
...༻✿༺...
Empat puluh detik berlalu. Lucky masih saling bergulat lidah dengan Bella. Secara alami, Lucky merasakan Ben mulai menguasai dirinya. Hingga lama-kelamaan, Ben akhirnya mengambil alih.
Mata Ben membulat sempurna saat menemukan dirinya sedang berciuman dengan Bella. 'Apa yang terjadi? Kenapa aku berciuman dengan Dokter Red? Apa wanita ini mabuk lagi?' pikirnya yang masih belum dapat mencerna segalanya.
Meskipun begitu, Ben tentu menikmati ciuman yang diberikan Bella. Jantungnya sedang berdebar tidak karuan. Namun baru saja hendak memejamkan mata, Bella mendadak mendorong Ben menjauh. Hingga tautan bibir mereka terlepas.
"Maaf, Lucky. Tadi itu tidak bermakna apa-apa selain untuk memenuhi permainan," pungkas Bella sembari mengusap kasar bibirnya.
"A-apa?!" Ben yang tak mengerti sontak terperangah. Dia juga baru sadar ada banyak teman Lucky di sekelilingnya.
"Kau baik-baik saja, Lucky? Kau terlihat seperti orang linglung?" tanya Robert dengan dahi berkerut.
"Dia mungkin tidak pernah berciuman. Jadi agak kaget saat melakukannya," komentar Liam seraya menepuk pundak Ben dua kali.
"Kau benar, Liam. Lucky memang tidak pernah tersentuh oleh wanita mana pun. Tapi tenang saja, dia tidak akan tertarik dengan Dokter Red. Bukankah begitu, Lucky?" Chen melambaikan tangan ke depan wajah. Kemudian menggerakkan bola matanya ke arah Ben. Dia menyaksikan Ben masih saja seperti orang kebingungan.
"Lucky?" Chen memanggil untuk yang kedua kali. Tetapi Ben masih saja tak acuh. Hal itu mungkin karena dia sama sekali tidak merasa memiliki nama Lucky. Alter ego-nya itu sekarang telah pergi.
Bella menyelidik Ben. Ia dapat mengendus adanya perbedaan dari gelagat Ben. Sehingga dirinya dapat menyimpulkan kalau Lucky telah menghilang. Sosok yang dilihatnya sekarang jelas adalah Ben. Bella lantas memberikan senggolan.
"Lucky? Kau tidak apa-apa?" Robert yang menyaksikan merasa ikut cemas.
Akibat senggolan Bella, Ben akhirnya tersadar. Dia langsung merespon panggilan Robert dengan cara menoleh.
"Ya? Kau bilang apa?" tanya Lucky.
Robert dan semua orang memutar bola mata sebal. Mereka sudah malas mengulang pertanyaan untuk Lucky.
"Lupakan!" ujar Robert. Dia mengajak Bella dan yang lain untuk melanjutkan permainan.
Ponsel Bella tiba-tiba berdering. Dia segera mengangkat panggilan yang tidak lain dari Emilia. Wanita paruh baya itu hanya memperingatkan Bella untuk menjemput David.
__ADS_1
"Maafkan aku, Emilia. Aku akan ke sana secepatnya!" seru Bella. Lalu mematikan panggilan lebih dulu. Dia mengambil tas dan bersiap akan pergi
"Kau mau kemana, Dokter? Kita belum selesai bermain!" imbuh Robert yang sepertinya mulai menyukai Bella.
"Benar, aku juga masih mau lanjut." Sean memasang mimik wajah kecewa.
"Maaf, teman-teman. Aku baru saja mendapatkan panggilan mendesak dan harus segera pulang sekarang," ucap Bella. Ia baru memasukkan ponsel ke dalam tas selempang. Pernyataan Bella tadi, langsung merubah suasana menjadi hening.
"Benar!" Bella baru teringat kalau dia tidak tahu jalan pulang. Karena merasa mulai dekat dengan orang-orang The Dark Place, dirinya berniat meminta tumpangan. "Apakah ada yang mau mengantarkanku pulang?" cetusnya.
Sean lekas mengajukan diri, "Aku akan mengantarkanmu pulang!"
"Tidak, Dokter! Biar aku saja yang mengantarmu. Anggap saja sebagai permintaan maaf dari sikap tidak sopanku sebelumnya." Tanpa disangka, Robert juga ingin mengantarkan Bella pulang. Dia melanjutkan, "lagi pula kau harus berhati-hati dengan Sean. Dia mungkin akan buang air besar di celana lagi."
