
...༻✿༺...
Menyadari tim regu penyelamat telah tiba, Bella segera mengenakan topi dan masker. Kebetulan dia selalu membawanya di dalam tas selempang. Berjaga-jaga kalau dirinya tidak sengaja menemui keadaan terdesak.
"Kau siapa?" Oliver berhenti menangis. Tepat saat Bella hendak beranjak.
"Red Rose, cari aku jika kau merasa depresi berat seperti tadi," ujar Bella. Lalu segera pergi bersama Cecil. Kini keadaan Oliver ditangani oleh regu penyelamat.
"Hei, tunggu!" salah satu regu penyelamat mencoba memanggil. Namun Bella sama sekali tidak menggubris. Gadis itu terus melangkah laju di dampingi oleh Cecil.
Bella menghela nafas berat ketika berada di dalam lift. Dia terdiam cukup lama hingga membuat Cecil khawatir.
"Bella, kau baik-baik saja?" tanya Cecil.
"Aku hanya ingin bertemu David setelah ini," jawab Bella yang langsung direspon Cecil dengan anggukan kepala. Mereka secepatnya keluar dari gedung. Kemudian meninggalkan lokasi bazar.
Sementara itu, Ben merasa lega ketika mendengar Oliver tidak jadi bunuh diri. Dia bahkan dapat melihat dari kejauhan sosok Oliver yang tampak muram.
Ben ingin melakukan sesuatu untuk membantu. Meskipun hal kecil seperti menanyakan 'Apa kau baik-baik saja?' atau kalau perlu meminta maaf. Namun tidak ada pergerakan sama sekali dari Ben. Pria itu masih mematung di tempat. Enggan mewujudkan apa yang di inginkan hati kecilnya.
"Robert, selesailkan acaranya untukku!" perintah Ben sembari turun dari panggung. Ia tidak sanggup untuk meneruskan acara pengesahan. Entah kenapa Ben merasa sedikit tertekan.
"Tapi--" Robert yang diberi tanggung jawab oleh Ben, tidak tahu harus berbuat apa. Ben pergi begitu saja dengan mengendarai mobil. Parahnya dia tak sengaja menabrak kubangan es di pinggir jalan. Menyebabkan seseorang harus kena cipratan air dingin dan kotor tersebut.
"Oh my god!" gumam gadis yang tidak lain adalah Bella. Entah karena sial atau apa, dia selalu menerima nasib buruk akibat perbuatan Ben.
Pakaian Bella sekarang kotor. Gadis itu hanya bisa meringis sambil mengibaskan rambut yang agak basah. Bella berdiam di tempat sejenak.
Cecil kebetulan tengah sibuk membeli sesuatu. Ia tidak tahu kejadian apa yang sudah menimpa Bella. Padahal posisi toko yang Cecil masuki tidak begitu jauh.
Saat Bella sibuk bergumul dengan pakaiannya yang telah basah, dari kejauhan terlihat mobil berjalan mundur. Warna dan jenis mobil tersebut membuat Bella memicingkan mata.
__ADS_1
Setelah diperhatikan baik-baik, Bella menyadari satu hal. Bahwasanya mobil yang mendekat merupakan mobil yang menyebabkan pakaiannya jadi basah. Gadis itu tambah terkejut ketika mengetahui pemiliknya adalah Ben.
"Kau!" geram Bella sambil menggertakkan gigi. Dia ingin sekali memarahi habis-habisan. Tetapi mengingat Ben memiliki penyakit mental yang cukup parah, Bella memilih bersabar.
Ben menampakkan raut wajah berbeda dari biasanya. Ia tampak muram. Garis-garis di dahinya tidak menunjukkan adanya kemarahan atau ketegasan, namun lebih cenderung kesedihan.
"Aku membutuhkanmu, Dokter. Masuklah! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Ben menuturkan dengan ekspresi serius.
"Ikut? Denganmu? Sekarang?" Bella sedikit menggeleng. Dia sebenarnya harus menemui David secepat mungkin. Kebetulan jam Emilia untuk menjaga ayahnya sebentar lagi berakhir.
"Benar. Masuklah, Dokter Red!" desak Ben. Menatap Bella yang tidak kunjung beranjak.
"Maafkan aku, Ben. Aku tidak bisa pergi sekarang. Aku harus menjemput ayahku," ujar Bella seraya melangkah maju. Berniat menyusul Cecil masuk ke toko.
Ben tidak membiarkan. Dia bergegas keluar dari mobil dan mengikuti. Tangannya dengan cepat meraih pundak Bella.
