
Seorang wanita tampak sedang asik duduk di salah satu minimarket dekat kos nya sambil menikmati mie pedas dan ice coffee instan yang ia buat di minimarket itu.
Kepalanya bahkan sampai geleng kanan dan geleng kiri ketika menyantap mie pedas yang dinilai memiliki rasa sangat enak.
"Eummm … nikmatnya hidup ini, punya pekerjaan, punya uang hasil sendiri. Ahhh, aku ingin hidup lebih lama." Ucap Karin lalu mendongakkan kepalanya keatas.
"Tapi kalau nggak punya pacar percuma saja, Kak." Seseorang menyahut dari belakang Karin duduk.
Karin mengerutkan keningnya, lalu lekas membalik badan untuk melihat siapakah orang yang sudah menyahuti ucapannya.
"Eh bocah, malam-malam gini ngapain disini?" Tanya Karin begitu melihat seorang anak kecil yang tadi menyahuti ucapannya.
"Aku? Aku tentu saja jajan bersama dengan pamanku." Jawab bocah laki-laki itu kemudian duduk di depan kursi Karin.
Karin menatapnya dengan tatapan melongo, namun ia tidak melarang justru malah ikut duduk.
Karin menarik kursi agar bisa lebih dekat dengan bocah laki-laki itu. Karin kemudian mendekatkan wajahnya untuk bicara pada bocah itu.
"Hei, kau bilang tadi hidup ini tidak akan lengkap jika tidak punya pacar? Darimana kau tahu apa itu pacar?" Tanya Karin berbisik.
"Dari mamaku, dia bilang jika pamanku itu hidupnya membosankan karena tidak punya pacar." Jawab bocah itu lagi dengan polosnya.
Karin membuka mulutnya terkejut. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa ibu bocah itu mengatakan tentang pacar pada anak sekecil ini.
"Begitukah? Apa pamanmu itu jelek sampai-sampai tidak punya pacar?" Tanya Karin lagi semakin penasaran.
"Tidak, pamanku sangat tampan dan baik. Dia biasa mengobati orang yang sakit, tapi tidak bisa mengobati sakit hatinya sendiri." Jawab bocah itu lagi.
"Astaga …" gumam Karin geleng-geleng kepala, bocah itu pandai sekali bicara.
"Jadi pamanmu seorang dokter?" Tanya Karin dan bocah itu menganggukkan kepalanya.
"Lalu siapa namamu?" Tanya Karin lagi sembari mengambil potongan daun di kepala bocah itu.
"Kenapa kakak ingin tahu namaku?" Bocah itu bertanya, membuat Karin gemas sekali.
"Karena aku suka padamu, kau sangat pintar." Jawab Karin memberitahu.
"Namaku Zahid, Kakak. Dan orang bilang aku setampan pamanku." Bocah bernama Zahid itu langsung melipat tangannya di dada seperti sedang bergaya.
"Jika kakak suka padaku, maka kakak juga pasti suka pamanku." Tambah Zahid dengan lantang dan diakhiri tawa lepas.
__ADS_1
Karin kembali melongo, anak kecil zaman sekarang memang pintar-pintar. Contohnya ya bocah bernama Zahid ini.
"Ini sudah malam, dimana pamanmu?" Tanya Karin celingak-celinguk.
"Itu dia pamanku." Jawab Zahid lalu menunjuk ke arah belakang Karin.
Karin menoleh, ia yang awalnya tersenyum seketika menghilangkan senyumannya, bahkan ekspresi wajahnya berubah kesal.
"Jadi dia pamanmu?" Tanya Karin tanpa menatap Zahid.
"Iya, tampan sepertiku kan." Jawab Zahid lalu turun dari kursi dan berlari ke arah pria yang merupakan pamannya.
Karin menghela nafas, lalu bangkit dari duduknya. Ia melahap pria yang kini menggandeng Zahid dengan tatapan tajam.
"Saya tidak menyangka jika anak selucu Zahid adalah keponakan pria menyebalkan seperti anda." Ucap Karin dengan penuh penekanan.
Aldavi. Pria yang dipanggil paman oleh Zahid itu adalah Aldavi, sahabat Kaivan dan musuh bebuyutan Karin jika bertemu.
Aldavi tidak menyahuti ucapan Karin, ia malah berlutut di hadapan Zahid yang memasang wajah polos.
