Dokter Cantik Tuan Depresi

Dokter Cantik Tuan Depresi
Bab 59 - Pengkhianat Sejati


__ADS_3

...༻✿༺...


"Beri aku waktu." Bella menjawab singkat ajakan Justin. Dia pamit sebentar untuk pergi keluar ruangan. Bella mengajak Cecil dan Brian bicara.


"Kenapa kalian memberitahu penyakit Ben kepada Justin?!" timpal Bella.


"Aku kesal dengan Ben! Dia memukuli Justin sampai babak belur begitu. Ben juga terlalu banyak merepotkanmu akhir-akhir ini!" jelas Brian. Dia tidak mengerti kenapa Bella malah memarahinya dan Cecil.


"Aku juga kesal dengan Ben! Dia semakin berbahaya!" Cecil ikut memperkuat pernyataan Brian.


"Tapi kalian tidak..." Bella tiba-tiba membungkam mulut. Otaknya seolah mengalami disfungsi. Dia tahu betul kalau Brian dan Cecil sangat membenci Ben. Mereka cenderung lebih akrab dengan Justin.


Bella memutuskan pergi ke toilet. Di sana dia mencoba menghubungi Ben. Namun pria itu tidak kunjung mengangkat panggilan. Padahal Bella telah melakukannya puluhan kali. Alhasil dia berakhir menelepon Jimmy.


"Jimmy, bagaimana kabar Ben sekarang?" tanya Bella. Ketika panggilannya diangkat oleh Jimmy.


"Dia baik-baik saja. Aku lihat Ben sudah pergi ke kantor seperti biasa. Tapi sikap dinginnya kembali lagi. Banyak karyawan yang menjadi korban kemarahannya hari ini," jelas Jimmy dari seberang telepon.


"Benarkah?" Bella merasa cemas.


"Kau tidak perlu khawatir. Ben sering bersikap begitu. Semua orang sudah terbiasa. Kau sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri, Dokter. Terima kasih telah berusaha yang terbaik untuk membantu Ben. Aku sangat menghargainya. Kau hampir membuat Ben sembuh, tetapi karena dia melanggar syarat yang kau ajukan. Aku dan Ben tidak punya pilihan lain selain mengakhiri kerjasama kita," sahut Jimmy panjang lebar. Dia sudah tahu semuanya. Kebetulan Ben menceritakan segalanya kepada Jimmy. Termasuk mengenai perasaannya terhadap Bella.


"Sama-sama, Jimmy. Maafkan aku. Sampaikan juga permintaan maafku kepada Ben." Pembicaraan Bella dan Jimmy berakhir. Kini Bella merasa sedikit lega. Selepas mendengar Ben yang katanya baik-baik saja.


Tidak terasa, tiga hari berlalu. Justin sepenuhnya pulih. Wajah tampannya kembali lagi. Hanya menyisakan goresan luka kecil yang mengering. Akibat bersiteru dengan Ben, dia mengundurkan diri dari perusahaan Foodton.


Justin juga menepati janjinya. Ia memutuskan kontak dengan Corine. Justin bahkan sampai rela pindah dari apartemennya, agar Corine tidak bisa menemuinya lagi.


Untuk sementara, Justin terpaksa tinggal di apartemen Bella. Dia sekarang sedang melihat-lihat. Jujur saja, Justin terpukau dengan segala kesuksesan tersembunyi yang dimiliki oleh kekasihnya.


"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku, kalau kau adalah Dokter Red Rose?" tanya Justin. Menatap Bella yang tengah sibuk melihat berkas-berkas di meja kerja.

__ADS_1


"Aku mencoba beberapa kali memberitahumu. Tapi waktunya selalu tidak tepat," jawab Bella. Masih sibuk dengan pekerjaan. Justin lantas mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Aku sangat bangga kepadamu..." ungkap Justin sembari mencium puncak kepala Bella.


"Thanks..." Bella tersenyum kecut.


Terdengar derap langkah mendekat. Cecil terlihat muncul dan meminta Bella untuk ikut dengannya. Gadis itu hendak memberitahukan informasi tentang pasien baru. Alhasil Bella meninggalkan Justin sebentar.


Justin memilih menunggu Bella di meja kerja. Dia tersenyum dan duduk di kursi. Saat itulah Justin memanfaatkan kesempatan untuk mencari berkas riwayat penyakit Ben. Ia butuh bukti kuat agar bisa mendapat kepercayaan Billy.


Setelah lama mencari-cari, Justin akhirnya mendapatkan riwayat penyakit jiwa Ben. Senyuman puas terukir di wajahnya. Dia bergegas mengambil beberapa berkas yang bisa dijadikan bukti.


"Luar biasa, Ben. Kau ternyata hanya orang gila yang berkedok orang kaya. Matilah kau sekarang!" gumam Justin. Dia geleng-geleng kepala saat membaca riwayat penyakit yang diderita Ben. Di sana jelas tertulis kalau kepribadian lain Ben yang bernama Lucky, sering melakukan kekerasan.


