
Aldavi bersiap untuk berangkat ke rumah sakit karena hari ini ia akan mendampinginya dokter bedah melakukan operasi.
Ketika Davi menatap dirinya di cermin sambil membenarkan kerah kemejanya, tiba-tiba saja pintu kamarnya di ketuk lalu dibuka.
Tampak mama Dewiya masuk, lalu langsung mendekati Aldavi yang langsung membalik badan.
"Sudah siap? Hari ini pekerjaan kamu banyak, Davi?" Tanya mama Dewiya sambil merapikan baju putranya.
"Lumayan, Ma. Kenapa? Tumben mama tanya?" Tanya Aldavi mengerutkan keningnya.
"Ya nggak apa-apa, mama cuma mau tahu. Kamu nggak lupa kan, nanti sore kita mau ketemu sama Karin." Jawab mama Dewiya dengan lembut.
Aldavi mendengus. Ia heran mengapa bisa sang mama sangat ingin dirinya untuk dekat dengan Karin.
Sang mama sangat menyukai Karin meski hanya dalam sekali bertemu, dan itulah yang membuat Aldavi semakin heran saja.
"Mama kenapa sih suka banget sama gadis itu, mama nggak tahu dia bagaimana jadi jangan tergesa-gesa saat mengambil keputusan, Ma." Tegur Aldavi mengingatkan.
"Mama tahu, Davi. Tapi mama bisa melihat jika gadis itu sangat baik, dia juga pasti bisa menjadi istri yang baik." Sahut mama Dewiya dengan yakin.
"Dan yang lebih penting, kamu sudah merebut–" ucapan mama Dewiya terhenti.
"Ma, aku tidak melakukannya. Aku sudah bilang kan jika aku tidak melakukan itu dengannya atau gadis manapun." Potong Aldavi setelah tahu kemana arah pembicaraan ibunya itu.
"Tolong jangan memperkeruh, Ma. Aku dan dia tidak punya hubungannya, apalagi melakukan sesuatu diluar batas." Ucap Aldavi menyatukan kedua tangannya.
Mama Dewiya membuang nafasnya kasar. Ia menatap putranya yang sedang memasukkan barang-barang ke dalam tas kerjanya.
"Baiklah." Ucap mama Dewiya membuat gerakan Aldavi terhenti.
Aldavi membalik badan dan menatap sant mama dengan kening mengkerut.
"Baiklah apa, Ma?" Tanya Aldavi.
"Mama percaya kamu tidak melakukan itu dengan Karin, tapi mama tetap mau kamu menikah dengannya." Jawab mama Dewiya.
Aldavi menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan kasar. Ia melanjutkan gerakannya yang sempat terhenti tadi.
"Lupakan saja, Ma. Aku mau berangkat bekerja, dan mama harus tahu jika aku tidak akan datang ke pertemuan itu." Ucap Aldavi dengan tegas.
"Davi." Panggil mama Dewiya.
Aldavi yang hendak pergi kembali ditahan oleh panggilan sang mama. Ia menghela nafas dan tetap diam di tempatnya.
"Mama mau kamu menikah sebelum mama tiada, Davi. Mama mau kamu bahagia dengan gadis yang baik." Ucap mama Dewiya dengan lembut.
"Mama ini ngomong apa sih, umur itu tidak ada yang tahu dan lagipula mama selalu rutin memeriksa kesehatan." Tegur Aldavi tidak suka mendengar ucapan sang mama.
"Justru itu, Davi. Umur tidak ada yang tahu, artinya bisa saja mama tiada hari ini atau besok atau kapanpun." Timpal mama Dewiya sembari memegang tangan putranya.
Aldavi menatap sang mama, namun ia tidak bicara apapun. Aldavi melirik jam di pergelangan tangannya.
"Sudahlah, Ma. Aku harus berangkat, sampai nanti." Aldavi mencium punggung tangan sang mama lalu lekas pergi tanpa menyahuti ucapan mama Dewiya sebelumnya.
Mama Dewiya menatap kepergian putranya dengan helaan nafas pelan. Putranya sudah dewasa dan sebagai seorang ibu, tentu ia mau yang terbaik untuk Aldavi putranya.
Mama Dewiya duduk di pinggir ranjang putranya. Ia menatap ke arah meja nakas dimana ada sebuah foto Aldavi yang sedang tersenyum.
