
Acara liburan itu bukan untuk tidur saja, tetapi menikmati kebersamaan sambil memandangi keindahan tempat liburan.
Seperti itulah yang Kaivan dan Archie lakukan. Mereka puas tidur tadi sampai sore hari. Kaivan pergi ke kamarnya sendiri, dan bersiap untuk berkumpul dengan karyawan di pantai setelah makan malam nanti.
Kaivan awalnya berat untuk meninggalkan istrinya, ia tidak jauh-jauh dari Archie sehingga Kaivan pun menanyakan tentang kamar yang memiliki pintu untuk mengakses dua kamar.
Kemarin Kaivan sudah bertanya tentang ketersediaan kamar itu, namun pihak hotel mengatakan tidak ada.
Hari ini akhirnya ada, dan Kaivan pun memesannya. Mereka akan mulai menempati kamar itu nanti malam.
Kini Archie sedang membereskan beberapa barang yang sudah ia keluarkan dari koper untuk dimasukkan kembali.
Archie awalnya bingung mengapa Kaivan mau kamar yang ada pintu untuk mengakses 2 kamar, setelah dipikirkan akhirnya Archie pun mengerti.
"Punya suami yang dingin tapi ada hangat-hangatnya itu enak ya." Celetuk Archie tiba-tiba.
Archie terdiam, ia pun senyum-senyum sembari memukul pipinya sendiri. Mau bagaimana lagi, Archie selalu diberikan asupan perlakuan hangat oleh suaminya sehingga sulit untuk tidak mengingat-ingat nya terus.
"Dulu jangankan ngobrol, nyapa saja berat banget. Eh nggak tahunya Tuhan malah takdir kan aku sama om Kaivan jadi suami istri." Ucap Archie sembari membenahi pakaiannya.
Archie selesai mengemas lalu bangkit dari duduknya. Ia berdiri di depan kaca untuk mengeringkan rambut dengan menggunakan hair dryer milik hotel.
Setelah beres, Archie pun memakai sedikit makeup agar wajahnya terlihat tidak pucat.
Setelah selesai, Archie keluar dari kamar. Malam ini Archie menggunakan pakaian santai. Celana panjang dan baju lengan pendek.
"Malam Bu." Sapa seorang karyawan dengan sopan.
Nada bicara ketika menyapa begitu sopan, namun tatapannya menyiratkan hal yang lain.
Archie yakin, sudah ada gosip terbaru yang tersebar. Archie menjadi penasaran, apakah ada yang melihat Kaivan masuk ke dalam kamarnya tadi.
Archie mengangkat kedua bahunya, wanita itu lalu melangkah menuju lift. Langkah Archie terhenti ketika mendengar sesuatu dari jauh.
"Tadi ada yang kasih gosip baru, katanya lihat pak Kaivan masuk ke kamarnya bu Archie. Ternyata benar ya, mereka punya hubungan."
Bisik-bisik itu bisa Archie dengar karena lorong yang memberikan kesan menggema.
"Sayang banget, cantik-cantik mau jadi selingkuhan." Tambah yang lainnya.
Archie hanya bisa menghela nafas. "Aku emang selingkuhan mas Kaivan, istrinya kan pekerjaan." Celetuk Archie sambil terkekeh pelan.
Archie bergurau seperti itu agar dirinya tidak merasa sakit hati lebih awal dengan gosip-gosip karyawan suaminya. Tapi jika terus begini, lama-lama Archie bisa saja mengadu.
"Sayang …" panggil seseorang berbisik di telinga Archie.
__ADS_1
Archie terkejut, ia membalik badan dan melihat suaminya yang berdiri sambil memasang senyuman.
"Mas, jangan bikin kaget deh." Tegur Archie pelan.
"Lagian kamu ngapain disini, ayo ke bawah dan kita makan." Ajak Kaivan sembari menggandeng tangan istrinya.
"Jangan gandeng, nanti dilihat karyawan nggak enak." Tolak Archie menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, nanti kalau mereka lihat dan tanya, saya kan tinggal jawab kamu istri saya." Sahut Kaivan dengan santai.
Archie terkekeh. "Yakin, Mas? Bukannya kamu bilang ada peraturan suami istri nggak boleh satu kantor?" Tanya Archie mengingatkan.
Kaivan terdiam sebentar, ia memijat pelipisnya lalu manggut-manggut.
"Iya ya, saya lupa." Jawab Kaivan terkekeh.
Ini adalah salah satu alasan Kaivan enggan untuk memberitahu soal hubungannya dengan Archie. Selain karena profesional kerja, tentu ada peraturan yang melarang.
