
Archie dan Kaivan sampai di Jakarta jam 7 malam. Mereka niatnya mau langsung pulang ke rumah, namun di tengah perjalanan Archie ingin makan sate.
Tahu istrinya sedang hamil, Kaivan tentu saja memenuhi keinginan Archie. Ia meminta pada sopir jemputan nya untuk berhenti di tukang sate pinggir jalan.
Archie begitu bahagia ketika suaminya mengajak ke tukang sate. Ia bisa makan sate ayam yang sedang sangat ia inginkan.
"Kamu nggak mau pesan sate lain, Mas?" Tanya Archie sembari menikmati sate ayam yang ia pesan.
"Aku nggak mau, kamu mau sate lain?" Tanya Kaivan balik.
Kaivan tahu pertanyaan istrinya itu sebenarnya adalah keinginan nya untuk makan sate lain.
"Mau, tapi nggak mau." Jawab Archie ambigu.
Kaivan terkekeh mendengarnya, ia mengusap kepala istrinya lembut lalu mengusap wajahnya.
"Lupakan saja, Mas. Sate ini sudah cukup, aku tidak mau apa-apa lagi." Ujar Archie dengan senyuman manis.
Kaivan balas dengan senyuman yang tidak kalah manis.
"Ayo kamu coba, Mas." Ucap Archie lalu menyodorkan satu tusuk sate ke mulut suaminya.
Kaivan tidak menolak, ia menyantap sate yang istrinya suapi. "Enak." Ujar Kaivan.
"Enak dong, kan aku yang suapin kamu." Sahut Archie dengan percaya diri.
Kaivan terkekeh, ia lalu menundukkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap perut istrinya.
"Lihat mami kamu itu, terlalu percaya diri tapi papi sangat mencintainya." Celetuk Kaivan.
Pria itu seakan sedang mengajak janin dalam kandungan istrinya untuk berbicara.
Archie yang mendengar itu lantas tertawa, ia mengusap kepala sang suami sebagai bentuk reaksi atas perlakuan Kaivan saat ini.
Setelah selesai makan sate, Kaivan dan Archie pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah mereka.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, artinya mereka menghabiskan waktu 1 jam untuk makan tadi.
Jalanan masih cukup padat sehingga mereka cukup menghabiskan waktu untuk sampai di rumah.
"Aku mengantuk." Cicit Archie dengan mata terpejam.
"Kita sudah sampai, aku gendong ya sampai ke kamar." Balas Kaivan.
Kaivan keluar dari mobil, lalu dirinya memutari mobil dan membuka pintu di sisi istrinya. Kaivan lalu menggendong dan membawa tubuh istrinya itu masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya." Sapa bi Sari dan suaminya dengan sopan.
Kaivan hanya memberikan anggukkan kecil, sementara Archie diam saja karena dia benar-benar sangat mengantuk.
Kaivan melangkah ke lantai dua, lalu membuka pintu kamarnya. Kaivan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.
"Ganti baju dan cuci muka dulu ya, Sayang." Ucap Kaivan mengusulkan.
Archie yang sudah merebahkan diri berubah menjadi duduk, ia menatap suaminya lalu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sejak kemarin tubuhku sangat lemas, Mas." Ucap Archie sembari mengusap perutnya.
"Mungkin karena kamu sekarang sedang hamil muda, Sayang." Sahut Kaivan sembari meletakkan tangannya di atas perut Archie.
Archie tidak menyahut, wanita itu turun dari ranjang lalu masuk ke dalam walk in closet untuk mencuci muka dan mengganti pakaiannya.
Kaivan menyusul istrinya ke dalam walk in closet, ia melihat Archie sedang memilih baju. Kaivan lekas mendekat, lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Archie memekik terkejut, namun sesaat kemudian ia tersenyum dan mengusap punggung tangan suaminya.
"Kenapa, Mas?" Tanya Archie sembari mencari baju yang ingin ia pakai.
"Yang ini, Sayang. Kamu cantik banget kalau pakai ini." Bukannya menjawab, Kaivan malah menunjuk satu baju untuk digunakan istrinya.
Archie mengambil baju yang suaminya tunjuk, lalu melihatnya. Daster berwana putih model bunga matahari kecil.
"Kamu suka banget pakai daster ya." Bisik Kaivan sembari menciumi leher istrinya.
"Iya, Mas. Di pakainya enak, apalagi untuk tidur." Sahut Archie menganggukkan kepalanya.
Kaivan melepaskan pelukannya, ia membiarkan Archie masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Kaivan mengambil kaos dan celana pendek, lalu ikut masuk ke dalam kamar mandi yang memang pintunya tidak ditutup.
Ketika Kaivan masuk, ia melihat istrinya itu sudah membuka pakaiannya dan sedang bercakap sambil mengusap perutnya.
Kaivan tersenyum. "Kenapa hmm?" Tanya Kaivan.
Kaivan menatap wajah cantik istrinya melalui pantulan cermin, namun tidak bisa ia hindari lekukan tubuh istrinya yang begitu menggoda iman.
