Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Permintaan papa Jefry


__ADS_3

Kaivan membaringkan tubuh Archie diatas ranjang dengan hati-hati. Sejujurnya saat ini emosinya masih sangat tinggi.


Ingin rasanya Kaivan mengejar Adinda yang tadi sudah berani mendorong istrinya, namun ia tidak bisa meninggalkan Archie sendirian.


"Benar kamu nggak apa-apa, Sayang?" Tanya Kaivan dengan lembut.


Archie tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Ia mengusap wajah suaminya yang terlihat begitu khawatir.


"Aku nggak apa-apa, Mas." Jawab Archie memperjelas.


Kaivan menghela nafas, ia menunduk lalu mencium kening istrinya dengan penuh kehangatan dan cinta.


"Aku akan buat perhitungan dengan Aditya, dia tidak bisa seenaknya saja memfitnah kamu." Kata Kaivan dengan tegas.


"Dan kali ini, kamu nggak boleh mencegah tindakanku." Sambung Kaivan dengan cepat sebelum mendengar larangan dari istrinya.


Archie tersenyum, ia juga tidak berniat untuk melarang tindakan suaminya kali ini. Archie akan membiarkan suaminya yang memang tujuannya adalah untuk kebaikan dirinya juga.


"Iya, enggak akan aku cegah. Sini peluk dulu." Pinta Archie seraya membuka kedua tangannya lebar.


Kaivan terkekeh, ia pun lekas memeluk tubuh istrinya dengan erat. Mengusap punggung sambil sesekali menciumi bahu Archie.


Ketika mereka sedang asik berpelukan, pintu kamar yang memang tidak tertutup membuat mama Fia dan papa Jefry langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Mereka sontak tersenyum malu-malu ketika melihat Archie dan Kaivan yang sedang asik berpelukan.


"Mas, ada papa dan mama. Lepasin aku." Pinta Archie ketika melihat mertuanya ada di depan pintu kamar.


Bukannya melepaskan, Kaivan malah semakin mengeratkan pelukannya. Hal itu sengaja karena Kaivan selalu suka ketika istrinya sedang kesal dan ngambek-ngambek manja.


"Duhh, yaudah mama dan papa bicara nanti saja." Ucap mama Fia menyindir.


"Eh nggak usah, Ma. Sekarang saja." Kata Archie lalu buru-buru melepaskan pelukan suaminya.


Kaivan menghela nafas, ia bangkit dari posisinya dan ikut berdiri bersama sang papa guna memberikan ruang pada mama Fia yang pasti ingin bicara dengan menantu kesayangannya itu.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu?" Tanya mama Fia sembari mengusap-usap rambut Archie.


"Aku nggak apa-apa, Ma. Tadi mas Kaivan kan tolong aku, jadi aku baik-baik saja." Jawab Archiena lalu menatap suaminya.


Kaivan membalas tatapan istrinya dengan penuh senyuman.


"Kai, papa mau bicara sama kamu. Bisa kita keluar?" Tanya papa Jefry.


"Tentu, Pa. Mari kita bicara diluar." Jawab Kaivan lalu mempersilahkan.

__ADS_1


Papa Jefry keluar dari kamar, lalu disusul oleh Kaivan. Sebelum pergi, Kaivan menatapnya istrinya dan memberikan kode bahwa ia akan keluar sebentar.


Setelah Kaivan dan papa Jefry keluar, kini di dalam kamar hanya tinggal mama Fia dan Archie saja.


"Maaf ya, Ma. Mama jadi harus lihat keributan aku dan Adinda tadi." Kata Archie sembari menggenggam tangan ibu mertuanya.


"Nggak apa-apa, Nak. Mama hanya penasaran apa yang Aditya katakan, sampai-sampai adik kamu begitu marah." Sahut mama Fia dengan lembut.


Archie menggelengkan kepalanya, ia juga tentu saja tidak tahu jelasnya apa. Archie hanya tahu jika Aditya sudah mengatakan hal tidak benar pada adiknya.


"Aku menyayangi adikku, Ma. Sangat, bahkan setelah apa yang terjadi aku tetap menyayanginya. Tapi aku nggak tahu kenapa, aku selalu salah di matanya." Ucap Archie kemudian membuang nafasnya pelan-pelan.


"Dulu Adinda tidak seperti itu." Tambah Archie.


Mama Fia bisa ikut merasakan kesedihan menantunya. Sebagai seorang kakak, tentu saja Archie mau menjalin hubungan yang baik dengan adiknya tapi semua terasa sulit.


"Mama juga nggak tahu, Nak. Tapi mama yakin, suatu hari nanti Adinda akan tahu sebaik apa kamu, dan dia akan menyesal telah berbuat tidak baik sama kamu." Ujar mama Fia sembari mengusap bahu menantunya.


