Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 46 - Ternyata Hanya...


__ADS_3

...༻✿༺...


Ben hendak menarik bra yang dikenakan Bella dengan kasar. Namun Bella sigap menjauh dari Ben. Gadis itu berada di ujung kasur sekarang. Terkekeh geli mentertawakan Ben.


"Jangan bermain-main, Dokter Red." Ben memasamkan wajahnya. Nafasnya mulai tak terkendali. Apalagi ketika menyaksikan belahan dada Bella yang tampak lebih jelas dibanding sebelumnya.


"Bukankah kau membenci wanita? Kenapa kau seperti singa yang kelaparan sekarang?" Bella sekali lagi tergelak. Lalu berdiri dan melenggang pelan meninggalkan Ben.


"Dokter Red!" Ben bergegas bangkit dari kasur. Dia melajukan langkahnya. Akan tetapi Bella terlihat sudah berlari masuk ke kamar mandi.


"Aaargghh..." Ben mengusap kasar wajahnya. Dia mencoba menahan kesabaran. Perlahan dirinya membuka pintu kamar mandi.


Ben agak terkejut, karena pintunya tidak dikunci oleh Bella. Siluet cantik dibalik kaca yang melindungi shower tampak jelas. Dari perawakannya tentu dia adalah Bella.


Shower terdengar dinyalakan. Suara percikan air dapat terdengar jelas menghantam ubin kamar mandi.


Ben segera memeriksa Bella. Dia dapat menyaksikan gadis pujaannya sedang bugil. Bella terlihat berdiri membelakanginya.


"Ben, kaukah itu?" Bella menoleh. Rambutnya tampak basah akibat terkena air. "Kalau mau bergabung, lepaslah celana pendekmu," ujarnya.


"Aku kali ini tidak akan lari." Bella menambahkan.


Tanpa ba bi bu, Ben segera menanggalkan celananya. Lalu memeluk Bella dari belakang. Menciumi setiap jengkal tubuh Bella dengan liar.


Bella terpaksa mematikan shower karena memilih beurusan dengan Ben terlebih dahulu. Dia berbalik dan langsung mendapatkan ciuman dari Ben. Kekuatan Ben membuatnya terpojok ke dinding.


Ben dan Bella berciuman dengan penuh gairah. Suara kecup mengecup memecah kesunyian. Tangan mereka bergerak menyentuh setiap jengkal tubuh satu sama lain. Ben merasakan percikan api yang membara. Paru-paru dan jantungnya bekerja lebih cepat dari pada biasanya.


Prang!


Tanpa diduga kaca yang ada di sekeliling shower pecah dihantam oleh sesuatu. Sosok lelaki yang wajahnya sama persis seperti Ben muncul. Dia menggenggam gunting di tangannya.


"Lucky..." lirih Ben. Dia melepaskan Bella.


Belum sempat berbuat apapun, Lucky sudah melakukan serangan. Dia mendorong Ben dan menghujamkan gunting ke bagian dada puluhan kali.


Jleb!

__ADS_1


Jleb!


Jleb!


Nafas Ben otomatis terasa sesak. Dia reflek memegangi dada. Penglihatannya mulai samar. Belum lagi tenggorokannya yang terasa begitu tercekat. Hal terakhir yang dilihatnya, Lucky tampak menyeret Bella pergi.


"Aaaarkkhhh!" suara pekikan Bella adalah hal terakhir yang didengar Ben, tepat sebelum pandangannya menghitam.


Dengan satu tarikan nafas, Ben terbangun dari tidur. Ternyata semuanya hanya mimpi. Ben bangun dalam keadaan bermandikan keringat. Bukan itu saja, alat kelaminnya juga tampak berdiri. Sepertinya apa yang dilakukan Ben dalam mimpi sampai terbawa ke dunia nyata. Gairah dan ketakutan bercampur aduk dirasakan olehnya.


"Arggh! Kenapa kau akhir-akhir ini sangat aktif!" geram Ben kepada juniornya. Dia segera melangkah menuju kamar mandi.


Di sisi lain, Bella sedang bolak-balik tidak karuan di kasurnya. Dia mencoba tidur, tetapi matanya sama sekali tidak mengantuk. Bella memikirkan tentang Ben.


Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam kepala Bella. Apa yang terjadi kepada Ben? Apakah ibunya dibunuh atau bunuh diri? Belum lagi teka-teki mengenai memar dan luka yang dilihat Bella pada saat Ben masih kecil.


"Hahh... aku tidak bisa tidur." Bella menggaruk kepalanya dengan sebal. Dia mengambil ponsel dan berseluncur ke dunia internet.


Ada sebuah pesan dari Cecil yang tidak sempat Bella baca. Pesan tersebut berisi alamat Sabrina Felice. Ternyata Sabrina sekarang tinggal di kota Washington. Tempat yang cukup jauh dari New York. Harus memakan waktu sekitar empat jam lebih jika menggunakan mobil.


Bella menghela nafas. Lalu menghempaskan diri ke kasur. Ia sebenarnya ingin lekas-lekas mengurus masalah Ben.


