Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Keyakinan mama Dewiya


__ADS_3

Aldavi terdiam di ruangannya sambil menatap lurus ke depan. Saat ini pasiennya masih belum sadarkan diri dan itu membuat Aldavi cukup khawatir.


Pasiennya tentu saja Karin. Ia sedang menantikan kesadaran Karin setelah menyelamatkan nyawa ibunya.


Aldavi menghela nafas. Ia mengingat tentang Karin yang jalan kaki demi bisa menemui ibunya, dan saat sampai hal tidak terduga malah terjadi.


Kebakaran, dan Karin menyelamatkan ibunya dari kebakaran itu. Aldavi benar-benar tidak menyangka jika Karin akan melakukan ini.


"Apa yang gadis itu inginkan sampai-sampai memilih untuk menyelamatkan ibuku. Dia bahkan rela masuk ke dalam api." Gumam Aldavi.


Aldavi memegangi kepalanya, ia menatap ke langit-langit ruangannya dengan tubuh yang bersandar di kursi kerjanya.


Kaivan tambah pusing. Penyelamatan Karin hari ini membuat sang mama semakin yakin untuk menjadikan gadis itu sebagai menantu keluarga nya.


Aldavi semakin sulit untuk mengelak karena kenyataannya Karin memang gadis yang baik dan penuh kepedulian meski terkadang sikapnya menyebalkan.


"Mama nggak mau tahu, kamu harus menemui keluarga Karin dan mengatakan bahwa kamu ingin menikahinya." Ucap mama Dewiya dengan tegas.


"Bagaimana bisa, Ma. Aku tidak mungkin memaksanya untuk menikah." Sahut Aldavi menolak.


Aldavi mengatur nafasnya, lalu menatap ke arah lain. Ia bingung harus bagaimana saat ini karena sang mama benar-benar ia ingin dirinya menikah.


"Ma, katakanlah aku mau menikahi Karin tapi bagaimana dengan Karin? Bagaimana jika dia menolak? Apa aku harus memaksanya?" Tanya Aldavi dengan nada resah.


"Itu tugas kamu untuk menyakinkan Karin, Kevin. Mama yakin dia akan mau jika kamu menunjukkan keseriusan padanya." Jawab mama Dewiya.


Mama Dewiya memegang tangan Aldavi, lalu mengusapnya dengan gerakan penutup kelembutan.


"Mama cuma mau Karin yang menikah sama kamu, mama nggak mau orang lain." Ucap mama Dewiya lagi.


"Bagaimana jika keluarganya tidak merestui, Ma? Ini semua terlalu tiba-tiba." Kata Aldavi lagi.


Mama Dewiya menghela nafas. "Baiklah, mama kasih waktu sama kamu selama 3 bulan. Buat Karin dan keluarganya menerima kamu dan kalian akan menikah." Kata mama Dewiya dengan tegas.


Mengingat itu, kepala Kaivan rasanya semakin sakit. Ia harus bisa mencintai Karin dan membuat Karin mencintainya dalam waktu 3 bulan saja.


Aldavi bukan orang yang pandai menggombal atau melontarkan kalimat manis, tidak akan ada gadis yang mau dengannya.


Aldavi tipe pria yang apa adanya dan jarang memuji. Bukan karena tidak suka, namun menurutnya kecantikan pasangan itu tidak perlu dipuji tapi disimpan dalam memori sebagai pengingat untuk terus menjadi pria setia.


"Aku tidak bisa, aku tidak bisa. Aku tidak akan bisa membuat Karin mencintaiku." Gumam Aldavi dengan bingung.


Aldavi bangkit dari duduknya, ia kemudian melangkah mendekati jendela rumah sakit dan menatap langit malam yang cerah hari itu.


"Apa yang harus aku lakukan. Selama ini hubunganku dan Karin terkesan tidak baik. Kami selalu saja bertengkar, mana mungkin dia mencintaiku." Gumam Aldavi.