"Mama nggak pernah mau paksa kamu, Davi. Tapi mama benar-benar mau kamu menikah, mama hanya ingin kamu bahagia." Gumam mama Dewiya sembari mengusap foto putranya yang mengenakan baju dokter.
Mama Dewiya menyeka sudut matanya. Dia lalu bangkit dari duduknya dan pergi dari kamar anak kesayangannya itu.
Mama Dewiya melangkahkan kakinya ke lantai bawah dan bertemu dengan suaminya.
"Pa, Davi sudah berangkat?" Tanya mama Dewiya pada suaminya.
"Sudah, Ma. Baru saja, kenapa mama tanya? Bukankah mama habis dari kamarnya." Jawab papa Firman bingung.
"Iya, tapi aku tadi membuatnya tidak nyaman, Pa." Sahut mama Dewiya pelan.
"Memaksanya lagi untuk menikah, Ma?" Tanya papa Firman menebak.
Mama Dewiya tidak menjawab, namun suaminya sudah paham dan langsung memeluknya erat.
"Papa tahu mama sangat menyayangi Davi dan ingin dia bahagia. Tapi kita tidak bisa memaksanya, Ma. Jika dia berkata belum siap menikah, itu artinya belum siap." Jelas papa Firman.
"Apa mama nggak percaya sama anak mama sendiri? Davi pasti menikah dengan pilihan terbaiknya. Dia akan mendapatkan istri yang sangat baik." Tambah papa Firman.
__ADS_1
"Mama tahu, Pa. Tapi kapan, kita sudah tua. Mama mau dia menikah sebelum mama tiada papa." Kata mama Dewiya lalu langsung pergi meninggalkan suaminya.
Papa Firman menghela nafas. Istrinya wanita yang baik dan sangat menyayangi Aldavi. Diantara semua orang termasuk Aldavi sendiri, istrinya lah yang paling ingin Davi menikah.
Ini bukan pertama kalinya, tapi kesekian kalinya mama Dewiya memaksa Aldavi menikah dengan gadis pilihannya.
"Kali ini adalah seorang gadis 20 tahunan, apakah mungkin gadis semuda itu bisa menjadi istri yang baik untuk Aldavi nanti." Gumam papa Firman.
Papa Firman hanya takut jika gadis itu malah menjadi beban Aldavi. Bukan beban dalam hal ekonomi, tapi beban karena Davi harus selalu memberitahu buruk dan baik pada istrinya terus menerus.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada istriku." Gumam papa Firman lalu lekas pergi dari sana.
Sementara itu di tempat lain. Tampak Karin baru saja sampai di kantornya. Ia meletakkan dokumen yang kemarin ia bawa karena urgent untuk dikerjakan.
Seperti setiap harinya, Karin akan mengisi botol minumnya dulu dengan air yang nantinya akan ia minum ditengah-tengah ia bekerja sampai ia pulang.
"Selamat pagi, Karin." Sapa para pegawai yang lain.
Karin membalas sapaan mereka semua dengan sama ramahnya. Ia senang karena lingkungan kerjanya kini benar-benar nyaman.
Dulu hanya Archie yang mau bicara pada Karin, tapi sekarang tidak lagi.
Karin kembali ke mejanya lalu meletakkan minumnya. Ia lalu masuk ke dalam ruangan Kaivan untuk merapikan dan menyiapkan apa-apa saja yang biasa ia lakukan.
Karin membenahi meja kerja Kaivan dengan rapi, lalu meletakkan dokumen yang perlu tanda tangan atasannya itu.
"Biasanya pak Kaivan sudah datang, apa mungkin dia tidak masuk hari ini." Gumam Karin.
Karin keluar dari ruangan Kaivan lalu duduk di meja kerjanya. Tidak lama kemudian ponsel Karin berdering dan nama Archiena yang tertera.
"Selamat pagi, Mbak Archie. Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Karin dengan riang.
"Karin, hari ini suamiku tidak masuk. Dia sedang kurang enak badan, bisa kamu antar beberapa dokumen yang penting ke rumahku?"
"Bisa, Mbak. Nanti sekitar jam 11 aku datang ya, dan minta alamatnya." Jawab Karin.
