
Kaivan datang ke salah satu pertemuan seorang diri. Pengusaha yang terkenal karena kesuksesannya itu berhasil menyita perhatian ketika dia datang.
Orang-orang penting menghampirinya dan menjabat tangannya dengan penuh rasa sopan dan hormat.
"Anda datang sendiri? Dimana istri anda?" Tanya seorang pria yang juga berpakaian rapi seperti Kaivan.
"Istri saya tidak bisa ikut kesini karena dia sedang hamil, saya tidak mau dia kelelahan." Jawab Kaivan dengan senyuman tipisnya.
"Sayang sekali, padahal istri saya sangat ingin bertemu dengannya." Kata pria itu lagi sembari menunjuk istrinya.
Kaivan hanya tersenyum, ia tidak banyak bicara. Tiba-tiba ada lagi pria yang datang, dan Kaivan cukup mengenalnya.
"Pak Kaivan, senang bisa melihat anda lagi." Ucap Ryan, orang yang pernah dan masih menaruh rasa pada istri Kaivan.
"Ya, saya juga begitu." Balas Kaivan singkat dan cuek.
Bagaimanapun, Kaivan masih ingat dia pernah cemburu ketika tahu Archie pernah menjalin kasih dengan sesama pengusahaan sepertinya.
Ahh iya, Kaivan memang sangat pelit jika menyangkut Archie istrinya.
"Bagaimana keadaan Archie, Pak? Saya sudah lama tidak mendengar kabarnya?" Tanya Ryan lagi dengan sedikit ragu.
"Dia baik dan bahagia, saat ini kandungannya sudah cukup besar makanya saya tidak membawanya." Jawab Kaivan dengan tenang meski dia tidak sepenuhnya ikhlas menjawab.
"Wah, pak Ryan bertanya seolah sangat mengenal istri pak Kaivan ya." Ucap pria yang lainnya.
"Tentu saja, Pak. Archie adik kelas saya saat sekolah, kami juga dulu–" ucapan Ryan terhenti saat Kaivan berdehem.
Menyadari jika ucapannya salah, Ryan langsung diam dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Maaf, saya permisi." Kaivan pergi meninggalkan dua pria yang tadi mengajaknya bicara.
__ADS_1
Kaivan mendekati pelayan dan mengambil minuman, kemudian dia duduk di salah satu kursi seorang diri.
"Membayangkan Archie pernah di pegang tangannya sama Ryan saja rasanya aku sangat cemburu, astaga sayang … kamu benar-benar berpengaruh dalam hidupku." Gumam Kaivan lalu menenggak minuman miliknya.
Kaivan merogoh saku jasnya, dia hendak menghubungi nomor sang istri namun terhenti ketika seorang wanita datang dan langsung duduk.
"Kaivan!! Akhirnya kita ketemu, aku kangen kamu." Ucap Inka dengan riang.
Kaivan terkejut, dia menatap tidak suka pada Inka lalu menegakkan tubuhnya. Kaivan tidak mau emosi, namun dia juga tidak sudi jika harus berbaik hati.
"Kai, apa kabar?" Tanya Inka sembari tangannya memegang tangan Kaivan.
"Jangan berani menyentuh saya. Saya pria beristri, dan tindakan anda barusan itu tidak sopan sama sekali." Tegur Kaivan dengan dingin.
"Kai, kenapa bicara sangat formal. Ingat kan kita pernah menjalin hubungan, kita saling mencintai Kai." Ucap Inka sembari berusaha menyentuh Kaivan lagi.
Kaivan berdecih. "Cih, saya saja menyesal pernah berhubungan dengan anda. Sekarang pergi sebelum saya–" ucapan Kaivan terhenti.
"Kalau memang Archie tidak sanggup, maka ceraikan saja dia dan menikah denganku. Aku akan merawatmu dengan sepenuh cinta, Kai." Ucap Inka lagi.
"Jaga batasan anda, Nona Inka. Ucapan anda barusan itu malah membuat saya jijik. Sampai matipun saya tidak mungkin mewujudkan apa yang anda ucapkan barusan." Kata Kaivan tegas.
Kaivan bangkit dari duduknya, kemudian melangkah meninggalkan Inka. Kaivan menghela nafas, dia tidak tahu kenapa Inka bisa ada di acara yang sama dengannya.
"Jika begini, hanya Archie yang bisa meredakan amarah ku." Gumam Kaivan memijat pelipisnya.
Kaivan memilih keluar dari ballroom hotel tempat acara untuk mencari udara segar. Dia muak. Pertama Ryan, kemudian Inka.
Sementara itu di tempat lain, tampak Karin duduk bersama ibunya. Di depan mereka sudah ada pasangan suami istri dan seorang laki-laki.
Tentu saja saat ini Karin duduk untuk membahas perjodohannya dengan anak RW di lingkungannya.
__ADS_1
"Jadi Karin, kapan kamu siap menikah?" Tanya pak RW yang terkenal kaya raya itu.
"Saya nggak siap, saya nggak mau nikah sama anak bapak." Jawab Karin dengan jujur.
"Karin!!" Tegur mama Karin dengan kesal.
"Apa sih, Ma. Aku nggak suka sama dia, aku nggak mau nikah sama orang yang nggak aku cinta." Sahut Karin.
"Apa yang kurang dari anak saya, Karin?" Tanya ibu RW sembari memegang bahu putranya.
"Iya, Karin. Aku tampan, orang tuaku juga kaya." Kata si Yogi, anak RW.
Karin menatap pria bernama Yogi itu dengan bergidik. Dia tidak mau melontarkan kalimat menyakitkan, sehingga ia hanya bisa berdecak.
"Apa yang kurang dari nak Yogi, Karin?" Tanya mama Karin ikut-ikutan.
"Karena dia bukan dokter Davi, Ma. Aku sukanya sama dokter Davi, lagian mama kenapa jodoh-jodohin sih." Jawab Karin dengan sewot.
"Dokter Davi? Yang tadi pulang itu? Kamu suka sama dia?" Tanya mama Karin kaget.
"Apa-apaan ini, Bu. Ingin menjodohkan dengan anak saya, tapi dia punya pacar." Tegur pak RW berkacamata itu.
"Ahh nggak kok, Pak. Dia cuma suka, nanti nikahnya tetap sama anak Bapak." Ujar ibunya Karin gelagapan.
"Kata siapa? Dia nikahnya sama saya, Bu. Karin hanya akan menikah dengan saya."
Semua orang menoleh ke asal suara. Karin terkejut bukan main melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
ITU SIAPA? DOKTER DAVI APA PACARNYA KARIN??
Bersambung...................................
__ADS_1