
Kaivan pulang lebih awal hari ini karena seluruh pekerjaannya telah selesai. Ya, dengan kepulangan Karin memang cukup berpengaruh dan pastinya membuat pekerjaannya lebih ringan.
Kaivan menutup pintu mobilnya, kemudian langsung masuk ke dalam rumah. Dia menatap ke mama Fia yang sedang bersantai sambil membaca buku dan meminum segelas teh.
"Assalamualaikum, Ma." Salam Kaivan sembari mendekati sang mama.
Mama Fia mengalihkan pandangannya. Dia melempar senyuman pada putra kesayangannya itu.
"Waalaikumsalam, sudah pulang kamu Kai." Balas mama Fia sembari mengulurkan tangannya untuk dicium oleh putranya.
"Sudah." Kata Kaivan menganggukkan kepalanya.
"Archie dimana, Ma?" Tanya Kaivan langsung menanyakan keberadaan istrinya.
"Di kamar, katanya perutnya kram terus. Mama suruh istirahat jadinya, tadi mau telepon Dokter tapi istri kamu nggak mau." Jawab mama Fia.
Wajah Kaivan yang dipenuhi rasa lelah seketika berubah tegang. Pria itu pamit, lalu berlari menuju lantai dua dimana kamarnya dan Archiena berada.
Jika sudah menyangkut ibu, istri dan anaknya maka Kaivan tidak bisa nanti-nanti.
"Sayang …" Kaivan membuka pintu dan melihat Archie sedang berbaring di atas ranjang.
"Mas, kamu sudah pulang." Archie bangkit dari tidurnya dan hendak menghampiri suaminya, namun buru-buru ditahan Kaivan.
Kaivan berlutut di hadapan Archiena. "Mama bilang perut kamu kram?" Kaivan memegang perut istrinya.
"Sedikit, dan ini sudah biasa. Kamu jangan khawatir." Jawab Archie sambil mengusap wajah tampan sang suami.
Archie menghela nafas dengan senyuman yang masih tercetak jelas. Sudah setahun lebih pernikahannya dengan Kaivan, dan Archie selalu merasa terpesona setiap kali melihat wajah suaminya.
Wajah Kaivan yang pulang kerja, selesai mandi, sedang tidur. Semuanya tampan, namun yang paling tampan adalah ketika Kaivan mengerang diatas Archie.
"Mikir apa sih, kok senyum-senyum gitu?" Tanya Kaivan sembari merapikan rambut istrinya.
"Mikirin kamu dong, Mas. Kamu kok ganteng banget." Jawab Archie jujur.
__ADS_1
"Kalau anak kita laki-laki, pasti tampannya kayak kamu." Tambah Archie, membuat Kaivan tertawa.
"Dan kalau perempuan, cantiknya akan seperti mami Archie." Timpal Kaivan.
Kaivan berdiri, lalu membungkuk. Dia mencium kening istrinya dalam-dalam dan berhasil menciptakan kehangatan bagi Archie.
"Aku mandi dulu ya, mau peluk-peluk kamu soalnya." Ucap Kaivan dan Archie balas dengan anggukan kecil.
Archie membiarkan suaminya masuk ke dalam walk in closet, lalu dirinya menyusul untuk menyiapkan pakaian.
"Sayang, kalau weekend ini kita liburan ke puncak gimana?" Tanya Kaivan di balik kaca yang merupakan kamar mandi itu.
"Boleh saja, Mas. Memang kamu nggak sibuk?" Archie mengambil baju yang akan digunakan suaminya.
"Nggak dong, Cinta. Namanya weekend, aku pasti free. Aku mau ajak kamu untuk cari udara segar." Jawab Kaivan.
"Boleh saja, Mas. Udara akhir-akhir ini juga nggak bagus karena polusi, jadi nggak ada salahnya kita cari udara segar." Ujar Archie yang tadi menonton berita televisi bersama mama Fia.
"Iya, Sayang." Balas Kaivan.
Sambil menunggu suaminya, Archie duduk di depan meja rias untuk melihat wajahnya. Kehamilan nya semakin bertambah usia, dan membuat berat badannya pun semakin bertambah.
"Pipi aku …" gumam Archie sembari menusuk-nusuk pipinya sendiri.
Kaivan suka sekali menusuk atau menggigit pipinya yang chubby. Menurut Kaivan karena gemas, dan Archie tidak pernah menolak.
Sementara itu di tempat lain. Di sebuah halte. Karin duduk sambil memainkan ponselnya. Dia menunggu bus umum untuk sampai ke gang kost nya berada.
Karin sengaja naik angkutan umum agar bisa menghemat, lagipula naik bus umum tidak buruk juga.
Sambil menunggu bus nya datang, Karin chatting dengan tunangannya. Ya, tunangannya yaitu Yogi.
"Aku senang kamu balas pesan aku, Rin. Kamu baik kan? Kaki kamu sudah nggak sakit lagi?" Yogi.
"Iya, Yogi. Aku baik kok, kaki udah nggak sakit bahkan sudah masuk kerja dari kemarin-kemarin." Balas Karin lalu lekas mengirim pesannya.
__ADS_1
Karin terus berbalas pesan dengan Yogi sampai membuatnya tidak sadar jika ada yang memperhatikannya.
Di tengah kemacetan, sebuah mobil dimana pemiliknya terus memperhatikan Karin.
"Gadis itu senyum-senyum pasti sedang berbalas pesan dengan tunangannya." Gumam Aldavi sembari terus menatap Karin.
Aldavi menghela nafas. "Yaudah sih biarin aja, buat apa juga mikirin dia. Mau chat sama tunangan, suami atau kolektor pinjol ya masa bodo." Geram Aldavi pada dirinya sendiri.
Aldavi pun melajukan mobilnya ketika melihat ada celah untuknya maju meski hanya sedikit saja.
***
Malam hari di rumah kedua orang tua Archie. Tampak mama Gita, papa Dito dan Adinda sedang menikmati makan malam bersama.
Semuanya tampak tenang sebelum papa Dito membuka pembicaraan.
"Jadi bagaimana sama tuan Zayn?" Tanya papa Dito.
Adinda menatap sang papa. "Papa tahu? Maksudku apa dia dapat nomor aku juga dari papa?" Tanya Adinda.
"Iya, papa hanya mau kalian kenal dulu. Papa tahu masa Iddah kamu belum selesai, jadi masih butuh waktu untuk lebih saling mengenal." Jawab papa Dito.
"Sebenarnya aku nggak kepikiran untuk menikah lagi, Pa. Aku ingin kuliah dan berkarir saja." Kata Adinda pelan.
"Dinda, jangan sia-siakan hidup kamu hanya karena rasa trauma. Kamu masih muda, dan pantas memperoleh kebahagiaan." Ucap mama Gita dengan lembut.
"Tapi kekuranganku, Ma. Pria mana yang akan mau menerima kekuranganku. Setiap pernikahan pasti ingin memiliki anak, tapi aku …" Adinda menggantung ucapannya.
Adinda menghela nafas. "Aku sudah selesai, Ma, Pa. Permisi." Pamit Adinda lalu langsung pergi meninggalkan meja makan.
Papa Dito dan mama Gita menatap kepergian Adinda dengan nanar. Mereka bisa merasakan kesedihan yang Adinda rasakan.
YANG MINTA KISAH DINDA DI PISAH NOVELNYA MANA, CUNG TANGAN BURUAN!!!
Bersambung..................................
__ADS_1