Aldavi mengusap wajahnya kasar. Pria itu membuka jas dokternya, lalu memilih untuk masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya.


Sementara itu di tempat lain. Archie dan Kaivan dalam perjalanan pulang setelah dari rumah sakit.


Mereka bisa mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana ngototnya ibu Aldavi ingin menjadikan Karin sebagai menantunya. Aldavi sampai tidak bisa berkutik akan permintaan ibunya itu.

__ADS_1


"Mas, mungkin mama nya pak Aldavi sudah mencari tahu tentang Karin makanya dia sangat ingin Karin menjadi menantu nya." Ucap Archie sembari menatap suaminya.


"Mungkin saja, Sayang. Lagipula kata kamu Karin itu memang baik kan, jadi bisa saja ibunya Aldavi memiliki pemikiran yang sama dengan kamu." Sahut Kaivan dengan bahu yang terangkat.


Archie manggut-manggut. "Iya, Karin itu memang baik. Dia juga gadis penuh semangat dan pekerja keras. Dia bisa jadi istri yang baik, aku yakin itu." Kata Archie dengan yakin.


"Mungkin Aldavi menerima permintaan mamanya, tapi bagaimana dengan Karin? Kamu tahu kan hubungannya dengan Aldavi selalu saja buruk. Mereka terus bertengkar." Ujar Kaivan tiba-tiba.


"Aku memikirkan hal yang sama dengan kamu, Mas. Bagaimana jika Karin menolak menikah dengan Aldavi." Sahut Archie yang juga memikirkan hal yang sama dengan suaminya.


"Kamu sangat mengenal Karin, dan aku sangat mengenal Davi. Menurutku Davi itu bisa menjadi suami yang baik." Ujar Kaivan.


"Davi memang ketus dan asal-asalan saat bicara, namun dia adalah pria yang baik dan punya perhatian besar." Tambah Kaivan.


Archie menggandeng tangan suaminya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Kepala Archie manggut-manggut.


"Jika kamu yang bicara, maka aku percaya, Mas." Sahut Archie lalu mencium bahu suaminya.


Kaivan balas dengan mencium puncak kepala istrinya, lalu kembali fokus menyetir agar mereka bisa cepat sampai di rumah.


Setelah sampai di rumah nanti, Kaivan dan Archie tidak masuk. Mereka pulang hanya untuk menjemput mama Fia karena mereka akan ke rumah papa Jefry.


Mama Fia ingin menjenguk mantan suaminya serta Risa juga. Sudah mama Fia katakan jika dia akan tetap menjaga hubungan diantara mereka.


Mama Fia tidak mau hubungan mereka rusak hanya karena mereka telah bercerai.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah dan mama Fia langsung masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana keadaan sekretaris kamu, Kai?" Tanya mama Fia saat masuk ke dalam mobil.


"Kamu sangat kenal dengannya ya, Sayang?" Tanya mama Fia pada menantunya.


"Iya, Ma. Aku cukup kenal dan cukup dekat dengan Karin, aku bahkan sudah menganggapnya sebagai adikku, sama seperti aku pada Adinda." Jawab Archie menganggukkan kepalanya.


Archie bisa tahu dia yang diajak bicara hanya dengan mendengar panggilan dari mama Fia.


Perbedaan panggilannya adalah saat saat mama Fia memanggil Kaivan maka dia hanya menyebut namanya, sedangkan saat memanggil Archie maka dia akan memanggil dengan sebutan sayang.


Hal itulah yang menjadi alasan mengapa Kaivan seringkali iri dengan istrinya. Sejak ada Archie, Kaivan seperti menantu dan Archie lah yang putrinya.


Mereka pun sampai di rumah papa Jefry. Ketika mereka sampai, ternyata papa Jefry, Aditya dan Risa sudah menunggu di depan pintu.


"Selamat malam dan selamat datang." Ucap papa Jefry pada mereka bertiga.


Kaivan mencium punggung tangan papa Jefry dan Risa bergantian, begitu juga dengan Archie. Ia melakukannya dengan penuh rasa hormat dan sopan.


