
...༻✿༺...
Bella sudah tidak tahan. Sebagai orang yang memiliki hati nurani, dia ingin membantu Stacy. Tanpa pikir panjang, Bella menghampiri jasad Stacy. Lalu memeriksa urat nadinya.
"Dokter! Jangan lakukan itu!" tegur Lucky dengan dahi berkerut.
Bella sama sekali tidak hirau. Dia tetap bersikeras. Namun dia mendengus kecewa saat mengetahui Stacy benar-benar sudah meninggal.
"Menjauhlah dari sana!" sekali lagi Lucky memekik. Bella lantas terpaksa menurut.
Setelah mengenakan pakaian lengkap, Lucky mengajak Bella untuk ikut dengannya. Seperti biasa, Lucky selalu meminta jemputan dari rekan-rekannya.
"Apa kau akan membawaku naik motor lagi?" Bella memastikan. Dia sangat benci naik motor.
"Iya, bukankah rasanya nyaman? Bisa kena hembusan angin asli," ujar Lucky seraya memasukkan tangan ke saku jaket.
"Angin? Di musim dingin. Aku tidak tertarik!" bantah Bella. Bahunya menggedik.
"Kau akan tertarik setelah aku menunjukkan duniaku. Penuh tantangan dan pertumpahan darah." Lucky berjalan lebih dulu menuju pintu. Lagi-lagi dia meninggalkan jasad manusia tak berdaya begitu saja.
Bella yang tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa mengikuti Lucky dari belakang. Dia sebenarnya ragu untuk ikut. Takut kalau Lucky akan mengurungnya seperti tempo hari. Tetapi Bella tahu betul kalau dirinya nekat kabur, maka resiko yang akan diberikan Lucky mungkin akan lebih parah.
Selang sekian menit, rekan-rekan Lucky berdatangan. Mereka menatap kesal kepada Lucky. Perlakuan Ben terakhir kali membuat mereka marah.
"Setelah sekian lama, baru sekarang kau muncul?! Berani sekali kau berlagak tidak mengenal kami kemarin!" timpal Liam sembari berjalan ke hadapan Lucky.
"Apa maksudmu?!" Lucky yang tidak tahu apa-apa, tentu tidak mengerti.
"Kami mendatangimu ke perusahaan! Tapi kami berhasil mengetahui satu hal saat itu..." Sean ikut masuk ke dalam pembicaraan.
__ADS_1
Lucky mulai dirundung perasaan gelisah. Dia tidak mau teman-temannya tahu kalau dirinya hanya kepribadian bayangan. Alias sosok yang tercipta karena trauma Ben.
"Ternyata kau memang memiliki kembaran. Kenapa kau tidak pernah cerita sebelumnya? Kau membuat kami malu," sambung Sean. Membuat Lucky otomatis bernafas lega.
"Maaf, aku sudah lama tidak melakukan kontak dengannya. Kami kembar, tapi hubungan kami tidak sedekat anak kembar lainnya." Lucky menjelaskan asal.
Bella memutar bola mata malas. Seandainya dia Sean, Bella tidak akan mempercayai Lucky. Di dunia ini mana ada anak kembar yang tidak dekat. Justru secara psikologis mereka selalu saling terhubung. Sebagai seorang dokter, Bella tahu itu.
"Oke, kami akan terima alasanmu." Sean mengangguk sambil menatap semua rekannya. Mereka sependapat untuk memaafkan Lucky.
"Saat kau tidak ada, kami berusaha mencari markas baru. Sekarang markas kita berada di gedung bagian barat kota Manhattan," kata Liam seraya duduk ke atas motornya.
"Apa kalian sudah melakukan serangan balasan?" tanya Lucky. Dia menangkap kunci yang dilempar oleh Sean. Kemudian menaiki sepeda motor yang dibawakan oleh salah satu rekannya.
"Kau tahu kami tidak akan bisa melakukannya tanpamu. Lagi pula lawan kita terlalu kuat," tanggap Liam.
"Kalau begitu, kita lakukan sekarang. The Skull punya tempat rahasia di Manhattan bukan?" Lucky memainkan gas motor. Lalu menatap lurus ke arah Bella. Seakan memberikan kode agar gadis itu bisa secepatnya naik ke belakang.
Tidak lama kemudian, Lucky singgah di depan mini market. Ia menyuruh Bella menunggu di sana.
"Dokter, demi keselamatan, aku sarankan kau menunggu di sini. Aku akan kembali dan memperlihatkan siapa jati diriku kepadamu!" Lucky bertekad. Lalu melingus pergi menggunakan motor.
