Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Perhatian istri


__ADS_3

Kabar tentang pernikahan Karin dan Aldavi sudah sampai ke telinga Archie den Kaivan. Pasangan suami istri itu antara senang dan sedih mengingat cara mereka menikah.


Terutama Archie yang begitu memikirkan perasaan Karin nantinya. Dia takut jika kebenaran yang disembunyikan malah berkibat fatal.


Kini pasangan suami istri itu sedang menikmati makan malam mereka bersama disaat si kecil Arkan sudah pulas duluan.


"Aku takut apa yang dirahasiakan sama dokter Davi dan yang lainnya bakal jadi Boomerang untuk dokter Davi sendiri, Mas." Ucap Archie ditengah ia menyuap makanan.


Kaivan menenggak air minum, dia kemudian menatap istrinya dan menganggukkan kepalanya.


"Aku setuju sama apa yang kamu bilang, bahkan aku udah mikirin akibat yang kemungkinan terjadi." Balas Kaivan.


"Tapi sayang, kita nggak bisa terlalu ikut campur. Kita cuma bisa doain mereka, khususnya Davi. Semoga aja setelah tau, Karin nggak akan terlalu murka, minimal jangan sampai cerai." Tambah Kaivan, lalu melanjutkan kembali acara makan nya.


Archie hanya menganggukkan kepalanya pelan, dia juga bingung harus berbuat apa.


Entah mengapa takdir begitu jahat kepada Karin, Aldavi dan juga mendiang Yogi.


"Habis makan langsung tidur ya, Mas. Beberapa hari ini kamu kayaknya capek banget karena Karin nggak ada." Ucap Archie sembari mengusap bahu suaminya.


Kaivan menoleh, menatap istrinya yang begitu perhatian padanya. Kaivan sangat beruntung.


"Iya, Sayang." Balas Kaivan manggut-manggut.


"Jujur aku emang kerepotan karena nggak ada sekretaris." Tambah Kaivan lalu menyuap makanan nya hingga habis.


"Dibawa ke rumah aja, Mas. Aku nanti bantu kamu, biar kamu nggak capek-capek banget." Kata Archie menyarankan.


"No, tugas kantor bukan tanggungjawab kamu. Aku mending kecapean daripada bikin istriku capek karena hal yang bukan kerjaannya." Tolak Kaivan langsung.


"Emang bukan kerjaan aku, tapi kan aku kasihan sama suami aku ini. Muka ganteng nya kecapean mulu." Ucap Archie sembari mengunyel pipi sang suami.

__ADS_1


Kaivan terkekeh. "Gemesin banget istrinya Kaivan Arsangga." Geram Kaivan.


"Bukan cuma istrinya pak Kaivan, tapi maminya Arkan. Maminya yang cantik!!" Sahut Archie begitu percaya diri.


"Emang iya?" Kaivan dengan usil bertanya, sekedar menggoda istrinya.


Archie tidak menjawab, dia malah mencium pipi suaminya dengan cepat.


"Iyalah!" Jawab Archie sewot.


Selesai makan malam, Kaivan pun langsung tidur seperti ucapan istrinya. Dia tidak mau membuat istrinya itu semakin khawatir.


Archie pun langsung naik ke atas ranjang setelah menanggalkan jubah baju tidur satin yang ia gunakan.


Kaivan sangat menyukai ketika Archie memakai baju berbahan satin, karena membentuk tubuh Archie.


"Selamat malam, maminya Arkan." Ucap Kaivan lalu mencium puncak kepala istrinya.


Sementara itu di tempat lain. Sepasang tunangan sedang mampir ke salah satu restoran untuk makan malam bersama.


Sepasang tunangan itu tidak berdua saja, tapi ada di kecil Calista yang ikut menikmati malam dengan papa dan calon mamanya.


"Kamu tahu Karin kan? Yang tunangannya meninggal karena kecelakaan?" Tanya Adinda tiba-tiba.


"Tahu, Sayang. Kenapa?" Zayn balik bertanya.


Adinda tidak langsung menjawab, dia membantu Calista untuk minum karena tangan bocah cantik itu kotor.


Zayn tersenyum melihat Arinda yang begitu perhatian pada putri kecilnya.


"Bulan depan dia nikah, sama dokter Davi." Jawab Adinda setelah selesai mengurus Calista.

__ADS_1


Zayn menghela nafas. "Kasihan sebenernya, tapi mau gimana lagi? Takdir yang ditentukan Tuhan mungkin memang begini." Sahut Zayn.


Zayn mengusap punggung tangan calon istrinya.


"Jangan terlalu dipikirin, saya tau kamu udah banyak pikiran tentang pernikahan." Kata Zayn menasehati.


"Iya, Mas …" balas Adinda manggut-manggut.


"Mama, aku mau ice cream." Calista berujar sembari menunjuk gambar ice cream.


Adinda begitu terharu mendengar panggilan Calista untuknya. Sebelumnya mereka memang sudah dekat, namun baru sekarang Calista memanggilnya 'mama'.


Adinda tidak pernah menyangka bahwa Tuhan akan memberinya kesempatan untuk dipanggil 'mama' oleh seorang anak.


Zayn tahu apa yang dirasakan oleh Adinda, dia lantas mengusap kepala wanita itu dengan lembut.


"Makasih ya, Mas. Berkat kamu, aku jadi bisa ngerasain dipanggil mama." Ucap Adinda pelan.


Zayn tersenyum tipis. "Sama-sama, yaudah saya beliin ice cream dulu ya. Kamu mau nggak?" Tanya Zayn.


"Boleh, tapi yang rasa manisnya kaya kamu ya, Mas." Jawab Adinda, ia berkata untuk sekedar bercanda.


"Nggak ada, Sayang. Rasa manis saya cuma dimiliki kamu, di ice cream nggak ada." Balas Zayn, membuat Adinda terkekeh.


Zayn pun akhirnya pergi, meninggalkan Adinda dan Calista berdua.


Adinda memegang tangan Calista, anak cantik bermata bulat dan besar itu menatapnya dengan imut.


"Makasih ya, Cantik. Mama suka panggilan kamu." Kata Adinda dengan lembut.


SENENG DINDA UDAH BAHAGIA, TINGGAL KARIN YA GUYS ☹️

__ADS_1


Bersambung ........................................


__ADS_2