
Karena makan siang dengan Karin, Archie pun memutuskan untuk makan di meja kerja mereka saja. Lagipula setelah ini Archie harus mengantar beberapa dokumen ke ruangan Kaivan.
Sejujurnya bisa saja Karin yang mengantarkannya, namun Kaivan menolak dan ingin Archie saja yang ke ruangannya.
"Enak nggak, Mbak?" Tanya Karin sembari mengaduk makanan nya.
Saat ini Archie dan Karin sedang makan soto, sesuai rencana mereka. Sejujurnya ini adalah ngidam Archie, dan si anak magang ikut saja.
Archie yang baru mencicipi sotonya manggut-manggut, namun karena kurang asam, ia pun menambahkan jeruk nipisnya.
"Nah, sudah pas." Kata Archie setelah mencicipi nya berkali-kali.
Mereka berdua pun makan dengan nasi hangat. Karin makan cukup banyak, sementara Archie hanya sedikit, itupun harus dipaksakan.
Archie masih sedikit mual, ia hanya ingin soto dan bukan nasinya. Namun karena takut suaminya akan marah, akhirnya Archie mau makan nasi walaupun sedikit.
"Mbak, aku kan magang tiga bulan nih. Mbak jangan bosan ya, atau nggak senang sama aku." Ucap Karin sambil mengunyah makanan nya.
"Iya, lagian aku malah senang karena punya teman ngobrol sekarang." Sahut Archie menganggukkan kepalanya.
"Kamu kuliah ambil jurusan apa?" Tanya Archie, lalu menenggak minuman nya.
"D3 administrasi perkantoran, Mbak." Jawab Karin, ikut meminum air mineralnya.
"Kenapa nggak sekalian ambil program sarjana?" Tanya Archie sambil terus menyantap makanan nya.
"Nggak apa-apa, Mbak. Di kampusku administrasi perkantoran nggak ada program sarjana." Jawab Karin sembari mengatur nafasnya karena kepedasan.
Karin beberapa kali minum, sementara Archie hanya memperhatikannya. Soto miliknya pedas, namun tidak se-pedas Karin sepertinya.
Ketika mereka masih asik menikmati makan siang bersama, Kaivan tiba-tiba datang. Pria itu juga baru saja pulang makan siang di kantin kantor.
Archie dan Karin sama-sama berdiri guna menyapa Kaivan.
"Siang, Pak." Sapa Archie dan Karin sopan.
"Siang, lanjutkan makan kalian." Sahut Kaivan lalu menatap istrinya.
"Setelah selesai ke ruangan saya ya." Kata Kaivan lalu masuk ke dalam ruangannya.
Archie dan Karin pun bergegas menyelesaikan makan mereka, setelah itu membuang sampah dan mencuci tangan sebelum melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Archie pun mengambil dokumen yang akan digunakan untuk dalih saja. Ketika wanita itu hendak melangkah ke ruangan Kaivan, tiba-tiba ada yang datang dan mengetuk kasar meja kerjanya.
"Halo, selamat siang Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Karin sopan.
__ADS_1
"Kaivan ada? Saya mau ketemu." Ujar wanita itu dengan sombong.
Mendengar nama suaminya, Archie lantas membalik badan dan melihat siapa yang datang.
"Oh pak Kaivan, ad–" Ucapan Karin terhenti karena Archie bicara.
"Untuk apa anda bertemu pak Kaivan, dan apa sebelumnya sudah membuat janji?" Tanya Archie, memotong ucapan Karin.
Wanita itu lantas menatap Archie dengan tangan terlipat di dada. Pandangannya begitu sombong dan menjatuhkan.
"Kamu tanya saya? Kamu nggak kenal saya ya? Saya ini Inka, kekasih Kaivan." Ucap wanita itu yang tidak lain adalah Inka.
Mendengar nama wanita itu, tentu saja Archie teringat pada Nisa. Nama itu lah yang disebut Nisa waktu itu.
"Saya mau ketemu Kaivan, minggir." Ucap Inka, namun Archie menahannya.
"Maaf, tapi anda tidak bisa menemuinya tanpa janji lebih dulu." Larang Archie, menahan tubuh Inka yang ingin menerobos masuk.
"Kau tuli atau bagaimana hah! Aku ini kekasihnya Kaivan, kau mau dipecat karena melarangku ya!!" Bentak Inka.
Keributan itu berhasil mengundang banyak pasang mata yang melihat. Bahkan hampir penghuni lantai itu menonton perdebatan Archie dan Inka.
