
Aldavi sampai di rumah setelah mengajak keponakannya itu untuk jajan di minimarket yang mana hal itu membuatnya bertemu dengan gadis menyebalkan.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Aldavi kembali menarik tangan keponakannya itu dan memberikannya tatapan tajam.
"Hei jagoan, ingat pesan paman kan?" Tanya Aldavi dengan lembut.
Zahid, bocah polos itu langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan pria yang berstatus sebagai paman nya.
"Jangan beritahu oma." Jawab Zahid lalu menutup mulutnya sendiri.
Aldavi tersenyum dengan lebar, ia pun mengusap kepala keponakannya itu dan mengajaknya masuk sambil menggandeng tangan.
"Kami pulang!!" Ucap Aldavi dengan riang.
Tampak kedua orang tua Aldavi dan juga keluarga besarnya sedang berkumpul di ruang tamu, sambil berbincang tentang hal random.
Kedatangan Davi dan Zahid berhasil menyita perhatian mereka semua, terutama ibunya Davi.
"Mana bawaanya?" Tanya mama Dewiya, ibunda Aldavi.
"Ini, kan aku cuma beliin Zahid jajanan Ma." Jawab Aldavi sembari menunjuk kantong plastik di tangan Zahid.
Sepupu perempuan Aldavi, atau ibu dari Zahid tiba-tiba tertawa mendengar pertanyaan dokter muda itu yang tak paham pada pertanyaan ibunya.
Tawa itu membuat Davi melirik sepupunya dengan tatapan sinis.
"Apaan sih lo, ketawa-tawa." Ketus Aldavi lalu memutar bola matanya jengah.
Aldavi kembali menatap sang mama yang memasang wajah penuh senyuman hangat.
"Maksud mama bawaan kamu itu pacar, Davi. Mau sampai kapan kamu gandeng keponakan kamu terus kalau mau jajan. Ganti dong jadi pacar." Ucap mama Dewiya dengan candaan.
"Ma, ayolah. Aku sudah mengatakannya berkali-kali jika saat ini aku belum memiliki kekasih dan aku masih mau fokus pada pekerjaanku." Sahut Davi dengan lembut dan sedikit manja.
"Ini usia 31 tahun ya, ya Tuhan …" sepupu Aldavi kembali meledek dokter itu, membuat kekesalan Aldavi semakin memuncak.
Mama Dewiya memegang tangan putranya, kemudian menariknya untuk duduk di sofa yang ada di sana.
"Kaivan saja sudah menikah dan akan punya anak, Davi. Kalian kan seusia, masa kamu mau jomblo terus." Papa Firman berujar, ayah dari Aldavi yang merupakan seorang dokter juga.
Aldavi tidak menyahut, ia hanya diam saja dengan pandangan kesana kemari tanpa mau menatap kedua orang tuanya.
Aldavi bosan jika pembicaraannya tentang ini.
"Memang kamu mau cari yang kayak gimana, Davi? Barangkali Tante bisa bantu cari." Nenek Zahid itu tiba-tiba bertanya sambil diiringi tawa kecil.
"Yang galak biasanya, Ma. Cocok nih si Davi judes, lawan cewek galak." Giliran ayahnya Zahid yang menyahut, Adrian.
__ADS_1
"Gue suntik rabies lo ya lama-lama." Sahut Aldavi dengan galak.
"Tuh kan benar, cocok sama cewek galak ini sih." Ucap Adrian dengan tawa yang lepas.
"Ayah nggak boleh gitu, paman Davi tadi ketemu kakak cantik lohh …" ucap Zahid tiba-tiba.
Mendengar ucapan Zahid, Adrian lantas menatap putranya yang duduk di pangkuannya sambil menikmati cokelat pemberian Aldavi.
"Kakak cantik siapa, Nak?" Giliran Alice, sepupu Aldavi yang juga ibunya Zahid bertanya.
Semua orang bertanya penuh rasa penasaran pada Zahid setelah mendengar kalimat bocah itu.
Berbeda dengan Aldavi yang hanya bisa menghela nafas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Salah memang gue bikin janji sama bocah." Gumam Aldavi geleng-geleng kepala.
"Kamu ketemu cewek siapa, Davi? Apa dia pacar kamu?" Tanya mama Dewiya dengan lembut.
"Bukan, Ma. Dia hanya gadis … gadis …" Aldavi bingung mendeskripsikan Karin seperti apa.
"Gadis apa? Gadis yang lo suka?" Alice menyahut dengan alis yang naik turun.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Alice. Ini semua berawal dari mulut polos Zahid yang telah memberitahukan pertemuan Aldavi dengan Karin.
"Sayang, apa kakak itu benar-benar cantik? Lalu bagaimana kamu bisa tahu dia?" Tanya Adrian pada putranya.