"Baiklah, aku kirim lewat pesan."
Usai mengatakan itu, panggilan pun diputuskan. Karin harus mengantarkan dokumen penting ke rumah atasannya itu.
"Benar kan, pak Kaivan tidak masuk hari ini. Aku akan siap-siap untuk pergi ke rumahnya." Ucap Karin pelan.
Tidak, lebih tepatnya Kaivan yang memeluk Archiena terus sampai menolak untuk berangkat bekerja.
"Mas, Karin sampai harus kesini karena kamu tiba-tiba manja gini tahu nggak." Ucap Archie lalu mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"Biarkan saja, aku membayarnya untuk melakukan segala pekerjaan kantor dimana pun dan kapanpun." Sahut Kaivan dengan mata terpejam.
Archiena tergeletak. "Atasan korporat." Cibir Archiena namun malah membuat Kaivan tersenyum.
Awalnya Kaivan memang niat bekerja tadi, tapi tiba-tiba saja mama Fia kedatangan teman-temannya dan mengajak mama Fia pergi sampai sore nanti.
Kaivan tidak mau buang kesempatan. Mumpung hanya ada istrinya, paling bi Sari hanya di bawah. Kaivan ingin memanfaatkan situasi untuk berduaan dan bermanja-manja dengan istrinya.
"Tahu nggak?" Tanya Archie.
"Enggak." Jawab Kaivan langsung.
"Dengerin aku dulu, tahu nggak kalau sikap kamu yang mau memanfaatkan kesempatan mama pergi ini malah mirip kayak kita pasangan selingkuh." Ujar Archie.
"Kan bisa mesra-mesraan kapan saja, ada mama atau tidak tetap bisa. Sekarang kamu memanfaatkan situasi seakan mama mengganggu waktu kamu mau lagi manja-manja sama aku." Tambah Archie mendelik tajam.
"Sayang, sebenarnya aku juga lelah dan ingin istirahat. Suplemen vitamin aku juga habis, kamu bisa minta Aldavi untuk datang kesini." Kata Kaivan berubah seperti orang lemas.
Archie menghela nafas. Jika soal bersandiwara saja Kaivan sangat pandai. Eh tidak, semua hal Kaivan selalu pandai terutama dalam memuaskan Archie.
"Iya, aku suruh pak Aldavi datang deh." Archie lekas mengubungi nomor Aldavi untuk memintanya datang ke rumah.
Sambil Archie menelpon, sambil Kaivan tidak henti mendusel di tubuh istrinya. Tidak ada tubuh Archie yang selamat dari kecupan Kaivan yang penuh godaan itu.
Kecupan yang tidak pernah bisa Archiena tolak saking nagihnya.
"Sudah, Aldavi akan datang nanti. Dia ada operasi sebentar katanya." Ucap Archiena memberitahu.
"Baiklah, kalau gitu sekarang kita …" Kaivan menggantung ucapannya lalu menatap istrinya dengan usil.
"Nggak aneh-aneh ah mas, kan semalam sudah jatahnya. Kamu lama-lama aku gigit nih." Ancam Archie memberikan gerakan hendak menggigit tangan Kaivan.
__ADS_1
Archie tertawa, begitupula dengan Kaivan. Pasangan suami istri itu pun asik berpelukan satu sama lain.
***
Karin diantar dengan sopir kantor sampai di rumah atasannya itu. Ia langsung masuk setelah dipersilahkan oleh satpam yang berjaga.
Karin merasa kagum dengan rumah atasannya. Sangat bagus meski ukirannya minimalis.
"Mbak Archie rumahnya bagus banget, pasti dalamnya lebih bagus dan nyaman." Gumam Karin.
Karin hendak masuk, namun langkahnya terhenti ketika suara mobil memasuki garasi rumah atasannya itu.
Karin membalik badan, dan melihat Aldavi keluar dengan tatapan tajam seperti biasanya. Aldavi juga datang sepertinya.
Karin berusaha untuk tidak peduli. Ia hendak langsung masuk namun Aldavi bicara.
"Jika kamu nanti bertemu dengan ibu saya, maka katakan padanya bahwa kamu tidak siap menikah. Jangan sampai kamu berkata mau karena saya tidak mencintai kamu, Karin." Ucap Aldavi dengan suara yang tegas dan ekspresi wajah yang tenang.