"Melarang karyawan, tapi atasannya malah melanggar." Ucap Archie geleng-geleng kepala.
"Mau gimana lagi, istri saya cantik jadi nggak rela kalau kerja jadi sekretaris di tempat lain. Nanti kalau bos nya naksir gimana, saya nggak rela." Sahut Kaivan membuat Archie tertawa.
"Sebenarnya tidak masalah, ada peraturan itu memang untuk dilanggar kan." Ucap Kaivan lagi.
Kaivan lekas menyusul Archie yang sudah melewati belokan sehingga tubuhnya tak terlihat.
Ketika mereka menuju lift, ada beberapa karyawan yang juga sedang menunggu. Para karyawan itu menatap Archie dan Kaivan dengan sopan dan senyuman ramah.
"Malam pak Kaivan dan bu Archie." Sapa mereka bersamaan.
"Malam." Balas Archie sopan, sementara Kaivan hanya memberikan anggukkan kecil.
Ketika lift terbuka, mereka semua masuk dengan Kaivan dan Archie yang berdiri paling belakang.
Archie yang sedang tidak fokus terkejut kala Kaivan memegang tangannya, bahkan mengusapnya dengan gerakan pelan.
Archie menoleh, ternyata suaminya sedang menatapnya dengan penuh senyuman jahil. Melihat itu Archie pun melototkan matanya sambil berusaha melepaskan pegangan tangan pria itu.
"Lepas." Pinta Archie melototkan matanya.
Kaivan menggeleng, namun ketika lift terbuka Kaivan langsung melepaskan pegangan tangannya. Pria itu berdehem dan lekas keluar disusul oleh Archie.
Archie berjalan di belakang Kaivan. Baru memasuki area restoran, Archie sudah bisa merasakan jika banyak pasang mata yang melihatnya.
"Gosip membuat aku dilirik banyak orang." Batin Archie senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Archie dan Kaivan tidak duduk berdua, mereka gabung dengan bagian kepala divisi di meja ujung.
Archie dan Kaivan duduk bersebelahan, tidak lupa makanan sudah di pesan sebelumnya.
"Bagaimana istirahat anda, Pak?" Tanya salah satu kepala divisi itu.
"Sangat nyenyak, kamar tempat saya tidur tadi begitu nyaman." Jawab Kaivan.
Archie mengulum senyum, namun tidak ada yang bisa melihatnya karena Archie menunduk, berpura-pura menurunkan bajunya.
"Bagaimana dengan anda, Bu?" Rafi bertanya pada Archie dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tentu, saya juga merasa nyaman." Jawab Archie sembari mengangguk berkali-kali.
Sementara Archie dan Kaivan bicara dengan orang-orang di satu meja yang sama, lain hal nya dengan para karyawan di meja berbeda.
Para karyawan itu menatap Archie dan Kaivan sambil bisik-bisik, pasti membicarakan keduanya.
"Bu Archie sangat bahagia." Ucap seorang wanita.
"Sudah pasti, karena bisa tidur dengan pria setampan dan sekaya pak Kaivan." Sahut temannya.
Kembali ke meja Archie dan Kaivan. Pesannya satu meja itu akhirnya sampai dan mereka mulai menikmatinya.
Archie pun sangat menikmati makanan nya, namun ia terkejut ketika Kaivan mengusap pahanya walaupun tertutup oleh celana panjang.
Archie menguyah sambil berusaha menjauhkan tangan suaminya. Bukannya menjauh, tangan itu kini malah menggenggam tangannya.
"Mas Kaivan ini apa-apaan sih." Batin Archie, tatapannya begitu tajam ke arah Kaivan.
Sementara Kaivan yang ditatap hanya senyum-senyum saja, ia semakin gencar menggoda istrinya.
Sendok milik Rafi jatuh tanpa menimbulkan suara karena lantainya dialasi karpet tebal.
Pria itu pun menunduk guna mengambil sendoknya. Tanpa sengaja Rafi melihat tangan Kaivan yang sedang menggenggam tangan Archie.
Rafi berdehem, membuat tangan itu buru-buru dilepaskan oleh Archie. Archie membawa kedua tangannya ke atas meja.
"Maaf, sendok saya jatuh." Ucap Rafi mengangkat sendok yang baru saja ia pungut.
Archie hanya tersenyum tipis, sementara Kaivan diam saja. Mereka pun lanjut menikmati makanan mereka masing-masing.
SEMALAM LUPA UP, MAAF BANGET. HARI INI AKU GANTI YAA JADI UP 4 BAB, BIAR KALIAN NGGAK MARAH😭😭
Bersambung...................................
__ADS_1