"Archie ya." Ucap Risa sembari meraba dan mengusap rambut Archiena.


"Iya, Tante. Ini aku Archie." Balas Archie dengan lembut.


"Bagaimana kabar kandunganmu?" Tanya Risa sembari meraba untuk mengusap perut Archie.

__ADS_1


Archie memegang tangan Risa lalu membawanya untuk memegang perutnya yang besar.


"Dia baik, Tante. Dia juga semakin aktif." Jawab Archiena.


Risa tampak tersenyum mendengar penjelasan dari Archie. Dulu dia hampir punya cucu, tapi sayang Adinda keguguran bahkan sekarang dia juga tidak punya menantu.


"Ayo silahkan masuk, ibu hamil seperti Archie tidak baik terlalu lama kena angin malam." Tutur Aditya mempersilahkan.


Kaivan berdehem, ia merengkuh pinggang istrinya lalu mengajaknya untuk masuk, sementara kursi roda Risa di dorong oleh Aditya.


Mereka semua berkumpul di ruang tamu dan berbincang ringan untuk sekedar mengisi waktu.


Mama Fia tidak lupa memberikan kue dan buah-buahan untuk mereka. Mama Fia memang begitu peduli.


"Terima kasih banyak ya, Fia. Kamu masih saja perhatian pada kami." Ucap papa Jefry dengan penuh senyuman.


"Sama-sama, lagipula Risa dan Aditya tetap anak dan cucuku, Jef." Balas mama Fia.


"Archie, kau sudah tidak bekerja lagi?" Tanya Aditya pada mantan pacarnya.


Archie hendak menjawab, namun belum sempat kalimatnya keluar, Kaivan sudah duluan bicara.


"Ya Aditya, Archie sudah tidak bekerja lagi karena kehamilannya. Dia cukup di rumah saja." Jawab Kaivan memberitahu.


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Tanya Kaivan balik.


Aditya terdiam, ia tersenyum canggung lalu menggelengkan kepalanya. Ia tahu jika om nya itu cemburu meski dirinya hanya sekedar bertanya pada Archie.


"Bagaimana kabarmu, Dit? Pengobatannya lancar?" Tanya Archie. Jika Aditya tidak boleh nanya, maka Archie yang nanya.


"Aku baik, Chie. Pengobatan ku juga lancar." Jawab Aditya tersenyum lebar.


Archie tidak bermaksud untuk memanasi suaminya atau melawan, ia hanya tidak mau Aditya merasa canggung. Dan lagi, Aditya hanya sekedar bertanya saja.


Kaivan memegang tangan istrinya, membuat Archie menoleh.


"Apa sayang?" Tanya Archiena lembut.


Kaivan yang tadi menekuk wajahnya seketika berubah penuh senyuman mendengar panggilan istrinya.


Archie memang paling tahu cara meluluhkan hati seorang Kaivan yang cemburuan itu.


"Bisa banget kalau soal godain suaminya." Bisik Kaivan, membuat Archiena tersenyum.


Aditya melihat dan mendengar itu, ia hanya bisa tersenyum tipis melihat mantan kekasihnya yang sudah hidup bahagia dengan om nya.


Pernikahan mereka terjadi secara tiba-tiba dan tanpa cinta, namun justru pernikahan seperti itulah yang langgeng sampai hari ini.


Sedangkan pernikahannya dengan Adinda, yang juga tiba-tiba namun di dasari atas cinta malah hancur dalam waktu sekejap.


Aditya teringat ucapannya yang sempat menghina keduanya. Dalam ucapannya itu, Aditya ingat jika dia berkata bahwa pernikahan Kaivan dan Archiena tidak akan langgeng padahal kenyataannya pernikahan itu malah sangat romantis.

__ADS_1


Sekarang Aditya mengerti kata pepatah tentang ucapan adalah doa, namun doa yang berbalik arah padanya.


Bersambung...................................


__ADS_2