Tanpa diduga, Bella mendadak datang. Dia sukses memergoki Justin.


"Apa yang kau lakukan?!" tegur Bella seraya bergegas memeriksa apa yang dilakukan Justin.


"Maafkan aku, Bella. Semua orang harus tahu siapa Ben sebenarnya! Apalagi para karyawan Foodton. Jika dia terlalu lama memimpin sebagai CEO, maka nama perusahaan akan tercoreng," ujar Justin. Berharap Bella sependapat dengannya.


"Kenapa kau berusaha menghentikanku? Apa kau memihaknya sekarang?!" timpal Justin. Memutar balikkan keadaan.


Bella sempat terdiam cukup lama. Hingga terlintas sebuah ide dalam benaknya. Dia berkata, "Aku tidak ingin kau berurusan dengan Ben lagi. Bukankah kau ingin mengajakku menikah? Jika begitu, aku sarankan agar kau tidak berhubungan lagi dengan Ben. Dengan begitu hidup kita akan tenang."


"Tunggu, tunggu. Apa itu artinya kau bersedia menikahiku?" Justin memastikan.


Bella mengangguk dengan senyuman yang dipaksakan. "Tapi berjanjilah kepadaku. Jangan berurusan dengan Ben, Billy, atau apapun itu," ucapnya, menegaskan.


"Apapun itu akan aku lakukan." Justin langsung membawa Bella masuk ke dalam pelukan. Ia merasa sangat senang.


"Aku bisa mempercayaimu bukan? Jika kau melanggar, maka jangan harap aku mau memaafkanmu," kata Bella seraya mengarahkan jari telunjuk ke wajah Justin.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku berjanji, asal kau bersedia tidur denganku malam ini. Kita akan menikah, dan pastinya harus memiliki anak." Secara tidak langsung, Justin mengajak Bella berhubungan intim.


"Maaf, Justin. Tapi aku baru saja datang bulan. Kau tenang saja, setelah datang bulannya selesai, aku akan memberitahumu," Bella berkata sambil memegangi perutnya. Dia bertekad akan melakukan apapun demi melindungi Ben.


"Lupakan, kita bisa melakukannya nanti. Yang terpenting, kau sudah bersedia menikah denganku," tanggap Justin. Dia segera memberikan kecupan di bibir untuk Bella. Namun itu hanya terjadi sebentar, karena Bella harus disibukkan dengan kedatangan pasien.


...***...


Waktu menunjukkan jam dua belas malam. Semua orang sedang sibuk tertidur. Kecuali Justin. Dia tidak bisa tidur akibat memikirkan tentang berkas riwayat penyakit Ben.


Nafas dihela cukup panjang olehnya. Akhirnya dia berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Justin menghampiri meja kerja Bella. Ia berniat kembali mengambil berkas-berkas riwayat penyakit Ben.


Kebencian Justin terhadap Ben sudah terlampau jauh. Selain karena sering diperbudak saat bekerja, tetapi juga karena Ben telah bercinta lebih dulu dengan Bella.


'Maafkan aku, honey. Aku melakukan ini karena Ben memang pantas mendapatkannya,' batin Justin sambil mengutak-atik ponselnya. Dia segera menghubungi Billy.


"Ada apa, Justin? Kumohon jangan membuat suasana hatiku tambah buruk!" Billy menjawab dari seberang telepon. Nada suaranya terdengar malas. Kemungkinan akibat mabuk atau hanya mengantuk.


"Aku berhasil membuka kotak pandora Ben. Kita memilki bukti kuat terkait penyakit jiwa yang dideritanya!" imbuh Justin bertekad.


"Benarkah? Apa kau yakin itu asli?"


"Tentu saja. Di sini tertulis, bukan hanya Dokter Red Rose yang sempat menjadi psikiater Ben. Ada dua psikiater lain yang sempat menjadi dokternya. Kau tahu fakta mencengangkan lain yang aku temukan? Dua psikiater sebelumnya dikatakan terbunuh secara misterius. Untuk masalah itu, kita harus mencari bukti ke kantor polisi." Justin menerangkan.


"Itu brilian, Justin! Kerja bagus! Setelah Ben lengser dari posisi CEO, aku akan memberikan jabatan terbaik untukmu!" balas Billy yang kegirangan. Nada suaranya berubah drastis. Menjadi lebih bersemangat dari sebelumnya.


"Tidak! Aku tidak perlu jabatan, Billy. Sekarang aku butuh uang yang banyak!" tegas Justin. Dia berubah pikiran karena memikirkan kehidupan setelah pernikahannya. Justin berniat ingin pindah ke kota lain bersama Bella dan memulai hidup baru.


"Dan satu hal lagi. Tolong rahasiakan keterlibatanku dari siapapun," sambung Justin. Billy yang senang, tidak perlu berpikir lama untuk mengiyakan.


..._____...

__ADS_1


Catatan Author :


Yang mau lempar panci ke muka Justin, dipersilahkan. Wkwk


__ADS_2