Mama Fia memeluk menantunya. Sejak awal melihat wajah Archie, ia memang tahu jika gadis itu adalah orang yang baik. Karena itulah, saat Aditya terbukti selingkuh, ia tanpa ragu langsung meminta Kaivan untuk menikahinya.


Mama Fia yang memaksa Kaivan untuk menikahi Archie, namun siapa sangka jika putranya juga memang mencintai Archiena.


"Makasih ya, Ma." Ucap Archie pelan.


Sementara itu di ruang tamu rumah Kaivan. Tampak Kaivan dan papa Jefry duduk di sana guna membicarakan hal yang Kaivan sendiri belum tahu.


"Papa mau kamu membebaskan Aditya dan Risa, Kai." Ucap papa Jefry.


Kaivan menatap sang papa. "Apa maksud papa?" Tanya Kaivan terkejut.


Papa Jefry menghela nafas. "Tadi Anto menghubungi papa, dia memohon agar kamu mau mencabut laporannya." Jawab papa Jefry memperjelas.


"Pa, mereka hampir menghancurkan hubunganku dan Archie. Bahkan Aditya membuat nama Istriku tercemar, dan sekarang papa mau aku membebaskan mereka?" Tanya Kaivan syok.


"Kai, papa bukan memaafkan tindakan mereka tetapi jika media sampai tahu, maka saham perusahaan kamu dan perusahaan papa akan turun. Pesaing akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan kita." Kata papa Jefry menjelaskan alasannya.


Kaivan tidak menyahut, ia mengepalkan tangannya dengan nafas yang mulai tidak beraturan.


"Papa mohon, Kai. Kita bisa selesaikan masalah ini secara kekeluargaan." Ujar papa Jefry lagi.


"Kekeluargaan? Bahkan mereka tidak menganggap aku dan Archie sebagai keluarganya, Pa." Sahut Kaivan.


Kaivan bangkit dari duduknya. "Aku tidak akan mencabut laporannya, Pa. Tidak peduli akibatnya apa, tapi aku akan jamin jika perusahaan kita akan baik-baik saja." Tambah Kaivan lalu pergi meninggalkan sang papa begitu saja.


Kaivan marah, ia kesal dan tidak menyangka jika sang papa akan memikirkan tentang perusahaan dibanding memikirkan perasaan dia dan istrinya.

__ADS_1


Kaivan memilih untuk duduk di kursi taman kecil rumahnya, ia ingin menenangkan diri disana karena lagi-lagi emosinya terpancing.


"Memaafkan mereka, itu tidak mungkin." Gumam Kaivan menggelengkan kepalanya.


Kaivan benar-benar marah, ia yang memang dasarnya memiliki emosi besar tidak mungkin bisa memaafkan kesalahan yang sudah Aditya dan kakaknya perbuat.


"Mas."


Kaivan memejamkan matanya begitu mendengar panggilan istrinya. Ia lantas menoleh ke belakang namun tidak menemukan siapapun.


"Mas, disini!" Archie melambaikan tangannya melalui balkon kamar.


Kaivan tersenyum, bisa-bisanya ia tidak melihat keberadaan istrinya disana.


"Kamu ngapain disana, sini masuk. Kita mandi." Ujar Archie menjentikkan jarinya.


Mendengar kata 'kita' tentu saja Kaivan tertarik, namun masalah yang sedang ia pikirkan sejak tadi mengalahkan itu semua.


"Kamu mandi duluan saja, aku masih harus menelpon, Sayang." Ucap Kaivan beralasan.


Archie mengerutkan keningnya. "Ponsel kamu kan di kamar, Mas." Sahut Archie.


Kaivan menahan nafasnya sejenak, ia lupa jika dirinya meninggalkan ponselnya di kamar dan dia malah beralasan untuk menelpon.


"Kamu tunggu disana, Mas." Ucap Archie lalu pergi dari tempatnya.


Kaivan bingung, namun ia memilih untuk menunggu disana. Ia yakin istrinya pasti akan datang menghampirinya.


Benar saja, tidak lama kemudian Archie datang sambil berlari lalu langsung memeluk suaminya.


Kaivan memejamkan matanya, ia membalas pelukan istrinya tidak kalah erat. Kaivan mengusap pinggang Archie dengan lembut.


"Ada masalah apa, Mas?" Tanya Archie.


Kaivan tersenyum. "Selalu pengertian." Bukannya menjawab, Kaivan malah memuji kepekaan Archie.


Kaivan melepaskan pelukannya, lalu mencium kening istrinya.


"Hanya sedikit masalah, dan aku akan menyelesaikannya sendiri. Tapi jika aku butuh bantuan, aku pasti bilang." Ucap Kaivan lagi.


Archie pun menganggukkan kepalanya, setelah itu ia mengajak suaminya untuk masuk ke dalam rumah karena hari sudah semakin gelap.


PAPA JEFRY TEGA SAMA KAIVAN😫😫


Bersambung.....................................

__ADS_1


__ADS_2