"Saya hanya menjalankan tugas saya, Nona. Tolong jangan membuat keributan dan pergi dari sini." Ucap Archie masih sabar.
"Sekretaris sialann, siapa nama mu hah." Inka menarik nametag yang tergantung di leher Archie.
Inka lalu menatap Archie yang tersenyum padanya sambil melipat tangannya di dada.
"Sudah, Bu. Jika anda kekasih pak Kaivan, maka masuk saja. Jangan hiraukan Bu Archie yang hanya simpanan." Salah satu karyawan mengompori.
"Tahu, kita lebih percaya kalau nona ini yang kekasih pak Kaivan. Bu Archie itu hanya simpanan yang dijadikan teman ranjang." Yang lainnya ikut bicara.
"Dengar-dengar lagi hamil ya, Bu? Anak siapa tuh, nggak mungkin anak pak Kaivan kan. Siapa tahu anak laki-laki lain." Semakin panas saja ucapan para karyawan.
"CUKUP!!!" Archie berteriak kencang sambil menutup kedua telinganya.
"Hentikan omong kosong kalian, saya bukan simpanan!" Tambah Archie menyangkal.
"Nggak usah ngelak, Bu. Di Bali kan sudah sekamar sama pak Kaivan." Lagi, masih ada saja yang menyahut.
"Tahu apa kalian tentang saya dan pak Kaivan? Lagipula sebagai karyawan dan bawahan pak Kaivan, tidak sepantasnya kalian ikut campur masalah ini." Kata Archie dengan tegas.
"Pikir bagaimana tanggapan pak Kaivan setelah tahu karyawannya membicarakan dirinya." Lagi, Archie kembali bicara.
"Halah, kalau simpanan ya simpanan saja. Tidak perlu membela diri, menjijikan." Sahut wanita yang lainnya.
__ADS_1
Archie mendadak pusing, bahkan perutnya sedikit kram. Ia benar-benar sudah tidak tahan dengan segala gosip buruk tentangnya dan cemoohan para karyawan.
Sementara itu Inka, wanita itu mematung di tempatnya. Inka tidak mungkin lupa siapa itu Archie, jelas sekali jika dia adalah istrinya Kaivan.
Archie semakin merasakan kram, bahkan wanita itu jatuh terduduk sambil memegangi perutnya.
"Mbak Archie!!" Karin memekik, lalu lekas mendekati Archie.
"Mbak, mbak nggak apa-apa? Perut mbak sakit?" Tanya Karin khawatir.
"Halah, paling cuma drama."
"Drama banget, supaya bisa menghindar dari kenyataan bahwa dia simpanan."
"Cantik-cantik jadi simpanan."
Cemoohan itu semakin membuat perut Archie kram. Wanita itu bahkan sampai keringat dingin karena menahan sakit.
Ditengah keributan itu, tiba-tiba saja pintu ruangan Kaivan terbuka. Tampak Kaivan berdiri dengan tatapan syok.
Tatapan Kaivan lalu mengarah pada istrinya yang terduduk sambil memegangi perutnya.
"Sayang!!" Kaivan memekik, lalu mengambil alih bobot tubuh istrinya dari Karin.
"Sayang, hei ada apa?" Tanya Kaivan cemas.
Kaivan tidak peduli lagi pada tanggapan karyawan, ia hanya fokus pada istrinya saat ini.
"Perut aku sakit." Jawab Archie pelan.
Kaivan lalu mendongakkan kepalanya, menatap para karyawan yang gemetaran termasuk Inka yang masih terdiam.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Kaivan penuh penekanan.
Tidak ada yang menjawabnya, membuat Kaivan semakin murka.
"SAYA TANYA APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ISTRI SAYA!!" Bentak Kaivan dengan nada tinggi.
Para karyawan syok mendengar ucapan atasan mereka yang menyebut Archie sebagai istrinya. Mereka pun bisik-bisik penuh rasa takut dan sesal.
"Mas, sakit." Ucap Archie sembari mencengkram jas suaminya.
Kaivan pun lekas menggendong tubuh Archie di depan semua orang. Sebelum pergi, Kaivan menatap mereka semua dengan tajam.
"Jika terjadi sesuatu pada istri dan calon anak saya, kalian semua akan saya pecat, tidak peduli sepenting apa jabatannya." Ucap Kaivan penuh penekanan.
__ADS_1
WAHHH BAKAL MURKA NIH KAIVAN🙄😭
Bersambung.................................