Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Ke rumah mertua


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Archie dan Kaivan mampir ke rumah orang tua Archie untuk memberikan oleh-oleh yang mereka beli di Yogyakarta. Selain itu, kedatangan mereka tentu atas permintaan mama Gita yang sudah sangat merindukan putrinya.


Ketika Archie dan Kaivan sampai dengan saling bergandengan tangan, hal itu membuat kedua orang tua Archie mengulas senyum bahagia.


"Archie, mama kangen sama kamu." Ungkap mama Gita sembari mendekati putrinya, lalu memeluknya dengan erat.


Archie tersenyum, ia membalas pelukan dari wanita yang sudah melahirkannya ini lalu mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.


Walaupun Archie cukup terganggu sebelumnya dengan pertanyaan sang mama tentang cucu, tapi dalam hatinya ia juga tentu saja merindukan ibunya ini.


"Aku juga kangen sama mama. Mama apa kabar?" Tanya Archie lalu melepaskan pelukannya.


"Mama baik, kamu juga baik dan bahagia kan." Jawab mama Gita yang dibalas senyuman oleh Archie.


Kaivan yang berdiri di sebelah istrinya lantas mendekat ke arah mama Gita lalu mencium punggung tangan mertuanya.


"Ayo duduk dulu, Mama buatin kalian minum." Tutur Mama Gita dengan lembut.


Archie dan Kaivan mendekati papa Dito lalu mencium punggung tangannya bergantian, setelahnya baru duduk.


"Bagaimana perjalanan dinas kalian kemarin, lancar?" Tanya papa Dito kepada anak dan menantunya.


"Lancar, Pa. Hanya sedikit masalah dan sudah saya urus." Jawab Kaivan menjelaskan.


Archie mencolek bahu suaminya, membuat Kaivan menoleh.


"Aku bantu mama dulu ya." Ucap Archie.


"Iya, Sayang." Balas Kaivan manggut-manggut.


Panggilan sayang yang Kaivan lontarkan bisa didengar oleh papa Dito. Ayah dari Archie itu tersenyum karena merasa begitu senang melihat putri pertamanya bahagia.


"Papa senang melihat kalian sudah bisa saling menerima. Papa sangat berterima kasih sama kamu, Kai." Ucap papa Dito.


"Tidak perlu begitu, Pa. Saya menikahi Archie karena saya mencintainya, dan saya yang seharusnya berterima kasih karena diperbolehkan untuk memperistri gadis cantik sebaik Archie." Sahut Kaivan dengan sungguh-sungguh.


"Jadi kamu mencintai putri papa?" Tanya Dito, semakin bahagia hatinya mendengar pengakuan menantunya.


"Iya, Pa. Saya sangat mencintai Archie." Jawab Kaivan dengan yakin.


Papa Dito tiba-tiba bangkit dari duduknya, membuat Kaivan ikut bangkit.


"Kamu tunggu disini ya, ada yang ingin papa tunjukkan." Ucap papa Dito lalu pergi meninggalkan menantunya.


Ketika papa Dito pergi, Kaivan pun melangkah guna melihat-lihat rumah mertuanya. Kaivan belum pernah berkeliling disana.


Langkah Kaivan berhenti ketika melewati sebuah meja yang tidak jauh dari ruang tamu. Disana terjejer foto-foto Archie bersama keluarganya.


Kaivan mengambil satu foto dimana Archie memegang sebuah bunga matahari dan tersenyum dengan manisnya.

__ADS_1


"Manis sekali." Gumam Kaivan ikut tersenyum.


Kaivan meletakkan foto itu kembali dan mengambil foto lainnya. Foto Archie saat berulang tahun di usia 19.


Wanita itu memakai gaun hitam dengan model tali spaghetti. Di tangannya ada balon angka yang menunjukkan umurnya saat itu.


"Beruntung sekali saya mendapatkan istri cantik." Bisik Kaivan sambil senyum-senyum sendiri.


"Mas." Panggilan itu berasal dari belakang Kaivan yang membuat pria itu langsung menoleh.


Tampak Archie dan mama Gita mendekat ke arahnya yang masih memegangi foto Archie.


"Mas, jangan lihat-lihat fotoku. Aku masih jelek lhoo itu." Tegur Archie hendak mengambil foto di tangan Kaivan, namun pria itu lekas menghindar.


"Dulu jelek, memang sekarang?" Tanya Kaivan menggoda istrinya.


Mama Gita terkekeh melihat interaksi antara anak dan menantunya. Meski ia sedikit terkejut melihat putrinya yang selama ini mandiri dan kuat berubah sangat manja.


"Ma, aku boleh simpan foto ini?" Tanya Kaivan menunjuk foto Archie yang memegang bunga matahari.


"Tentu saja, Kai. Simpan, sekalian orangnya kamu bawa." Jawab mama Gita.