Alice tertawa mendengar ucapan putranya. "Benar sekali, jika kakak cantik itu menyukai Zahid maka dia juga akan menyukai paman Davi." Sahut Alice.
"Tapi siapa nama kakak cantik itu?" Tanya Alice lagi.
Zahid terdiam sembari menepuk-nepuk dagunya dengan jari telunjuk, seakan berpikir nama gadis yang tadi bertemu dengan di minimarket.
"Aku tidak bertanya namanya, Ma. Tapi paman pasti tahu, mereka saja tadi saling melihat." Jawab Zahid lalu melemparkan pertanyaannya pada Aldavi.
Aldavi yang sedang menunduk sambil memijat kepalanya lantas mengangkat wajahnya dengan penuh keterkejutan.
"Siapa namanya, Davi?" Tanya papa Firman sembari menepuk bahu putranya.
"Pa, aku tidak tahu. Tadi hanya tidak sengaja bertemu ketika dia juga dengan Zahid." Jawab Aldavi berbohong.
Jelas saja Aldavi berbohong karena ia tentunya sangat mengenali sosok Karin. Gadis yang selalu mencari masalah dengannya.
"Tidak tahu atau kamu nggak mau kami tahu?" Tantenya Aldavi kembali bertanya.
"Ayolah, Tante. Aku benar-benar tidak tahu dia siapa." Jawab Aldavi lalu membuang nafasnya kasar.
"Davi, jika memang dia pacar kamu maka katakan saja. Mama akan dengan senang hati terima dia." Ucap mama Dewiya dengan lembut.
__ADS_1
"Ma, dia hanya asisten sekretaris Kaivan. Dia bukan pacarku, dia hanya gadis menyebalkan." Sahut Aldavi reflek sampai-sampai menjawab dengan kalimat seperti itu.
"Ahh, jadi namanya Karin?" Tanya Alice.
"Belakangan ini kau sering ke kantornya Kaivan kan, jadi untuk bertemu dengan gadis bernama Karin itu, Dav?" Tanya Adrian dengan usil.
Aldavi melongo sebentar, lalu selanjutnya ia menghela nafas pasrah. Mulutnya menjawab sesuatu yang akan menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
"Baiklah, aku akan memberitahu." Ucap Aldavi dengan tenang.
Mendengar ucapan Aldavi, sontak semuanya bersorak dan lekas mengambil posisi untuk mendengarkan cerita Aldavi.
"Dia itu Karin, asisten sekretaris nya Kaivan. Dia magang di kantor Kaivan untuk membantu Archie bekerja." Ucap Aldavi mulai cerita.
"Aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa. Jangankan pacaran, untuk berteman saja aku tidak akan mau." Tambah Aldavi menekankan kalimatnya.
"Tapi kenapa?" Tanya mereka semua dengan kompak, kecuali Zahid tentunya.
Bocah itu tetap tenang memakan cokelat setelah membuat pamannya dalam posisi seperti ini.
"Tidak ada alasan apapun, aku hanya tidak suka dengan gadis cerewet dan menyebalkan." Jawab Aldavi sembari melipat tangannya di dada dan bersandar pada sandaran sofa.
"Biasanya yang awalnya musuhan jadi jodoh, Dav." Celetuk Adrian, pengalaman pribadi.
"Benar, hati-hati dengan ucapanmu itu. Hari ini kau mengatakan jika kau tidak suka, tapi bisa saja besok atau kapanpun itu kau berganti menjadi menyukainya." Timpal Alice, menambahkan kalimat yang suaminya lontarkan.
Aldavi geleng-geleng kepala, lalu bangkit dari duduknya.
"Terserah." Balas Aldavi dengan malas.
Aldavi mendekati Zahid, kemudian mengusap kepala bocah itu dengan gemas.
"Awas kau ya, paman cium sampai nangis karena sudah mengingkari janji kita." Ucap Aldavi.
"Aku tidak ingkar, Paman. Aku kan bicara pada ayah, sedangkan janji kita aku tidak boleh bicara pada oma Dewiya." Sahut Zahid dengan polos, namun benar.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Zahid, sementara Aldavi lagi-lagi hanya bisa tersenyum sabar.
Ia pun mengangguk singkat, kemudian memilih untuk pergi meninggalkan ruang tamu. Daripada terus di introgasi, lebih baik Aldavi tidur.
"Tidur sana pasangan halal lebih enak, daripada sendiri Dav." Ucap Papa firman.
"Nggak dulu, Pa." Balas Aldavi tanpa menatap sang papa, hanya suara dan tangannya yang melambai-lambai.
SABAR YA PAMAN DOKTER 😭🤣
Bersambung....................................
__ADS_1