Tiba-tiba terdengar keributan dari arah luar. Bella bergegas keluar dari kamar. Dia dibuat terkejut dengan keadaan David. Ayahnya itu tampak terjatuh di lantai dalam keadaan kepala yang berdarah.


"Ayah!" air mata Bella seketika mengucur deras. Dia mengguncang badan David berkali-kali. Kemudian memeriksa urat nadinya. Akibat dirundung rasa panik, Bella akhirnya menelepon nomor panggilan darurat. Dia ikut menemani David ke rumah sakit.


Saat tiba di rumah sakit, David mendapatkan penanganan dengan cepat. Untung saja lukanya tidak begitu parah.


David terlihat masih belum sadarkan diri. Ia telentang dalam keadaan di infus. Bella berdiri di sampingnya sambil menghapus air mata yang berjatuhan di pipi.


Dengan langkah gontai Bella keluar dari ruangan. Ia duduk di sebuah bangku panjang. Kini Bella benar-benar terpikir untuk membawa David ke panti jompo.


"Bella? Apa itu kau?" suara bariton seorang pria tiba-tiba menyapa. Bella otomatis menoleh.


Tampaklah seorang pria berkulit kecokelatan. Dia adalah Louis. Teman Bella dulu saat kuliah di Fakultas Kedokteran. Kebetulan Louis mengambil jurusan ilmu bedah. Dia sepertinya baru selesai melakukan sesi operasi.


"Louis?" Bella berdiri dan tersenyum. Dia menyapa Louis dengan sebuah salaman. Mereka tentu mengawali pembicaraan dengan menanyakan kabar.

__ADS_1


"Siapa yang sedang sakit?" tanya Louis.


"Ayahku, dia tidak sengaja membuat kepalanya terluka," terang Bella.


"Kau sangat berbeda sekarang." Louis memindai penampilan Bella dari ujung kaki hingga kepala. Menurutnya Bella yang dulu lebih baik. Populer, bergaya, dan sukses. Tetapi sekarang? Bella tampak mengenakan jaket lusuh serta celana jeans biasa. Rambutnya juga digelung dengan asal. Sehingga sedikit acak-acakan. Padahal sudah jelas hari sedang larut malam, Bella tidak mungkin menyempatkan diri untuk berdandan.


Bagi Louis, Bella benar-benar payah. Sebagai rekan satu unit rumah sakit dengan Corine, Louis sudah terhasut dengan kabar miring tentang Bella. Dia tahu Bella hanyalah seorang alumni mahasiswa kedokteran yang gagal.


"Benarkah? Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanya Bella dengan tatapan menyelidik.


"Kau semakin cantik!" Louis jelas berbohong. "Izinkan aku mengambil fotomu," tambahnya sembari mengambil ponsel dari saku celana.


"Tidak, jangan lakukan itu." Bella mencoba menolak. Namun Louis tetap mengambil fotonya. Dia bahkan melakukannya seolah sedang bercanda.


"Louis, kau..." Bella tidak bisa berkata-kata.


"Tidak apa-apa, Bella. Kau tampak cantik." Louis memperlihatkan foto yang dia ambil.


"Tapi--"


"Louis, kau harus memeriksa Mr. Fooley. Kata Dokter Lauren tekanan darahnya menurun!" panggilan seorang perawat tidak sengaja memotong ucapan Bella.


"Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu lagi, Peters!" Louis memanggil Bella dengan nama belakang. Kemudian beranjak pergi begitu saja. Dia tersenyum remeh ketika berjalan membelakangi Bella.


Tanpa sepengetahuan Bella, Louis menyebarkan foto yang diambilnya ke grup alumni kampusnya. Kebetulan Bella tidak termasuk dalam grup tersebut, karena memang dia sudah lama tidak berhubungan lagi dengan teman-temannya. Bella terlalu sibuk mengurus David serta menggeluti pekerjaannya yang semakin berjaya.


'Lihatlah bunga kampus kita sekarang. Aku tidak menyangka dia akan berakhir begitu. Poor her...' begitulah pesan yang dikirim Louis bersamaan dengan foto Bella. Semua temannya lantas memberikan respon. Ada yang kasihan, bahkan ada juga yang mentertawakan. Orang yang paling bahagia melihat foto itu adalah Corine. Dia tambah bahagia, ketika dirinya sedang bersama Justin sekarang.


Corine memegang gelas berisi wine. Ia duduk di ujung kasur dengan hanya membalut badannya dengan selimut. Sedangkan Justin terlihat sibuk rebahan di kasur.


"Justin, lihat pacarmu!" Corine memperlihatkan foto Bella. Justin lantas merubah posisi menjadi duduk.


"Siapa yang mengambil foto ini?" tanya Justin dengan dahi berkerut.


"Itu tidak penting, yang terpenting apa kau yakin masih mau mempertahankan gadis seperti Bella?" Corine mengedipkan matanya dengan pelan. Berharap mendengar jawaban yang dia inginkan.


"Maaf, Corine. Bella tetap nomor satu untukku," ujar Justin seraya menyunggingkan mulut ke kanan. Dia kembali merebahkan diri ke kasur.

__ADS_1


Corine mengeratkan rahang kesal. Matanya mendelik tajam ke arah Justin.


__ADS_2