"Tutup mulutmu, Robert!" timpal Sean sambil mengeratkan rahang kesal. Jari telunjuknya mengarah tepat ke wajah Robert.
"Dokter, pulang denganku saja. Aku kebetulan harus mengurus sesuatu."
"Jangan, biar aku saja!"
"Shut up your damn mouth!"
Satu per satu, semakin banyak orang yang menawarkan Bella tumpangan. Hal tersebut membuat Bella justru bingung harus bagaimana. Dia berusaha menghentikan perdebatan yang ada, tetapi tidak bisa.
Ben berdecak kesal. Dia tidak pernah suka orang-orang Lucky. Jadi pria itu menarik tangan Bella untuk ikut dengannya. Ulah Ben otomatis membuat semua orang langsung terdiam seribu bahasa.
"Aku akan pulang dengan Lucky. Kalian bisa melanjutkan permainan tanpaku." Bella menyempatkan diri melambaikan tangan kepada semua rekan Lucky. Senyuman juga merekah di wajahnya.
"Dokter Red! Kau harus kembali ke sini! Ingat itu! Permainan belum selesai!!" pekik Robert dengan suara lantang.
"Kami akan menunggumu, Dokter!" Sean ikut berseru.
Ketika sudah berada di luar hunian The Dark Place, Ben berbalik badan. Dia menatap tajam Bella.
__ADS_1
"Apa-apaan tadi?!" tukas Ben. Ia mencengkeram kuat lengan Bella.
"Kau Ben bukan?" Bella memastikan dengan binaran matanya yang menggugah. Menyebabkan Ben salah tingkah dan langsung membuang muka.
"Iya." Ben menjawab singkat dan berusaha bersikap senormal mungkin.
"Tunggu, apa ciumanku tadi membuat Lucky menghilang? Kau muncul saat kita masih berciuman bukan?" tanya Bella.
"Benar. Aku tidak tahu kenapa. Tapi itu membuatku sangat kaget!" ujar Ben. Berlagak seolah tidak suka.
"Tapi kenapa itu bisa terjadi?" Bella berpikir sejenak. Dia tiba-tiba terkekeh sendiri. "Seperti dongeng putri tidur saja," komentar Bella. Mengingat dongeng putri tidur yang bernama Aurora. Putri itu dikutuk akan tidur selamanya, kecuali jika ada pangeran yang mematahkan kutukannya dengan ciuman.
"Itu tidak lucu." Ben terus membuang muka dari Bella. Dia berupaya keras menutupi wajahnya yang bersemu merah.
"Segalanya memang selalu tidak lucu untukmu," balas Bella sembari menyambut helm yang diberikan Ben. Keduanya segera pergi dengan menggunakan motor.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Ben bertabuh seperti gendang. Terutama ketika kedua tangan Bella melingkar di perutnya. Gadis itu juga menempelkan tubuhnya ke punggung Ben. Bella sebenarnya tidak bermaksud apa-apa selain berusaha menghilangkan rasa dingin.
Bukannya membuang jauh perasaan istimewanya terhadap Bella, perasaan Ben justru bertambah dalam. Dia sangat suka saat Bella begitu dekat dengannya. Sekarang Ben bingung dengan sesi terapinya. Akan tetapi dirinya tak punya pilihan lain. Sebab Bella satu-satunya harapan atas kesembuhan Ben.
"Aku pikir Lucky lebih banyak bicara dibandingkan dirimu," celetuk Bella. "Dia juga cukup dekat dengan teman-temannya. Beritahu aku, Ben... apa kau punya teman?" lanjutnya.
Bella sebenarnya ingin mengulik masa lalunya bersama Ben. Namun dia ragu untuk langsung bicara ke intinya. Bella sangat ingat, kalau waktu kecil dulu, memang dialah yang pergi lebih dahulu meninggalkan Ben. Tanpa memberi kabar dan mengucapkan perpisahan sedikit pun.
Ada ketakutan di hati Bella. Dia takut apa yang dirinya lakukan merupakan salah satu alasan Ben membenci wanita. Jika benar, mungkin Ben akan marah kepadanya.
"Aku punya Jimmy sebagai temanku," jawab Ben asal. Dia tiba-tiba mengingat teman dekatnya baru-baru ini. Ben langsung meneruskan, "dan seseorang bernama Justin!"
__ADS_1
Bella yang tadinya tenggelam dalam masa lalu, sontak dibuat kaget. Apakah nama Justin yang disebut Ben adalah Justin kekasihnya sendiri?