
Aldavi pergi dari tempat acara pertunangan Adinda dan Zayn dengan perasaan frustasi. Pria itu pun pergi ke club untuk menghilangkan rasa sakit hatinya.
Disana Aldavi benar-benar minum, dia bahkan sampai mabuk dan hampir kehilangan kesadarannya.
Selama ini Aldavi anti dengan minuman keras, karena dia tahu itu berbahaya bagi kesehatan. Hari ini pertama kalinya, dan itu semua karena cintanya kandas bersama Karin.
"Kenapa, Rin. Kenapa sakit sekali, sungguh! Aku menyesal, Rin. Sangat menyesal telah menyia-nyiakanmu." Rancau Aldavi sembari memukuli dadanya sendiri.
Melihat Karin bermesraan dengan tunangannya membuat Aldavi merasa sesak, dan memilih untuk pergi.
Setelah puas mabuk, Davi pun memutuskan untuk pulang. Dia berjanji akan melupakan dan mengikhlaskan Karin dengan Yogi.
Ketika mengendarai mobil, kesadarannya begitu tipis. Dia masih ingat dan berusaha mengendalikan mobilnya namun tidak berhasil.
Mobilnya melaju ugal-ugalan dan menabrak mobil lain. Aldavi melihat itu dengan jelas, termasuk penumpang di mobil itu.
"Karin!!!!" Teriak Aldavi bangun dari tidurnya.
"Aldavi, Nak!! Akhirnya kamu sadar, hiks …" mama Dewiya mendekat dan langsung memeluk putranya.
Aldavi bingung. Dia menatap sang mama, lalu ruangan sekitar yang dominan warna putih.
"Ma … Karin, dimana Karin?" Aldavi bertanya dengan histeris, menatap ke kanan dan kiri.
"Karin apa? Kamu kecelakaan semalam Davi. Kamu mabuk!!" Ucap mama Dewiya dengan tegas.
Aldavi menatap sang mama dengan mata berkaca-kaca, dia kemudian menggenggam tangan mama Dewiya.
"Ma, aku mabuk dan mengemudi. Aku yang menyebabkan kecelakaan itu." Ujar Aldavi lagi dengan sedikit gugup.
"Maksud kamu apa, Davi?" Tanya mama Dewiya mengerutkan keningnya.
"Karin dan tunangannya. Mereka berada di kecelakaan yang sama denganku, aku penyebab kecelakaan itu." Jawab Aldavi kemudian menundukkan kepalanya.
Mama Dewiya terdiam syok, dia melepaskan genggaman tangan putranya lalu mundur menjauhi putranya.
__ADS_1
"Karin dan tunangannya korban kecelakaan beruntun yang kamu buat, Davi?" Tanya mama Dewiya.
"Aku takut, Ma. Aku ingin melihat keadaan Karin, dia pasti baik-baik saja kan?" Tanya Aldavi balik dengan penuh harapan.
Ditengah kegelisahan Aldavi dan keterkejutan mama Dewiya, papa Firman datang dengan tergesa-gesa.
"Ma, kecelakaan itu merenggut nyawa." Ucap papa Firman.
Seketika wajah Aldavi semakin tegang. Pria itu langsung melepas selang infus dan turun dari brankar.
"Davi, kamu mau kemana!!" Tegur mama Dewiya.
Aldavi tidak menyahut, dia tetap keluar dan berlari di tengah rasa sakitnya. Aldavi ingin melihat keadaan Karin dan tunangannya.
"Suster, dimana pasien kecelakaan semalam?" Tanya Aldavi dengan nafas tersengal-sengal.
"Yang satu masih dalam perawatan intensif, Dok. Sedangkan yang satunya sudah di bawa ke kamar jenazah." Jawab suster itu menjelaskan.
Tanpa banyak bicara, Aldavi kembali melangkah menuju kamar jenazah. Dia khawatir, bahkan sampai menangis bersama langkahnya yang kian mendekat.
Tangan Aldavi gemetaran untuk sekedar membuka kain penutup mayat itu. Ketika dibuka, Aldavi terkejut bukan main bahkan sampai mundur menjauhi.
"Davi!" Mama Dewiya dan papa Firman datang.
"Ma, Pa. Apa yang sudah aku lakukan!!" Aldavi berujar lirih sembari menunjuk ke arah mayat di depannya.
Mama Dewiya dan papa Firman ikut melihat, mereka tidak mengenal pria itu namun keduanya langsung mengerti jika pria itu adalah tunangan Karin.
"Ma, aku sudah membuat tunangan Karin tiada. Karin akan membenciku, Ma. Dia akan membenciku!!" Aldavi histeris dalam pelukan ibunya.
"Davi, tenanglah …" bisik mama Dewiya sembari mengusap punggung putranya.
"A-aku harus bertanggung jawab, Ma. Kita harus memberitahu keluarganya, aku siap bertanggung jawab." Ucap Aldavi seraya menyeka air matanya.
"Keluarga korban kecelakaan ini sudah dalam perjalanan, Davi. Mungkin termasuk keluarga Karin juga." Papa Firman menyahut.
__ADS_1
***
Aldavi bersimpuh di hadapan Karin yang masih belum sadarkan diri. Pria itu menangis penuh penyesalan akan semua yang telah terjadi.
Diruangan itu, bukan hanya ada Karin dan Aldavi, melainkan ada keluarga Karin juga.
"Kamu pembunuh! Kamu menghancurkan kebahagiaan anak saya!!" Ibu Karin berujar penuh rasa marah.
"Saya benar-benar minta maaf, Tante. Saya juga tidak menginginkan ini semua, saya menyesal." Aldavi menundukkan kepalanya, tak berani menatap ibunya Karin.
"Karin kehilangan tunangannya, dan orang tuanya kehilangan putranya. Kamu benar-benar keterlaluan!" Lagi, ibu Karin kembali membentak.
"Ma, kita bicara diluar aja ya." Adik Karin bicara, dan mengajak mereka untuk berbicara diluar.
Ibu dan adik Karin keluar duluan, sedangkan Aldavi diam sebentar seraya menatap gadis yang teramat dicintainya itu.
"Karin, tolong maafkan aku." Lirih Aldavi kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Karin.
Ketika Aldavi keluar, tampak keluarga Karin, keluarga Yogi dan keluarganya sudah menunggu.
"Pembunuh!!" Ibunya Yogi hendak memukul Davi, namun buru-buru di tahan oleh suaminya.
"Kamu membuatku kehilangan putraku, kamu harus dihukum!" Ucap ibunya Yogi lagi dengan lantang.
"Saya pasti akan bertanggung jawab, saya akan menyerahkan diri saya." Balas Aldavi tanpa ragu.
"Kamu harus dihukum berat, kamu harus merasakan sakit dan sedih seperti yang Karin apalagi Yogi rasakan." Ibunya Karin berujar dengan penuh amarah.
Sementara orang tua Aldavi hanya bisa diam. Mama Dewiya sudah menangis, dia tidak kuat membayangkan nasib putranya jika masuk penjara.
"Davi …" mama Dewiya memanggil lirih.
"Maafin aku, Ma. Tolong maafin aku," ucap Aldavi penuh air mata.
DAVI BAKAL DI PENJARA? TERUS KARIN GIMANA??
__ADS_1
Bersambung..................................