"Nanti perut aku jadi besar." Jawab Archie sambil tertawa kecil.
"Besok kita ke rumah sakit ya, untuk cek kandungan kamu. Sekalian aku ada perlu dengan Davi." Ujar Kaivan.
"Davi?" Beo Archie mengerutkan keningnya.
"Dia dokter pribadiku sekaligus temanku, Sayang." Jawab Kaivan memberitahu.
Archie ber- oh ria, kepalanya kembali mengangguk mendengar penjelasan suaminya. Archie tentu tidak akan menolak untuk memeriksa kandungan.
Keduanya pun lekas mengganti pakaian dan kembali ke kamar untuk istirahat. Mereka tidur berpelukan dengan erat.
"Enak banget di peluk kamu, Mas." Ucap Archie.
"Sudah nggak bau lagi?" Tanya Kaivan, mengingat tindakan istrinya itu kemarin.
"Nggak, kamu nggak bau kecuali kemarin." Jawab Archie semakin menduselkan kepalanya di pelukan suaminya.
Kaivan mencium puncak kepala istrinya. "Selamat malam, Sayang." Bisik Kaivan penuh kelembutan.
Archie balas mencium dada suaminya.
***
Keesokan harinya, Kaivan dan Archie baru saja sampai di rumah sakit. Sebelum menemui Aldavi, pasangan suami istri itu memilih untuk memeriksa kandungan dulu.
__ADS_1
Mereka sudah membuat janji tadi, sehingga bisa langsung masuk untuk diperiksa.
"Mengalami mual dan muntah, Nyonya?" Tanya dokter itu seraya memeriksa Archie.
"Iya, Dok. Tidak terlalu parah, tapi sesekali saya mengalaminya. Selain itu saya juga sensitif dengan aroma tertentu." Jawab Archie memberitahu.
Dokter itu tersenyum. "Itu wajar, Nyonya. Ibu hamil yang usia kandungannya dibawah tiga bulan masih begitu sensitif dengan beberapa hal." Sahut dokter.
"Jadi istri saya benar-benar hamil kan, Dok?" Tanya Kaivan.
"Ya, Tuan. Usia kandungannya baru tiga minggu, masih sangat rentan. Tolong di bantu menjaga istrinya ya, Tuan." Jawab dokter itu sembari memberikan masukkan.
Kaivan menganggukkan kepalanya. Tanpa diminta oleh dokter, Kaivan pasti akan menjaga istrinya.
"Jangan lupa untuk menebus vitamin nya ya, dan bisa juga dibantu dengan susu hamil untuk menambah nutrisi calon bayi kalian." Tutur dokter sembari memberikan secarik kertas pada Kaivan.
"Baik, Dok. Kalau begitu kami permisi." Pamit keduanya lalu lekas pergi meninggalkan ruangan dokter.
Setelah mereka diluar, keduanya langsung pergi ke apotek. Di pertengahan jalan Archie ingat keperluan suaminya.
"Mas bilang ada urusan sama dokter Davi, tidak jadi?" Tanya Archie.
"Jadi, Sayang. Kita tebus obat dulu, setelah itu kita kesana." Jawab Kaivan.
"Mas ke dokter Davi saja, apotek nya ramai jadi akan lama. Aku tunggu kamu disini." Tutur Archie mengusulkan.
"Tidak apa-apa aku tinggal?" Tanya Kaivan ragu-ragu.
"Iya, Mas. Aku akan tunggu disini." Jawab Archie menganggukkan kepalanya.
Kaivan tersenyum lalu mencium kening istrinya. Ia pun pergi meninggalkan istrinya menuju ruangan sahabatnya itu.
Sesampainya di sana, Kaivan langsung masuk dan melihat Aldavi sudah menunggunya.
"Dav, gimana?" Tanya Kaivan langsung.
"Duduk dulu, banyak yang mau gue omongin tentang ini." Tutur Davi sembari menunjukkan surat di tangannya. Ada 2 kertas di tangannya.
Kaivan nurut, ia pun duduk di kursi yang berada tepat di depan sahabatnya.
"Laporan cek darah lo, lo lihat sendiri." Ujar Aldavi sembari mendorong satu kertas itu ke arah Kaivan.
Kaivan menerima dan lekas membacanya, ada beberapa kalimat yang tidak Kaivan mengerti.
"Intinya apa? Kenapa lo bilang ini urgent?" Tanya Kaivan bingung.
"Kai, yang urgent bukan laporan itu, tapi laporan tes genetik lo." Aldavi bicara sambil mengangkat satu kertas lain di tangannya.
"Apa?" Tanya Kaivan bingung.
"Menurut hasil tes genetik yang lo lakuin, lo ..." Aldavi menggantung ucapannya.
"Ngomong ya jelas, Davi!!" tegur Kaivan dengan kesal.
Aldavi menatap sahabatnya, bibirnya tiba-tiba terasa kelu sampai-sampainya tidak sanggup untuk mengatakannya.
__ADS_1
HAH? GIMANA NIH GUYS???
Bersambung........................................