kan sama-sama kosong. Menikah itu seru." Ujar Kaivan dengan yakin.
"Kalau ekonomi aman." Tambahnya begitu realistis.
"Gue nggak cinta sama dia, Kai." Ucap Aldavi dengan tenang.
"Gue mau kayak lo, menikahi perempuan yang lo cinta." Aldavi berkata tanpa menatap Kaivan.
"Kalau begitu belajar jatuh cinta sama Karin, dia sudah dikenal keluarga lo tanpa ketemu kan." Usul Kaivan lalu menepuk bahu sahabatnya.
"Gue cabut dulu ya." Pamit Kaivan lalu pergi meninggalkan sahabatnya sendirian.
Aldavi menatap lurus ke depan. Ia tidak tahu kenapa masalah Karin menjadi semakin rumit saja.
Aldavi pikir ia hanya akan memiliki masalah dengan Karin di kantor Kaivan, tapi ternyata tidak.
"Karin udah bawa masalah ke hidup gue, arghh …" geram Aldavi mengepalkan tangannya.
__ADS_1
NIKAHIN YA NGGAK SIH, BIAR JADI BUCIIN 🤣
Bersambung............................