Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Se-hot sambal asli


__ADS_3

Setelah makan malam bersama dengan menu bakar-bakaran. Kaivan pun mengajak istrinya untuk istirahat.


Tahu sendiri sifat Kaivan seperti apa. Dia sangat over posesif jika sudah menyangkut istrinya yang sedang hamil besar itu.


"Kami istirahat duluan. Kalian juga jangan lupa istirahat, besok kita keliling dan pulang di sore harinya." Kata Kaivan pada semuanya.


"Tapi aku masih mau duduk disini, Mas." Archie menarik baju suaminya dengan sedikit manja.


Kaivan tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Nggak boleh, ibu hamil nggak baik terlalu lama di luar saat malam hari gini." Sahut Kaivan, tetap melarang sang istri.


Archie menghela nafas, dia pun tidak punya pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. 


"Yaudah, semuanya. Kita duluan ya, selamat malam." Usai mengatakan itu, Archie pun melangkah mengikuti suaminya.


Kini tinggal Karin, Aldavi dan juga Adinda yang ada disana. Ketiga orang itu tidak ada yang bicara sebelum Adinda membuka suaranya.


"Aku juga duluan ya, soalnya udah ngantuk juga." Pamit Adinda seraya bangkit dari duduknya.


"Mana yang perlu aku bawa ke dalam, Rin?" Tanya Adinda bermaksud membantu Karin.


"Nggak ada, Kak. Semuanya kan tadi udah kita rapihin sama-sama, tinggal ini biar aku aja." Jawab Karin menunjuk ke arah piring bekas menaruh makanan.


"Yaudah kalo gitu, aku duluan. Selamat malam, Karin dan pak Aldavi." Kata Adinda lalu segera pergi.


Kini benar-benar tinggal Karin dan Aldavi saja. Karin mengambil dua piring kotor yang harus ia bawa ke dalam.


"Dok, nggak masuk?" Tanya Karin saat Aldavi hanya duduk diam.


"Karpetnya mau saya lipat dulu, kamu minggir." Jawab Aldavi, membuat Karin buru-buru beranjak.


"Maaf, Dok. Kirain saya tadi nunggu apaan, planga-plongo gitu." Celetuk Karin sambil menahan tawanya.


Aldavi melirik tajam Karin, dan saat itu pandangannya jatuh pada jari manis Karin yang tersemat cincin.


"Jadi kapan kamu menikah?" Tanya Aldavi tanpa menatap Karin.


"Mungkin tahun depan. Awalnya mau nunggu saya lulus kuliah, tapi sepertinya kelamaan dan saya tidak mau tunangan saya menunggu terlalu lama." Jawab Karin jujur.

__ADS_1


Aldavi selesai melipat karpet. Lalu dia kembali menatap Karin yang masih berdiri disana.


"Kamu yakin menikahi pria yang tidak kamu cintai?" Tanya Aldavi lagi.


Senyuman di wajah cantik nan ayu Karin langsung menghilang mendengar pertanyaan pria itu barusan.


Karin menatap Aldavi. Sesaat keduanya saling pandang, namun buru-buru Karin putuskan karena sadar jika dia sudah bertunangan dengan orang lain.


"Saya mungkin tidak mencintai tunangan saya, tapi dia sangat mencintai saya. Lebih baik menikah dengan orang yang mencintai saya, daripada saya cintai." Jawab Karin dengan yakin.


"Hanya meninggalkan rasa sakit." Tambahnya lalu lekas pergi dari hadapan Aldavi.


Aldavi menatap kepergian Karin. Entah mengapa ia merasa seperti janggal dan sesak dengan ucapan Karin barusan.


"Apa maksud kata-katanya tadi, hanya meninggalkan rasa sakit. Dia pernah dikhianati?" Gumam Aldavi bertanya-tanya.


Sementara itu di kamar Adinda. Tampak wanita itu sedang duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya.


Adinda sedang chatting dengan Zayn. Rutinitas terbaru Adinda sejak beberapa hari belakangan ini. Siang maupun malam, Zayn akan selalu mengabarinya.