Bella sontak kaget. Ia tidak menyangka Ben nekat mengekorinya. Ternyata selain arogan, pria itu juga keras kepala.
"Ini penting. Nanti aku akan mengantarkanmu pulang," sahut Ben.
"Tidak! Aku tidak bisa. Jika aku terlambat menjemput ayah--" belum sempat Bella selesai bicara, Ben tiba-tiba mencengkeram tangannya. Lalu dipaksa masuk ke dalam mobil.
Agar Bella tidak pergi, Ben sengaja memasangkan sabuk pengaman terlebih dahulu. Selanjutnya, dia cepat-cepat duduk ke kursi kemudi. Mengunci mobil, dan menjalankannya ke jalur transportasi utama.
"What the fu*ck! Kau sekarang Ben atau Lucky? Jujur aku tidak bisa membedakannya lagi!" keluh Bella yang tak bisa berbuat apa-apa. Dia terpaksa ikut dengan Ben.
"Ben..." Ben hanya menjawab singkat. Dia lebih fokus mengemudikan mobil.
Bella berdecak kesal. Ia lantas menghubungi Cecil. Memberitahu kalau dirinya sedang pergi bersama Ben. Bella juga tidak lupa meminta bantuan Cecil untuk menjemput ayahnya.
...'Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menjemput David dan membawanya ke bar. Berhati-hatilah, Bella. Jika terjadi apa-apa, beritahu aku. Kita tahu betapa berbahayanya Lucky.'...
__ADS_1
Begitulah bunyi pesan balasan dari Cecil. Kini Bella merasa lega. Setidaknya dia tidak akan kena marah Emilia.
Di sepanjang perjalanan Ben terus saja diam. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Dia memang tidak bisa ditebak. Meskipun begitu, Bella dapat menangkap adanya kegelisahan di wajah Ben.
"Bisakah beritahu aku, kemana tujuan kita sekarang?" tanya Bella.
"Aku ingin memberitahumu tentang masa laluku. Mungkin saja lewat hal itu kau bisa membantuku mencari cara untuk membunuh Lucky," jawab Ben. Berbicara tanpa menoleh ke arah gadis yang duduk di sampingnya.
"Baiklah..." Bella mengangguk setuju.
Tidak lama kemudian, Ben mengarahkan mobilnya memasuki komplek perumahan. Dia menghentikan mobil di depan sebuah rumah kosong.
Ben keluar dari mobil lebih dulu. Di ikuti oleh Bella seterusnya. Mereka berjalan beriringan memasuki rumah yang kemungkinan juga milik Ben.
"Bukankah ini rumah hantu yang terkenal itu? Scary House? Benar bukan?" seru Bella yang merasa tidak asing dengan penampakan rumah di depan mata. Kepalanya celingak-celingukan ke segala arah. Akan tetapi Ben lagi-lagi hanya membisu. Tidak menanggapi pertanyaan Bella dengan satu patah kata pun.
Ceklek...
Ben membuka pintu dengan pelan. Dia memimpin jalan untuk Bella. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena baru beberapa langkah berjalan, dia tiba-tiba berhenti.
Bella yang heran, perlahan memposisikan diri ke sebelah Ben. Dia menduga, Ben pasti mengingat sesuatu dalam kepalanya.
"Apa rumah ini adalah tempat insiden yang pernah kau bicarakan?" Bella kembali bertanya. Untungnya kali ini Ben merespon. Walau hanya dengan satu anggukan.
"Ini rumah masa kecilku. Awal mula dari segalanya. Tapi aku terlalu banyak melupakan hal penting..." ungkap Ben. Dia masih berdiri di tempat. Enggan menjelajah lebih dalam. Ben justru menekan-nekan jidatnya. Seakan sedang merasa pusing.
"Benarkah? Bisakah kau tunjukkan tempat penting yang bisa memicu ingatanmu?" Bella sudah melangkah masuk lebih dulu.
"Aku tidak bisa. Menjelajahlah sendiri. Aku yakin kau akan menemukan sesuatu," ujar Ben sambil berbalik badan. Lalu keluar dari rumah lebih dahulu. Dia kemungkinan akan menunggu di teras.
Untuk yang kesekian kalinya Bella tercengang akan sikap Ben. Sudah memaksanya untuk ikut, kini dibiarkan mencari tahu sendiri di rumah yang terkenal angker. 'Pria itu luar biasa menyebalkan!' itulah hal yang terlintas dalam benak Bella.
__ADS_1