"Itu sudah pasti, Ma." Sahut Kaivan dengan senyuman tipis.


Mama Gita pun menjauh dan memilih untuk duduk di sofa, membiarkan anak dan menantunya yang masih berdiri di dekat meja foto-foto.


"Mau kamu apain foto aku itu?" Tanya Archie dengan senyuman malu-malu.


Archie melototkan matanya, ia hendak berteriak namun sang papa datang dan memanggil mereka.


Kaivan menarik tangan istrinya untuk kembali ke sofa dan duduk di hadapan orang tua mereka.


"Papa kenapa bawa barang-barang aku?" Tanya Archie ketika melihat barang kesayangannya di tangan sang papa.


"Mau papa tunjukkan sama suami kamu." Jawab papa Dito.


Archie melototkan matanya, ia hendak mengambil buku gambar miliknya namun Kaivan mencegahnya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Istri kamu ini suka menghalu, Kai." Ucap papa Dito lalu menunjukkan sebuah gambar.


"Ini suaminya, katanya. Papa lupa namanya siapa. Siapa ini, Mbak?" Tanya papa Dito.


"Ck, Doyoung nct." Jawab Archie berdecak, bukan karena marah tapi malu.


"Gantengan saya kan?" Tanya Kaivan menoleh ke arah sang istri.


"Iya dong, mas Kaivan yang paling tampan." Jawab Archie tanpa sadar sampai membuka kedua tangannya lebar, lalu berakhir memeluk suaminya.


Mama Gita dan papa Dito melongo melihat Archie. Mereka bertanya-tanya apakah itu Archie anak mereka? Tapi kenapa berubah seperti anak kecil yang menggemaskan begini.

__ADS_1


Sadar, Archie pun melepas pelukannya lalu tersenyum malu-malu.


"Aku haus." Ucap Archie lalu meraih segelas jus yang dibuat oleh sang mama.


Kaivan terkekeh, begitu pula dengan kedua orang tua Archie.


"Oh iya, Ma, Pa. Ini untuk kalian, sedikit bingkisan dari Yogyakarta." Ucap Kaivan sembari memberikan papar bag besar.


"Ya ampun, merepotkan pasti. Terima kasih ya." Balas Mama Gita, lalu menerimanya dengan tangan terbuka.


Mereka semua pun mengobrol sambil sesekali bercanda. Obrolan yang hangat itu tiba-tiba saja berubah ketika ada yang datang ke rumah orang tua Archie.


"Oh, ada mbak disini." Adinda datang seorang diri sembari membawa bingkisan kecil di tangannya.


Archie tidak menyahut dan hanya diam saja. Sementara mama Gita langsung mendekati putri keduanya itu.


"Kamu sendirian?" Tanya mama Gita.


"Kak Adit sibuk bekerja, Ma." Jawab Adinda lalu duduk di single sofa yang ada di rumah orang tuanya.


"Papa, ini kue kesukaan papa." Ucap Adinda sembari memberikan bingkisan yang tadi ia bawa.


"Terima kasih, berikan pada mama saja." Balas papa Dito cuek.


Memang, sejak mengetahui kelakuan putri keduanya, papa Dito begitu kecewa dan selalu menolak berinteraksi dengan Adinda.


"Mama buatin kamu minum ya." Ucap mama Gita, namun di tolak oleh Adinda.


"Nggak usah, Ma. Aku lagi sensitif sama makanan dan minuman." Tolak Adinda lalu menatap Archie.


"Maklum, aku kan lagi hamil. Ibu hamil sering sensitif dengan hal-hal kecil." Tambah Adinda menekan kata 'hamil'.


Archie dan Kaivan hanya diam, lebih memilih untuk menatap ke sekitar. Tidak ada gunanya mendengarkan ucapan Adinda.


"Mbak nggak mau nyusul aku buat hamil?" Tanya Adinda sembari melipat tangannya di dada.


"Masa kalah sama adiknya." Tambah gadis itu.


"DINDA!!" papa Dito menegur dengan penuh amarah.


"Pa, sudah." Archie menegur sambil menggelengkan kepalanya, meminta sang papa untuk tidak emosi.


Archie lalu menatap adiknya. "Kehamilan itu bukan perlombaan, bukan siapa menang dan siapa kalah. Hamil itu urusan Tuhan." Sahut Archie dengan lembut.


"Jika kamu memang hamil sebelum mbak, itu rejeki kamu dan Aditya. Apalagi kalian sudah lebih dulu kan melakukannya daripada mbak." Tambah Archie, sedikit ambigu dengan kalimat akhirnya.


Kaivan tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia lalu mengusap punggung kemudian turun ke pinggang ramping istrinya.


SI ADINDA EMANG BENAR-BENAR YA🙄

__ADS_1


Bersambung......................................


__ADS_2