Karin tidak langsung menjawab. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Saya juga tidak ingin menikah dengan anda. Anda bukan pria yang saya inginkan, dan sudah pasti saya akan bicara pada Tante Dewiya bahwa saya tidak mau menikahi anda." Balas Karin tidak kalah tenang.
"Selain itu, saya juga akan menjelaskan bahwa ini semua hanyalah salah paham. Anda dan saya tidak punya hubungan apapun." Tambah Karin lalu lekas masuk ke dalam rumah Archie dan Kaivan.
Aldavi mengepalkan tangannya. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang tidak mengenakan. Cara wanita itu bicara membuatnya selalu merasa kesal.
Aldavi menghela nafas, lalu masuk ke dalam rumah Kaivan. Ia langsung duduk dimana biasanya ia duduk.
Aldavi baru saja menyelesaikan operasinya dan langsung datang ke rumah sahabatnya itu setelah sebelumnya di hubungi oleh Archie.
Karin dan Aldavi duduk berhadapan, namun mereka berdua seperti enggan eye contact dan memilih untuk menatap ke arah lain.
Aldavi sesekali masih melirik Karin, namun tidak dengan Karin yang malah menatap rumah Archie dan Kaivan dengan decakan kagum.
"Pak Kaivan dan mbak Archie memang memiliki selera yang bagus. Mereka juga sangat cocok dalam mendesain rumah." Batin Karin sambil senyum-senyum.
Aldavi melihat Karin yang senyum-senyum hanya bisa berdecak tanpa suara. Ia malas melihatnya dan memilih untuk bermain ponsel.
Tidak lama kemudian sang tuan rumah akhirnya datang. Archie dan Kaivan sama-sama turun.
"Kalian sudah datang." Ucap Kaivan lalu duduk bersama istrinya di sofa yang ada di tengah Karin dan Aldavi.
"Bagaimana Karin, apakah susah menemukan rumah ini?" Tanya Archiena penuh perhatian.
"Nggak, Mbak. Aku kan hanya duduk, dan lagi tadi aku diantar oleh sopir kantor." Jawab Karin dengan sopan.
Kaivan mulanya bicara pada Karin dulu, baru pada Aldavi nantinya.
"Dokumen apa saja yang harus saya tanda tangani?" Tanya Kaivan pada Karin.
"Ini, Pak. Ini adalah dokumen yang perlu anda tanda tangani segera, salah satunya dokumen kerja sama dari perusahaan A." Jawab Karin memberitahu.
"Oh perusahaan yang kamu bilang masih merintis itu ya, Ma?" Tanya Archie dan Kaivan mengangguk.
Kaivan tidak pernah pilih-pilih ketika bekerja saja dengan suatu perusahaan. Perusahaan besar atau baru merintis asal bisa mendapatkan keuntungan maka bukan masalah.
"Lalu, Pak. Saya reminder terkait undangan untuk datang ke peluncuran cabang butik terbarunya bu Gita ya." Ucap Karin.
"Kami akan datang, dan kalian datanglah." Sahut Archiena.
"Kalian?" Karin dan Aldavi berujar secara bersamaan.
Aldavi dan Karin saling melirik lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa datang sendiri, Mbak." Ucap Karin.
"Nggak butuh bawa orang." Tambahnya sambil melirik Aldavi.
"Dan gue juga bisa datang sendiri, Kai. Peresmian cabang butik mertua lo kan? Oke, gue datang sendirian." Ucap Aldavi menekan kata sendirian.
Archiena dan Kaivan saling pandang. Mereka merasa lucu dengan dua orang berbeda jenis yang permasalahannya tidak habis-habis.
Karin dan Aldavi selalu saja bertengkar saat bertemu dan entah mengapa hal itu malah mengundang kelucuan bagi yang menontonnya.
"Baiklah, kalian bisa datang sendiri atau berdua. Kami akan menunggu kalian." Ucap Archiena masih dengan tawa.
Karin dan Aldavi menganggukkan kepalanya, lagi-lagi mereka saling melempar pandangan tajam lalu selanjutnya Karin memutus dan menatap ke arah Archiena.
__ADS_1
LUCU BANGET MEREKA, JADI MAU KAWININ DULU🙈🤣
Bersambung............................................