Bella membuang nafas berat. Dia duduk di sebuah bangku panjang. Kemudian bermain dengan ponsel. Bella sangat heran kenapa Lucky mau melakukan sesuatu yang tidak perlu dilakukan. Apalagi sampai membunuh banyak orang. Jika dia terus-terusan melakukan pembunuhan, maka suatu hari nanti Ben bisa terkena imbasnya.
"Aku harus mendekati Lucky. Itu satu-satunya cara agar dia bisa diajak bicara baik-baik," gumam Bella. Mencoba menyusun rencana baru.
Bella menunggu sekitar satu jam lamanya. Tiba-tiba dia melihat salah satu rekan Lucky menghentikan motor di depannya. Lelaki itu terlihat panik. Menyebabkan Bella bangkit dari tempat duduk.
"Kami berhasil mengalahkan lawan, tapi banyak anggota The Dark Place yang terluka. Termasuk Lucky!" ujar lelaki yang bernama Will tersebut.
__ADS_1
"Benarkah? Apa perlu aku panggilkan ambulan?" tawar Bella yang sudah siap menghubungi nomor panggilan darurat.
"Tidak! Itu malah akan menambah masalah. Kau dokter! Kata Lucky kau bisa membantu." Will memaksa. Dia menyuruh Bella untuk ikut bersamanya.
"Tapi aku bukan dokter yang kau maksud. Aku tidak memiliki lisensi untuk--".
"Sudahlah Dokter, jangan banyak bicara. Sekarang keadaan Lucky dan yang lain sedang memprihatinkan." Will sengaja memotong ucapan Bella. Dia menyuruh gadis itu untuk secepatnya naik ke motor. Akan tetapi Bella harus meminta waktu untuk membeli obat-obatan serta perban. Seterusnya, mereka langsung melaju menuju lokasi dimana Lucky dan yang lain berada.
Bella dan Will sampai di tempat tujuan. Tempatnya sendiri berupa gedung terbengkalai yang belum jadi. Di sana ada beberapa jasad musuh Lucky yang berlinang darah.
Bella membekap mulutnya sendiri. Dia dibuat kaget untuk yang sekian kalinya. Apakah Lucky memang sering melakukan hal tersebut sedari dulu? Jika iya, mungkin sudah banyak nyawa manusia yang berjatuhan.
Puluhan rekan Lucky tampak merintih kesakitan. Ada sekitar sepuluh orang lebih yang terluka. Lucky sendiri tampak menahan rasa sakit di kakinya.
"Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kalian berkelahi tanpa sebab begini?" tanya Bella dengan kening yang mengernyit.
"Beginilah cara kami mendapatkan uang, Dokter. Apa itu sudah jelas? Sebaiknya kau obati saja orang-orang yang terluka," sahut Will yang cemas dengan keadaan semua rekannya.
Bella mendengus kasar. Dia membuang egonya terlebih dahulu. Lalu menangani orang yang terluka paling parah untuk diobati. Bella menggunakan pengobatan seadanya saja. Lagi pula dia bukanlah dokter yang mengobati luka fisik. Tidak seharusnya Bella melakukan hal tersebut. Meskipun begitu dia akan berusaha semampunya.
Dengan perhatian dan kelembutan, Bella mengobati satu per satu anggota The Dark Place yang terluka.
Bella mengoleskan obat ke luka yang ada di dada Liam. Lalu menempelkan perban dengan pelan. Dia melakukannya dengan bantuan Will sebagai asisten dadakan.
Walau bukan dokter yang bergelut dibidang kesehatan biologis, Bella dapat mengatasi semuanya dengan kompeten. Bahkan separuh rekan Lucky jadi lupa diri, dan jatuh dalam pesona Bella. Salah satunya adalah Sean. Dia sangat memperhatikan Bella ketika dirinya mendapatkan pengobatan.
Sean baru menyadari satu hal. Betapa cantiknya gadis yang ada di hadapannya. Apalagi Bella membersihkan darah di kakinya tanpa rasa jijik sedikitpun.
Rekan-rekan Lucky yang ada berjumlah lima puluh orang. Sedangkan yang ikut melakukan penyerangan berjumlah dua puluh orang. Semuanya di isi oleh laki-laki. Sebagian besar dari mereka terpukau menyaksikan Bella.
__ADS_1
"Kau ternyata sangat hebat, Dokter." Will memuji dengan malu-malu.
Bella hanya tersenyum. Dia sekarang sibuk mengobati luka yang ada di tubuh Lucky. Kebetulan Lucky sedang tersandar di dinding. Ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari Bella. Entah karena ketertarikan atau tekad tersembunyi yang lain.