Adinda menghela nafas, dia menyimpan ponselnya lalu menatap lurus ke depan.


"Jika terus begini, rasa tertarik mas Zayn bisa aku rasakan juga. Aku nggak bisa menyeret pria sebaik mas Zayn ke dalam duniaku yang sudah hancur." Gumam Adinda dengan mata berkaca-kaca.


Merebut milik kakaknya sendiri, dan karma yang dia dapatkan jauh lebih menyakitkan. 


Atas hukuman yang ia terima saat ini, apa Adinda mau menyeret orang lain juga dalam takdir buruknya? Tentu saja tidak.


***


Archie bangun pagi-pagi dan langsung keluar villa untuk menghirup udara segar. Dia tidak sendiri, melainkan dengan suaminya.


Kaivan yang sangat mencintai istri dan selalu menganggap istri sebagai anugerah itu tak bisa berhenti tersenyum kala Archie jalan-jalan sambil mengusap perutnya.


Ahh iya. Sebentar lagi, rasa bahagia Kaivan akan bertambah karena kehadiran buah cinta mereka yang kini masih berada dalam kandungan Archie.


"Mas, udaranya sejuk ya. Nafas rasanya plong banget, baby melon suka." Kata Archie dengan tangan terbuka lebar.


Kaivan mendekat. "Baby melon suka?" Tanya Kaivan dan Archie menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Kalau begitu, papi usahakan untuk mengajak mami dan baby liburan di tempat sejuk begini." Tambah Kaivan lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Asik peluk-pelukan. Tiba-tiba saja ada yang memanggil Kaivan disertai dengusan kesal. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Aldavi.


"Kai, nempel aja lo. Berenang ayo!" Ajak Aldavi dengan sewot.


Kaivan dan Archie menoleh tanpa berniat menjauhkan diri masing-masing. Mereka menatap Aldavi dengan pandangan bingung.


"Berenang pagi-pagi gini? Dingin banget, nanti deh siang-siangan." Balas Kaivan menolak.


"Kebanyakan kelonan sih lo, jadi maunya anget-anget mulu." Cibir Aldavi lalu masuk ke dalam villa.


Archie mengusap wajah suaminya dengan lembut, ia sedikit menoleh untuk bisa bersitatap dengan Kaivan.


"Kayaknya lagi kesal banget dokter Davi." Ucap Archie menerka-nerka.


"Bukan cuma kesal, dia lagi perang sama perasaannya sendiri." Sahut Kaivan lalu mencium pipi istrinya.


Archie tidak banyak bicara, dia hanya tersenyum menerima kecupan di pagi hari dari suaminya yang tampan itu.


"Karin itu beneran sudah tunangan?" Tanya Kaivan.


"Iya dong, Mas. Bahkan tahun depan nikah." Jawab Archie manggut-manggut.


"Ohh, yaudah." Balas Kaivan.


"Ihh, kamu suka ya sama Karin? Gara-gara suka ketemu, terus kamu naksir?" Tanya Archie melototkan matanya.


"Hah?! Nggak dong, Sayang. Mana mungkin aku begitu, aku cintanya sama kamu." Jawab Kaivan dengan cepat.


"Bohong! Terus ngapain tanya tentang pertunangan Karin?" Tanya Archie menatap penuh selidik.


"Itu, si Aldavi. Kayaknya uring-uringan dia tahu Karin beneran tunangan." Jawab Kaivan sambil tertawa pelan.


"Ck, kemarin aja nolak. Sekarang udah telat." Cibir Archie, lalu melepaskan pelukan suaminya.


"Ehh kata siapa telat! Belum telat kalau belum ada kata sah. Nggak inget kamu, aku kan ngerebut kamu di hari H pernikahan." Sahut Kaivan mengingatkan.


Mendengar ucapan suaminya, Archie lantas tertawa. Dia menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Kaivan katakan.

__ADS_1


Astaga, wajah Archie merah malu-malu jika ingat dia menikahi om dari calon suaminya dulu. Lebih tampan, lebih kaya dan pastinya lebih hot, se-hot sambal asli Indonesia.


Bersambung............................


__ADS_2