"Berapa kali paman mengatakan padamu, Zahid. Jangan bicara pada orang asing, mereka bisa saja memiliki niat buruk." Ucap Aldavi pada anak dari sepupunya.
Ya, Zahid adalah anak dari sepupunya Davi yang usianya di bawah Davi. Meski lebih muda, tapi sepupunya Davi itu sudah punya anak.
Mendengar ucapan Aldavi, tentu saja Karin melotot tidak terima.
"Apa maksud anda? Maksud anda saya itu penculik?" Tanya Karin dengan sewot.
Aldavi berdiri, kemudian menutup kedua telinganya Zahid dengan tangannya.
"Suaramu itu bisa merusak pendengaran keponakan saya." Kata Aldavi kemudian melangkah menjauhi Karin.
Sebelum benar-benar pergi dari sana, Davi sempat melirik ke arah meja Karin dimana ada mie dan juga kopi.
Sebagai seorang dokter, tentu ia tahu bahaya keseringan mengkonsumsi mie dan kopi, namun ia malas untuk memberitahu pada Karin.
Bukan karena Davi ingin lalai dalam tugasnya sebagai dokter, namun ia yakin jika Karin tidak akan menerima nasehat darinya.
"Paman, kakak yang tadi cantik kan?" Tanya Zahid sembari menarik-narik tangan Davi.
"Nggak, jelek." Jawab Aldavi reflek begitu saja.
__ADS_1
"Pantas saja paman tidak punya pacar, rupanya paman tidak bisa membedakan mana cantik dan jelek." Sahut Zahid lalu melipat tangannya di dada dengan kesal.
Aldavi tidak menimpali. Ia membukakan pintu untuk keponakannya itu, kemudian mendudukkannya dan tidak lupa memasangkan seatbelt.
Setelah itu, Davi lekas menyusul masuk ke dalam mobil dan langsung mengendarainya pergi dari sana.
"Aku akan beritahu oma jika paman bertemu kakak cantik tadi." Ucap Zahid dengan tegas.
Aldavi melototkan matanya. "Jangan!!" Sahut Davi melarang.
"Zahid, paman sudah memenuhi kemauan kamu untuk membeli jajanan. Sekarang bantu paman ya, jangan katakan apapun." Pinta dokter tampan itu dengan sangat.
"Paman akan memberikan kamu jajanan, cokelat dan yang lainnya." Tambah Aldavi merayu.
"Paman janji?" Tanya Zahid seraya mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji, Tampan." Jawab Aldavi dan langsung menggaet jari kelingking keponakannya itu.
Aldavi menghela nafas, ia mengusap dadanya dengan perasaan lega.
Bukan Aldavi takut atau bagaimana, ia hanya malas saja karena sang mama pasti akan langsung mencecar nya dengan banyak pertanyaan jika mendengar bisikan jika dia dekat dengan wanita.
Jangankan dekat, jika salah satu sepupunya berbohong saja maka sang mama akan langsung percaya dan memintanya dirinya untuk lekas membawa gadis itu ke rumah.
"Paman, kakak tadi juga tidak punya pacar seperti paman." Kata Zahid tiba-tiba.
"Biarkan saja, dia pantas tidak punya pacar karena sikapnya menyebalkan." Sahut Aldavi dengan cuek.
"Bagaimana paman tahu? Kalian saling mengenal ya? Apa paman pacaran dengannya?" Tanya Zahid dengan polos.
"Aku akan mengatakan ini pada oma." Tambahnya dengan riang.
Aldavi kembali melototkan matanya. "Hei, kita sudah berjanji untuk tidak membahas ini kan." Kata Aldavi mengingatkan.
"Jangan beritahu oma ya, Tampan." Pinta Aldavi lagi.
Zahid menepuk jidatnya sendiri. "Aku lupa, Paman. Maaf ya, aku tidak akan memberitahu oma. Aku janji." Ucap Zahid dengan yakin.
Aldavi hanya tersenyum. Entahlah, ia kembali khawatir mengingat Zahid itu masih kecil, bisa saja dia lupa dan membahas ini di rumah nanti.
"Gara-gara gadis menyebalkan itu." Batin Aldavi kesal sendiri.
__ADS_1
NYEBELIN NANTI JADI JODOH TAU🤣🤣
Bersambung...............................